THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 21


__ADS_3

Pada jam pulang sekolah kali ini, untuk pertama kalinya, Yangyang dan Giselle akan melakukan kegiatan belajar bersama dengan Jeno. Jeno dengan sukarela membantu Yangyang dan Giselle yang sedang menjalankan misi yang sama, yaitu menaikkan nilai sekolah mereka. Sore ini mereka memilih berkumpul di halaman belakang sekolah yang berada dekat dengan aula olahraga. Mereka duduk di kursi kayu dibawah sebuah pohon rindang.


“Kau juga?” Yangyang menunjuk Karina yang duduk di hadapannya.


“Apanya?” Karina balik bertanya.


“Kenapa kau ikut belajar bersama kami? Nilaimu juga turun?” Yangyang memperjelas pertanyaannya.


“Aku yang mengajaknya,” jawab Jeno yang duduk disamping Karina. “sama denganmu, nilainya tidak pernah naik,”


“Hya..” Karina menyenggol lengan Jeno. “tidak usah kau perjelas,”


“Gwaenchana, nilai Yangyang lebih buruk darimu,” tunjuk Jeno dengan suara datarnya bagai tidak bersalah.


“Wah, kalau kau tidak pintar, aku pasti akan menghabisimu,” ucap Yangyang geram.


“Memang bisa?” Celetuk Giselle dengan pandangan masih menatap buku. “dengan badan sekecil itu,” cibirnya.


“Hhhh!”


“Aw!” Jerit Giselle saat Yangyang menarik rambutnya. “Hya!”


“Hya hya, hentikan,” Jeno berusaha melerai kedua temannya yang mulai saling serang. “ayo lanjut kerjakan,”


“Tapi ini susah sekali,” komentar Yangyang mengacak rambutnya. Ia terus memandangi angka-angka yang muncul dari setiap lembar.


“Aku hanya ingin mengetahui kemampuan matematika kalian berdua saja, isi sebisanya,” terang Jeno.


“Tapi Jeno hya, aku penasaran,” Giselle bersuara sambil tetap mengerjakan. “mengapa kau menolak perlombaan itu? Padahal kalau kau ikut, kau langsung otomatis mendapat nilai tambahan, ‘kan. Kau tidak harus menang,”


“Lomba apa?” Karina balik bertanya dengan pandangan yang juga sedang menatap soal di hadapannya.


“Cerdas cermat,”


“Mwo?!” Karina bereaksi heboh pada jawaban Giselle. Ia kini menatap Jeno. “mwoya, kau menolak perlombaan itu?! Itu perlombaan yang Song ssaem tawarkan padamu itu, ‘kan?!”


“Ssst! Berisiiik…” Jeno menempelkan telunjuknya pada bibirnya. Ia menyuruh teman sekelasnya ini mengecilkan suara.


“Kau menolak perlombaan itu?” Ulang Karina dengan suara lebih kecil.


“Awalnya aku menolak. Tapi sudah kuterima,” jawab Jeno pada Karina.


“Mengapa kau menolak?” Tanya Giselle lagi. “apa aku boleh tahu?”


“Oh, pasti karena dia malu,” celetuk Karina.


“Hya!” Kini giliran Jeno yang menyenggol lengan Karina.


“Ha? Malu?” Yangyang mengeryitkan dahinya.


“Apa maksudnya?”


“Dia tidak bisa tampil di depan banyak orang,” jawab Karina, sedangkan Jeno hanya diam dan menopang dagunya menatap Karina yang sedang membicarakannya dengan santai. “jika dia tampil di depan banyak orang, dia akan gugup dan jadi tidak bisa bicara,” lanjut Karina yang sepertinya sudah sering melihat Jeno gugup. Karina pun menoleh menatap Jeno disampingnya, “pasti itu alasannya, ‘kan? Kau takut mengacau pada saat perlombaan berlangsung,”


Jeno mengangguk dan sedikit memejamkan matanya. “begitulah,”


“Oh.. mian, kami tidak tahu,” Giselle meminta maaf.


“Aniya, kenapa kau meminta maaf,” tolak Jeno. “gwaenchana, memang seperti inilah aku,”


“Lalu saat kita di panggung, apa kau baik-baik saja?” Tanya Yangyang.


“Mm,” Jeno mengangguk. “Berada di panggung dan di lapangan sama saja. Aku hanya perlu fokus pada satu hal; gitar dan bola. Aku masih belum bisa sepertimu, Yangyang ah, bermain alat musik sambil berinteraksi dengan penonton,”


“A..a..aniya..” Yangyang tersipu malu saat menganggap pernyataan Jeno adalah sebuah pujian.


“Pada perlombaan cerdas cermat nanti, akan ada banyak penonton yang datang dan juga para juri. Aku khawatir aku tidak bisa mengutarakan jawabanku,” lanjut Jeno yang menceritakan keresahannya.


“Sudah kubilang, kau hanya perlu lihat rambut penonton saja,” Karina menatap Jeno sambil memukul pelan meja kayu yang tadi penuh dengan dedaunan.


“Kurasa tidak semudah itu, Karina hya,” ucap Giselle.


“Atau…. coba kita latihan,” Karina kemudian menggerakkan badannya hingga ia kini duduk menghadap Jeno. “coba kita perang pandang,” ucapnya yang menantang Jeno untuk saling menatap mata dalam untuk 10 detik.


“Mwo?” Jeno memundurkan badannya, memberikan reaksi penolakan.


“Coba saja, Jeno hya,” Giselle ikut mendukung Karina. “mungkin dengan latihan ini kau bisa mengatasi masalahmu,”


“Tidak mau,”


“Ck!” Karina menarik lengan Jeno dan membuatnya menatapnya. “1…2…” Karina mulai menghitung. Jeno pun terdiam dan mencoba mengikuti arahan Karina. Jeno menatap mata Karina sambil menunggunya selesai berhitung.


“3…4…” Giselle ikut menghitung dengan Karina. “5….6…”


Jeno tiba-tiba memalingkan wajahnya. Ia menutup mulutnya dengan tangan yang mengepal sambil membenarkan posisi duduknya menjadi menghadap depan kembali.


“Eh? Belum selesai,” ucap Karina tidak terima.


“Aku tidak bisa konsentrasi,” jawab Jeno. “dahimu banyak minyaknya,” ejeknya.



“Mwoya? Alasan apa itu?!” Karina terdengar jengkel.


“Hya, ayo kita coba,” usul Giselle pada Yangyang. “tapi tidak boleh berkedip. Yang berkedip duluan, kalah,”

__ADS_1


“Ey, tidak, ah,” tolak Yangyang mentah-mentah.


“Mwoya? Wae?”


Yangyang menghela nafas sambil menghadap Giselle. “Wajahmu seperti telur, membuatku lapar,”


“Hya! Wajahmu seperti kambing!” Hina Giselle.



...****************...


Jeno duduk di dalam ruang rapat osis yang baru pertama kali ia masuki. Ia menggoyang-goyangkan kursinya sembari menunggu orang-orang yang akan bersamanya sore hari ini.


“Kunyalakan lampunya, ya,” ucap Renjun, teman sekelas Jeno yang juga merupakan anggota osis. Ia sudah cukup familiar dengan ruang rapat itu.


Jeno mengangguk dan memejamkan matanya sebentar untuk menerima cahaya terang ruangan. Kepalanya ia gerakan mengikuti Renjun yang berjalan menuju sisi ruangan untuk menutup tirai jendela.


GREEEKKK GREEEKKK GREEEKKK


Suara trolli yang sedang didorong terdengar keras mendekati ruang osis. Seolah sudah mengeri siapa yang datang, Renjun membuka pintu ruangan.


Badan Jeno otomatis berdiri menatap dua trolli yang membawa kardus-kardus berat diatasnya. Ia pun melihat Jaemin, teman sekelas Jeno. Jaemin terlihat sedang kesusahan bernafas setelah mendorong trolli itu bersama kedua temannya.


“O. Jeno? Sedang apa disini?” Tanya Jaemin sambil menunjuk Jeno yang berjalan ke arahnya.



Jeno menyapukan pandangan kepada seluruh kardus-kardus yang barusaja datang itu. “Apa ini?” Jeno balik bertanya.


“Oh,” Jaemin menepuk kardus besar dihadapannya. “sumbangan untuk panti asuhan. Biasa, ini kegiatan klub,”


Jeno mengangguk mengerti. “Kau mau ke panti asuhan?” Tanyanya lagi kepada Jaemin yang merupakan anggota klub charity.


“Ya, Jumat ini. Hya, bantu aku,” jawabnya sambil sedang berusaha menurunkan kardus berat itu dari trolli.


“Omo. Berat sekali!” Seru Renjun yang juga membantu Jaemin. “apa isinya?!”


“Baju,” jawab salah satu murid kelas 1 yang juga ada di sana. Murid jakung itu terlihat lebih lemah dari Renjun karena tangannya terlihat bergetar. “ini baju untuk disumbangkan. Ada yang lebih berat lagi, kardus yang berisi makanan,”



Jeno mengeryitkan dahinya membantu anggota klub charity menata kardus satu persatu di dalam sudut ruang osis. Jeno merasakan keringat mulai muncul di dahinya.


“Nah, selesai!” Ujar Jaemin riang. “Gomawo, Renjun, Jeno,”


“Nih,” teman Jaemin terlihat sedang membagikan kaleng minuman dingin yang baru ia keluarkan dari dalam tas. Ia memberikan minuman itu pada Jeno dan Renjun. “gomawo,”


Jeno dan Renjun menerima kaleng itu dan berterima kasih pada si pemberi.


“Kau ‘kan akan pulang habis ini,” jawabnya sambil menatap Jaemin. “beli minum dijalan saja,”


“Punyaku mana?” Teman Chenle menunjuk dirinya sendiri.


“Kau ‘kan anggota osis, ambil saja itu,” Chenle menunjuk galon air yang ada di dalam ruangan.


“Ani..” Jaemin masih tidak terima. “kau dari awal hanya membeli dua! Wah.. Chenle hya, kau memang tidak ada niat membelikanku minumm…”


Chenle kemudian membungkan mulut Jaemin dengan tangannya. Tingkah laku Jaemin dan Chenle membuat Jeno dan Renjun yang tadi merasa canggung menjadi tertawa.


“Kenapa kau masih punya tenaga untuk berbicara…” ucap Chenle. “sudah, sana pulang,” Chenle membalikkan badan Jaemin.


“Kau tidak pulang?” Tanya Jaemin menolehkan kepalanya kebelakang dengan punggung yang masih didorong Chenle untuk berjalan keluar.


“Ani, aku dan Jisung memang sekalian mau bertemu dengan mereka berdua,”


...****************...


Setelah perkenalan singkat yang terjadi saat Jeno dan Renjun membantu klub charity menata barang di dalam ruang osis, ke-empat murid kelas 1 itu kini duduk berhadapan, mereka adalah peserta lomba cerdas cermat sekolah dan dan hari ini merupakan pertemuan pertama mereka. Mereka pun segera mengakrabkan diri dengan saling berbincang-bincang sebelum guru pembimbing mereka datang.



“Oh, tertukar..” Renjun memukul pelan mulutnya. “Kau yang Jisung, kau yang Chenle,” tunjuk Renjun yang masih berusaha menghafal nama kedua murid dihadapannya.


“Padahal kami kelihatan jelas berbeda,” ucap Chenle singkat. “Jisung yang lebih tinggi, ingat itu saja,”


“Mm. Aku Jisung,” murid bernama Jisung itu menepuk dadanya. “kami satu klub dengan Jaemin. Kami dari jurusan Ilmu sosial,”


“Kau Chenle yang peringkat satu saat ujian masuk itu ya?” Ucap Jeno yang sedari tadi yakin bahwa ia pernah mendengar nama Chenle.



“Ey,” Chenle mengibaskan tangannya dengan telinga yang memerah. Ia tampak malu.


“Iya. Dia yang memberikan pidato sebagai perwakilan murid kelas satu,” Jisung membantu menjawab.


“Heol..” Renjun menutup mulutnya menatap Jeno. “Kau masih ingat? Itu ‘kan sudah lama sekali. Saat penerimaan siswa baru, ‘kan,”


“Tadi namamu Jeno, ya?” Chenle menatap Jeno dengan kedua tangan yang masih di dalam saku celananya.


“O,”


“Song ssaem bilang kau yang paling pintar matematika,” ucap Chenle membeberkan fakta. “kau nanti yang ambil bagian matematika, ya?”


“Eh?” Jeno membulatkan matanya. “a..aku belum tahu. Tunggu arahan Song ssaem saja,”

__ADS_1


“Oh..oke..” Chenle setuju. “tapi kurasa memang kau yang ahli matematika,” lanjutnya. “kau harus membantu kita memenangkan lomba ini, hadiahnya besar,”



“Hya.. jangan begitu..” rengek Jeno pelan, ia merasa terbebani dengan ucapan Chenle barusan.


“Mwoya, kau ikut lomba demi uang?” Renjun tertawa.


“Tentu saja. Kalian tidak?” angguk Chenle yakin. “hadiah uangnya ‘kan untuk kita, kalau hadiah piala, pasti diambil oleh sekolah,”


Chenle membuka kedua lengannya seperti sedang siap menerima tumpukkan uang.


“Aku sebagai nilai tambahan, sih,” Jisung menatap Chenle yang terlihat bersemangat mengutarakan ucapannya. “untuk masuk ke universitas,”


“Oh, iya benar,” Renjun menjentikkan jarinya. “walaupun kalah, kita masih akan mendapatkan nilai tambah dari wali kelas, jadi ikut perlombaan ini memang tidak ada ruginya,” jelas Renjun.


“Kalau kau?” Tanya Chenle. “Uang juga, ‘kan?”


“Ani,” jawab Jeno. “seperti yang dijelaskan Renjun. Kurasa menang ataupun kalah tidak masalah, karena tujuanku bukan hadiahnya,”


“Hya apa-apaan kalian..” Chenle terdengar kecewa. “kau juga ingin nilai tambah?”


“Bukan juga,” jawab Jeno lagi. “ini demi klub band ku,” jawabnya. “aku harus mengikuti perlombaan ini agar kami bisa mengikuti perlombaan band di bulan Oktober nanti. Itu syarat dari Song ssaem,”


“Mwoya.. ssaem memaksamu rupanya,” gumam Renjun.


...****************...


BRUK


“Aduh kaget!” Seru Yangyang kala sebuah kantung kertas yang terdengar berat dijatuhkan menatap meja yang ia gunakan untuk belajar bersama Giselle.


“Sunbae!” Giselle mengerang geram. Menatap Johnny yang dengan usilnya sengaja mengageti mereka berdua.


“Ahahaha, kaget ya,” Johnny malah tertawa keras.


“Kenapa kalian belajar disini?” Yuta muncul dari balik punggung Johnny. “tidak berisik?” Yuta kemudian menolehkan kepalanya menatap Hendery yang sedang bermain drum.


Yangyang dan Giselle sekali lagi melakukan kegiatan belajar bersama yang rutin dilakukan terutama setelah hasil tes kecil mereka dibagikan. Mereka saling mengoreksi jawaban dan sama-sama mengerjakan ulang jawab-jawaban mereka yang salah.


Yuta menatap Hendery yang sedang bermain drum dengan Mark yang merekamnya dengan sebuah handy-cam milik Yangyang. Sedangkan Xiaojun, ia ikut berdiri disana sambil mengarahkan arah rekaman Mark yang masih kesulitan bahkan hanya untuk memegang sebuah handy-cam baru itu.


“Hehe, sudah terbiasa,” jawab Giselle atas pertanyaan Yuta.


“Hya, ini,” Taeyoung juga muncul dan berdiri di sisi Yangyang. “buka saja, ini untuk kalian. Bungeo bbang,” ucap Taeyoung menunjuk kantung kertas coklat diatas meja yang sudah mulai tercium aroma lezatnya.


“Aaa, gomawo hyuuung,” seru Yangyang. Ia dan Giselle kemudian membuka kantung itu bersamaan.


“Ckck, sekolah berulah lagi ya,” komentar Yuta menatap buku dan kertas-kertas diatas meja.


“Biasa,” sahut Taeyoung. “mereka masih terobsesi dengan peringkat sekolah tertinggi,” cibirnya pada sekolah yang pernah membuatnya mengalami pengalaman pahit saat ia menjabat sebagai ketua klub band.


“Ah, panas!” Giselle melempar-lempar bungeo bbangnya.


“Babo hya, ditiup dulu…” Yangyang menyenggol badan Giselle.


“Hya hya, hati hati!” Tiba-tiba Taeyoung berteriak keras menatap Hendery, Mark dan Xiaojun. “itu mahal,”


“Jwisonghamnida,” ucap mereka bertiga sambil menunduk.


“Apa yang mahal?” Tanya Yuta yang kini juga memunggungi Yangyang dan Giselle untuk melihat adik kelasnya.


“Handy-cam. Itu milik Yangyang,”


“Kurasa Mark tidak tahu cara mengoperasikannya,” Johnnya yang berdiri diantara Taeyoung dan Yuta ikut mengomentari.


Johnny pun menoleh menatap Yangyang yang mengikut ekor bungeo bbang sambil lanjut mengerjakan soal. “sekarang kau merekam vlog menggunakan handy-cam? Keren…”


“Aniyeyo, hyung,” ucap Yangyang rendah diri. “itu juga kami gunakan untuk merekam latihan kami. Agar tahu perkembangannya,”


Yuta ikut menoleh dan mengacungkan jempolnya pada Yangyang. Membuatnya semakin malu.


“Ah benar!” Giselle tiba-tiba teringat sesuatu.


“Taeyoungie oppa,”


“Hmm?”


“Soal lagu kita, di bagian reff akhir apa bisa kembali ke nada awal? Kurasa aku sudah sanggup meraih nada tinggi yang oppa buat,”


“Wah, benarkah?”


“Mm!” Angguk Giselle yang senang dengan pencapaiannya. “Kang ssaem ingin aku menggunakan nada tinggi yang oppa buat, jadi ssaem melatihku terus,”


“Hya.. yang teriakan itu?” Yangyang ikut kaget. “daeeebak. Kau sudah bisa?”


“Mm! Hehe,”


“Baiklah, kita pakai nada tinggi itu ya,” Taeyoung mengangguk setuju. “ingat, tetap jaga suaramu,”


“Wah, nada tinggi?” Johnny mulai penasaran. “aku jadi ingin segera mendengar lagu kalian. Sudah jadi, ya?”


Taeyoung menggeleng cepat. “sedikit lagi,”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2