THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 17


__ADS_3

“Ttaraaaa!!!” Giselle berputar di depan pintu ruang klub band. Ia terlihat mengenakan pakaian yang akan ia gunakan untuk tampil bersama band nya di acara ulang tahun sekolah yang akan segera dimulai. Giselle juga memoleskan sedikit make-up untuk menunjang penampilannya.


Jeno yang sedang memasukan gitar ke dalam tas gitar, mendongakkan kepala menatap Giselle yang terlihat bersemangat hari ini.


“Wuaah,” pujinya datar.


“Wah, jaket itu cocok untukmu,” Giselle menepuk-nepuk punggung Jeno yang sedang sibuk dengan gitarnya. Hari ini Jeno juga cukup keren dengan jaket kulit hitam miliknya.


Giselle pun menghampiri temannya, Yangyang. Yangyang juga tengah sibuk melipat kaki keyboard untuk segera mereka angkut dengan trolli dan membawanya ke aula pertunjukan di belakang sekolah. “Yangyang ah,”panggil Giselle. Ia berputar sekali lagi. “Bagaimana?” Tanyanya menunggu Yangyang menilai selera fashion Giselle.


Yangyang memandang Giselle dari bawah sampai atas. Ia memegang dagunya seperti seorang professional. “Hmmm…. Biasa saja,”


“Hya..” Giselle menghentakkan kakinya tak terima.


“O, Giselle!” Hendery yang barusaja mendorong trolli ke depan ruang klub band memasuki ruangan. ia berjalan melewati Giselle yang sedang berhadapan dengan Yangyang. “Wah, cantik sekali,” puji Hendery sambil mengacungkan jempolnya.


“Hehe, gomawo oppa,” Giselle meringis sambil menyisir rambut panjangnya.


“Mana,” Jeno mengulurkan tangannya membantu Yangyang mengangkat alat musik keyboard yang berat.


Giselle kemudian menggenggam lengan Jeno dan mengamatinya dengan seksama.


“Wae?” Tanya Jeno sambil memundurkan wajahnya.


Giselle lalu menyapukan pandangannya kepada ketiga teman bandnya. “Kalian semua…. Aku make-up dulu ya,” usulnya.


“Mwo?!”


Seruan kaget terdengar bersamaan. Semua anak laki-laki disana terlihat mengeryitkan dahi tanda menolak ide Giselle. Dengan tidak peduli, Giselle kemudian tersenyum bersemangat dan mengambil tasnya untuk siap mendandani anggota bandnya.


...****************...


Karina dan Giselle bertemu di belakang panggung. Mereka saling memuji satu sama lain dan berpelukkan sambil sedikit berlompat-lompatan. Hari ini juga merupakan hari dimana Karina tampil bersama klub cheersnya. Ia terlihat sudah siap dengan seragam cheers dan riasan wajah yang penuh dengan kilauan glitter. Sedangkan Giselle, ia berdandan seperti seorang vokalist rock anak muda yang energic.


“Oh, Giselle ah,” Joy muncul dari arah belakang Karina. Ia tersenyum menyapa Giselle yang masih merupakan anggota cheers itu. “lucu sekali…” pujinya melihat dandanan Giselle.


“Hehe, gomawoyo, sunbae. Sunbae juga cantik sekali,” Giselle balik memuji Joy yang memiliki tampilan sama dengan Karina.


“Sukses ya, bandmu,” Joy kemudian menepuk pelan kepala Giselle setelah menyerahkan dua buah pom-pom kepada Karina.


“Ne, sunbae juga. Semoga hari ini penampilan klub cheers berjalan dengan baik,” ucap Giselle sambil menunduk.


Joy memberikan senyum lebarnya lagi. Giselle masih belum berhenti menatap sosok karismatik ketua klub cheersnya itu walaupun Joy sudah berbalik badan dan pergi. Ia melihat ke arah belakang Karina, melihat segerombolan teman cheersnya sedang mempersiapkan diri. Semua aktivitas sibuk itu sedikit membuat Giselle iri, karena Giselle juga memiliki harapan untuk dapat tampil bersama dengan klub cheers.


“Waah,” suara berat dan datar datang dari belakang Giselle. Giselle menoleh sejenak dan melihat itu adalah suara khas Jeno.


“Oh? Annyeong,” sapa Karina yang masih berdiri berhadapan dengan Giselle. “wuaah… lihatlah dirimu…” Karina menggerakkan kepalanya dari bawah ke atas untuk memperhatikan penampilan Jeno.


“Keren ya? Aku yang menata rambutnya dan memoleskan make up!” Ucap Giselle memamerkan bakat terpendamnya.


Karina membentuk huruf ‘O’ pada mulutnya. Ia mengangguk perlahan sambil mengacungkan jempolnya, memuji tampilan Jeno.


Melihat reaksi Karina, Jeno kemudian membuang muka sambil pura-pura berdehem.


“Kau…seperti badut,”


BUK!


“Aw!” Jeno merintih kala siku kiri Giselle berhasil menyundul perut nya.


“Mwo? Apa kau bilang?” Tanya Karina yang sepertinya tidak mendengar ucapan Jeno barusan.


“A..ani ani,” Giselle berusaha menengahi. “dia bilang kau cantik,”


“Hya aku tidak bilang itu! Aku bi….,” Seru Jeno tak terima.


“Jinjja?” Sela Karina yang senang mendapat pujian. Ia tersenyum sambil memegang kedua pipinya. “Hehe… gomawo..,”


“Terserah,” ucap Jeno sambil menahan senyumnya. “nanti jangan buat masalah, kasihan klub cheersmu,” lanjut Jeno mencoba memberi nasihat pada Karina.


“O Karina, nanti hati-hati ya,” Giselle ikut menambahi. Ia ikut khawatir pada penampilan perdana klub cheers yang tampil di hadapan orang banyak.


Karina mengangguk mantab. “Pasti,” ucapnya yakin. “kalian juga, hwaiting!” Seru Karina menyemangati kedua anggota band di depannya sambil mengepalkan tangan.


...****************...


Hendery berjalan memasuki area belakang panggung yang cukup penuh dengan murid-murid yang akan tampil di acara ulang tahun sekolah. Hendery terlihat bingung dengan wajah masih ia hadapkan ke belakang.


“Waeyo hyung?” Tanya Jeno yang sedang duduk di meja sambil memangku gitarnya.


“A..ani..” Hendery menunjuk tirai yang digunakan sebagai pintuk masuk area belakang panggung. “kenapa yang datang banyak sekali?” Ujarnya heran pada pengunjung yang ia lihat sudah memenuhi aula pertunjukan dan bahkan masih ada yang ada di halaman sekolah.


“Acara ini ‘kan untuk umum, mungkin banyak pengunjung dari sekolah lain,” ucap Jeno sambil mengangkat bahunya.


“Ey, aniya,” Sela Giselle yang menyandarkan dirinya pada sofa empuk. “mereka datang untuk melihat Yangyang,” ucapnya sambil menunjuk Yangyang yang duduk disebelahnya.


“Eh? Benarkah?” Hendery membulatkan matanya mendengar jawaban Giselle. “Mwoya? Mereka fans mu dari live instagram itu?” Tebak Hendery yang juga sudah menyadari popularitas Yangyang sebagai pengguna instagram. Hendery dan Yangyang memang cukup sering menampilkan pertunjukan live di akun instagram Yangyang, Hendery juga melihat banyak komentar positif bermunculan.


Yangyang menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri. “Mereka bukan datang untuk melihatku,” sanggah Yangyang atas pernyataan Giselle. “tapi mereka ingin melihat Jeno,”


“Aku?” Jeno menunjuk dirinya sendiri.


“Mmm!” Yangyang mengangguk dengan mulut sedikit dimajukan. “waktu itu kau tidak sengaja ada di dalam live ku saat kau sedang berada di ruang klub, lalu semua orang jadi bertanya tentangmu. Lalu… kau juga pernah ikut live kami, ‘kan? Kau dan Hendery hyung sebagai gitarist, dan aku bernyanyi,” jelas Yangyang yang menceritakan asal mula fans Yangyang kini beralih menjadi fans Jeno.


“Ooh, jadi orang-orang di instagrammu sering bertanya tentang Jeno?” Giselle menatap Yangyang yang duduk di sisi kanannya. “mwoya, kau kalah tenar, ya?” Godanya.


“Orang-orang Jerman?” Hendery menutup mulutnya, memasang ekspresi kaget.


“Aniyeyo hyung. Sekarang followersku banyak juga yang dari Korea. Kurasa para pengunjung yang datang hari ini adalah siswi Korea dari SMA di sekitar sini,”


“Wah, kau bilang ya kalau kau mau tampil?” Tanya Jeno.


“Ya. Aku bilang kalau ada acara sekolah hari ini, dan acara ini dibuka untuk umum. Selain itu aku juga bilang kalau kau, Jeno, akan tampil,”


“Hya. Mengapa kau menggunakan namaku!” Seru Jeno yang terlihat tersipu malu.


“Aigooo, biarkan saja, Jeno hya,” Hendery mengibaskan tangannya di hadapannya, mencoba membujuk Jeno agar ia memaklumi cara marketing Yangyang.

__ADS_1


Jeno yang masih terlihat tidak terima kemudian memandang lurus ke arah tirai merah jauh di depannya. Ia berusaha melihat dari balik celah tirai untuk melihat seberapa banyak orang yang datang ke acara itu. Jeno sedikit melihat orang-orang yang berlalu lalang di balik tirai. Jeno kemudian terkejut oleh kedatangan seseorang yang barusaja masuk ke area belakang panggung. Ia terlihat menyibakkan tirai dan berjalan dengan langkah yakin ke arah tim band.


“Taeyoung sunbae..” ucap Jeno kala langkah Taeyoung semakin dekat dengan mereka.


Ketiga anggota lain segera menghadapkan pandangannya mengikuti sosok yang sedang dipandang Jeno.


“H..hyung?!” Hendery terdengar paling kaget.


Giselle dan Yangyang terlihat segera berdiri menyambut kedatangan Taeyoung.


“..Gugup?” Tanya Taeyoung yang sudah berdiri di depan Hendery.



“Ha? A..mm.. ne, sedikit..” jawab Hendery terbata-bata.


“Bagaimana dengan kalian? Kalian baik-baik saja?” Tanya Taeyoung pada anggota band dari kelas 1 disana.


Giselle dan Yangyang yang sudah terbiasa tampil di hadapan seluruh murid atau seluruh jurusan, menjawab dengan anggukan dan senyuman.


“Sa..saya..” Jeno berjalan mendekat ke belakang Hendery. “Saya belum pernah tampil di depan umum, jadi…” ungkapnya. Semua tidak menyangka bahwa Jeno sedari tadi sedang menahan rasa gugup. Ia bahkan berkali kali menyeka keringat di telapak tangannya ke pahanya.


“Jeno hya,” Yangyang berjalan mendekat ke arah Jeno dan merangkul pundaknya. “gwaenchana…”


“Cukup konsentrasi dengan gitarmu saja, anak-anak ini yang akan menghidupkan suasana,” Taeyoung memberi saran sambil menunjuk Giselle dan Yangyang yang sedang menatapnya.


“O. Gwaenchana Jeno hya, kau tidak perlu bertukar pandang dengan mereka,” Giselle ikut menenangkan Jeno. “atau… kau cukup lihat rambut penonton saja, hehe,”


Hendery ikut tertawa mendengar gurauan Giselle. Ia melirik ke samping untuk memandang Taeyoung. Ia melihat Taeyoung dengan jelas ikut tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Jeno. Raut wajah Taeyoung sungguh berbeda, ia sudah kembali seperti Taeyoung yang ia kenal, Taeyoung dengan pribadi yang hangat dan ramah.


“Hyung..” panggil Hendery dengan mata yang berbinar-binar menatap sosok ‘Taeyoung’ yang sudah lama ia rindukan.


Taeyoung pun menoleh menatapnya sambil menaikkan alisnya. “Hmm?”


“Gomawoyo,” Hendery tersenyum lebar. Ingin rasanya ia jabarkan mengenai rasa terima kasih yang ia uangkapkan. Ia ingin berterima kasih bahwa Taeyoung menghampirinya. Ia ingin berterima kasih bahwa Taeyoung kembali ‘bicara’ padanya, bahkan memberikan nasihat pada anggotanya. Ia juga ingin berterima kasih bahwa Taeyoung sudah kembali pada dirinya yang dulu.


Taeyoung pun ikut tersenyum, “jangan mengacau ya,”


...****************...


“Oh, Taeyoung ah, dari mana saja? Kami mencarimu,” Protes Yuta sambil memberikan kaleng soda pada Taeyoung. Ia meninggikan suaranya kala mereka memasuki aula pertunjukan yang sudah dipenuhi oleh banyak orang.


“Mian mian,” ucap Taeyoung yang segera membuka kaleng soda itu dan meneguknya.


“Hya, kita mau lihat dari mana?” Tanya Johnny yang masih bingung menentukan lokasi mereka untuk menonton pertunjukkan yang akan ditampilkan oleh murid-murid sekolah Seo Seoul.



Mereka bertiga pun mulai berjalan menyusuri keramaian. Di depan panggung, terdapat kursi-kursi yang sudah berjajar rapi yang merupakan tempat duduk untuk para petinggi sekolah, para guru, dan petugas osis. Sedangkan dibelakang mereka adalah kursi-kursi yang digunakan untuk siswa Seo Seoul duduk. Untuk pengunjung umum, mereka dapat menggunakan kursi di belakang murid-murid.


“Wuah..” gumam Johnny pada kursi belakang yang sudah penuh oleh orang-orang yang tidak ia kenal.


“Disini?” Tanya Yuta yang menunjuk kursi di paling belakang. “ini paling dekat dengan pintu keluar, jadi kalau kita bosan, kita bisa keluar dengan cepat,” jelasnya menjelaskan alasannya memilih kursi di paling belakang.


“Tapi kau tidak bisa melihat klub mu tampil,” Johnny menyenggol lengan Yuta seolah mengingatkan bahwa klub karate dari kelas 1 dan 2 juga menjadi salah satu penampil di acara hari ini.


“Tidak mau,” jawab Taeyoung tegas. “ayo kita duduk depan saja,”


“Eh?”


“Eh? Benarkah?” Tanya Yuta yang tidak biasa mendengar jawaban Taeyoung. “klub band akan tampil, loh,”


“Memang kenapa? Aku ingin melihat mereka dari dekat,” jawab Taeyoung lagi sambil berjalan mendahului mereka.


Johnny dan Yuta bertukar pandang. Taeyoung yang biasanya memperhatikan penampilan band secara diam-diam, kini memilih duduk di tempat yang akan terlihat jelas dari atas panggung.


“Padahal aku memilih duduk di belakang karena kupikir Taeyoung akan ‘sembunyi’ seperti biasa,” bisik Yuta pada Johnny yang sedang mengikuti langkah Taeyoung.


“Iya, ada apa dengannya?” Johnny juga ikut bingung dengan tingkah Taeyoung.


Taeyoung duduk tepat di tengah dengan jarak tak jauh dari panggung. Ia melihat Doyoung sedang berdiri di depannya untuk menyapa seluruh guru yang mulai hadir dan duduk di tempat yang sudah disediakan.


“Sst! Doyoung ah!” Yuta memanggil Doyoung usil.


Doyoung pun menoleh menghadap Yuta, Johnny dan Taeyoung yang sudah duduk tak jauh dari tempatnya. “O!” Serunya sambil menunjuk mereka bertiga.


“Annyeooong,” sapa Johnny sambil melambaikan tangan.


Doyoung ikut balik menyapa sambil masih terlihat kaget karena ia melihat sosok Taeyoung di antara Johnny dan Yuta. Doyoung yang juga terlibat dalam kisah masa lalu Taeyoung juga menyadari bahwa sebelumnya, Taeyoung tidak pernah mau melihat ataupun bertemu dengan anggota band tertutama Hendery. Melihatnya kini duduk di barisan depan dan terlihat menantikan penampilan klub band, membuat Doyoung tersenyum lega dan bangga atas tindakan Taeyoung.


Acara ulang tahun sekolah dimulai. Berbagai macam pertunjukan pun ditampilkan oleh murid-murid Seo Seoul High School. Tepukan tangan dan sorakan semakin memenuhi ruangan kala klub cheers berhasil menampilkan pertunjukan yang memukau. Semua kagum dengan akrobat yang berhasil ditampilkan klub yang penuh dengan anggota wanita yang lincah.


Akhirnya, penampilan yang ditunggu-tunggu oleh Taeyoung dan seluruh fans Yangyang dan Jeno hadir juga. Kang ssaem, guru olah vocal jurusan Musik yang bertindak sebagai MC acara memanggil nama Hendery, Yangyang, Giselle dan Jeno untuk berada di panggung. Sementara tim acara menata gitar, drum dan keyboard untuk berada di tengah panggung, Hendery sebagai ketua klub mulai berbicara menyapa seluruh pengunjung yang hadir.


“Woaaaa!!!”


Semua murid dan guru sekolah Seo Seoul kaget dan bahkan menoleh ke kursi belakang kala para pengunjung umum bersorak heboh menjawab sapaan dari Hendery.


“Saya Hendery, kelas 2-3 jurusan Musik, dan ini anggota saya,” Hendery memperkenalkan diri dengan mic yang dibawanya. Ia lalu menyodorkan mic itu kepada Yangyang.


“Annyeong haseyo,”


“Wuaaaa!!”


Sorakan itu muncul lagi menyambut sapaan Yangyang.


“Saya Yangyang, kelas 1-3 jurusan Musik,”


“Annyeong haseyo, saya Giselle, kelas 1-3 jurusan Musik,” Giselle ikut memperkenalkan diri. Ia juga tidak menyangka para pengunjung juga bereaksi heboh menjawab sapaannya.


“Annyeong haseyo, saya Je….,”


“Wuuuaaaa!”


Sorakan paling meriah terdengar. Kang ssaem sampai bingung dan turut meminta pengunjung untuk tenang.


“Saya Jeno, kelas 1-1 jurusan Teknik Komputer,”

__ADS_1


“Ne.. itulah mereka,” ucap Kang ssaem untuk mengakhiri sesi perkenalan anggota band. “jadi, penampilan kalian adalah kolaborasi dari dua jurusan atau kalian adalah penampil dari klub band?” Tanya Kang ssaem yang memberi waktu pada Hendery untuk menjelaskan tampilannya hari ini. Karena di acara ini siapapun boleh tampil, murid-murid yang memiliki bakat dipersilahkan tampil tanpa membawa nama klub mereka. Seperti Winwin dari klub broadcasting yang mengejutkan dengan penampilan solonya, ia barusaja menarikan tarian klasik balet pria dengan diiringi musik klasik ballad yang menyentuh hati.


“Oh, kami dari klub band,” jawab Hendery. Ia tidak menyangka jawabannya membuat orang-orang bertepuk tangan. “ne, ne, terima kasih,” ucapnya malu. “saya dan Yangyang adalah anggota klub band. Untuk Giselle, dia meminjamkan suara indahnya untuk kami,”


“Wuuuhh!” Seru Yangyang diikuti tepuk tangannya dan tepuk tangan penonton, mereka juga membuat Giselle malu.


“Lalu Jeno, Jeno adalah murid yang sedang mempelajari gitar dengan kami,”


“Eh? Kalian bisa mengajari gitar?” Tanya Kang ssaem kagum.


“Ne, sedikit-sedikit, hehe,” Hendery membentuk gesture ‘sedikit’ dengan jari-jarinya.


Yangyang kemudian menarik tangan hendery agar mic yang ada di tangan Hendery mendekati bibir Yangyang. “kalau kalian tidak percaya, silahkan masuk ke klub kami, kami masih buka!” Lanjut Yangyang dengan nada riang.


“Ehehehe,” Johnny tertawa sambil menepuk-nepukkan telapak tangannya pada paha Taeyoung.


Doyoung juga ikut tersenyum mendengar ajakan Yangyang. Ia menggelengkan kepalanya sambil tertawa pelan.


“Ah, iya,” Yangyang kembali menarik mic di tangan Hendery. “di ruangan kami juga tidak ada hantunya!”


“Ahahaha!”


PLOK! PLOK! PLOK!


Suara tawa dan tepuk tangan menyahuti seruan Yangyang yang terdengar cukup keras. Seluruh penghuni sekolah Seo Seoul tentu mengerti maksud dari kalimat sarkas Yangyang. Walaupun Yangyang dan Hendery sudah cukup kebal dengan rumor yang beredar, bukan berarti mereka sabar, sudah saatnya orang-orang berhenti menyebarluaskan rumor itu.


“Bagus Yangyang! Wuuh!” Yuta berteriak dengan suara cukup lantang diatara gemuruh penonton.


Kalimat Yangyang tadi merupakan penutup dari bincang-bincang klub band dengan sang MC acara. Sudah saatnya pengunjung menonton pertunjukan yang ditampilkan Hendery, Yangyang, Giselle dan Jeno yang sudah mereka siapkan selama kurang lebih satu bulan. Mereka pun berdiri di tempat masing-masing. Hendery sudah duduk manis di belakang drum dengan kedua stick drum di tangan kanan dan kirinya. Jeno sudah mengalungkan gitar listriknya dan memegang pick gitar berwarna merah. Yangyang pun sama. Ia sudah berdiri di balik keyboard yang sudah menyala. Giselle pun mengangguk menatap Hendery. Tanda penampilan dimulai.


Hendery memulai permainan drumnya. Lagu pertama yang akan mereka tampilkan adalah lagu pop band dari Younha yang berjudul ‘Password 486’. Lagu bersemangat yang cocok dibawakan oleh Giselle ini, membuat pengunjung bersedandung mengikuti nyanyian Giselle. Para pengunjung yang sengaja datang untuk melihat penampilan band sekolah Seo Seoul pun bersorak semangat sambil sesekali mengeluarkan HP mereka untuk merekam penampilan klub band.


Di sisi lain, murid dengan klub charity sedang membuka stand amal yang mereka lakukan di lapangan dekat dengan pintu masuk aula. Ketiga murid itu barusaja menutup stand mereka dan masuk ke aula untuk mencari tempat duduk.


“Wooah!”


“Aduuuh kaget!” Seru Jaemin yang berjalan duluan dengan Chenle dan Jisung dibelakangnya. Mereka berusaja melewati kursi yang penuh dengan pengunjung yang sedang menyoraki klub band yang sedang melakukan perkenalan diri.


Jisung juga terlihat menutup telinganya kala sorakan terdengar makin meriah menyambut perkenalan diri Jeno.


“Ah, itu mereka,” Jaemin tersenyum dan melambaikan tangannya pada teman-temannya yang sudah mengosongkan kursi untuknya.


Jaemin pun segera mendekatkan diri pada kursi kosong di samping Renjun. “Kalian berdua disana, ya,” Jaemin menunjuk pada kedua kursi kosong di depannya.


“Gomawo Renjun ah,” ucap Jaemin sambil menyenggol lengan Renjun.


“Gomawoyo,” Chenle dan Jisung berterima kasih pada anak jurusan Teknik Komputer yang merupakan teman sekelas Jaemin itu.


Chenle dan Jisung pun berhasil mendapatkan kursi kosong berkat Renjun. Mereka mulai menikmati acara dengan klub band yang masih berbicara di atas panggung.



“Mwoya?” Jisung terdengar kaget. “Memang di klub band ada hantu?”


“Ha?” Chenle mengeryitkan dahinya mendekatkan telinganya ke arah Jisung.


“Itu, tadi dia bicara bahwa tidak ada hantu di ruang klub band,” jawab Jisung sambil menunjuk Yangyang yang barusaja berteriak dan membuat orang tertawa. “memang ada hantu di ruang klub? Atau aku saja yang tidak tahu?”


Chenle menggelengkan kepalanya. “Aku juga tidak tahu. Tapi, haha. Rumor apa itu? Seperti buatan anak kecil,” komentar Chenle meremehkan. Ia lalu memalingkan badannya ke belakang dan memanggil Jaemin. “Jaemin ah,”


“Hmm?” Jaemin memajukan badannya agar ia dapat mendengar perkataan Chenle ditengah kebisingan aula.


“Kau dengar anak itu?” Chenle kini menunjuk Yangyang yang kini berdiri di balik keyboardnya. “hya apa ada hantu di ruang klub band?”


“Eh?” Jaemin memiringkan badannya dan mulai memikirkan jawaban yang tepat. “itu…”


“Hya,” murid di sebelah Chenle yang tidak sengaja menguping pembicaraan, ikut bersuara. “dia sudah bilang tidak ada, ‘kan?” Ia menunjuk Yangyang.


“Mwo? Kau siapa?” Chenle mengembalikan posisinya dan menatap gadis itu.


“Ani, memang sebelumnya ada rumor aneh di klub band, tapi dia sudah bilang sendiri kalau itu tidak benar,” lanjutnya.


“Chenle hya,” kepala Jaemin tiba tiba muncul diantara Chenle dan gadis itu. “ini Ningning, teman sekelasku. Ningning, ini Chenle teman satu klubku. Dia dari jurusan Ilmu Sosial,”


“Oh,” Chenle bereaksi dingin. Tak perduli dengan nama gadis itu. “mengapa rumor aneh itu tersebar?”


Ningning membulatkan matanya sambil menggeleng tak percaya. “kau.. kau tidak tahu rumor itu?!”


“Apa aku harus tahu?” Balas Chenle dingin.


“Hya!” Renjun menjambak kuncir rambut Ningning pelan dari belakang. “jangan mulai,”


“Aw! Renjun ah!” Ningning mengeryitkan dahinya menatap Renjun dengan wajah kesal. “hya, lagipula aku tahu dari unniku tentang rumor itu,”


“Mwoya?! Jangan-jangan kau yang menyebarkan rumor itu ya?!” Chenle menunjuk Ningning.


“Enak saja!” Ningning kemudian menghempas telunjuk Chenle. “Jangan menuduhku!”


“Ning ah,” panggil Jaemin. “dia Chenle loh. ‘Chen-le’,”ucapnya yang duduk dibelakang Chenle.


“Memang ken..” Ningning pun terdiam. Ia tahu bahwa seharusnya ia mengenal nama itu. Nama murid yang berhasil masuk sekolah Seo Seoul dengan nilai paling tinggi, mengalahkan sepupunya, Renjun. “Hhh..” Ningning lalu menaikkan salah satu ujung bibirnya. “mau ranking 1 ataupun ranking 100, tetap saja, perilakunya buruk,” komentar Ningning tajam.


“Hya kau…”


“Wuuuuuh!!”


“Wooooohhhh!!!” Sorakan pengunjung terdengar lagi saat lagu pertama selesai dimainkan. Sorakan ramai itu menghentikan perdebatan kedua murid yang baru saja bertemu itu.


Giselle lalu berteriak mengajak seluruh penonton bertepuk tangan sesuai dengan dentuman drum yang dibunyikan Giselle. Lagu kedua adalah lagu lama yang sering dinyanyikan sebagai penyemangat muda-mudi dalam menggapai mimpi. Lagu kedua yang mereka tampilkan berjudul ‘Balloons’ dari DBSK. Para guru bahkan ikut bernyanyi dan bergerak menikmati penampilan klub band.


“Mwoya?” Jungwoo berbicara sendiri sambil menatap klub band yang memainkan musiknya dengan riang. Ia menempelkan tangannya pada pipinya. “Mengapa aku menangis?” Ucapnya bingung sambil menyeka air matanya. “Jaehyun ah,” Jungwoo memanggil sahabatnya yang duduk di sampingnya.


“Hmm?” Jaehyun menoleh setelah Jungwoo menarik kerahnya. Ia sempat tidak mendengar panggilan Jungwoo karena suara band yang keras ditimpali oleh sorakan pengunjung. “Oh? Kau menangis?” Jaehyun sedikit tertawa melihat temannya. “Wae? Karena Hendery?” Tanya Jaehyun sambil mengacak-acak rambut Jungwoo dan mendorongnya untuk kembali duduk menghadap depan.


“Sepertinya begitu,” Jungwoo membersihkan seluruh air yang menempel di wajahnya. “karena aku sendiri melihat perjuangannya membuka kembali klub band, rasanya aku ikut senang dapat melihatnya tampil lagi. Apalagi dengan pengunjung sebanyak ini,”


“Iya, aku mengerti,” angguk Jaehyun yang memahami perasaan bangga Jungwoo pada Hendery.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2