The Time Traveler

The Time Traveler
MAGIC!


__ADS_3

Mobil mereka terangkat kembali, seperti sulap saja. Connor melihat kedua tangannya mengeluarkan cahaya biru.


 


 


Hah apa ini?! Apa kekuatanku kembali lagi?! Serunya dalam hati.


 


 


Karena sempat ia tak pernah melatih kekuatannya tersebut dan ia tak bisa memakai kekuatannya kembali. Selama bertahun-tahun ia melatihnya namun ia mengangga kekuatannya sudah musnah.


 


 


Daritadi ia berpikir akan mati namun ia memikirkan bagaimana caranya mobil ini agar kembali lagi ke atas, ternyata kekuatannya kembali lagi.


 


 


Ia memikirkan agar mobilnya kembali lagi ke jalanan, di sana masih ada D'Anger yang terheran-heran kenapa Connor masih memiliki kekuatannya. Ya, ia tahu itu.


 


 


"Bocah sialan!" Ucapnya lalu menyerang mobil itu mwnggunakan kekuatannya.


 


 


Connor memikirkan agar mobil tersebut menghindar dan terjadi lagi, lalu mobil itu mendarat dengan sempurna di tanah. Lalu ia menendang bagian belakang mobil dan terbukalah dengan wajah Emely yang nampaknya ketakutan meringkuk.


 


 


Ia keluar lalu menghadapi D'Anger, "Akan ku habisi kau bodoh!" Lalu sesuatu menghujam dada D"Anger.


 


 


Amarah Connor kali ini memuncak, tak hanya dengan itu, ia pun meninjunya dengan cukup keras lalu mengangkatnya ke udara sama seperti yang ia lakukan pada mobilnya tadi.


 


 


Namun Connor jatuh ke  tanah karena D'Anger menyerangnya, ia berusaha bangun kembali lalu meninjunya. Perkelahian semakin sengit saat Connor beehasil mendorong D'Anger ke pembatas jalanan.


 


 


"Kau lebih baik mati!" Ucapnya dengan penuh amarah.


 


 


D'Anger malah tersenyum miring, "Kau yang lebih pantas mati bocah." Hal itu membuat Connor tak tahan dab meninju mukanya kembali.


 


 


Ia mencengkram kerah baju D'Anger, "Selamat tinggal pecundang!" Lalu ia menjatuhkan D'Anger begitu saja namun sebelum jatuh levih dalam ia tiba-tiba menghilang.


 


 


"Ah sialan!" Connor bersumpah serapan, ia lupa bahwa D'Anger masih bisa berpindah-pindah tempat seperri itu.


 


 


Ia berjalan kembali mengambil bongkahan mobil yang tadi ia tendang, ternyat telah hancur. Sial. Batinnya.


 


 


"Sudah, tak apa." Ucap James pasrah.


 


 


Tapi ini kan mobil yang diberikan Ayah, aku sudah berjanji akan menjaganya. Ucapnya dalam hati.


 


 


Connor menaiki mobil tersebut, ia duduk seperti biasa, "Maaf telah menghancurkannya." Ucapnya yang cukup didengar oleh semua yang ada di sana.


 


 


Mobil lalu melaju, "Maaf Emely, kau jadi tak nyaman." Ucapnya, Emely hanya terdiam.


 


 


Sebenarnya bukan masalah bagian belakangnya terbuka, ia malah senang. Ia takut dengan D'Anger itu, saat bertengkar dengan Connor ua sempat mengintip bahwa ia memerhatikannya, bukannya geer namun ia merasa seperti itu.

__ADS_1


 


 


James sedang berpikir bagaimana dengan keadaan mobilnya teesebut juga merasa kasihan pada Emely dan Connor.


 


 


"Tadi itu gila sekali." Bisik Bryce oada James yang tak ditanggapi apapun.


 


 


Ah dasar James, tak seru. Batinnya.


 


 


Bryce berpikir bagaimana jika nanti ia duduk di belakang, pasti sangat seru dengan bagian belakang yang terbuka.


 


 


Matahari mulai terasa panas, walau tak sebegitu jahat sesudah jam 12 sih. Mereka berdua yang di belakang merasakannya menusuk kulit.


 


 


"Tapi ini tak begitu buruk kok." Ucap Connor.


 


 


"Ya, aku malah senang. Tapi, takutnya hujan saja." Ucapnya.


 


 


Connor kembali terdiam, Emely pun begitu. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Connor yang memikirkan mobil ini, Emely masih memikirkan tatapan D'Anger itu.


 


 


Di lain sisi D'Anger datang ke markasnya, di tepi kota jauh dari keramaian.


 


 


Ia terjatuh, berguling-guling di tanah seperti kambing guling. Janice menghampirinya, "Bagaimana tadi?" Tanyanya.


 


 


 


 


"Dasar Raegan, jangan terlalu dipikirkan." Janice mengambil bir yang ada di meja dan memberikannya pada D'Anger atau yang bernama asli Raegan itu.


 


 


"Aku tahu kita pasti akan bisa menguasai dunia." Ia tersenyum miring.


 


 


D'Anger agak risih dengan kata 'kita' yang Janice ucapkan.


 


 


Janice dan Raegan sudah bersama sejak kecil, mereka berdua tidak tahu siapa orang tuanya, tidak memiliki nama tengah dan belakang. Yang Mr. Lieberher-Kakek Emely juga yang menjaga mereka berdua dulu-temukan di keranjang bayi mereka berdua hanya itu.


 


 


Janice dan Raegan berubah menjadi ya mungkin nakal saat menginjak usia remaja, Emely tak mengetahuinya jika dulu ada sebuah gubuk kecil dekat rumah Kakeknya itu adalah tempat mereka berdua bermain. Dari dulu Raegan atau D'Anger selalu memerhatikan Emely saat ia berkunjung ke rumah Kakeknya.


 


 


"Dan kau tahu apa?" Tanya Raegan, Janice hanya menaikkan bahunya tak tahu.


 


 


Raegan berdiri, "Aku bertemu si pirang itu." Ucapnya lalu meninggalkan Janice.


 


 


Janice jengkel setelah sekian lama Raegan tidak membicarakan itu lalu tiba-tiba ia mengungkitnya kembali, "Jangan lupakan misi kita, bodoh!" Teriak Janice.


 


 

__ADS_1


Raegan masuk ke kamarnya, Janice bersumpah serapah dalam hatinya. Ada rasa cemburu juga ingin saja membunuh gadis pirang itu.


 


 


Saat mereka berdua remaja, mereka sering memberontak kepada Mr. Lieberher dan memutuskan untuk pergi dari rumahnya lalu bertemu Karen, penyihir yang memberikan mereka berdua kekuatan. Namun Karen tewas karena racun yang ia buat sendiri tak sengaja tercampur ke dalam makanannya, sebelum kematiannya ia menyampaikan pada Janice dan Raegan bahwa mereka berdua ditugaskan untuk mengambil jam buatan Mr. Lieberher dan dengan itu mereka bisa menguasai dunia. Juga dengan kekuatan jam tersebut mereka bisa membangkitkan arwah Karen.


 


 


Nampaknya terlihat cinta bertepuk tangan, Janice menginginkan Raegan dari dulu namum ia selalu membicarakan si gadis pirang terus.


 


 


Aku yang bersamamu setiap saat, tapi kenapa kau tetap membicarakannya bahkan saat ada aku. Kenapa kau tak peka pada perassanku sih? Batin Janice.


 


 


Kembali lagi dimana 6 sekawan itu sedang menempuh perjalanan ke tambal ban terdekat yang ada mungkin. Namun untuk apa, mungkin mencari bagian belakang mobil jika ada. Tapi apakah itu hanya ada di toko mobil atau srmacamnya? Ya apa salahnya berusaha dahulu kan?


 


 


"Tahu tidak?" Ucap Connor menatap Emely.


 


 


Emely membalas tatapannya, ia hanya mengangkat kedua alisnya.


 


 


"Dulu aku sering ke sana." Ia menunjuk pantai di baeah sana, dimana posisi mereka di atas, sebuah jalanan dengan pembatas seadanya.


 


 


"Dengan ibuku tentu saja, saat itu matahari sore menyinari kami. Aku tidur di pangkuan ibuku, dulu ibu sering menceritakanku mitologi Yunani, kisah-kisah lainnya juga." Ujarnya, Emely mengangguk mengerti.


 


 


"Dan hampir saja saat itu aku terbawa ombak di pantai itu." James terkekeh.


 


 


Emely memerhatikan James, sangat menggemaskan menurutnya. Matanya yang sipit jika tertawa makin sipit menurutnya hal yang menggemaskan yang pernah ada.


 


 


James tersadar Emely memerhatikannya, "Kata ibuku jangan terlalu lama memerhatikan orang, kalau kau memerhatikannya tandanya kau suka" Ucap James penuh percaya diri.


 


 


Emely memukulnya, "Kau juga sering memerhatikanku!" Serunya agak pelan.


 


 


Setiap hari, setiap jam, menit, juga detiknya Connor perlahan menjadi hangat kepadaku. Tak hanya itu, ia lebih banyak berbicara. Batin Emely.


 


 


Lalu Connor membuang muka secara tiba-tiba, melihat kembali ke arah pantai. Memikirkan ibunya namun membuat Emely yang baru saja bahagia itu bertanya-tanya.


 


 


Emely begitu baik padaku, sepertinya. Tapi apa aku pantas untuknya? Tanya Connor dalam hatinya.


 


 


Perasaannya bercampur aduk tak terkecuali Emely pun begitu. Namun tunggu saja rencana Tuhan.[]


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2