THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 7


__ADS_3


Suasana cerahnya musim panas pergantian dari musim semi terasa di area Dongdaemun. Bunga ceri sudah terlihat berguguran dan berganti menjadi dedaunan asri berwarna hijau. Area luar di wilayah itu dipenuhi oleh pasangan muda mudi yang menghabiskan waktu bersama. Sehun memandang setiap pasangan yang berjalan lewat di depannya. Kai terkadang menyenggol lengan Sehun agar ia tetap fokus pada kegiatan mereka hari ini.


Taeil sudah selesai menghubungkan micnya dengan speaker. Hari ini, Kai, Taeil dan Sehun sedang melakukan busking di tengah keramaian wilayah Dongdaemun. Taeil bermain gitar dan bernyanyi, Sehun bermain gitar, dan Kai duduk diatas alat musik kajon. Akhir-akhir ini, kegiatan busking di akhir pekan sering mereka lakukan. Taeil membuka lebar tas gitar dan meletakkanya dihadapan mereka sebagai tempat penampungan uang.


Taeil mulai bernyanyi, para pengunjung yang tertarik, mulai berdiri diam dihadapan mereka sambil sesekali ada yang merekam aksi mereka bertiga. Sehun dapat melihat jelas para pengunjung meletakkan uangnya ke dalam tas gitar Taeil. Sehun tidak bisa menahan senyum senangnya, ia hanya menundukkan kepala berterima kasih saat ia sempat bertukar pandang kepada sang pemberi uang.


PLOK PLOK PLOK….


“Wooh!”


Suara tepuk tangan dan seruan terdengar saat Taeil selesai menyanyikan lagu pertamanya. Taeil terlihat menunduk berterima kasih dan mulai menyapa pengunjung yang memilih diam ditempat dan menunggu mereka bertiga menampilkan lagu selanjutnya.



Begitulah kegiatan ketiga murid kelas 3 itu pada akhir pekan. Mereka memutuskan untuk melakukan busking bersama untuk mengumpulkan dana agar mereka dapat pergi ke Paju untuk mengikuti pertandingan final perlombaan band tingkat SMA. Selain itu, akhir pekan mereka tidak hanya dihabiskan untuk busking saja, namun saat menjelang sore hari, mereka akan pergi ke perpustakaan kota untuk belajar bersama dengan Taeil yang menjadi mentor mereka tentunya. Seperti janji yang sudah mereka ucapkan pada Wendy dan juga pihak sekolah, mereka berusaha menaikkan nilai mereka agar klub band tidak ditutup dan pihak sekolah kembali turut andil dalam setiap kegiatan yang klub band lakukan.


...****************...


Hari berganti hari, tak terasa perlombaan yang akan klub band ikuti ada di depan mata. Jarak Kota Seoul dan Kota Paju yang cukup jauh akan memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit. Perjalanan hari ini tentu berbeda dengan perjalanan klub band sebelumnya. Biasanya pada hari perlombaan, seluruh anggota band akan berkumpul disekolah untuk bertemu beberapa guru yang ikut melepas mereka pergi. Sekolah juga menyediakan mini bus lengkap dengan supir. Kim ssaem, sang pembina klub band, juga selalu setia mengikuti perjalanan mereka. Suasana riang di dalam mini bus selalu terbayang dalam ingatan mereka.


Namun kini, mereka telah mengeluarkan tenaga ekstra untuk menyewa mobil dengan supir yang akan mengantarkan mereka ke Kota Paju. Tanpa sepengetahuan anggota kelas 2, Kai, Taeil dan Sehun berhasil mengumpulkan dana untuk melakukan perjalanan hari ini melalui busking yang rutin mereka lakukan di akhir pekan. Ke-enam anggota band itu juga tidak berkumpul di sekolah seperti yang mereka lakukan dulu, mereka ber-enam memutuskan berkumpul di halte bus yang sudah mereka janjikan dengan sang supir. Taeyoung dan Kai membawa gitar klub band yang sudah sering mereka gunakan, sedangkan Kun, Sehun dan Hansol akan menggunakan alat musik keyboard, bass dan drum milik penyelenggara acara.


Badan Hansol yang tinggi besar mengharuskannya untuk duduk di depan. Setelah menyapa sang sopir dengan sopan, mereka duduk manis di dalam mobil dengan Taeyoung dan Kai yang harus terus memeluk gitar mereka sepanjang perjalanan, karena mobil tersebut tidak memiliki cukup tempat untuk membaringkan kedua gitar itu. Perjalanan ke Kota Paju hari ini cukup hening, tidak seperti saat mereka pergi dengan mini bus sekolah, mereka hanya berbincang biasa sambil sesekali menatap pemandangan musim panas yang sedang mencapai puncaknya di bulan Agustus ini.


Tak lama, akhirnya mereka tiba di event besar yang selalu diadakan setiap tahun itu. ‘Gyeonggi-do Senior High School Band Festival’, begitulah tulisan yang terdapat pada banner yang dipasang di pintu gerbang. Sehun berjalan mendahului sambil menyapukan pandangan pada hamparan rumput luas yang ada diujung jalan setapak yang mereka lalui. Festival tahun ini juga diadakan di outdoor di salah satu perbukitan hijau di Kota Paju yang cukup terkenal.


“Kami peserta lomba, kami dari Seo Seoul High School, Seoul,” ucap Sehun saat seorang panitia memberhentikannya untuk melihat tiket yang seharusnya sudah dibooking melalui internet.


“Oh,” pria itu terlihat terkejut. Ia kemudian mengambil gelang tiket untuk kemudian ia pasangkan satu persatu kepada seluruh anggota band. “akan kami foto dulu ya,” pintanya setelah dihampiri oleh seorang panitia lain yang membawa kamera polaroid.


“Oh, ne.. baik,” jawab Sehun.


Mereka ber-enam segera mengatur barisan untuk berfoto di depan gerbang. Sehun, Kai, Taeil, Taeyoung, Kun dan Hansol berdiri sejajar sambil bergaya dengan mengacungkan kepalan tangan mereka tanda mereka bersemangat pada lomba hari ini. Ternyata tidak hanya satu kamera saja yang mengambil gambar mereka. Dua pantia lain ikut datang bersama dengan kamera DSLR yang juga mereka gunakan untuk mendokumentasikan salah satu peserta lomba dihadapannya.


“Silahkan,” seorang panitia memberikan hasil jepretan kamera polaroidnya. “untuk kalian,” ucapnya.


Taeyoung menerima foto itu dengan kedua tangan sambil sedikit menundukkan badan. “Gamsahamnida,” ucapnya. Seketika mereka ber-enam melihat hasil dari jepretan kamera polaroid yang semakin lama semakin jelas terlihat wujudnya. Tak lupa mereka juga membaca tulisan yang panitia tulis pada lembar foto polaroid itu. “At Paju, Summer Band Festival,” baca Taeyoung pelan.


Taeyoung kemudian mendengarkan dengan seksama arahan panitia festival. Ia meminta band Taeyoung untuk berjalan melewati jalan setapak itu dan segera menuju ke belakang panggung dan menempati meja bertuliskan nama sekolah mereka. Sebagai vocalist band, panitia juga akan menempelkan stiker bertuliskan nomor urut dan nama sekolah pada baju Taeil agar para juri dan penonton nanti dapat dengan mudah mengenali mereka.


“Fuuuhhh….. fuuuhhh….” Kun masih berjalan mondar-mandir, sedangkan ke-lima temannya sudah terlihat duduk manis pada kursi-kursi yang mengelilingi meja berbentuk persegi panjang itu. Kun terus menggesek-gesekkan tangannya sambil sesekali mengatur nafasnya yang keluar masuk melalui mulut.


Taeyoung mengeluarkan minum yang sudah ia bawa dari awal perjalanan. Ia membagikannya pada ke-enam temannya yang terlihat gugup. “Kun ah,” Taeyoung menoleh ke belakang karena Kun memang sedang berdiri dan berjalan mondar-mandir di belakangnya. “minum dulu,”


“Oh, gomawo..” Kun meraih botol minum dari tangan Taeyoung. Dengan segera, ia meneguk air di dalamnya. “Aaaah…aku gugup sekali,” ungkapnya jujur.


“O. Aku juga, hehe,” ucap Kai sambil tertawa canggung.

__ADS_1


Mata Sehun melirik kesana kemari memperhatikan meja-meja lain yang berisi peserta pesaing mereka. “Hya, banyak peserta yang datang dari sekolah musik,” bisik Sehun dengan mencondongkan badannya ke depan.


Seketika teman-teman Sehun ikut melihat sekeliling. Benar yang dikatakannya, hampir seluruh para peserta yang maju ke babak final berasal dari sekolah musik, sedangkan mereka, berasal dari sekolah dengan jurusan campuran yang bahkan hanya memiliki dua anggota yang berasal dari jurusan musik dalam band mereka, yaitu Taeil dan Kun. Kenyataan itu sedikit membuat mereka berkecil hati, karena biasanya pada sekolah musik, selain mereka dilatih untuk bermain musik, mereka diajarkan mengenai tampilan panggung dan bagaimana menarik penonton dengan menyampaikan perasaan melalui tampilan mereka. Sedangkan mereka, bahkan waktu dua bulan latihan ini pun mereka tidak bisa lakukan dengan maksimal karena mereka juga harus fokus belajar dan berlatih band tanpa arahan dari Kim ssaem.


“Ey, sudahlaah..” Taeil berkata santai sambil menyenderkan punggungnya.


Dari belakang panggung, sudah terdengar suara MC yang membuka acara diiringi dengan teriakan antusias dari penonton festival. Kun semakin kencang mengatur nafasnya dan berusaha tenang, sesekali Taeil menghampirinya untuk menenangkan Kun yang mengeluh karena telapak tangannya tidak berhenti mengeluarkan keringat. Ia takut hal itu akan mempengaruhinya dalam permainan keyboardnya nanti.


Band Taeyoung memiliki nomor urut 5 untuk tampil diatas panggung. Setiap peserta, akan membawakan dua lagu yang harus ditampilkan secara langsung. Suara penonton yang masih semangat di tengah teriknya musim panas ini membuat Taeyoung semakin bersemangat, berbeda dengan Kun, ia semakin merasa bersemangat saat mendengar sorak sorai ramai dari penonton.


Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, kedua MC festival memanggil nama sekolah mereka. Taeyoung dan ke-enam anggota band kemudian mengumpulkan uluran tangan mereka di tengah dan berdiri melingkar.



“Hwaiting!” seru mereka penuh semangat sebelum mereka berjalan menyusuri area back stage dan akhirnya tiba diatas panggung.


Mereka ber-enam berdiri pada posisi masing-masing. Taeil sebagai vocalist yang berdiri di paling depan, menyapa penonton dengan suara tingginya. Ia dapat melihat dengan jelas 3 juri yang duduk paling depan dengan penonton yang berdiri di belakang mereka.


“Woooo!!!”


Suara seruan dan tepuk tangan menyambut sapaan Taeil. Seluruh anggota band tersenyum dan kadang tersipu malu melihat atensi yang tertuju pada mereka. Hansol mulai mendentumkan drumnya tanda pertunjukan band Seo Seoul High School dimulai. Hari ini mereka meng-cover lagu pop-rock milik Ft. Island berjudul ‘I Hope’ dan disusul dengan lagu kedua, mereka memilih lagu yang membuat penonton dengan segala usia ikut bernyanyi, yaitu lagu dari Kim Jong Kook yang berjudul ‘Loveable’.


Taeil semakin bersemangat bernyanyi kala ia melihat penonton ikut bernyanyi dan bahkan menari-nari kecil mengikuti alunan lagu yang ia tampilkan. Tepuk tangan dan sorakan penonton juga masih terdengar ramai walau band dari sekolah Seo Seoul High School itu telah selesai menampilkan kedua lagu pilihan mereka.


Mereka ber-enam kembali ke belakang panggung dengan senyuman yang masih terukir di wajah masing-masing anggota. Tak henti-hentinya mereka membahas penonton yang tidak mereka sangka akan menyambut mereka sebaik ini. Reaksi para juri memang berbeda jauh dengan penonton karena mereka harus serius mengamati permainan musik setiap anggota, namun tanpa beban untuk memenangi perlombaan, Taeyoung dan anggotanya sudah cukup puas dengan penampilan mereka hari ini.



Tak terasa waktu penjurian band dimulai. Seluruh peserta diminta berdiri di belakang panggung untuk mendengar MC menyebutkan pemenang pertama, kedua dan ketiga. Seperti peserta lain, Taeyoung menunggu MC menyebutkan band yang keluar sebagai pemenang utama yang akan mendapatkan piala yang cukup besar yang bisa ia pamerkan ke seluruh guru di sekolahnya.


Juara ketiga sudah disebut, para anggota band itu bersorak di belakang panggung dan meloncat-loncat senang. Mereka berasal dari salah satu sekolah musik di Seoul, sekolah yang berasal dari kota yang sama dengan Taeyoung. Para pemenang ketiga itu kemudian segera naik panggung untuk menerima hadiah berupa uang tunai dan piala.


Sehun dan Kai mengepalkan tangan di depan wajahnya seperti sedang berdoa. Mereka memejamkan matanya berharap para MC menyebutkan nama sekolah mereka. Sorak sorai ramai dari penonton dan pendukung sekolah lain semakin terdengar jelas. Tidak ada yang meneriakkan nama band dari sekolah mereka, tentu saja, karena tidak ada yang tahu bahwa band dari sekolah Seo Seoul ini sedang mengikuti perlombaan bergengsi yang diadakan setiap tahun.


Para MC sudah menyebutkan pemenang kedua. Sayangnya, itu bukan dari sekolah Seo Seoul. Lagi-lagi dari sekolah musik yang kali ini berasal dari Ibu Kota Provinsi Gyeonggi, yaitu Kota Suwon. Para anggota dari band sekolah musik Suwon terlihat terkejut dan mematung hingga kemudian mereka berteriak senang. Peserta lain di belakang panggung juga ikut bertepuk tangan dan memberikan selamat pada mereka yang datang jauh dari Kota Paju ini. Ke-lima anggota band itu lalu naik ke panggung dengan iringan suara sorakan yang berasal dari penonton yang rupanya adalah pihak sekolah dan murid-murid sekolah musik Suwon.


Taeyoung masih ikut bertepuk tangan mendengar sang MC memberikan semangat dan sedikit menggoda anggota band Kota Suwon karena mereka semua sedang menangis. Taeyoung menundukkan kepalanya, ia tidak berharap banyak melihat seluruh pesaing yang datang bersamanya adalah lawan yang cukup tangguh untuk dikalahkan. Pengumuman yang dinanti-nanti tiba, seluruh peserta band yang ada di belakang panggung terlihat berdoa dan bahkan ada yang membentuk lingkaran sambil saling berpegangan tangan dengan gurunya.


“Chukahamnida! Seo Seoul High School!!” seru sang MC membacakan pemenang utama perlombaan hari ini.


Taeyoung dan seluruh anggota band sekolah Seo Seoul mematung. Mata mereka membulat sambil bertukar pandang bingung.


Sang panitian yang berada di belakang panggung bingung melihat reaksi mereka, “Anu… Seo Seoul High School?” ucapnya berusaha memecah keheningan para pemenang itu. “selamat, kalian adalah pemenang utama,” lanjutnya dengan nada pelan.


“N..ne?!” Seru Kai yang baru bereaksi.


“Mwoya?! Jinjja?!” Ia memandang satu persatu temannya.


“J..jinjja?” Taeyoung menutup mulutnya tak percaya.

__ADS_1


Seketika Hansol yang menyadari apa yang terjadi, segera bersorak riang. Badannya yang besar itu membuat seluruh temannya sadar bahwa mereka barusaja mendengar kabar baik. Seluruh anggota band sekolah Seo Seoul akhirnya bersorak senang sambil sesekali berlompat-lompatan. Mereka kemudian naik ke atas panggung sambil menundukkan badan mengucapkan terimakasih pada penonton yang masih ada sampai akhir acara. Tidak ada satupun yang mengenal mereka di acara itu, Kota Paju adalah kota yang cukup jauh untuk didatangi sendiri oleh teman-teman mereka dari Seoul. Namun, sorak sorai dari penonton yang bahkan tidak mereka kenal semakin membuat mereka ingin menangis. Akhirnya mereka memenangkan perlombaan yang sudah mereka siapkan dengan susah payah. Keletihan fisik dan mental yang mereka sudah lalui berbuah manis. Kini piala besar dan sejumlah uang tunai ada di tangan mereka. Mereka adalah pemenang perlombaan band antar SMA se-Provinsi Gyeonggi.


Kun masih menangis bahkan dalam perjalanan pulang. Ia tidak menyangka perlombaan melelahkan ini dimenangkan oleh sekolah mereka. Suasana haru menyelimuti mobil yang melaju kembali ke Kota Seoul di tengah malam. Tanpa harus diingatkan kembali, mereka telah menyadari bahwa ini merupakan perlombaan terakhir band yang beranggotakan mereka ber-enam. Pada bulan September nanti, mereka akan segera memasuki semester dua, yang artinya, para murid kelas 3, Kai, Taeil dan Sehun tidak boleh mengikuti klub manapun dan diharuskan fokus belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi. Taeyoung senang bandnya dapat memenangkan perlombaan penting ini, walau terasa tidak mungkin, tapi ia tahu bahwa setiap anggota bandnya berharap dapat memenangkan perlombaan dan meraih hadiah yang cukup besar itu.


Hansol duduk di depan sambil memeluk piala besar yang mereka peroleh. Sang supir juga turut mengucapkan selamat pada mereka ber-enam. Pada perjalanan pulang, mereka cukup berisik dan masih menceritakan bagaimana serunya perlombaan tadi. Sesekali mereka tertawa renyah dengan candaan Sehun terhadap ekspresi gugup Kun tadi yang terlihat jelas.


“Hyung..” Kun menyeka air matanya dan ikut menertawakan dirinya. “hya, mwoya,” ujarnya geram.


“Hahaha!” Hasol ikut tertawa keras sambil memalingkan wajahnya ke belakang untuk dapat melihat ekspresi teman-temannya.


“Pialanya besar sekali ya,” komentar sang supir melirik piala yang ada pada pelukan Hansol.


“Ne,” angguk Hansol sambil memandang piala yang cukup berat karena berfondasi marmer dan berbahan alumunium berat. “piala milik juara pertama memang sebesar ini, ahjussi. Yang lain lebih kecil dan ringan,” jelas Hansol dengan bangga.


“Aa…” sang supir mengangguk mendengarkan. Ia kemudian memfokuskan pandangannya lagi pada gelapnya malam Kota Paju. Kota itu sungguh terlihat berbeda dari Seoul yang pasti terlihat masih terang walaupun sudah selarut ini. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 11 malam. Butuh satu jam lagi untuk tiba di Seoul dan menurunkan para murid-murid di halte di tempat mereka bertemu tadi pagi.


WUSSH….


Sebuah mobil hitam tiba-tiba melaju sangat kencang mendahuli mobil yang dinaiki rombongan dari Seoul itu. Semua mata seketika terfokuskan dengan mobil yang barusaja melewati mereka. Suara mobil itu cukup kencang hingga mereka mengira itu adalah sebuah mobil balap.



Suara kencang dari mobil terdengar lagi. Kali ini suara itu terdengar cukup ramai. Sepertinya bukan dari satu mobil. Sehun yang duduk dibelakang, menoleh menghadapkan pandangannya pada pemandangan yang terjadi di belakang mobil.


“Mwoya!” Serunya. Membuat seluruh temannya menoleh ke belakang.


“A..ada apa?” Tanya sang supir sambil memanjangkan lehernya berusaha melihat dari spion dalam.


Sehun menunjuk mobil-mobil yang jauh ada di belakang mereka. Mobil itu cukup banyak dengan variasi warna yang beragam. Seluruh mobil melaju dengan kecepatan sangat kencang hingga mereka tidak tahu ada berapa mobil disana.


“Balap liar, ya?” Hansol mengikuti gerak mobil merah yang barusaja melewati mobilnya lagi. Mobil merah itu juga melaju dengan kencang hingga seketika hilang dari pandangannya.


Di jalan yang sepi itu terlihat dengan jelas lebih dari 10 mobil-mobil mewah dengan warna mencolok melaju sangat cepat dan membuat suara bising.


BRUAKK!


“Omo!” Sehun berseru lagi. Ia menunjuk jauh ke arah belakang, terdapat 2 mobil yang saling bertubrukan. Salah satu mobil terlihat tidak bisa mengendalikan laju mobilnya dan terus berputar dengan cepat. Sehun dapat melihat mobil itu berputar semakin kencang dan semakin dekat dengan mobil yang ditumpanginya. “Ahjussi, awas!!”


BRUAKK!!


Sebuah mobil mewah menabrak bagian belakang mobil yang ditumpangi Taeyoung dan teman-temannya. Tabrakan itu kemudian disusul dengan mobil mewah lain yang hilang kendali juga hingga menabrak sisi kiri mobil hitam sewaan itu. Tabrakan beruntun itu begitu keras hingga sang supir sulit mengendalikan mobilnya.



“AAAAAA!!”


Suara gaduh dari dalam mobil terdengar keras. Mobil yang mereka tumpangi jatuh ke kiri dan terdorong oleh tabrakan ketiga dari mobil mewah lain. Mereka memejamkan mata saat kaca mobil mulai pecah dan mobil tidak berhenti berguling.


__ADS_1


...****************...


__ADS_2