![THE ZOO [FF NCT AESPA]](https://asset.asean.biz.id/the-zoo--ff-nct-aespa-.webp)
Karina dan Giselle duduk saling berhadapan di bawah pohon rindang di dekat aula olahraga yang akan mereka gunakan untuk kegiatan klub beberapa menit lagi. Mereka sudah siap dengan seragam cheers mereka yang berwarna putih, merah dan biru. Sembari menunggu anggota klub cheers datang, mereka berdua memilih untuk berbincang-bincang dibawah pohon rindang yang sedang menggugurkan daunnya.
Giselle menopang dagunya, ia mendengarkan Karina yang bercerita panjang-lebar. Ia menceritakan kembali cerita Jeno pada Giselle mengenai kejadian setahun lalu yang dialami oleh klub band. Giselle mendengarkan dengan seksama dan menangkap cerita Karina dengan berbagai ekspresi. Ia mulai dengan mengeryitkan dahinya heran, lalu senang, dan kini, Giselle menurunkan alisnya dan matanya terlihat berkaca-kaca. Sang pencerita juga ikut terbawa suasana. Ia bercerita dengan ekspresi yang lebih heboh dibanding Jeno. Karina bahkan menggerak-gerakkan tangannya saat menceritakan tabrakan beruntun yang malam itu dilakukan oleh 3 mobil balap liar. Sambil menahan tangisnya, Karina menceritakan bagaimana nasib klub band setelah kejadian itu dan saat itulah Giselle mengerti mengapa klub band ditutup. Hal itu telah menjawab pertanyaan yang selama ini ia ingin tanyakan pada Hendery.
BUK!
“Aigoo!”
“Aduh kaget!”
Seru Karina dan Giselle kaget saat ada batu yang menimpuk meja mereka dengan suara kencang. Mereka berdua menolah melihat arah datangnya batu itu. Sosok Yangyang terlihat berjalan santai sambil memamerkan senyum lebarnya.
“Kaget ya?” Yangyang tertawa sambil berjalan mendekati mereka berdua.
“Iya, lah! Dasar bodoh!” Giselle memukul lengan Yangyang yang lewat dibelakangnya untuk duduk di sebelah Giselle.
“Aw..” Yangyang mengerang kesakitan sambil mengelus lengannya. “habisnya, kalian terlihat serius sekali,” jawabnya menatap kedua gadis berseragam cheers itu. “mwoya?! Kau menangis?!” Yangyang kaget saat ia menatap Giselle. Ia menarik bahu Giselle agar dapat melihat wajahnya dengan jelas.
“Hya!” Giselle menepis tangan Yangyang. Giselle kemudian menyeka air matanya. “dasar bodoh,” dia mengumpat Yangyang lagi.
“Karina hya, kau juga?” Yangyang menunjuk Karina yang juga sedang menyeka air matanya. Mata dan wajah kedua teman Yangyang ini tampak merah.
“Hehehe,” Karina menjawab dengan menertawakan dirinya sendiri.
“Aduh bagaimana ya? A..aku cuma bawa satu sih…” Yangyang mengeluarkan kotak susu dari saku jasnya. Sepertinya dari tadi Yangyang memang bertujuan mencari Giselle untuk memberikannya kotak susu sebelum ia mengikuti kegiatan klub cheers. “nih untukmu,” Yangyang meletakkan kotak susu itu diatas meja dan menggesernya ke depan Giselle. “mian Karina,” Yangyang meringis menatap Karina yang hanya tersenyum mengangguk.
“Dwaeseo,” Giselle mendorong kotak susu itu ke depan Karina. “aku sudah kenyang,”
“Kenyang?!” Yangyang bereaksi berlebihan. “Karina hya, kau tahu? Akhir-akhir ini Giselle diet,” Yangyang menggoda usil teman sekelasnya. “dia hanya terus memakan telur, seperti atlit angkat besi!”
BUK!
“Aw!”
Yangyang mengerang kesakitan lagi saat Giselle memukulnya di tempat yang sama.
“Mwoya? Kau stalker?!” Seru Giselle.
“Hya, aku duduk disebelahmu, ‘kan. Tentu saja aku tahu!” Yangyang menatap Giselle yang menunjukkan kerutan di tengah alisnya.
Yangyang kemudian lanjut berbicara pada Karina. “istirahat pagi, ia memakan telur dan pisang, istirahat siang, ia memakan 3 telur dan susu! Ti-ga te-lur!” Lanjut Yangyang lagi. Kali ini pukulan Giselle dapat ia hindari.
“Giselle ah, kau diet?” Karina terlihat khawatir mendengar cerita jujur Yangyang. “Wae? Apa karena perkataan anak jurusan Ilmu Sosial itu?” Tanya Karina menyebutkan anggota cheers yang berasa dari murid kelas satu jurusan Ilmu Sosial yang selalu mengomentari badan Giselle.
Tebakan Karina sedikit tepat, namun Giselle lebih memilih berbohong untuk menutupi perasaannya. “Aniya…” jawabnya.
Yangyang yang tidak diajak bicara menarik kotak susu yang ada di hadapan Karina dan mengarahkannya ke hadapan Giselle lagi. “makannya… nih minum dulu. Aku tahu kau menangis kelaparan, ‘kan?” Yangyang tak berhenti menggoda Giselle.
“Ania, bukan karena itu..” Kali ini Karina menjawab untuk meredakan amukan Giselle. Karina berusaha mengganti topik sebelum Yangyang semakin menjadikan Giselle bahan candaan. “Yangyang ah, apa kau pernah mendengar rumor soal klub band?”
“Eh? Tiba-tiba?” Yangyang memiringkan kepalanya mendengar pertanyaan tak terduga dari Karina.
“Ah, hehe. Ani, karena sampai saat ini anggota klub band masih kalian berdua saja, jadi…”
Yangyang mengangguk paham dengan penjelasan Karina yang sungkan untuk diucapkan. “Aku sudah dengar semua. Rumor aneh yang menyatakan bahwa jika ikut klub band, nasib kita akan sial, nilai akan turun, bahkan rumor aneh yang menyatakan bahwa ruangan klub band berhantu,” jawab Yangyang yang sepertinya sudah biasa mendengar rumor-rumor itu. “setiap aku berkata bahwa aku adalah anggota klub band, seluruh orang yang mendengar selalu bereaksi sama; melarangku untuk ikut klub itu atau apakah aku melihat hantu di dalam ruangan. Hahaha!”
“Mwoya… benarkah?” Tanya Giselle yang sepertinya baru pertama ini mendengar rumor aneh itu.
Yangyang mengangguk jelas. “Tanya saja Haechan. Aku pertama kali mendengar rumor ini dari Haechan, dia mendengar dari para sunbae di klub choirnya. Entah siapa yang memulai,”
“Soal nasib sial itu.. aku juga pernah mendengar dari teman sekelasku,” Karina mengelus dagunya mengingat temannya yang pernah bercerita soal rumor klub band. “teman sekelasku yang juga seorang pebasket putri, dia memiliki unnie yang dulu bersekolah disini, ia mendengar rumor itu dari unnienya,”
“Hahaha! Semua rumor itu tidak benar,” Yangyang bertepuk tangan sambil tertawa. “hya, saat bersih-bersih ruangan kemarin apa kalian melihat hantu?”
Karina dan Giselle menggeleng bersamaan.
“Tuh ‘kan!” seru Yangyang sambil menjentikkan jarinya. “Atau… hantunya takut denganmu?” Yangyang menunjuk Giselle sambil memasang wajah kaget.
BUK!
“Aw!” Ini ketiga kalinya Giselle memukul Yangyang. “Hendery hyung sudah tahu mengenai semua rumor itu, dia tidak peduli karena semua itu tidak benar. Aku sudah bertanya sendiri padanya,”
“Kau tanya mengenai kebenaran rumor itu pada Hendery sunbae?”
“Ya,” Yangyang mengangguk cepat menjawab pertanyaan Karina. “aku bertanya mengenai kebenaran rumor itu dan mengapa rumor itu bisa muncul,”
Seketika, Karina dan Giselle bertukar pandang mencoba berkomunikasi melalui tatapan mereka. Giselle lalu menghadapkan badannya pada Yangyang. “Apa Hendery sunbae bercerita padamu soal kejadian klub band satu tahun lalu?”
Yangyang mengeryitkan dahinya, “kalian.. sudah tahu ya?”. Ia bergantian menatap Karina dan Giselle yang sedang mengangguk.
__ADS_1
“Aku tahu dari temanku,”
“Jeno, ‘kan?” Tebak Yangyang pada jawaban Karina yang tidak mengatakan nama si pemberi informasi. “kalau Jeno tahu cerita ini dari Johnny sunbae, sudah pasti 100% benar,”
“Mmm… ya. Aku tahu dari Jeno,” Karina mengaku. “Johnny sunbae yang menceritakannya,”
“Aa..” Yangyang membuka mulut sambil mengangguk. “hya apakah karena itu kalian menangis?” Yangyang kembali ke kejadian beberapa menit lalu.
“Mm,” angguk Karina. “Aku barusaja menceritakan cerita klub band pada Giselle. Aku rasa cerita aslinya memang tidak rahasia, ‘kan?”
“Iya,” Yangyang tersenyum menyetujui pendapat Karina. “untuk apa dirahasiakan. Justru orang-orang harus mendengar cerita aslinya, agar rumor aneh tidak tersebar,”
usulnya. Yangyang lalu kembali dengan tingkah usilnya. “Yah, aku pikir kau menangis karena kelaparan,” Yangyang menyenggol lengan Giselle dengan lengannya.
“..Kau..!”
“Eits!” Yangyang menangkap kepalan tangan Giselle sebelum ia daratkan ke lengan Yangyang lagi. Yangyang lalu memasukkan sebuah sedotan susu ke kepalan tangan Giselle. “Lupa. Hehe,” gurau Yangyang.
...****************...
Hendery bersenandung sambil berjalan melewati lorong lantai 3 yang dipenuhi oleh ruang-ruang klub sekolah. Di lorong panjang itu, ia melewati ruangan klub menggambar, klub astronomi, lab dapur untuk klub memasak, klub sastra, dan akhirnya berhenti di ruangan yang berada di paling ujung lorong ini. Klub band terletak paling ujung dan terlihat sepi, tidak ada murid yang keluar masuk dari dalam sana.
Hendery memiringkan kepalanya bingung saat ia memegang gagang pintu ruangan. Terdengar suara gitar dari dalam ruangan. Hendery memang tidak mengunci pintu ruangan itu, namun ia tidak ingat bahwa Yangyang akan berkunjung ke ruangan hari ini.
KRIEEKK…
“O!” Hendery melihat Mark, teman dekatnya, dan Jeno, murid kelas 1 yang ia tidak sangka akan berkunjung ke ruangan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya. “Jeno?”
“Annyeong haseyo,” Jeno berdiri dan menunduk pada Hendery. Terlihat ia sedang mengalungkan gitar pada badannya. Sudah tentu suara gitar tadi dihasilkan dari permainan Jeno.
“Hendery hya, dari mana saja kau?” Gerutu Mark bingung saat ia masuk ke ruangan dan tidak menemukan Hendery di dalamnya.
“Oh, tadi aku menumpahkan air, jadi aku membersihkannya,” jawab Hendery sambil menujuk salah satu bagian di lantai. “aku barusaja mengembalikan pel ke lantai dua,”
“Ck.. kau ini, selalu ceroboh,” Mark meluruskan kakinya pada sofa sambil memeluk tasnya. “oh ya! Tadi dia masuk sendiri,” Mark menunjuk Jeno yang memainkan gitar dengan pelan. Jeno yang terkejut namanya dipanggil, menunjuk dirinya sendiri dan membulatkan matanya. “kau kenal Jeno?” Tanya Mark yang tidak mengetahui bahwa Jeno, adik kelasnya di klub basket, kenal dengan Hendery.
“Ya,” Jawab Hendery sambil mengambil gitar akustik. “dia teman Yangyang,”
“Tidak juga,” gumam Jeno sangat pelan.
“Ne, hyung. Saya suka bermain gitar,”
“Waah,” Mark berdiri dan menghampiri Jeno. “Hendery hya, dia sama denganku dulu, ya!” Mark meminta pengakuan Hendery pada dirinya yang dulu pernah menjadi gitaris klub band.
Hendery tidak menjawab Mark. Ia memutar kursinya untuk dapat berhadapan dengan Hendery yang sedang memegang gitar listrik. “kau tidak sedang mencari Yangyang ‘kan?” Tebak Hendery.
Jeno tersenyum canggung. “Ne, sunbae..” jawabnya pelan. “saya kira sunbae juga tidak kemari,”
“Mwoya? Kau sering kesini dan bermain gitar?!” Mark menutup mulutnya mengambil kesimpulan.
“A..aniyeyo, hyung!” Seru Jeno. “Hanya sekali!” Jeno memperjelas seruannya. Ia lalu mengaku sambil menatap ketua klub band yang berdiri di hadapannya. “saat itu saya sedang berada di lorong ini, lalu ruangan ini tidak dikunci, jadi saya masuk. Jwisonghaeyo, sunbae,” Jeno meminta maaf atas perlakuan lancangnya.
“Ey, gwaenchana,” Hendery tersenyum ramah pada Jeno yang terlihat bersalah. “kau mau ikut klub band?”
“Hya Jeno,” Mark menyela Jeno dengan suara beratnya. “dia milik klub basket,”
“Wae?! ‘Kan tidak apa-apa ikut dua klub!”
Jeno tersenyum pahit, “Jwisonghaeyo sunbae,” Jeno meminta maaf lagi. “ini.. hanya iseng saja,”
“Hya… katanya kau suka main gitar..” Hendery merengek tak terima.
“Ne sunbae, dan saya juga suka main basket,” Jeno sedikit tersenyum melihat rengekkan seniornya. “sejak kecil, badan saya tidak terlalu sehat, jadi saya selalu ikut klub olahraga agar stamina saya tetap terjaga,” jelas Jeno.
“Oh…” Hendery dan Mark mengangguk bersamaan. “yasudah kalau begitu,” Hendery mengangkat pundaknya pasrah. “kau bisa main gitar selama aku disini, ya,”
“Wooo… ketua klub baand..” Goda Mark atas otoritas Hendey.
Hendery melempar bantal pada Mark yang masih duduk santai diatas sofa. “Diam kau,” ucapnya sambil tersipu malu. “ini agar kejadian tahun lalu tidak terjadi lagi,” Hendery mengalihkan pandangannya pada sisi samping ruangan yang berisikan foto-foto anggota band.
Mark memeluk bantal pembarian Jeno dan membuat posisi berbaring diatas sofa. “Jeno hya, kau tahu, dulu ruangan ini menjadi markas bagi sang pembolos, loh. Hahaha,” ucap Mark sambil menatap punggung Hendery yang sedang mengamati satu persatu foto pada mading klub band.
Jeno menghentikan permainan gitarnya. Ia menatap sosok Hendery dari samping yang memperlihatkan sebuah senyuman pahit.
“Dulu klub band memiliki banyak anggota. Aku salah satunya,” lanjut Mark mengacungkan jari.
“Ne, aku sudah dengar ceritanya dari Johnny sunbae,” jawab Jeno yang telah mengerti semua yang terjadi pada klub band.
__ADS_1
“Ha?” Hendry dan Mark kaget bersamaan. Mark bahkan segera mengambil posisi duduk dan menatap Jeno yang masih duduk di kursi gitaris.
“Johnny sunbae bercerita padamu?” Hendery kini mengalihkan pandangannya dari foto-foto itu dan menatap Jeno.
“Ne, sunbae” jawabnya. “Johnny sunbae bercerita bahwa Mark sunbae gagal seleksi klub band dan membuat sunbae masuk klub band di tengah semester,”
“Pppft!”
“Hya..” Mark melempar bantal kearah Hendery saat ia melihat sahabatnya menertawakan dirinya. “i..itu hanya karena nilai, kau tahu!”
Mark mencoba menjelaskan pada Jeno. “sayang sekali klub band kehilangan anggota sepertiku,”
“Lalu sunbae..” Jeno ingin melanjutkan pembicaraannya. Ia lalu menunjuk deratan foto-foto sisi samping ruangan. “saya juga tahu tentang kejadian band Taeyoung sunbae,”
Hendery menoleh dengan cepat melihat arah tunjukkan Jeno. “oh, mereka? Johnny sunbae juga menceritakanmu tentang mereka?” Hendery ikut menunjuk orang-orang di dalam foto itu.
“Ne, Johnny sunbae bercerita awal mula penutupan klub dan kecelakaan itu,”
“Mwoya… kau dekat dengan Johnny sunbae? Keren sekali…” puji Mark kagum pada Jeno.
“A..aniyeyo hyung,” Jeno menggelengkan kepalanya. “Johnny sunbae mengira bahwa aku dekat dengan Hendery sunbae, saat itu kami pernah bertemu di ruangan ini untuk membantu klub band membersihkan ruangan,” jawab Jeno pada Mark yang pernah mendengar kejadian berberes ruangan klub band dari cerita Hendery.
“Oh..” Mark bereaksi pada penjelasan Jeno. “kukira kau tidak ikut klub band karena rumor yang beredar itu,”
Hendery mengeryitkan dahinya terusik pada perkataan Mark. “Aduh… mengapa kau membahasnya lagi? ‘Kan sudah kubilang itu omong kosong,”
“Hya, aku tahu!” Mark membuka tangannya. “tapi rumor itu memang sudah menyebar. Bahkan junior klub basket dan klub cheers pernah membicarakannya. Ya ‘kan, Jeno?”
“Tapi saya tahu itu tidak benar, sunbae,” Jeno mencoba menenangkan Hendery. “Nasib sial karena mengikuti klub band? Itu tidak ada hubungannya. Dan rasanya tidak sopan jika ada yang menyebarkan rumor mengenai ruangan ini yang berhantu,”
Mark menjentik-jentikkan jarinya, setuju dengan pendapat Jeno. “Itu maksudku,” ucapnya. “oh ya, katanya kau mau bertemu Jungwoo, sudah?” Mark mencoba mengalihkan pembicaraan. “Jeno hya, kau tau si penyiar radio sekolah itu? Dia dulu juga klub band, dia lolos audisi kedua, sama seperti Hendery. Dia si murid pintar,” jelas Mark tanpa menunggu Jeno bertanya siapa itu Jungwoo.
“Sudah,” Hendery menatap Mark yang masih setia duduk di sofa empuk milik klub band. “sudah lama sekali aku tidak berbincang-bincang dengannya, terakhir kali setelah aku dan Yangyang siaran di radio sekolah. Itupun kami tidak sempat mengobrol,”
“Jadi dia mau tidak?” Mark tidak sabar mendengar jawaban Hendery.
Hendery menggeleng dan mengerucutkan bibirnya. “Jungwoo bilang, dia tidak bisa ikut dua klub karena dia sudah cukup sibuk. Jungwoo kini menjadi mc radio sekolah dan pemimpin tim majalah sekolah, jadi banyak hal yang harus ia kerjakan. Belum lagi murid jurusan Teknik Mesin ‘kan terkenal memiliki banyak proyek yang harus dibuat,” Hendery menceritakan jawaban Jungwoo yang sempat ia terima saat Hendery mengajaknya untuk kembali ke klub band.
“Ah, sayang sekali..” Mark menepuk pahanya sendiri.
“Aku sudah bertemu dengan seluruh anggota band yang lama. Hanya Joy yang belum aku temui,”
“Tapi sekarang dia menjadi ketua klub cheers, kurasa ia akan menolaknya,” tebak Mark.
“Kudengar Jaehyun sunbae juga anggota klub band?” Tanya Jeno penasaran pada klub yang diikuti sang ketua klub basketnya.
“Mm,” angguk Hendery. “dia juga lolos seleksi,”
“Setelah klub band bubar, apa yang dilakukan anggota klub band?”
“Taeyoung sunbae dan Kun sunbae ikut klub sastra,” jawab Hendery pada Jeno yang sudah mengetahui klub yang dipilih kedua anggota band dari kelas 2 itu. “Murid kelas 2 kala itu hanya mereka saja. Sisanya kelas 1. Yah, seperti yang kau tahu, Jaehyun kembali lagi ke klub basket setelah sempat keluar. Dan saat klub band ditutup, ia kembali lagi masuk klub basket,”
“Iya, Johnny hyung sempat memarahinya,” sela Mark mengingat kejadian Johnny yang pernah bercerita geram pada Jaehyun yang dulu seenaknya keluar masuk dari keanggotaan klub basket.
“Jungwoo tentu ke klub broadcasting, karena dia dari awal sudah memiliki 2 klub. Kalau Joy…. Joy direkrut sendiri oleh ketua cheers saat itu. Lalu….”
“Kalau sunbae?” Jeno menyela cerita Hendery. Sepertinya ia hanya penasaran dengan nasib Hendery saja.
“Aku?”
“Dia menangis,” Mark dengan cepat menjawab pertanyaan Jeno. “dia menangis seharian. Sampai kami sekelas bingung dan menghiburnya,” lanjut Mark dengan wajah heran.
“Hya! Mengapa kau menceritakan hal itu!” Hendery berseru tak terima. Ia lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Bagaimana ya… waktu itu aku sangat sedih, aku sangat menyukai drum…. gitar… musik…. Aku tidak tertarik masuk ke klub lain, jadi selama hampir dua bulan, aku tidak mengikuti kegiatan apapun,”
“Eh? Memang boleh ya, sunbae?” Jeno memiringkan kepalanya seperti anjing yang kebingungan.
“Hya tentu saja tidak boleh..” Hendery tertawa mendengar pertanyaan konyol Jeno. “oleh karena itu, Doyoung hyung mengajakku masuk ke klub broadcasting yang sama dengannya. Kau tahu Doyoung hyung si ketua osis itu, ‘kan? Dia dulu ketua klub broadcasting dan juga anggota osis,”
“Sepertinya dia khawatir padamu yang melakukan aksi mogok kegiatan klub,” komentar Mark.
“Haha. Sepertinya begitu,” ucap Hendery menebak pikiran Doyoung saat itu. “bahkan di dalam klub pun aku tidak harus aktif mengikuti kegiatan apapun. Saat itu aku bukan tim radio, tim majalah, tim media, bahkan tim mading. Aku seperti anak jalanan yang diambil Doyoung hyung dan diminta untuk tidak melakukan apapun dirumahnya,”
“Hahaha. Perumpamaan apa itu?” Mark tertawa mendengar imajinasi Hendery.
Jeno ikut tertawa mendengar Hendery yang bercerita dengan senyum riang di wajahnya. Sebuah ekspresi yang berbalik dengan apa yang dialami Hendery. Jeno membayangkan sosok Hendery yang sangat menyukai klub band itu harus menerima kenyataan pahit bahwa pihak sekolah harus mengakhiri segala kegiatan di klub band, bahkan untuk sekedar masuk ke ruangan itu pun ia tidak bisa.
...****************...
__ADS_1