THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 5


__ADS_3

Suasana ruang klub band setahun lalu berbeda sekali dengan sekarang. Meski ruangan minim dengan cahaya matahari, suasana hangat dan damai dapat dirasakan didalamnya. Musim panas tahun lalu adalah musim terakhir para anggota band bercanda tawa di sofa empuk yang tertata rapi di depan instrumen band.


Di dalam ruangan itu terdapat Taeyoung sebagai murid kelas 2. Kala itu, ia adalah ketua klub band dan merupakan anggota band sekolah yang memegang alat musik gitar. Jabatan ketua klub milik Taeyoung sebelumnya adalah milik Taeil, murid kelas 3 dari jurusan Teknik Kimia. Tanpa status sebagai ketua klub, Taeil kini merupakan anggota band yang memegang posisi sebagai vocalist band sekolah. Untuk murid kelas 3 di dalam band sekolah, Taeil tidak sendiri, ada Sehun dari jurusan Ilmu Sosial pada bass, dan Kai dari jurusan Teknik Mesin pada gitar. Sedangkan murid kelas 2, ada Kun dari jurusan Musik yang memegang posisi sebagai keyboardist, dan Hansol dari jurusan Teknik Mesin yang menjadi drumist.


Ke-enam anggota band sekolah itu bukanlah satu-satunya anggota klub. Klub band sekolah merupakan salah satu klub dengan banyak peminat. Tak jarang Kun, sekertaris klub band, harus mengatur waktu latihan agar ruangan tidak terlalu penuh dengan banyak orang.


Sudah semenjak Taeil menjabat sebagai ketua, klub band dipenuhi dengan prestasi. Hal itu terus menyambung hingga jabatan ketua klub pindah ke Taeyoung. Nama band sekolah Seo Seoul juga dibicarakan dari sekolah ke sekolah, dan tak jarang mereka menerima undangan untuk mengisi acara yang diselenggarakan di wilayah dalam kota. Dalam kegiatan klub, para anggota klub tidak hanya bermain band saja, namun para sunbae yang sudah lebih ahli bermain alat musik juga siap mengajari hoobae mereka yang ingin bermain salah satu instrumen band disana.


Taeil masih ingat betapa gigihnya Taeyoung saat ia masih kelas 1, ia sangat ingin bisa bermain gitar listrik karena menurutnya itu keren. Hampir setiap hari Taeyoung meminta Taeil untuk membuka ruangan band. Taeil yang saat itu masih menjadi ketua dan gitarist band, dengan suka rela mengajari Taeyoung hingga ia ahli bermain gitar seperti sekarang.


Namun semua popularitas klub band memiliki imbas. Seluruh anggota klub band terlalu terpaku pada kegiatan klub hingga menimbulkan efek buruk bagi para murid. Hal ini menjadi perhatian bagi seluruh guru termasuk Kim Ssaem, sang guru mata pelajaran Musik yang juga pembina klub band.


Akar masalahnya dimulai pada hari ini. Hari ini, Taeyoung menerima pesan bahwa seluruh tim inti klub band akan melakukan rapat dengan anggota osis. Anggota osis diharapkan dapat menjembatani klub band dengan guru dan petinggi sekolah lainnya. Oleh karena itu, Taeyoung tidak bisa berharap bahwa anggota osis berada di pihaknya.


KRIEEEEKKK….



Taeyoung membuka pintu ruang rapat itu perlahan. Ia sudah bisa melihat wajah sang ketua osis yang duduk di ujung meja besar. Saat itu jabatan ketua osis dimiliki oleh Wendy, siswi kelas 3 dari jurusan Ilmu Sosial. Taeyoung melangkahkan kakinya diikuti oleh Taeil, Kai, Sehun, Kun dan Hansol.


Seorang anggota osis lain tersenyum menyapa mereka ber-enam. Ia adalah Lucas, wakil ketua osis yang merupakan murid kelas 3 dari jurusan Teknik Mesin. Lucas membuka telapak tangannya menunjuk kursi di hadapannya.


“Annyeong! Silahkan duduk,”



Taeyoung dapat melihat Doyoung, murid kelas 2, duduk di sebelah Lucas sambil membuka laptopnya. Semua murid kelas 2 tentu mengenal Doyoung, ia adalah murid yang menduduki peringkat pertama untuk seluruh jurusan. Selain itu, Doyoung yang merupakan anggota klub broadcasting juga sering melakukan wawancara radio maupun untuk majalah sekolah dengan klub band sebagai narasumbernya.


“Annyeong,” Wendy tersenyum ramah, tidak seperti bayangan Taeyoung.


“Annyeong, Wendy ah,” Sehun menyapa balik teman sekelasnya itu sambil mengacungkan telapak tangannya.


Wendy menatap sebentar pada buku catatan yang terbuka di hadapannya. “Nah… kalian sudah tau kenapa rapat ini terjadi, ‘kan?”


“Aku tahu,” celetuk Sehun lagi, memunculkan kepalanya dari sisi Kai dihadapannya agar ia lebih jelas memandang Wendy yang duduk di tengah. “karena kami sudah pernah mendapat peringatan dari Kim ssaem sebelumnya, jadi kami sudah tahu. Kau akan memarahi kami karena nilai sekolah, ‘kan?” Tebak Sehun.


Wendy menghela nafas pelan, “sudah tahu rupanya, tapi kami bukan ingin memarahi kalian,” ucapnya diakhiri dengan tawaan.


“Kim ssaem berbicara apa padamu?” Tanya Lucas yang memilih duduk santai dengan bersandar pada kursinya.



“Katanya nilai kami semua turun,”


“Aniyo, hyung,” sambar Kun setelah Sehun menjawab seadanya. Kun membenarkan posisi duduknya menjadi tegak sempurna. “Kim ssaem memang bilang nilai kami semua turun, namun bukan hanya kami saja, tapi seluruh anggota band dari kelas 1 sampai 3. Tapi, saya rasa itu tidak mungkin hanya karena mereka mengikuti klub band, sunbaenim. Menghubungkan nilai yang turun dengan kegiatan klub? Saya rasa itu tidak ada hubungannya,” jelas Kun pada Lucas yang sigap mendengarkan.


Wendy mengangguk pelan mendengarkan. “Tapi, guru-guru merasa semua itu ada hubungannya, Kun ah,” Wendy bersuara tenang. “Tiga bulan semenjak tahun ajaran baru, kalian mengikuti lomba band antar sekolah dan keluar sebagai juara kedua, kalian diliput oleh koran lokal yang bahkan sengaja berkunjung ke sekolah hanya untuk melakukan wawancara dengan kalian ber-enam. Semenjak itu anggota klub kalian bertambah, bukan?”


“Ya itu ‘kan bukan salah kami juga,” gumam Kai yang duduk paling jauh. Reaksi Kai mendapat cubitan pelan dari Taeil yang duduk di sebelahnya. Ia berharap gumaman Kai tidak tersengar sampai Wendy.


“Ani, sunbaenim,” Kun mencoba berbicara lagi, “kami tidak mengajak siapapun masuk ke klub, jadi…”


Taeyoung memegang paha Kun pelan seolah meminta Kun meredakan emosinya.

__ADS_1


“Mianhaeyo,” ucap Kun tenang. Hansol yang duduk di kiri Kun juga menepuk-nepuk pelan paha Kun.


“Gwaenchana,” Lucas berucap santai lagi berusaha meredakan suasana. “aku mengerti maksudmu,” angguk Lucas. Ia kemudian bertukar pandang pada Wendy untuk gantian berbicara. “alasan begitu banyaknya murid yang masuk masuk ke klub band, tentu karena mereka sangat tertarik untuk bermain band maupun belajar alat musik. Aku mengerti bahwa salah satu agenda kalian adalah melatih murid yang ingin mahir memainkan alat musik, ‘kan? Itu merupakan kesempatan bagus bagi murid yang bukan berasal dari jurusan Musik,” ucap Lucas, membuat Taeyoung berkaca pada dirinya yang dulu juga tidak bisa bermusik, namun berkat Taeil, Taeyoung bisa bermain gitar dan bahkan memenangkan perlombaan band.


“Tapi..” Kini Lucas memilih untuk duduk tegak dan memandang satu persatu mata anggota band yang mulai suntuk pada peraturan sekolah itu. “tapi bagaimana kalian mau mengatur seluruh anggota kalian? Yang Wendy katakan itu benar, para guru sudah mengawasi murid yang mendapatkan nilai yang turun dalam ujian semester kali ini. Bukankah suatu kebetulan kalau semua murid itu adalah anggota klub band?” jelas Lucas, semakin membuat anggota klub band terpojok.


“Lucas,” Wendy mengangkat telapak tangannya, tanda meminta Lucas berhenti bicara. “begini, kegiatan klub band adalah pada hari Kamis. Namun, hampir setiap hari kami melihat kalian memiliki kegiatan di dalam klub band sepulang sekolah,”


Taeyoung semakin terdiam. Ia yang duduk tepat di sebelah Wendy menyetujui pernyataannya. Hampir setiap hari ada anggota klub yang datang. Entah untuk bermain, berkumpul, maupun belajar alat musik. Tak jarang mereka menjadikan ruangan itu sebagai tempat untuk membolos jam kelas malam bagi murid kelas 3.


“Mungkin bagi kalian, berada di ruangan itu setiap hari tidak masalah. Tapi anggota kalian yang lain menjadikan klub band sebagai pelarian. Pelarian dari jam sekolah, maupun pelarian dari jurusan yang mereka tidak sukai,” lanjut Wendy. “buatlah peraturan baru bagi mereka. Kalau perlu, buka ruangan hanya pada saat akan digunakan berlatih,” usul Wendy. “aku juga tidak suka melihat guru mengawasi kegiatan kalian,”


“Ne, sunbaenim,” jawab Taeyoung setuju.


“Kudengar Seulgi juga bergabung dengan klub band,”


“Lucas,” sela Wendy pada Lucas yang menyebutkan nama teman sekelas Taeil dari jurusan Teknik Kimia. Wendy menggeleng pelan pada Lucas sambil membesarkan matanya.


“Seulgi?” Taeil memiringkan kepalanya memastikan Lucas menyebut nama seseorang yang ia kenal.


Lucas menatap Wendy sambil menyilangkan tangan. “Kurasa tidak ada salahnya mereka tahu, jadi jika Seulgi keluar klub, mereka tahu alasannya,” jelas Lucas, membuat Wendy mengalah dan menurunkan alisnya. “Masa depan Seulgi sudah ditentukan oleh orang tuanya. Ia akan memilih bersekolah di luar negeri setelah lulus SMA ini. Lagipula Seulgi memang merupakan murid yang pintar. Benar ‘kan, Taeil?”


“Mmm,” angguk Taeil mengingat wajah Seulgi, sang ketua kelas di kelasnya.


“Pilihan jurusan di sekolah ini pun ditentukan oleh orang tua Seulgi. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Seulgi ingin masuk jurusan Musik. Entahlah, mungkin orang tuanya akan melarangnya. Yang jelas, semenjak ia naik ke kelas 3, Seulgi semakin hobi bermain piano, oleh karena itu ia masuk menjadi anggota klub band, lagi-lagi tanpa sepengetahuan orang tuanya. Dan… yah… seperti yang kalian tebak,”


“Nilai Seulgi turun?” Tebak Taeil tepat sasaran. “Tapi walaupun nilainya turun, ia tetap mendapat ranking 1,” ucapnya heran.


“Ji..jinjjayo?” Taeil yang belum pernah mendengar kabar ini sebelumnya tergagap kaget.


Lucas mengangguk yakin. “Kim ssaem sudah dapat menjelaskan dengan baik. Aku tahu itu semua salah Seulgi sendiri, ibunya hanya sedang emosi karena nilai anaknya turun, Seulgi ‘kan sedang mempersiapkan ujian penerimaan mahasiswa baru di luar negeri” jelas Lucas mencoba tidak memihak siapapun.


“Apa Seulgi memang sering datang ke ruang klub?” Tanya Wendy.


“Ya. Dia lebih sering berkunjung dari pada aku,” jawab Taeil menunjuk dirinya.


“Mwoya…” kali ini Kai mengeraskan suaranya. “Jadi semua ini salah kita?” Protesnya dengan memukul pelan meja agar seluruh anggota osis memandangnya. “nilai mereka turun, salah kita, Seulgi gagal ujian, salah kita, apa-apan kalian ini?” Kai terdengar emosi.



“Hya hya…ck,” Taeil memandang emosi ke arah Kai yang tidak bisa menjaga ucapannya. “tenanglah…”


“Hya, benar kata Kai,” Sehun menarik pundak Taeil yang sedang menghadap ke arah Kai. Taeil memandang sisi kananya. Sehun juga terlihat emosi. “aigoo..” dengan dramatis, Sehun memijat tengkuknya. “setelah mendengar semua cerita dari kalian, kalian memang sedang menyudutkan kami. Ya ‘kan?” Sehun sedikit tertawa saat mengucapkan kalimat akhirnya. “apa yang salah dari kegiatan klub kami? Kami hanya bermain musik. Tidak lebih dari itu. Lalu soal ruangan kami yang selalu terbuka, hya, semua ruangan klub juga selalu terbuka, jadi apa bedanya?”



“Sehun ah,” Wendy berdiri dengan kedua tangan berpangku pada ujung meja seolah mengalirkan seluruh emosinya pada benda mati itu. “…nilai kalian juga turun,” wajah ramah Wendy berubah menjadi datar seolah sedang berbicara dengan teman dekatnya. “Doyoung ah, bacakan,” pinta Wendy.


“N..ne,” Doyoung sedikit kaget mendengar namanya disebut. Sedari tadi jantungnya sudah berdegup kencang mendengar anak kelas 3 yang berbicara dengan nada tinggi. Doyoung menggerakkan jari-jarinya cepat pada laptop.


“Taeyoung turun dari peringkat 98 ke 110, Hansol turun dari peringkat 88 ke 92, dengan nilai sejarah dan matematika turun dari B menjadi D. Kun tetap di menduduki peringkat 3, namun Kun telah didiskualifikasi dari calon anggota olimpiade cerdas cermat karena nilai matematika mengalami penurunan,” Doyoung mendekatkan wajahnya pada layar laptop, ia membacakan sebuah catatan yang diberikan Wendy.


Ketiga murid kelas 2 itu hanya menghela nafas, mereka tidak kaget karena hasil nilai ujian semester memang sudah diumumkan beberapa minggu lalu. Kun juga sudah mengetahui bahwa ia tidak jadi mewakili sekolah untuk ajang lomba cerdas cermat yang membutuhkan 4 orang sebagai anggota.

__ADS_1


“Untuk sunbaenim….” Doyoung menggerakkan ball pada mousenya.


Sehun mendekatkan badannya pada Hansol yang duduk di kanannya. Ia berbisik, “Aku sudah biasa mendapat nilai jelek, haha,”


“Kai sunbaenim, turun dari peringkat 55 ke 67, Sehun sunbaenim turun dari peringkat 120 ke 135, Sehun sunbaenim jadi berada di peringkat 5 dari bawah,” ucap Doyoung sambil agak memelankan suaranya saat menyebutkan peringkat Sehun.


“..kan..” bisik Sehun lagi pada Hansol.



“Dan Taeil sunbaenim, turun dari peringkat 5 ke peringkat 7,”


Wendy yang masih berdiri kemudian menghela nafas berat sambil menundukkan wajahnya seolah tak percaya seluruh anggota band mengalami penurunan nilai.


“W..Wendy ah…” Panggil Sehun menatap Wendy dengan rambut Wendy yang masih menutupi wajahnya. “w..wae? Kau menyeramkan..”


“Hya,” Wendy mengangkat wajahnya lagi menatap Sehun. Membuat Taeyoung yang duduk di sebelahnya sedikit ketakutan. “hhh…. Apa kau tidak akan kuliah?! Kau bilang kau ingin bekerja dan memakai jas,”


“M..mwoya..” gumam Sehun, sedikit malu mendengar Wendy mengucapkan hal yang pernah Sehun ceritakan padanya. “a..aku akan masuk dengan jalur prestasi. Aku bassist yang hebat, kau tahu? B...band kami juga sering mengharumkan nama sekolah, ‘kan? Kami memiliki banyak piala!”


“Ne sunbaenim,” Taeyoung berusaha mengeraskan suaranya. “kegiatan klub kami bukan hanya kumpul bersama saja. Tapi sunbaenim harus ingat juga bahwa kami sering mengikuti berbagai lomba atas nama sekolah. Prestasi kami banyak, kalian tidak bisa membubarkan klub kami,” Taeyoung protes sambil mendongakkan kepalanya menghadap Wendy yang masih berdiri.



“Kalau prestasi…” Doyoung ikut menjawab sambil masih menatap laptopnya. “prestasi paling banyak didapatkan dari klub basket dan robotic,” ucap Doyoung yang berbicara berdasarkan fakta data yang dikumpulkan osis. “klub yang diketuai oleh Johnny dari Ilmu Sosial dan Baekhyun dari Teknik Komputer,”


Wendy kembali duduk. “Klub band tidak akan ditutup,” Wendy bersuara lembut menatap Taeyoung. “tapi aku harap kalian bisa meningkatkan nilai kalian lagi. Terutama untuk murid kelas 3,” tatapan Wendy kini tertuju pasa Sehun, Taeil, dan Kai yang duduk sejajar. “dan juga untuk Kun,”


“Ne sunbaenim,” Kun yang namanya dipanggil, bereaksi.



“Aku tahu tahun depan kau sudah pindah sekolah dan kembali ke Cina, tapi aku harap kau lulus kelas 2 dengan nilai yang baik. Pihak sekolah sudah sangat menyayangkan saat kau tidak memenuhi syarat menjadi anggota lomba cerdas cermat,” Wendy bagai menyalurkan perasaan pihak sekolah pada Kun, murid kelas 2 keturunan Cina-Korea yang sangat ahli dalam bidang akademis dan musik.


“Baiklah!”


BRAK!


“Aduh kaget!” Seru Lucas pada Taeil yang memukul meja dengan semangat.


“Hehe, mian,” Taeil memamerkan deretan giginya. Ia kemudian berdiri. “Kami akan buat peraturan baru, tidak masalah. Anak-anak yang nakal juga bisa kami keluarkan dari klub,”


“Hyung…” Taeyoung bersuara pelan.


“Lalu kita,” Taeil menatap seluruh anggota band itu satu persatu. “kita hanya perlu menaikkan nilai kita lagi ‘kan?”



“Ha?!” Kai dan Sehun berseru bersamaan. Sedangkan anggota lain memandang Taeil dengan wajah kaget.


“Mmm!” Wendy mengangguk menghadap Taeil. Wendy setuju dengan ide nya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2