THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 13


__ADS_3

“Kang ssaem?” Yangyang merebahkan dirinya pada sofa empuk di dalam ruangan klub band. “guru olah vocal itu?”


“O,” jawab Hendery yang sedang mengambil sebuah gitar akustik yang kemudian ia topang di pangkuannya. “dia sudah mendaftarkan kita,” lanjut Hendery yang barusaja menginfokan Yangyang bahwa Kang ssaem meminta mereka untuk tampil di acara ulang tahun sekolah yang akan diadakan sebulan lagi.


“Berdua saja, hyung? Hyung akan bermain gitar?”


“Ya… tergantung lagu apa yang kita pilih,”


Yangyang mengangguk berfikir mengenai lagu apa yang akan mereka berdua tampilkan.


Akhirnya klub band akan tampil di suatu panggung, bukan di siaran radio klub broadcast maupun live di akun instagram Yangyang yang sebelumnya penuh dengan komentar berbahasa Jerman, hingga akhir-akhir ini penuh dengan komentar berbahasa Korea yang menandakan bahwa popularitas Yangyang sudah mulai merambat ke Negara yang sekarang ia tinggali ini.



Giselle menopang pipinya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya masih menggenggam susu pisang yang barusaja Yangyang berikan padanya. Ia menyimak cerita Yangyang yang mengatakan bahwa ia akan tampil di acara ulang tahun sekolah. Kelas yang sore ini tak berpenghuni itu bagai menggemakan suara Yangyang yang berbicara dengan antusias. Yangyang berbicara sambil memangku sebuah gitar miliknya yang ia bawa untuk kelas instrumen hari ini. Gerakan antusias Yangyang membuat gitarnya sedikit oleng dan hampir terjatuh.


“Kudengar klub cheers juga ikut tampil,” kata Yangyang, setelah selesai bercerita. “apa benar?”


Giselle mengangguk. “Mmm,”


“Wah… pasti keren sekali,” Yangyang membayangkan grup cheers yang tampil dengan aksi akrobatnya.


Giselle yang telah selesai meneguk susu pisangnya kemudian berdiri dan mengambil tas olahraga miliknya. “Aku latihan dulu, Yangyang ah,” ucap Giselle yang akan menuju aula olahraga untuk bertemu dengan anggota klubnya.


“Oh? O..” Yangyang mengangguk menatap punggung Giselle yang mulai berjalan menjauh.


Giselle kemudian membalik badannya saat ia sudah berada di dekat pintu kelas. “Kau tidak pulang?”


“Aku? Mm ya, setelah ini,” Yangyang mengangkat gitarnya. “aku akan berlatih sekali lagi,” ucapnya.


Yangyang kemudian menatap Giselle yang menutup ruang kelas dan pergi menjauh. Sikap Giselle hari ini begitu aneh, berbeda dari biasanya. Ia terlihat murung dan tak menghiraukan candaan Yangyang.


Yangyang berlatih gitar sudah cukup lama. Sesekali ia memutar-mutar tuner gitar saat dirasa senar gitarnya tidak mengeluarkan nada yang sesuai. Yangyang sudah tidak lagi memainkan biola pada ujian praktik instrumen.


Keyboard dan gitar adalah alat musik baru yang Yangyang gemari semenjak ia bersekolah di jurusan Musik. Yangyang masih suka memainkan biola dan piano klasik, namun akhir-akhir ini ia memilih untuk menampilkan lagu-lagu modern yang menjadi perbincangan di tangga lagu Korea.


JRENNGG….


DRAP DRAP DRAP!!


Suara langkah kaki yang berlari cepat menutupi suara petikan gitar Yangyang. Yangyang terlihat mengeryitkan dahinya saat langkah kaki itu memecah konsntrasinya. Yangyang meletakkan gitar itu diatas mejanya. Ia lalu bergegas menuju pintu kelasnya.


“Giselle ah!!” Terdengar suara dari lorong.

__ADS_1



Yangyang menghentikan tangannya yang hendak membuka pintu kelasnya. Ia terdiam di balik pintu.


“Giselle ah!” Suara itu memanggil Giselle lagi. Yangyang mengintip dari kaca yang terdapat di pintu kelasnya.


Seseorang dengan baju yang sama dengan Giselle mengambil tangan Giselle dan membuatnya berbalik untuk menatap dirinya. “Giselle ah? Wae? Kalau kau menangis dan pergi, kami tidak mengerti,” ucapnya.


Yangyang kini hanya bisa melihat punggung Giselle yang menatap salah satu anggota cheers yang berada di depan Giselle. Yangyang juga melihat ada Karina yang berdiri lebih jauh dari mereka berdua.


“Sudahlah, Yeri unnie,” Giselle terdengar berbicara pelan dengan suara bergetar.


Karina pun berjalan mendekat kearah Yeri dan Giselle. “Giselle ah…” panggil Karina khawatir.


“Apa kau kecewa karena Joy tidak memilihmu?” Tanya Yeri. “Hya, panggung aula sekolah tidaklah besar, jumlah kita terlalu banyak, jadi tidak semua anggota bisa tampil,”


“Aniyeyo unnie,” Giselle menggelengkan kepala sambil menangis. “bukan karena itu…”


“Lalu kenapa? Apa ketiga anak itu mengusikmu lagi?” Yeri mencoba mengatakan tebakkannya yang kedua.


“Aniyeyo..” jawab Giselle lagi. “aku…aku hanya kecewa dengan diriku sendiri, unnie..”


“Giselle ah..” Karina mengusap usap lengan Giselle.


“Hya aniyaaa….” Karina memeluk Giselle yang terlihat kesal hingga menangis sesenggukan.


“Giselle ah, semua butuh proses, mungkin prosesmu lebih lama dari teman-temanmu, tapi aku percaya kau pasti bisa,” Yeri terdengar menyemangati Giselle. “percayalah, aku pernah berada di posisimu,” lanjutnya, membuat Giselle dan Karina mengingat cerita Joy mengenai Yeri beberapa hari lalu.


“Unnie..”


“Aku harap kau juga mengerti posisi Joy,” lanjut Yeri. “ia hanya tidak ingin terjadi kecelakaan ataupun hal-hal yang tidak diinginkan di panggung. Oleh karena itu ia perlu menyeleksi lagi anggota cheers yang akan melakukan akrobat di panggung ulang tahun sekolah nanti,”


“Ne Yeri unnie, aku mengerti,”


Yeri kemudian membantu Giselle menyeka air matanya, ia lalu memeluk Giselle sambil menepuk-nepuk punggung Giselle. “Gomawo,” ucapnya. “nah, aku dan Karina harus kembali ke aula. Kau mau ikut atau istirahat?”


“Saya istirahat saja, sunbae. Saya mau pulang,” jawab Giselle yang sudah tidak perlu ikut latihan cheers selama 3 kali pertemuan, karena fokus latihan hanya untuk para anggota yang terpilih untuk tampil di acara ulang tahun sekolah.


“Baiklah, kami kembali dulu ya,”


Giselle melambaikan tangannya pada Yeri dan Karina yang terlihat terburu-buru untuk kembali berlatih di aula olahraga.


GREEEKKK…

__ADS_1


“Gi..”


Giselle mematung beberapa detik. Ia menatap Yangyang yang belum sempat kabur dari balik pintu ruang kelas. “Belum pulang?” Tanya Giselle yang berjalan melewati Yangyang.


Yangyang membalikkan badannya menatap punggung Giselle yang menuju mejanya. Ia melihat Giselle mengurai kembali rambutnya setelah ia kuncir sangat tinggi seperti gadis cheers lainnya.


“Gwaenchana?” Tanya Yangyang memastikan keadaan Giselle.


“Kau dengar, ya?”


“Mmm.. mian,” Yangyang melangkah mendekat ke mejanya dan Giselle. “Kau…dietmu tidak gagal kok. Kau terlihat lebih kurus,”


“Jangan menghiburku,”


“Mian,”


Suasana hening yang amat canggung menyelimuti mereka berdua. Giselle terus menatap jendela di kirinya yang menampilkan langit senja serta dedaunan musim gugur yang terbang dibawa angin.


“Kau.. tidak jadi tampil di panggung ya?” Yangyang tetap bersuara lagi.


“Hya,” Giselle terdengar kesal.


“A..ani.. maksudku..” Yangyang memainkan kukunya sambil masih berdiri di sebelah Giselle yang menolak untuk menatapnya. Ia masih memandang jauh keluar jendela. “apa kau mau menjadi vocalist band kami?”


Giselle diam tidak menjawab. Giselle tidak menyadari bahwa Yangyang dapat melihat jelas pantulan wajah Giselle dari jendela disampingnya. Yangyang terkejut melihat Giselle yang rupanya sedang menangis dalam diam. Dia menangis lagi. Air matanya terlihat bercucuran membasahi pipinya. Giselle manahan sesenggukkannya dengan terus mengigit bibir bawahnya.


“Giselle ah,” Yangyang menempelkan telapak tangannya ke kepala Giselle.


“Huaaa!!!”


Yangyang dibuat terkejut mendengar Giselle yang mengeluarkan suara tangisan begitu keras.


“Eh?! Giselle ah!”


“Mengapa kau menyentuhku?!” Giselle memukul perut Yangyang yang berdiri di sisi kanannya. “jangan menyentuhku!”


“Aw! Aw! Mianhae!” Seru Yangyang yang mendapat pukulan bertubi-tubi dari Giselle.


“Huaaaaaa!!! Hiks hiks…” Giselle menutup wajahnya dengan tangannya. Mulutnya masih mengeluarkan suara tangisan.


“Gi..Giselle ah, tenang..” Yangyang mencoba menenangkan Giselle sambil melihat ke arah pintu kelas, berharap tidak ada seorang pun yang berada disana.


__ADS_1


...****************...


__ADS_2