THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 16


__ADS_3

TOK TOK



Doyoung mengetuk pintu ruang klub band yang terbuka lebar. Ia melihat Yangyang, Giselle dan Jeno barusaja meletakkan tas mereka rapi diatas sofa. Mereka terlihat bersiap untuk berlatih di acara ulang tahun sekolah yang semakin dekat.


“Doyoung sunbae!” Sapa Yangyang dengan senyum lebarnya.


Giselle dan Jeno ikut tersenyum lebar dan menyapa ketua osis mereka.


“Annyeong. Lihat,” Doyoung mengangkat kresek putih dan sedikit menggoyangkannya.


Ketiga murid kelas 1 itu semakin senang kala Doyoung memberikan roti isi dan susu hangat untuk mereka. “Gamsahamnida sunbaenim,”


Jeno mengambil kresek itu dan membukanya dihadapan Yangyang dan Giselle.


“Aku… dua!” Yangyang mengambil dua susu hangat dari dalam kresek.


“Hya..” Giselle dengan cepat mengambil salah satu susu di tangan Yangyang dan memukulkannya ke kepala Yangyang pelan. “aku juga mau,” ucapnya sambil mengerucutkan mulutnya.


“Oh?” Jeno melihat isi kresek putih itu. “Hari ini Hendery hyung tidak latihan, sunbae,” ucapnya saat menyadari bahwa Doyoung juga ikut membelikan Hendery roti dan susu.


“Eh benarkah?” Ucap Doyoung yang menoleh ketika dirinya masih mengamati foto-foto di mading klub band. “Wae?”


“Tadi Hendery hyung bilang dia harus tinggal di kelas untuk mengerjakan PR yang harus dikumpulkan sore ini,” jelas Yangyang yang sudah menerima pesan dari Hendery.


“Oh, yasudah, itu untuk Giselle saja,” tunjuk Doyoung pada Giselle yang masih meminum susu pemberian Doyoung.


Dengan tingkah usilnya, Yangyang tentu tidak membiarkan Giselle dengan gampang mengambil snack tambahan dari Doyoung.


Mereka berdua bahkan melakukan game konyol untuk berebut menjadi pemenang. Jeno yang tak memperdulikan tingkah kedua temannya itu berjalan menghampiri Doyoung yang kembali menatap foto-foto di mading klub band.


“Yang namanya Hansol sunbae yang mana?” Tanya Jeno memandang sederet foto lama milik anggota klub band.


“Hansol? Kau…. sudah tahu ceritanya?” Doyoung menatap Jeno yang berdiri di sebelahnya dengan tatapan kaget karena ia menyebutkan sunbae yang belum pernah bertemu dengan Jeno.


Jeno mengangguk. “Johnny hyung yang menceritakannya padaku,”


“John? Oh.. Johnny.. teman Taeyoung, anak basket itu..” Pikirnya. Doyoung kemudian memilih menatap satu foto. Foto yang diambil sekitar musim panas itu memperlihatkan ke-enam anggota klub band yang berfoto dengan latar belakang pohon besar dan hamparan rerumputan hijau. “Ini. Ini Hansol,” tunjuk Doyoung kepada anggota yang sedang mengangkat sebuah piala besar yang kini ditempatkan di lemari klub band.


Jeno ikut mengamati foto di dinding itu hingga tak terasa Yangyang dan Giselle sudah berdiri di belakangnya. Dalam foto itu terlihat jelas mereka sangat senang atas piala yang mereka perolah kala itu. Waut wajah Taeyoung sungguh berbeda dengan sekarang. Sekarang ia sungguh terlihat diam dan dingin.


“Dia juga drummer, sama seperti Hendery,” lanjut Doyoung masih membicarakan Hansol. “Dia cukup dekat dengan Hendery karena dia sering mengoreksi permainan drum Hendery,”


“Ohh…”

__ADS_1


“Iya, aku tidak menyangka kalau Hendery hyung ahli sekali dalam permainan drum. Dulu kukira dia memang seorang gitaris band,” ucap Yangyang yang pada awal pertemuan klub selalu mendapati Hendery lebih sering bermain gitar.


“Ani. Dari awal hendery sudah bisa drum, tapi belum sempurna,” jelas Doyoung yang cukup tahu tentang Hendery karena hubungan mereka semakin dekat semenjak Hendery rutin menemuinya untuk membahas pembukaan klub. “Hendery lalu tertarik untuk bermain gitar. Lalu Taeyoung lah yang mengajarinya,”


“Wuah, kalau begitu mereka berdua dulu dekat sekali ya, sunbae. Sampai Hendery oppa bisa ahli gitar seperti ini, pasti mereka rutin berlatih,” tebak Giselle kagum.


“Mmm,” Doyoung mengangguk. “mereka berdua dulu dekat sekali,”


...****************...


“Aaaaarrggghhh!!” Hendery mengacak-acak rambutnya dan menghentak-hentakan kakinya. Gerakannya ini menarik beberapa teman sekelasnya yang sedang berkonsentrasi belajar di dalam kelas sebelum mereka memilih untuk pulang.


“Hya….” Xiaojun yang duduk memutar kursi di depan Hendery mengetuk-ngetuk mejanya agar Hendery tidak membuat gaduh. “sst..”


“Tapi keren sih, akhirnya kau ungkapkan juga,” Komentar Mark yang melipat tangannya dan berdiri di samping Xiaojun.


Hendery tidak menyangka bahwa ia bisa balik memarahi Taeyoung. Hendery menceritakan kejadian di hari itu pada Xiaojun dan Mark. Hendery menceritakan bagaimana gamblangnya ia berbicara pada Taeyoung dan bahkan membentaknya.


“Argh.. tapi aku menyesal sudah berbicara seperti itu…” Hendery kemudian menopang pipinya diatas meja. “aku bilang aku tidak akan mengajaknya lagi. Aaarghh…”


“Hahaha. Dasar sok keren,” cibir Xiaojun.



“Aaa…tapi…” Hendery menggoyang-goyangkan badannya kesal.


“Tapi tidak kusangka Taeyoung sunbae sampai berpikir seperti itu. Padahal itu bukan salahnya,” komentar Xiaojun yang masih menatap Hendery yang kesal dengan dirinya sendiri.


“Mmm,” Mark mengangguk, ia sependapat dengan Xiaojun. Ia lalu menepuk-nepuk kepala Hendery. “Hwaiting Hendery ah, Taeyoung sunbae mungkin tidak akan kembali ke klub band, tapi di acara ulang tahun sekolah nanti, kau ‘kan bisa menggaet anggota-anggota baru. Penampilan band kalian harus keren!” Ujar Mark memberi semangat.



...****************...


Jeno memusatkan pandangannya pada ring basket yang berjarak cukup jauh dengan tempatnya berdiri. Mulutnya otomatis terbuka tanda ia sedang fokus. Hari ini adalah hari latihan klub basket dan Jaehyun sedang mengadakan evaluasi anggota. Jeno kini diminta untuk melakukan dunk shot dari jarak yang ditentukan. Dengan masih berkonsentrasi, Jeno melayangkan bola basketnya ke arah ring basket dihadapannya.


PRIIT!


Peluit Jaehyun berbunyi. Tanda Jeno berhasil memasukan bola basket ke dalam ring. Jeno melakukan selebrasi ringan dengan mengepalkan tangannya dan tersenyum puas.


Ia lalu kembali ke perkumpulan anggota yang sudah selesai melakukan evaluasi.


Jaehyun membuka telapak tangannya agar Jeno melakukan high-five dengannya. “Kerja bagus,” puji Jaehyun pada Jeno, anggota basket yang merupakan pemain cadangan.


Jeno membalas dengan senyuman dan bungkukkan hormat pada Jaehyun. Nafasnya yang masih tersengal-sengal usai berlari mengelilingi lapangan tadi membuatnya susah bernafas bahkan berbicara.

__ADS_1


“Yo.. Jeno,” Johnny membuka telapak tangannya untuk melakukan high-five juga dengan Jeno.


“Ne..hh..hh..” Jeno meladeni ajakan Johnny dan melakukan high-five dengannya.


“Pelan-pelan,” Johnny meminta Jeno mengatur nafasnya. “kau mau minum?”


“Aniyo. Gwaenchanayo,” tolak Jeno yang merasa masih kuat bernafas.


“Permainan basketmu semakin bagus, Jeno hya,” puji Johnny. Jeno tersenyum senang, ia memang merasa permainannya meningkat akhir-akhir ini. Ia bahkan bisa melakukan dunk shot dengan jarak yang cukup jauh setelah sebelumnya ia gagal dalam berbagai percobaan.


“Gomawoyo, hyung,” ucap jeno sedikit tersipu malu.


“Apa-apaan ini, sekarang kau jadi memiliki banyak bakat,” goda Johnny dengan nada bak menggoda anak kecil.


“Ah, aniyeyo, hyung,” Jeno berusaha rendah hati.


“Iya loh. Kau bisa bermain gitar dengan baik, kau juga pintar, dan sekarang, permainan basketmu semakin bagus,” gerutu Johnny yang sedang menyebutkan bakat-bakat Jeno.


“Ey, hyuuung..” Jeno menyenggol lengan Johnny dengan tangannya.


“Nanti kau latihan band lagi?”


“Ne,”


“Oh ya.. mm…” Johnny menyilangkan tangannya. Membuat otot-otot di lengan atasnya terlihat jelas. “apa akhir-akhir ini Taeyoung pernah ke ruang klub?”


“Taeyoung sunbae? Aniyo. Waeyo?” Jeno balik bertanya.


Johnny hanya mengangguk pelan sambil berpikir dalam hati. Setelah kejadian Hendery memarahi Taeyoung, mereka berdua sepertinya benar-benar sudah seperti orang asing. Hendery sudah tidak pernah datang ke kelas Taeyoung lagi. Mereka berdua bagai orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.


“Jeno hya, bagaimana rasanya bermain gitar bersama klub band?” Johnny tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan acak.


“Ne? A..mm..senang-senang saja. Mereka bermain dengan baik dan kadang mengoreksi permainanku,” jawab Jeno jujur. “mungkin karena mereka semua murid jurusan Musik, jadi lebih peka nada dibandingkan denganku,”


“Haha, benarkah?” Johnny tertawa menatap Jeno yang memandang kosong bagai membayangkan suasana latihan di ruang klub band. “kau juga sepertinya menikmati latihanmu dengan mereka,”


“Hehe..” Jeno hanya tersenyum sambil masih membayangkan setiap keseruan di ruang latihan klub.


“Kau ingin masuk ke klub band?”


“Eh?” Jeno segera membuyarkan lamunannya dan mendongakkan kepalanya menghadap Johnny. “Ani, hyung.. aku..”


“Ey… gwaenchana..aku tahu kau juga suka bermain gitar. Kenapa kau tidak coba masuk klub band saja?”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2