THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 4


__ADS_3

Hendery dan Yangyang tidak membuang kesempatan emas yang diberikan klub broadcasting hari ini. Pada jam istirahat kedua, Hendery dan Yangyang berkesempatan untuk menjadi tamu dalam radio sekolah yang dibawakan oleh mc Jungwoo, murid kelas 2 anggota klub broadcasting. Dalam hari tertentu, klub broadcasting and media akan melakukan siaran radio yang diputar langsung ke seluruh penjuru sekolah. Dalam siaran radio yang mereka bawakan, biasanya klub broadcasting akan membahas seputar info terbaru sekolah, jadwal ujian, menu sekolah, maupun membacakan surat yang dikirim bebas dari murid kepada tim broadcasting untuk dibacakan secara gamblang. Tidak jarang juga tim broadcasting mengundang beberapa tamu seperti tim osis yang akan mengumumkan event sekolah, guru, maupun mengundang murid yang mendapatkan penghargaan sebagai bentuk apresiasi sekolah.


Kali ini, klub broadcasting memilih mengundang klub band untuk meminta mereka bernyanyi live di dalam kegiatan siaran langsung hari ini. Setelah seorang pembawa radio, Jungwoo, dari kelas 2 jurusan Teknik Mesin mengajak mereka berkenalan dan membahas sedikit tentang musik, kini ia meminta Hendery dan Yangyang untuk menghibur seluruh penghuni sekolah yang sedang beristirahat siang dengan alunan musik yang mereka mainkan.



Jungwoo memastikan Hendery sudah siap dengan gitar di pangkuannya. Ia tersenyum memandang Hendery dan Yangyang yang tampak gugup. Yangyang tak henti-hentinya meminum air putih sebelum bersiap menyanyi. “Nah, kalian sudah siap?” Tanya Jungwoo sambil merapikan kertas script yang tadi ia gunakan sebagai alur perbincangan hari ini dengan klub musik.



Hendery memetik beberapa senar untuk memastikan suara gitarnya apakah ada nada sumbang atau tidak. Ia menatap Yangyang lagi yang duduk berhadapan dengannya, mata bulatnya seolah bertanya apakah Yangyang sudah siap membawakan lagu Way Back Home dari Shaun.


“Ne..” Yangyang mendekatkan dirinya pada mic yang bertengger kokoh dihadapannya. “kami sudah siap,” ucap Yangyang yakin.


Hendery pun mulai memainkan gitar pada bagian intro. Jungwoo menyenderkan badanya santai pada kursi mc radio yang berada diantara Hendery dan Yangyang. Yangyang mulai bernyanyi dengan iringan gitar Hendery. Suara lembut Yangyang membuat mata Jungwoo membulat dan mengangguk kecil. Jungwoo sempat bertukar pandang pada ketua klub broadcasting yang berdiri di balik dinding kaca yang berada di hadapannya.


Sang ketua klub broadcasting bernama Winwin, dari kelas 2 jurusan Seni Rupa, ikut mengangguk balik menatap Jungwoo, ia bahkan mengacungkan jempolnya. Di sebelah Winwin ada sang ketua osis dan salah satu anggotanya yang datang untuk melihat siaran langsung radio kegiatan klub broadcasting.


“Script wawancara hari ini menarik juga,” puji Ten, salah satu anggota osis yang bertugas sebagai penyalur aspirasi murid ke anggota osis. Ia adalah salah satu anak kelas 2 yang cukup populer di sekolah, selain karena penampilannya yang selalu keren dan kini ia juga menjabat sebagai ketua klub dance sekolah, sebagai anggota osis, Ten membuka diri bagi murid yang ingin memberikan usul, kritik, dan saran bagi sekolah, ia lalu menyampaikan semua pesan itu pada tim osis sebelum sampai ke pembina osis dan akhirnya aspirasi murid dapat didengar oleh seluruh guru disana.



“siapa yang menulis scriptnya?” Tanya Ten.


“Aku,” Jawab Winwin yang masih melipat tangannya dan menikmati lagu yang dinyanyikan Yangyang.


Doyoung yang berdiri di samping Winwin menatapnya tak yakin. “Oh? Kau sendiri?” Tanyanya ulang. Ia meragukan jawaban Winwin karena biasanya script siaran radio akan dibuat oleh tim khusus di klub broadcasting, lalu disetujui oleh sang ketua.



Winwin mengangguk mantab dan kini menatap Doyoung yang juga masih merupakan anggota klub broadcasting. “Hyung tahu sendiri ‘kan, usaha keras Hendery sampai akhirnya klub musik kembali dibuka,” ucap Winwin mengajak Doyoung membayangkan sosok Hendery yang masih menjadi anggota klub broadcasting. Kala itu Hendery sering terlihat pulang telat untuk menyusun proposal dan mengejar guru pembina klub untuk membicarakan pembukaan klub band kembali.


Doyoung mengangguk tanda ia mengingat kerja keras Hendery. Sosoknya yang pantang menyerah terlihat imut dimatanya. Ingatan kecil itu membuat Doyoung tersenyum dan kini menatap Hendery yang sibuk memainkan gitarnya.


“Aku ingin pihak yang menolak pembukaan klub band mendengar suara Hendery, hehe. Jadi aku melakukan yang terbaik dalam penulisan script hari ini,” lanjut Winwin seolah usai melakukan aksi balas dendamnya.


Lega rasanya kala Jungwoo dapat menyampaikan script yang Winwin buat sehingga seluruh penjuru sekolah tahu bahwa klub musik kembali dibuka, dan klub yang dipimpin oleh Hendery ini yakin bahwa klub musik akan kembali populer seperti waktu dulu.


Seperti yang diharapkan, siaran radio sekolah hari ini cukup menarik dengan klub musik yang datang sebagai bintang tamu pertama yang hadir semenjak tahun ajaran baru. Ruang kantin yang tadinya ramai, segera mengurangi suara gaduh mereka agar dapat mendengar jelas lagu yang dibawakan oleh Yangyang dan Hendery.


Giselle mengangkat alisnya bertukar pandang dengan Minjeong. Mereka tidak menyangka Yangyang memiliki suara yang lembut dan cocok membawakan lagu yang sedang tren akhir-akhir ini. Giselle dan Minjeong kini sedang berjajar rapi untuk antri mengambil makan siang yang disediakan oleh kantin sekolah.


“Wuaah..” Minjeong menggerekkan kepalanya ikut bersenandung mengikuti irama lagu yang pop yang dibawakan Yangyang. “hebat juga Yangyang, selama ini kita hanya mendengarnya bermain keyboard dan biola saja, ya ‘kan?”


“Mm!” Angguk Giselle. Ia tidak menyangka Yangyang memiliki suara pop rnb yang lembut. Selama ini saat guru musik meminta muridnya untuk tampil dan menunjukkan bakat mereka, Yangyang selalu memilih untuk bermain keyboard ataupun biola, Giselle sempat menduga bahwa Yangyang adalah ahli dalam bidang musik klasik, namun dugaannya salah, ternyata Yangyang juga cocok membawakan lagu pop dengan suara khasnya. “ini pertama kali aku mendengarnya bernyanyi,” lanjut Giselle.


Tiba-tiba muncul sosok yang dikenal Giselle datang dari samping, menghampiri Giselle. Ketiga orang itu adalah anggota klub cheers yang biasa berlatih bersamanya. Mereka melangkahkan kakinya sambil menyilangkan tangan dan menatap berani ke arah Giselle.


“Mwoya.. Giselle ah,” celetuk salah satu dari mereka sambil mengeryitkan dahi.


Minjeong yang tak kenal dengan anak kelas 1 dari jurusan lain itu pun menoleh ke belakang menghadap Giselle.


“Sunbae menyuruhmu untuk diet ‘kan? Ckckck…” cemoohnya. Siswi-siswi itu memandang Giselle dari atas sampai bawah sambil tertawa kejam. “Kau bahkan membeli roti dan susu selagi antri makanan?!” Serunya berpura-pura kaget setelah melihat kantong jas Giselle yang berisi roti isi di kanan dan susu pisang di kantong kirinya.


“Hhh..” Giselle membuang muka dan menaikkan ujung bibirnya. “hya,” Giselle mendorong pelan bahu siswi yang sedari tadi berkata kejam padanya. Suasana dingin mulai terjadi. Barisan depan dan belakang Giselle mematung melihat Giselle yang keluar dari antrian untuk berbicara pada siswi berbadan kurus dengan ramput dikuncir bundar. “jangan-ikut-campur,” ucap Giselle, mendorongnya sambil mengeja tiap kalimat yang ia ucapkan.


“Hya!” Teman satu klub cheers Giselle itu membalas dorongan pelan Giselle dengan dorongan yang lebih kencang hingga Giselle hampir menabrak Minjeong yang ada di belakangnya. “Lihatlah dirimu! Cih, percaya diri sekali kau!” Ia terlihat marah dengan perlakuan Giselle yang tidak takut padanya. “Kau hanya akan menjadi beban bagi klub cheers! Dasar si gem…!” Serunya.


“Hya!” Seseorang dengan suara lebih lantang menyela seruan siswi yang sedang melakukan body shaming pada Giselle. Semua terdiam termasuk si pembully itu. Suara itu muncul dari samping, membuat semua yang memperhatikan peperangan Giselle kini berpaling menghadapnya.


“S..sunbaenim,” ucap Giselle pelan menatap Joy yang sedang membawa tray berisi nasi dan lauk pauk menu makan siang hari ini. Yeri dan beberapa sunbae juga terlihat berada di sisi Joy.


“Berisik,” ucap Joy singkat dan tegas. “jangan teriak-teriak di kantin sekolah,”


Ketiga pembully itu kaget dan segera menunduk hormat pada Joy. “Jwisonghamnida,” ucap mereka meminta maaf.


Giselle pun ikut menunduk meminta maaf pada Joy.


“Minggir, kalian menghalangi jalanku,” usir Joy pada ketiga siswi yang berdiri dihadapannya. Mereka bertigapun segera membuka jalan dan mempersilahkan Joy berserta teman-temannya untuk lewat.


Decak kagum terpancar jelas dari siswa-siswi yang mengantri makanan di kantin sekolah. Hampir seluruh murid disana mengenal Joy yang menjabat sebagai ketua klub cheersleader. Mereka tak menyangka Joy yang selalu menunjukkan senyum riang dalam setiap pertunjukan, kini nampak karismatik melerai pertengkaran yang terjadi.


Giselle melihat ketiga anggota cheers itu pergi setelah Joy bersama teman-temannya berjalan melewatinya. Giselle kemudian melihat Yeri berbalik badan dan berlari kecil kearahnya sambil tetap berhati-hati membawa tray berisi makanan.


“Yeri sunbae?” Giselle bertanya tanya memandang Yeri yang semakin dekat padanya.


“Hya,” Yeri bersuara pelan memandang Giselle yang masuk ke antrian lagi. “gwaenchana?” Tanyanya, memastikan bahwa Giselle baik-baik saja.


Giselle tersenyum lebar mendengar perhatian Yeri. “Ne, saya tidak apa-apa, sunbae. Terima kasih,” jawab Giselle dengan nada senang.


“Ya.. kau memang terlihat baik-baik saja sih,” jawab Yeri lega sesuai dugaannya. “tapi…apa benar roti dan susu itu untukmu sendiri?” lanjutnya sambil berbisik. Ia melirik makanan yang ada di dalam jas Giselle.


“Ne?”


“A..ani, tidak apa-apa sih kalau kau memakan roti dan susu itu… mmm.. tapi..”


“Haha, aniyeyo,” Giselle tertawa kecil menyela kepanikan Yeri yang berusaha mengatakan pada Giselle untuk jangan makan terlalu banyak. “ini untuk temanku,” jawab Giselle. “sunbae dengar nyanyian dari radio ini ‘kan? Itu suara teman sekelasku, dan dia kini sudah melewatkan jam makan siangnya,”


“Eh! Benarkah?” Yeri berseru kaget. “hya… harusnya kau bilang! Aigoo… maaf ya jadi salah paham,”

__ADS_1


“Hehe, tidak apa-apa, sunbae,”


“Tentang Joy… dia tidak pernah meminta siapapun untuk diet. Dia hanya berharap setiap anggota klub cheers memiliki pola hidup yang sehat agar stamina kita kuat dalam berlatih gerakan cheers,” jelas Yeri berusaha membuat Giselle tidak berkecil hati. “kau tahu maksudku, ‘kan?”


“Haha, ne sunbae, saya paham,”


“Baguslah kalau begitu!” seru Yeri riang. “aku kembali dulu ya! Oh ya, sampaikan pada temanmu itu kalau suaranya bagus! Annyeong,” Sapanya mengakhiri percakapan. Yeri segera berlari kecil sambil menjaga keseimbanga agar tray makanan yang ia pegang dengan kedua tangan itu tidak jatuh.


...****************...



Yuta melambaikan tangannya pada Taeyoung yang melamun menghadap jendela yang berada di sisi kiri mejanya. Ia tidak memperhatikan Yuta yang duduk berbalik badan menghadapnya dan Johnny yang duduk di atas meja yang ada pada sisi kanannya.


“Yong ah..” panggil Johnny setelah meneguk susu strawberry dari sedotan. Ia tidak percaya Taeyoung tidak bereaksi pada lambaian tangan Yuta.


“Yong ah!” Kini Yuta menutup hidung Taeyoung.


Taeyoung yang merasa terusik segera mengibaskan tangan Yuta yang hanya terkekeh usil. “Hyaa..” ucapnya pelan.


“Kau ken..”


“Ssst!” Taeyoung menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sambil menatap Yuta yang terus menjahilinya. “dengar,” kini Taeyoung menunjukkan jarinya ke langit-langit.


Yuta dan Johnny terdiam bingung dengan perkataan Taeyoung. Taeyoung yang kesal dengan reaksi lemot kedua temannya lalu mengeluarkan helaan nafas berat dan menunjuk kotak pengeras suara yang terdapat di atas papan tulis. Rupanya Yuta dan Johnny yang dari tadi terlalu asik berbicang-bincang, tidak sadar bahwa klub broadcasting sedang memutar siaran langsung dari studio sekolah.


“O?” Mulut Johnny membulat kala suara gitar mulai dimainkan. “live dari studio?” Tanyanya bingung.


Seisi ruang kelas 3-2 jurusan Ilmu Sosial terasa diam sejenak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang bernyanyi secara live dari studio musik. Meski jumlah murid di dalam kelas tidak begitu banyak karena mereka sedang menikmati jam istirahat, namun semua bereaksi cukup bagus kala sang vocalist mulai menyanyikan bait pertama.


Taeyoung mengangguk menjawab pertanyaan Johnny. “Itu Hendery dan satu anggotanya,” tebak Taeyoung benar. Kini Yuta dan Johnny mengerti mengapa sedari tadi Taeyoung tidak bereaksi pada celotehan kedua temannya itu. Taeyoung sedang mendengarkan percakapan yang terjadi antara mc radio dan klub band yang datang menjadi tamu utama pada siaran hari ini.


“Yang-yang,” koreksi Yuta. “satu anggotanya lagi bernama Yangyang,”


“Hya, benar juga. Kau harusnya berkenalan dengan anggota baru Hendery!” Johnny menepuk lengan kanan Taeyoung dengan punggung tangannya. “kami bahkan tahu kalau dia berasal dari Jerman,”


“Mwoya.. haha. Kau sudah akrab dengannya?” Komentar Yuta tertawa kecil pada Johnny yang sepertinya sudah mendengar cerita asal usul Yangyang.


Johnny mengangguk bangga. “Waktu itu untuk apa kau lari? Kau ‘kan bisa masuk dan membantu kami membersihkan ruangan,” gerutu Johnny pada Taeyoung sambil mengingat kejadian di hari pembukaan ruang klub band. Setelah kejadian itu, Yuta dan Johnny memang tidak berhenti menggoda Taeyoung yang ketahuan menguping pembicaraan mereka di depan ruang klub band. Taeyoung tidak pernah menggubris lelucon usil kedua temannya itu, namun ia cukup malu karena aksi diam-diamnya terbongkar oleh temannya sendiri.


Sebenarnya hari itu Taeyoung berpura-pura pulang cepat agar bisa segera kembali ke sekolah secara diam-diam dan melihat keadaan Hendery beserta ruang klub band. Namun, Taeyoung yang saat itu ada di balik pintu tidak menyangka akan mendengar suara-suara ramai dari dalam ruangan. Ia menghentikan gerakan tangannya yang sudah memegang gagang pintu, Taeyoung tidak jadi masuk ruangan karena ia juga mendengar suara Yuta dan Johnny dari dalam. Ia juga mendengar bagaimana Hendery menjaga setiap barang dan kenangan yang ada di dalam ruangan itu. Harga diri Taeyoung tidak mengijinkannya untuk bergerak memasuki ruangan. Ia sudah jahat pada Hendery dan mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan apa yang Hendery lakukan dengan klub band, namun hatinya berkata lain, sebenarnya Taeyoung selalu mengawasi Hendery dan peduli padanya.


“Dengar, dengar,” Taeyoung membuka telapak tangannya dan mendekatkannya pada telinganya. Ia diam sejenak dan berkonsentrasi pada lagu yang dinyanyikan klub band. “temponya sedikit tidak tepat,” komentar Taeyoung.


“Ha?” Yuta bereaksi dengan mengeryitkan dahi.


“Benarkah? Aku tidak sadar,” Johnny mengangkat bahu sambil menggigit sedotan susunya. “apa karena ia seorang pemain drum?”


Taeyoung menggeleng cepat. “Ani. Seorang pemain drum justru bagus dalam hal tempo. Aku malah dulu hanya bisa bermain gitar saja. Bahkan permainanku tidak cukup bagus,”


“A, ya. Benar,” Johnny menjentikkan jari seolah mengingat sosok Taeyoung saat kelas 2 yang rajin berlatih gitar. “dulu kau berlatih hampir setiap hari dengan Taeil sunbae, ‘kan?”


“O.” Angguk Taeyoung mengiyakan pernyataan Johnny. Ia menyebutkan salah satu nama alumni sekolah yang juga mantan anggota klub band. “Taeil hyung benar-benar baik dalam mengajariku bermain gitar,”


“Hya,” Yuta menepuk punggung tangan Taeyoung yang duduk di hadapannya. “sekarang saatnya kau lanjut mengajari Hendery,”


“Mwo?”


“Atau…biarkan saja Hendery bermain drum. Permainannya sudah bagus, ‘kan. Kau yang bermain gitar,” usul Johnny.


“Setuju!” Yuta bereaksi pada usulan Johnny. Matanya membulat tanda ia sedang bersemangat. “Taeyoung ah…. Hya, jujur saja, klub sastra sangat tidak cocok untukmu,” komentar Yuta tajam. Semenjak klub band ditutup, Taeyoung memang memutuskan untuk masuk klub sastra yang berkegiatan membedah isi dari karya sastra seorang tokoh, maupun mencoba membuat karya sastra seperti puisi. “apa pelajaran sastra di kelas tidak cukup untukmu?” lanjutnya.


Johnny dan Taeyoung tertawa mendengar perkataan kejam dan jujur dari Yuta yang sungguh-sungguh penasaran mengapa Taeyoung memilih jurusan yang menurut Yuta membosankan.


Johnny menepuk-nepuk pundak Taeyoung. “Kejadian ‘itu’ sudah berlalu, Taeyoung ah,” Johnny bersuara lembut seperti menenangkan sosok Taeyoung yang bersikeras tidak ingin berhubungan dengan klub band lagi. “Tidak usah pedulikan perkataan mereka. Lakukan apa yang kau sukai,”


...****************...


Langit senja di sore hari menembus jendela kelas 1-1 jurusan Teknik Komputer. Ningning yang kesulitan melihat layar laptopnya, menurunkan tingkat kecerahan layarnya. Berbeda dengan Jaemin yang duduk bersila diatas kursi di samping Ningning. Jaemin tidak terganggu sedikit pun dengan banyaknya cahaya yang masuk. Ia masih asik menggerakkan jari-jarinya diatas keyboardnya yang menyala-nyala.


Pada jam pulang sekolah kali ini, Ningning menanggapi tantangan Jaemin yang mengajaknya bermain game online di laptop mereka yang setiap hari mereka bawa. Mereka berjanji untuk main sepulang sekolah sebelum sepupu Ningning selesai mengikuti kegiatan klub. Jaemin dan Ningning yang memiliki keahlian bermain yang hampir sama, tertawa dan berteriak setiap kali tokoh game mereka bertemu dan melakukan penyerangan untuk saling membunuh.


“Aaaa! Mwoya Jaemin ah?!”


“Ahahaha! Mati kau!! Dor dor doorrr!”


“Hya hya hya…” Jeno dan Karina juga ada di dalam kelas. Mereka memilih duduk berdua di belakang kelas dan membahas pelajaran statistika yang diberikan oleh guru siang ini. “kecilkan suaramu,” pinta Jeno pada Ningning dan Jaemin yang bersuara terlalu kencang.


Ningning dan Jaemin segera diam dan masih menertawakan diri mereka masing-masing. Suara keyboard yang ditekan sangat cepat juga mengganggu konsentrasi Karina yang mencoba menerima penjelasan dari Jeno.


“Tu..tunggu,” ucap Karina pelan menatap bukunya yang penuh dengan coretan Jeno. “se..sekali lagi. Jelaskan bagian ini sekali lagi, aku tidak paham,”


“Oke, tapi coba kau minum dulu sebentar, kita istirahat sebentar dulu,” ucap Jeno memberikan waktu pada otak Karina untuk berhenti berfikir sejenak.


“Ning!” Seru Renjun, sepupu Ningning yang juga sekelas dengannya. Ia memasuki kelas 1-1 yang tampak kosong dan hanya diisi oleh 4 orang saja. “Mwoya, kalian masih disini,” komentar Renjun yang berjalan mendekat ke meja Ningning dan Jaemin.



“Ah, untunglah kau datang,” Jeno berkata lega menatap Renjun. “hya bawa dia pergi,” Jeno menggerakkan pergelangan tangannya membuat bentuk pengusiran yang ditujukan pada Ningning.

__ADS_1


“Hya..” gerutu Ningning tidak terima. Ia lalu menyenggol lengan Jaemin, “nanti malam main lagi,” ajaknya sambil mengangkat alisnya bagai yakin bahwa permainan nanti malam akan dimenangkan olehnya.



“Oke,” Jaemin mengikuti Ninging mematikan laptopnya.


“Aigoo, ini yang membuatmu sulit bangun pagi,” Renjun menggeleng pelan melihat kelakuan sepupu yang juga tinggal bersamanya itu. “lain kali, kau tidak perlu menungguku, Ning ah. Kau ‘kan bisa pulang sendiri,”


“Ehem. Sorry ya, aku tidak menunggumu,” Ningning memakai tas punggung dan menyibakkan rambut panjangnya. “aku memang berniat bermain dengan Jaemin hari ini, hehe,”


“Ah ya, benar itu, Renjun ah,” Karina yang menyimak percakapan mereka ikut menimpali. “mereka berdua sudah berisik dari tadi pagi kalau mereka akan bermain bersama sepulang sekolah,”


“Ckckck” Renjun menggeleng sekali lagi melihat tingkah laku sepupu yang sangat jauh beda darinya.


“Hehehe,” tawa Ningning sambil sedikit menjulurkan lidahnya. Ia pun segera mengikuti langkah Renjun untuk pulang setelah berpamitan dengan teman sekelasnya.


Jaemin pun sudah selesai berkemas. Ia berjalan menuju meja Jeno dan Karina yang berada di belakang kelas. Ia melihat Jeno masih mengajari Karina mengenai materi statistika hari ini. Jaemin berjalan pelan agar tak mengganggu mereka berdua.


“Jeno hya,”


“O. Mian,” jawab Jeno sambil mendongakkan kepalanya menatap Jaemin, teman akrabnya. “kau pulanglah dulu,” ucapnya.


“Jinjja? Gwaenchana?” Tanya Jaemin memastikan. Ia yakin tadi Jeno sempat memintanya menemaninya untuk mampir ke sebuah toko di Apgujeong sepulang sekolah. Namun kini Jeno malah meminta Jaemin untuk pulang duluan.


Jeno mengangguk yakin. “iya, kau pulang saja dulu,” ulang Jeno seakan lupa telah membuat janji dengan Jaemin.


Jaemin membiarkan Jeno melupakan ajakannya hari ini. “Tapi nanti malam main ya, dengan Ningning juga,” Jaemin menunjuk Jeno seakan mengancamnya dengan pedang ilusi.


“Arasseo, arasseo,” angguk Jeno mengiyakan ajakan Jaemin. “pergilah,” usir Jeno. Jaemin yang tidak marah karena usiran Jeno, diam sejenak dan memproses tindakan Jeno. Ia kemudian mengangguk kecil.


“Annyeong, Jaemin ah,” Karina membuka telapak tangan dan mengangkatnya setinggi wajahnya.


Jaemin berpamitan dengan Karina juga sambil saling melambaikan tangan. Jaemin lalu membalik badannya sambil tetap berusaha menahan senyumnya, ujung bibirnya bergerak naik tanda ia gemas melihat tingkah laku Jeno.



Jeno kembali mengajari Karina dengan sabar karena sesekali Karina mengajaknya bercanda. Jeno adalah salah satu murid terpintar di sekolah. Ia menduduki peringkat ketiga dari seluruh jurusan saat ujian masuk sekolah, dan peringkat pertama untuk jurusan Teknik Komputer. Semenjak Jeno masuk sekolah, memang sudah ada beberapa guru yang menawarinya untuk ikut berbagai lomba pelajaran, pidato, maupun cerdas cermat antar sekolah.


Karina meregangkan badannya kala ia sudah menyelesaikan soal terakhir yang ada di bukunya. Ia merasakan tekanan pada kedua alisnya. Matanya terlalu banyak melihat angka-angka dan garis pada hari ini. Karina memijat-mijat tengkuknya untuk merileksnya lehernya yang sedari tadi menunduk menatap soal-soal.


“Sudah sore…” ucap Karina berdiri menatap senja dari jendela kelasnya. Tas hitam miliknya sudah bertengger mantap pada punggungnya.


“Mm,” jawab Jeno datar. “Kau…. Pulang?”


Karina menoleh menatap Jeno. “Tentu saja. Mau kemana lagi?”


Jeno membulatkan mulutnya sambil mengangguk. Mereka berdua kini berjalan kearah pintu kelas yang masih terbuka lebar.


“Aku mau ke Apgujeong dulu,” ucap Jeno tanpa ditanya.


“Oh benarkah? Ada yang ingin kau lakukan di sana?” Tanya Karina penasaran karena rumah Jeno tidak mengarah ke distrik ramai itu.


Jeno menggelengkan kepalanya. “ada toko musik langgananku. Aku ingin membeli pick gitar,” jawabnya. Karina hanya menjawab dengan anggukan. Jeno kemudian sedikit melirik Karina yang jalan di sebelahnya. “kau… mau ikut?”


Karina membulatkan matanya mendengar ajakan Jeno. Ia kemudian memainkan kuku-kuku nya dan mengangguk mengiyakan. “Ya. Sepertinya seru,”


Jeno membuang muka mengalihkan pandangan dari Karina. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyumnya. Ia kemudian melanjutkan perjalanan menuruni tangga untuk segera tiba di pintu keluar gedung jurusan Teknik Komputer.



“Omong-omong, kau mendengar radio sekolah tadi siang?” Karina membuka percakapan. Saat jam istirahat siang tadi, ia yakin murid laki-laki kelas 1-1 sedang melanjutkan permainan sepak bola setelah jam pelajaran olahraga. Jeno terlihat sedang mengingat kejadian yang belum lama terjadi itu. “tadi Hendery sunbaenim dan Yangyang menjadi tamu di radio sekolah,” lanjut Karina.


“Aah! Yang itu!” Jeno mengayunkan kepalan tangannya tanda ia sudah mengingat kejadian tadi siang.


“Kau dengar?” Tanya Karina tidak yakin.


“Ya. Aku dengar ada yang menyanyi. Kau tahu ‘kan radio sekolah juga ada di lapangan. Aku tidak memperhatikan sih, tapi kata Haechan, itu suara Yangyang,” jelas Jeno yang tadi siang bermain sepak bola melawan murid dari jurusan lain.


“O. Ya. Benar-benar!” Karina bertepuk tangan membenarkan cerita Jeno. “mereka berdua tadi memperkenalkan klub band dan berbicara banyak.” Karina mencoba menceritakan apa yang ia dengar tadi. “Kau tahu ‘kan kalau Hendery sunbaenim itu orang yang lucu, nah ia bertemu dengan sunbae pembawa radio yang lucu juga. Ahaha!” Karina tertawa seperti dapat mengingat percakapan di radio tadi siang.


“jadi, siaran hari ini sangat menarik. Sampai tadi Ningning sempat tersedak saat makan siang. Ahahaha,"


Jeno ikut tertawa mendengar tawaan Karina. Ia lalu mengatur raut wajahnya kembali datar dengan menempelkan kepalan tangannya di depan mulutnya dan berdehem.


“Hya, tapi…” Karina memasang wajah berfikir sambil mengelus dagunya. “kira-kira kenapa ya klub band ditutup?”


Jeno diam tak bereaksi. Ia hanya tetap berjalan mengikuti kecepatan jalan Karina.


“Mereka memiliki banyak piala, tanda berprestasi, ‘kan. Tapi mengapa ditutup dan kehilangan anggotanya?” Pikir Karina lagi. “Jeno hya, kau tahu sesuatu?”


“A..aku?” Tatap Jeno panik.


“Mwoya, kau tidak pintar berbohong, kelihatan sekali dari wajahmu,” tebak Karina tepat melihat Jeno salah tingkah dengan ucapannya. “kau dekat dengan Johnny sunbaenim, ‘kan? Apa kau tahu sesuatu?”


Bola mata Jeno melirik kanan dan kiri bergantian. Tebakan Karina tepat lagi. Johnny sudah menceritakan sesuatu pada Jeno. Saat itu Johnny melihat Jeno latihan basket sendirian di aula olahrga. Johnny menghampirinya dan mengajaknya berbincang-bincang. Tanpa ditanya, Johnny menceritakan apa yang terjadi pada klub band dan mengapa ada rumor buruk yang tersebar setelahnya.


“Yah… kata Johnny sunbae sih ini bukan rahasia lagi,” Jeno mengeluarkan wajah seriusnya. Karina juga memasang wajah serius dan mengangguk seolah bersiap menjadi pendengar yang baik. Jeno pun mulai menceritakan kejadian yang dialami klub band 1 tahun lalu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2