![THE ZOO [FF NCT AESPA]](https://asset.asean.biz.id/the-zoo--ff-nct-aespa-.webp)
Hendery, Mark dan Xiaojun terlihat sedang berada di salah satu meja di kantin sekolah, mereka menyantap hidangan makan siang yang mereka beli dari kantin yang memiliki koki hebat yang selalu memperhatikan nilai gizi dari makanan yang disajikan. Namun hal itu tidak berpengaruh bagi Xiaojun, ia tetap membagi-bagikan sayurnya ke tray Hendery dan Mark.
“Hya…” Protes Hendery saat porsi sayurnya bertambah banyak.
“Makan yang banyak,” ucap Xiaojun setelah membagi sayurnya sama rata kepada Hendery dan Mark yang duduk di depannya.
“Eh, lihat, lihat,” bisik Mark pada antrian panjang di sisi ruang kantin. “anak itu,” Mark menunjuk salah satu murid dengan tatapan matanya.
“Siapa?” Dengan cepat, Xiaojun menoleh.
“Hhhh…” ia lalu membalikkan badan manghadap makanannya lagi setelah menghela nafas sambil memutar bola matanya.
“Musuh Xiaojun. Hahaha,” Mark terkekeh pelan. “Itu, yang berdiri di belakang Yangyang,” Mark menjelaskan pada Hendery yang masih bingung siapa yang sedang dibicarakan.
Hendery akhirnya menemukan si subjek pembicaraan. “Dia? Kenapa?” Tanya Hendery.
“Hahaha,” Mark tidak dapat mengontrol tawanya. “dia..haha, dia mengalahkan Xiaojun,”
“Hya! Aku tidak kalah, aku sedang tidak enak badan!” Sanggah Xiaojun. Xiaojun yang bisa mengerti raut wajah bingung Hendery pun memulai ceritanya, “Beberapa hari yang lalu setelah kami latihan dengan klub sepak bola, ada segerombolan anak-anak kelas 1 datang untuk meminjam lapangan sepak bola. Mereka mau bermain sepak bola, katanya. Dan mereka semua bukan dari anggota klub,”
“Hmm hmm,” angguk Hendery.
“Lalu anak itu mengajak beberapa anggota klub yang belum pulang untuk bermain bersamanya. Lalu aku kebetulan menjadi tim musuh dari anak itu,”
“Tunggu, tunggu,” Hendery mengangkat telapak tangannya, “Yang kau maksud ‘anak itu’ itu Haechan?”
“Mwoya, kau kenal ‘anak itu’?”
“Itu ‘Haechan’ yang kau ceritakan?”
Hendery mendengar Xiaojun dan Mark bergantian melontarkan pertanyaan.
“Ya. Haechan, teman sekelas Yangyang, yang membantuku membersihkan ruang klub band,”
“Oh…. Aku hanya tahu nama ‘Jaemin’ dan ‘Chenle’, karena waktu itu mereka satu tim denganku,” lanjut Xiaojun. “asal kalian tahu, ya.
Tingkah anak bernama Haechan itu sungguh menyebalkan. Dia sombong sekali saat melakukan tendangan gol. Dia berteriak bagai memenangkan piala dunia!” ucapnya,
__ADS_1
mendeskripsikan euforia Haechan.
“Hahaha! Kau kalah sih!” Hendery menunjuk ekspresi kesal Xiaojun.
“Iya! Haha!” Mark ikut menggoda Xiaojun. “Kau tahu, waktu itu aku sudah selesai latihan klub basket, jadi aku bisa melihat dengan jelas gol si Haechan itu, dan juga amarah Xiaojun. Hahaha! Xiaojun ah, itu hanya permainan,”
“Tapi dia…”
“Annyeong, hyung,” sapaan Yangyang membuat mereka bertiga terdiam. Sang tokoh utama dalam cerita Xiaojun, Haechan, juga ikut menyapa Hendery dan teman temannya.
“Annyeong haseyo,” sapa Haechan.
“Oh, annyeong Yangyang, Haechan,” Hendery menyapa balik. “selamat makan,”
“Ne hyung,” Yangyang tersenyum balik dan melanjutkan perjalanannya bersama Haechan sambil berhati-hati membawa tray yang sudah penuh dengan makanan.
“Apakah saat itu Yangyang juga ikut bermain bola? Dia kan dekat dengan Haechan,” Tanya Hendery pada Xiaojun yang bermuka masam setelah melihat Haechan.
Xiaojun menggeleng dengan mulut penuh dengan makanan. “Tidak ada dia,”
“Yangyang lebih jago main basket dari pada sepak bola,” sahut Mark sambil menyeruput sup nya.
“Loh? Aku belum bercerita ya?” Mark kaget sendiri dengan reaksi temannya. “Kejadian ini sudah lama sih… Apa kau ingat ceritaku tentang hari pertama kegiatan klub basket? Yang ada murid melawan Jaehyun itu,”
“Ya, aku ingat,” Xiaojun menyela jawaban Hendery yang mengingat cerita Mark. “murid yang berhasil mengambil bola yang dikuasai oleh dribble-an Jaehyun, lalu mengoper sempurna ke Johnny sunbae itu ‘kan?” Tanya Xiaojun yang masih jelas mengingat cerita legendaris itu.
“Ya. Yang itu ya. Aku ingat juga,” Hendery juga tampak masih mengingat jelas cerita Mark. “Tunggu. Apakah itu…. Yangyang?”
“Hmm,” Mark mengangguk. “Pantas saja wajah Yangyang tidak asing, ternyata dia pernah membuat heboh klub kami dihari pertama kegiatan klub,”
“Daebak..” gumam Hendery. “Aku tidak tahu kalau ia jago basket,”
“Lebih jago dibanding Jeno, hehe,” Mark melanjutkan ceritanya setelah meneguk habis minuman di gelasnya. “Aku rasa Yangyang dan Jeno tertukar. Jeno sampai sekarang masih layak menjadi pemain cadangan diantara anggota yang lain. Malah permainan gitar Jeno sangat bagus,”
“Ania, tidak terbalik. Bakat musik Yangyang juga bagus,” puji Hendery. “dia hanya lebih jago basket daripada Jeno,”
“Wooo…” goda Xiaojun. “mwoya Hendery ‘sunbae’, kau takut Yangyang direbut klub basket?”
“Diam kau,” ucap Hendery sebal. “Hya kalian benar-benar tidak ingin kembali ke klub band?” Hendery tiba-tiba merengek.
__ADS_1
“Mian. Menjadi anggota klub basket ternyata melelahkan,” tolak Mark tanpa berfikir panjang. “aku tidak tahu kami akan memiliki begitu banyak perlombaan basket,”
“O. Setuju. Hya Hendery ah, bukannya kami tidak mau, tapi menjadi anggota klub olahraga itu melelahkan, kau tahu,” ucap Xiaojun yang setuju dengan keluhan Mark. “lagipula ibuku sudah siap mendaftarkanku ke berbagai les, aigooooo….”
“Aigoo, wae, Xiaojun ah?” Kang ssaem, guru vocal jurusan Musik datang menghampiri Xiaojun yang barusaja mengacak-acak rambutnya.
“Oh? Ssaem!” Seru Xiaojun agak malu karena aksisnya mendapat perhatian dari gurunya.
Guru yang cukup akrab dengan murid jurusan Musik itu pun menghampiri Hendery yang memang sedari tadi dicarinya.
“Bagaimana kabar klubmu?” Tanyanya tanpa basa-basi.
“Berjalan dengan baik, ssaem. Tapi… kami masih memiliki dua anggota saja sampai saat ini,”
“Jinjja? Semester satu sudah hampir berakhir, loh,” Kang ssaem memiringkan kepalanya tak percaya.
“Sepertinya semua sudah termakan rumor itu,” Hendery tersenyum pahit mengetahui bahwa hampir sebagian murid di sekolah Seo Seoul percaya pada rumor ‘sial’ yang dimiliki jika menjadi anggota klub band.
“Ey, ayolah, sejak kapan kau percaya hal itu!” Kang ssaem melambaikan tangannya sambil duduk di sebelah Xiaojun. “Dari dulu kau ‘kan sudah ngotot mengajukan pembukaan ulang klub band, kau tidak peduli adanya rumor aneh yang tersebar di seluruh sekolah. Coba bayangkan, sudah berapa kali kau menghampiri ruang guru dan ruang osis hanya karena proposal itu?” Kang ssaem
menggebu-gebu menyemangati Hendery yang sedari dulu tidak pernah menyerah mempertahankan klub band.
“Hehe… ne, ssaem,” Hendery menyengir menunjukkan deretan giginya.
Kang ssaem kemudian memukul meja dengan pelan. “Sudah. Jangan diingat lagi. Ssaem kesini mau mengajukan ide padamu.
Bagaimana kalau klub band menjadi salah satu pengisi acara di ulang tahun sekolah nanti,”
“Eh?” Ketiga murid Kang ssaem itu kaget mendengar tawarannya.
“Ck. Sudah kuduga kau belum mendengar kabar ini,” wajah Kang ssaem terlihat sebal saat menyadari bahwa Hendery tidak mengetahui bahwa akan ada perayaan ulang tahun sekolah dan siapa saja boleh mendaftar menjadi pengisi acara. “hya, ikutlah. Klub choir saja ikut, masa’ klub band tidak tampil,”
“Berdua saja?”
“Ya mau bagaimana lagi. Anggota bandmu memang hanya satu saja, ‘kan,” Kang ssaem mengangkat kedua bahunya membicarakan fakta.
“Iya sih…”
“Kalau begitu, ssaem daftarkan, ya,” Kang ssaem terlihat memutuskan nasib klub band. “kau harus tampil di acara itu, oke?”
__ADS_1
“Ne ssaem,” angguk Hendery. “gamsahamnida,”
...****************...