![THE ZOO [FF NCT AESPA]](https://asset.asean.biz.id/the-zoo--ff-nct-aespa-.webp)
Yangyang tidak bisa konsentrasi penuh sepanjang pelajaran di hari ini. Sesekali ia melirik Giselle yang seharian ini ia coba ajak berbicara. Yangyang sudah mendengar apa yang terjadi kemarin. Soal Giselle yang pingsan di tengah aktivitasnya berlatih cheers. Kemarin Haechan yang bermain sepak bola sampai sore, melihat Giselle digendong keluar dari aula olahraga oleh salah satu anggota basket.
Pagi ini Haechan menceritakan kejadian kemarin pada Yangyang, dan menyalahkan Yangyang atas kejadian yang menimpa Giselle. Haechan kembali mengungkit masalah sandwich Giselle yang telah dimakan oleh Yangyang dengan sengaja.
Sang guru bahasa Jepang terlihat membalikkan badannya dan menulis sesuatu di papan tulis. Ini adalah kesempatan Haechan untuk mengetuk-ngetuk pundak Yangyang dan berbisik padanya.
“Apa?” Yangyang mengeluarkan suara sangat pelan sambil menoleh ke belakang, menghadap Haechan.
“Sudah minta maaf, belum?” Tanya Haechan yang ternyata memikirkan kisah pertemanan kedua teman sekelasnya itu. “setelah ini bel pulang, loh,” bisiknya sambil mengangkat tubuhnya agar dekat dengan telinga Yangyang.
“Sst, sudah kau diam saja,” bisik Yangyang lagi sambil mengeryitkan dahi.
“Hya, kau ‘kan salah. Sebagai laki-laki jantan, kau harus minta maaf,” perintah Haechan. “dia pingsan karenamu, kau tahu,” lanjutnya lagi dengan kalimat yang membuat Yangyang kesal.
“Hya aku tahu, aku tahu!” Yangyang berbisik lagi. “aku sedang berusaha! Dari tadi…”
“Yangyang!! Haechan!!” Suara lantang guru bahasa Jepang itu menghentikan perbincangan diam-diam keduanya. “sedang apa kalian?!”
“A..anu.. sensei..mm”
“Berdiri di lorong!” Seru sang guru sebelum Haechan menjawab pertanyaannya. “Ck, berisik sekali,”
Yangyang dan Haechan menuruti perintah gurunya. Giselle dapat melihat kedua temannya berjalan lemas dan berdiri di lorong kelas. Keduanya berdiri berdampingan dengan kedua tangan mengepal dan diangkat keatas.
Seperti hukuman biasanya, kedua tangan mereka tidak boleh diturunkan hingga jam pelajaran selesai.
“Kau siih,” Yangyang menyalahkan Haechan atas hukuman yang menimpanya.
“Hya, kau juga berbicara terlalu keras,” Haechan tidak terima dengan tuduhan Yangyang.
“J..jadii… kemarin kau melihat Giselle jatuh di aula lalu pingsan?” Tanya Yangyang penasaran dan meminta Haechan mengulang ceritanya lebih detail.
“Tidak, aku hanya tahu dia pingsan,” jawab Haechan dengan pandangan masih menghadap tembok lorong. “kemarin tak lama setelah jam pulang sekolah, aku masih ada disini, di lapangan. Lalu aku melihat Giselle digendong oleh anggota klub basket. Rasanya aku pernah bertemu dengannya di ruang klub bandmu,”
“Jeno?” Tebak Yangyang.
“Iya, rasanya dia,” Haechan mencoba mengingat-ingat wajah anggota klub basket yang membawa Giselle, dengan wajah murid kelas 1 yang pernah ia temui saat ia dan Minjeong mengunjungi Yangyang di ruang klub band. “Joy sunbae juga ikut berlari bersama si Jeno itu, mereka terlihat panik. Lalu aku yang penasaran, bertanya sendiri ke klub cheers,”
“Ha? Kau masuk ke aula olahraga?”
“Ya. Lalu mereka bilang Giselle pingsan. Aku tidak sempat bertanya mengapa Giselle pingsan, karena, saat itu terjadi kegaduhan di klub cheers, kemudian guru pembina klub cheers terlihat marah besar,”
“Mwo? Ada apa disana?”
Haechan mengangkat bahunya. “Entahlah, rasanya ada perkelahian. Tapi guru pembina mereka terlihat menyeramkan. Aku jadi tidak bertanya lebih banyak lagi,”
“Lalu kau pergi ke UKS?”
“Tidak, aku lanjut main bola,”
BUK!
“Aw…” Haechan merintih saat Yangyang menginjang kaki kirinya. “kenapa menginjakku?!” Haechan terdengar marah sambil tetap memelankan suaranya agar tak terdengar sampai ke dalam kelas.
Yangyang hanya terdiam dan memasang muka datar. Ia tetap menghadap tembok lorong setelah melakukan aksinya.
“Minjeong yang ke UKS,” lanjut Haechan. “aku bertemu Minjeong yang sedang mencuci kuas di lapangan. Lalu aku menceritakan apa yang aku lihat padanya,”
Yangyang masih terdiam mendengar cerita Haechan.
“Wae?” Haechan yang usil kini menatap wajah samping Yangyang. “Kepikiran, ya? Kau merasa bersalah, ‘kan?” Tebaknya. “Sudah kubilang jangan makan makanan orang lain, kau tetap saja…”
GREEEK!
Mulut Haechan otomatis tidak bersuara dan tertutup rapat saat ia mendengar suara pintu geret yang dibuka secara mendadak. Yangyang menegakkan kembali kakinya dan fokus menatap tembok lorong. Bel tanda pelajaran selesai telah berbunyi. Yujin sensei, guru bahasa Jepang mereka, berdiri dan menatap kedua murid berisik itu.
“Akan kusampaikan pada wali kelas kalian bahwa hari ini, sepulang sekolah, kalian membersihkan aula teater,” ucap Yujin sensei dengan kalimat yang ia ucapkan perlahan-lahan.
“Ne?!” Haechan berseru keras. “sumimasen, sensei,” ucapnya meminta maaf karena kaget berlebihan.
Yujin sensei pun pergi meninggalkan mereka. Yangyang menurunkan kedua lengannya dan sedikit memijatnya. Membersihkan aula teater adalah tugas yang melelahkan. Jurusan Musik memiliki 2 aula seni yang besar, aula pertunjukkan yang biasa digunakan klub choir dan dance, dan aula teater yang memiliki luas hampir sama dengan aula olahraga milik sekolah. Para guru di jurusan Musik sering menggunakan aula teater sebegai tempat hukuman bagi para murid-murid yang melanggar aturan.
“Ah! Giselle, Giselle!” Dengan cepat, Yangyang mengejar Giselle yang berjalan keluar kelas.
“Giselle ah, hya..” Yangyang berjalan cepat disamping Giselle yang terus mengacuhkannya.
“Giselle ah, tunggu!” Seru Minjeong yang berlari keluar kelas. Entah mengapa Haechan mengikuti larian kecil Minjeong.
Giselle menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang untuk menunggu Minjeong menghampirinya.
“W..wae?” Minjeong menatap kedua laki-laki yang berdiri di dekat mereka berdua. “Pergi sana! Kami mau ke toilet,” usir Minjeong.
“Hya.. tunggu!” Yangyang menghentikan perjalanan Giselle dan Minjeong. “Giselle ah, a…a..” Yangyang kesulitan mengeluarkan kata-kata. Ia bahkan menerima pukulan kecil hari Haechan yang geram dengan kalimat yang tidak segera diucapkan oleh Yangyang.
“’Mianhae’, katanya,” Haechan berbicara bak juru bicara Yangyang.
“Hya, kau diam dulu!” Yangyang mendorong sikunya hingga memukul perut Haechan.
__ADS_1
“Mian, Giselle ah,”
“Hah? Apanya?” Giselle balik bertanya dengan nada datar.
“Aku dengar kemarin kau pingsan..” jawab Yangyang sambil menggaruk tengkuknya.
“Bukan salahmu,”
“Ani, Giselle ah, mengapa kau memaafkannya?” Tanya Minjeong yang tak terima dengan reaksi Giselle pada permintaan maaf Yangyang. “hya, dia…”
“Kenapa kau ikut campur?” Sela Haechan saat Minjeong menunjuk Yangyang.
“Ssst sst! Sudah, diam kalian,” Giselle terlihat menutup matanya mendengar Minjeong dan Haechan yang malah beradu mulut.
“Giselle ah, dia belum minta maaf soal roti itu,” bisik Minjeong yang kembali mengadukan kesalahan Yangyang pada Giselle.
“Ah benar!” Haechan menjentikkan jarinya. Haechan kemudian menunjuk Yangyang dan berdiri di samping Minjeong. “Yaah… kau benar-benar, ya,”
“Mwoya Haechan ah, sebenarnya kau ada di pihak siapa?” Yangyang memiringkan kepalanya geram dengan tingkah laku teman dekatnya itu.
“Sudahlah,” Giselle menghela nafas berat untuk menghentikan pertikaian teman-temannya. “lupakan saja. Aku kemarin memang kurang sehat, makannya aku pingsan. Tidak ada hubungannya denganmu dan sandwich itu,” jelas Giselle.
“Tapi.. permintaan maafku diterima, ‘kan?” Yangyang mengeluarkan senyum lebarnya.
“Aigoo… iya, iya,” Giselle terlihat seperti terpaksa menjawab pertanyaan Yangyang. “tapi ada syaratnya. Satu, kau tidak boleh mengejekku dengan pembahasan diet lagi,” Giselle mengacungkan jari telunjuknya ke hadapan Yangyang.
“Oke. Mengerti,”
Giselle lalu mengangkat jari tengahnya untuk membentuk simbol angka dua. “Dua,”
“Dua,” Yangyang mem-beo mengikuti ucapan Giselle. Giselle tersenyum lebar sebelum melanjutkan persyaratannya yang ke dua.
...****************...
Yangyang membawa Giselle berjalan menyusuri lorong lantai yang berisikan ruang-ruang klub. Ia membawa Giselle ke ruang klub band yang hari ini tidak dikunjungi oleh siapapun, termasuk Hendery.
Dengan langkah kaki yang dilompat-lompatkan, Giselle berjalan di belakang Yangyang. Ia senang dapat memanfaatkan Yangyang dengan baik. Sebagai permintaan maaf Yangyang atas pertarungan konyolnya dengan Giselle, Giselle memberikan syarat kedua untuk Yangyang yaitu agar mengijinkannya berlatih vocal di ruang klub band.
Beberapa hari lagi, kelas di jurusan Musik ada mengikuti ujian praktek pada kelas olah vocal. Walau Giselle belum memilih lagu untuk ditampilkan, ia tetap membutuhkan tempat untuk berlatih vocal. Aula pertunjukkan yang memiliki piano klasik besar disana, tidak bisa ia jadikan tempat berlatih, karena aula tersebut biasa digunakan untuk murid jurusan Musik yang juga mengikuti klub choir atau klub dance. Tidak ada peraturan tertulis yang tidak memperbolehkannya berlatih disana memang, namun Giselle merasa tidak enak jika ia berlatih di aula itu.
“Untung ada Yangyang,” ujar Giselle dalam hati sambil memandang punggung temannya yang sedang membuka kunci ruang klub band. Terdapat peraturan yang tersebar dari mulut ke mulut bahwa tidak boleh ada yang memasuki ruang klub band tanpa adanya sang ketua klub maupun anggota klub band di dalamnya.
Setelah meletakkan tas-tas mereka. Yangyang segera duduk di belakang keyboard sesuai permintaan Gisellle. Selain Giselle meminta Yangyang mengijinkannya berlatih di ruang ini, Giselle meminta Yangyang untuk bermain keyboard mengiringinya.
“Nah,” Yangyang terlihat melemaskan jari-jarinya. “mau lagu apa?”
“Entahlah,” Jawab Giselle yang sibuk menatap layar HP nya dan menscroll deretan lagu yang kira-kira cocok untuk ia bawakan di ujian nanti. “kalau kau?”
“Kita duet saja, bagaimana?” Ajak Giselle.
“Eh? Duet?”
“Mmm,” Angguk Gisella. “Boleh ‘kan?”
“Boleh siih..” pikir Yangyang sambil mengingat pernyataan Kang ssaem mengenai ujian praktik vocal. “baiklah, kita duet saja,”
Setelah melihat layar HP bersama-sama, akhirnya Giselle dan Yangyang memilih lagu duat ber genre RnB yang dibawakan oleh penyanyi Kwon Jinah dan Sam Kin yang berjudul From Now.
“Oke, nanti aku yang bermain gitar,” Angguk Yangyang yang juga memiliki keahlian bermain gitar akustik. “tapi aku belum menguasai lagunya..”
“Sebentar..” Giselle men-scroll HP nya lagi. “kita berlatih menggunakan instrumennya saja dulu, bagaimana? Lalu kau berlatih gitarnya,” usul Giselle sambil menunjukkan layar HP pada Yangyang.
“Baiklah. Tapi kurasa suara Sam Kim-nim terlalu tinggi untukku, nanti setelah aku menguasai chord gitarnya, akan aku turunkan ya nadanya,” ucap Yangyang yang mengomentari suara seorang penyanyi K-RnB yang cukup terkenal di Korea itu.
“Oke,”
TOK TOK…
“Sorry,” Jeno tiba-tiba mengetuk pintu yang tertutup sedikit. Ia kini membuka lebar pintu itu. “mian, bukan bermaksud menguping, tapi aku dapat mendengar suara kalian dari depan,”
“Oh, annyeong,” saya Yangyang yang sudah tahu bahwa Jeno sering bermain musik di ruang klub bersama Hendery.
“Oh, Jeno ah!” Giselle menyapa Jeno yang kemarin barusaja mengangkutnya ke UKS.
“Giselle? Bagaimana kabarmu?” Tanya Jeno melihat Giselle yang sudah kembali riang.
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja,” jawab Giselle tersenyum. “yang kemarin, terima kasih, ya,”
“Syukurlah kalau begitu,”
“Jeno hya, aku berat tidak?” Tanya Giselle penasaran.
“Mwoya… itu lagi?” Sela Yangyang yang heran dengan Giselle yang masih memikirkan berat badannya.
“Ani. Biasa saja,” Jawab Jeno sambil meletakkan barang-barangnya diatas sofa. “Hendery hyung mana?” Tanya Jeno mengalihkan pembicaraan. Ia yang terlihat sudah akrab dengan Hendery menyapukan pandangannya ke sekeliling.
“Sedang tugas sekolah mungkin,” jawab Yangyang seadanya pada Jeno yang biasa bermain gitar dengan Hendery. “hari ini kau bisa main gitar seperti biasa, ‘kan ada aku,” lanjut Yangyang mengijinkan Jeno yang memang biasa berkunjung ke klub band pada hari Selasa. “tapi tunggu ya, kami sedang latihan vocal dulu,”
“Iya nih, ada ujian,” Giselle ikut menimpali.
__ADS_1
“Mmm, ya. Tadi aku sempat dengar,” Jeno menunjuk pintu dimana ia tidak sengaja mendengar percakapan Giselle dan Yangyang. “mmm… apa boleh aku mengiringi kalian dengan gitar? Aku cukup tahu lagu yang kalian pilih,” Tanya Jeno menawarkan diri.
“Eh?” Giselle dan Yangyang kaget dengan ucapan Jeno.
“Kau bisa main gitar?” Giselle menunjuk Jeno tak percaya.
“Hya, dia jago,” puji Yangyang yang pernah mendengar cerita Hendery bahwa Jeno baik dalam permainan gitar. “wah untung kau datang!” Yangyang bertepuk tangan cepat bagai anjing laut.
“Kalau begitu, tolong iringi kami ya, main di nada rendah saja, karena yang asli terlalu tinggi,” pinta Giselle yang juga senang dengan adanya Jeno disana.
Jeno pun memetikkan gitar dengan melihat layar HP yang berisi lirik lengkap dengan kunci gitarnya. Giselle mulai mengeluarkan suaranya yang tak kalah merdu dari suara lembut Yangyang. Lagu itu sungguh pas dibawakan oleh mereka berdua. Jeno juga terlihat menikmati permainannya, tak jarang mereka juga berdiskusi mengenai pemilihan nada agar sesuai dengan warna suara mereka. Yangyang dan Giselle yang terlihat puas dengan latihan hari ini, ber-high five dan saling melempar senyum bahagia.
“…hya..!”
Giselle, Yangyang, dan Jeno tiba-tiba mendengar jelas suara orang yang berbicara di luar ruangan klub band.
“…mwoya…hya!”
BRAK!
“Annyeong!” Johnny tiba-tiba membuka lebar pintu ruang klub band dan menyapa ketiga murid kelas 1 di dalamnya,
“Hya! Hya! Hentikan!” Seru Taeyoung yang didorong paksa oleh Yuta yang juga ikut memasuki ruangan itu.
“Annyeong!” Sapa Yuta sambil mengangkat tangan kanannya karena tangan kirinya masih memegang kerah seragam Taeyoung dari belakang.
Ketiga murid kelas satu itu bengong membuka mulutnya melihat seniornya dari kelas 3 masuk secara tiba-tiba.
“A..annyeong haseyo..” ucap Yangyang dengan diikuti oleh tundukkan badan. Giselle dan Jeno mengikuti gerakan Yangyang untuk menyapa para sunbaenya itu.
“Permainan musik yang bagus,” puji Johnny dengan mengacungkan jempolnya. “ya ‘kan, Taeyoung?” Johnny menyenggol lengan Taeyoung hingga ia sedikit oleng.
“Dari tadi kami mencari Taeyoung, ternyata sedari tadi dia menguping permainan musik kalian di depan sana. Hahaha!” Terang Yuta usil.
“Hya!” Taeyoung memukul lengan Yuta yang masih terkekeh dan menjulurkan lidahnya.
“Sunbae mencari Hendery hyung?” Tanya Yangyang pada Taeyoung yang nampaknya masih kesal dengan tingkah usil Johnny dan Yuta.
“Ani,” jawabnya cepat. “Aku tadi mau masuk ke ruang klub sastra, tapi aku mendengar suara dari ruangan ini, jadi… Hya, kalau mau latihan musik, tutup pintunya. Suara musik kalian bisa menganggu aktivitas klub lain,” Perintah Taeyoung.
“Ey.. mwoya… galak sekali,” kini giliran Yuta yang menyenggol badan Taeyoung.
“Jwisonghamnida, sunbaenim,” Yangyang meminta maaf dan diikuti oleh Giselle dan Jeno. Mereka tidak menyadari bahwa pintu ruang klub belum ditutup dengan rapat.
Johnny yang gemas melihat percakapan antara temannya dengan juniornya itu malah tertawa riang. “Ahaha. Gwaenchana, gwaenchana,” ucapnya yang meminta hoobaenya tak usah menghiraukan gerutuan Taeyoung. “jadi tadi Jeno yang bermain gitar dan kalian berdua bernyanyi?”
“Ne, hyung,” jawab Jeno yang sepertinya semakin akrab dengan Johnny, ia bahkan memanggil Johnny dengan sebutan ‘hyung’. “Mereka berdua akan ada ujian vocal, jadi aku membantu mengiringi musik,” jelasnya.
“Bisakah kalian bernyanyi sekali lagi?” Pinta Yuta sambil mengacungkan jari telunjuknya.
“Ne?” Mata Yangyang terbuka lebar.
“Yah, anggap saja kami guru kalian. Hehe. Walau bukan dari jurusan Musik, kan Taeyoung ‘sunbae’ bisa menilai kalian,” Yuta tak berhenti menggoda Taeyoung.
Tanpa menghiraukan reaksi Taeyoung, Jeno segera memetik gitarnya. Dengan sedikit gugup, Giselle bernyanyi sambil berkonsentrasi pada lirik yang ia baca melalui layar HP nya. Johnny terlihat duduk santai di sofa, Yuta berdiri sambil menyandarkan badannya pada tembok di sisi kanannya. Sedangkan Taeyoung berdiri sambil melipat tangannya di depan Giselle dan Yangyang yang sesekali bertukar pandang saat bernyanyi.
“Wooh!”
“Wooooh!”
Johnny dan Yuta bertepuk tangan saat ketiga junior itu selesai memainkan lagu dari penyanyi K-RnB ternama itu. Giselle dan Yangyang tersenyum dan berterima kasih pada sunbaenya yang bereaksi menyenangkan.
“Lebih bagus lagi kalau ada iringian drum dari Hendery, dan gitar darimu!” Ucap Yuta yang masih bertepuk tangan. “Bagaimana?”
“Ini memang lagu akustik, kok. Jadi tidak perlu drum dan gitar listrik,” sahut Taeyoung datar.
Johnny melempar bantal ke arah Yuta dan membentuk kalimat “dasar bodoh,” dari mulutnya.
“Mak..maksudku, inilah klub band!” Yuta berseru lagi, kali ini ia berdiri di samping Taeyoung dan membuka tangannya lebar-lebar. “bukan dua orang saja! Ada vocalist, gitarist, drumist..”
“Diam kau,” Taeyoung memukul dada Yuta dengan punggung tangannya. “permainan yang bagus,” pujinya pada Giselle, Yangyang, dan Jeno.
“Eh? Benarkah sunbaenim?” Yangyang terkejut, Giselle dan Jeno juga. Mereka tidak menyangka akan dipuji oleh mantan ketua klub band yang kisahnya sudah pernah mereka dengar sebelumnya.
Tanpa menjawab, Taeyoung segera berbalik badan dan pergi meninggalkan ruangan.
“Oh? Taeyoung ah!” Panggil Johnny yang masih terduduk santai. “hya, permainan kalian bagus!” puji Johnny lagi. “semoga sukses ya, ujiannya! Annyeong!” Johnny pun ikut berlari keluar menghampiri Taeyoung.
Yuta berkacak pinggang melihat kedua temannya yang pergi begitu saja. Ia kemudian membalik badan menatap Yangyang lagi.
“Tenang saja, Taeyoung akan segera gabung ke klub ini lagi,”
“Benarkah sunbaenim?” Yangyang berekspresi tak percaya. Seorang gitaris legendaris dari sekolah Seo Seoul akan gabung lagi ke klub band yang sudah lama ditinggalkannya.
“Yah.. aku tidak yakin sih, hehe,” Yuta menggaruk kepalanya. “tapi kau harus percaya pada Hendery!” Yuta kini mengacungkan jempolnya pada Yangyang. “dia yang akan membawa Taeyoung kembali,”
__ADS_1
...****************...