![THE ZOO [FF NCT AESPA]](https://asset.asean.biz.id/the-zoo--ff-nct-aespa-.webp)
Hendery menyadarkan dirinya setelah melamun mengingat kegagalannya mengajukan pembukaan klub band. Tanpa adanya angket dari Taeyoung, klub band tidak jadi dibuka pada semester kedua tahun lalu. Namun usahanya tak sepenuhnya sia-sia. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya proposal Hendery diterima. Klub band resmi dibuka pada tahun ajaran baru di bulan April, pihak sekolah juga akan memberikan guru pembina klub jika anggota klub berjumlah 5 orang atau lebih. Syarat yang diberikan oleh sekolah juga masih sama; nilai anggota klub band tidak boleh turun. Sekolah menyadari bahwa klub band berpotensi memiliki banyak anggota dan tidak ingin kejadian turun nilai masal terjadi lagi.
Namun semua ekspetasi sekolah itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang terjadi. Klub band sudah tidak diminati. Rumor mengenai nasib ‘sial’ itu juga menjadi faktor penghalang dalam proses perekrutan anggota klub. Setelah klub dibuka, Hendery masih tetap sama, ia masih ingin Taeyoung berada di klub nya. Bermain musik bersama mantan ketua klub sungguh menyenangkan, Taeyoung dulu adalah pribadi yang hangat dan sangat pengertian. Dia bahkan memiliki waktu khusus dengan Hendery untuk mengajarinya bermain gitar.
Dari awal tahun ajaran baru hingga sekarang, Hendery masih berusaha mengajak Taeyoung masuk ke klubnya lagi, namun tidak sesering dulu. Ia hanya menemui Taeyoung di hari tertentu, Hendery bahkan sengaja tidak menutup pintu ruang klub band rapat-rapat agar Taeyoung yang melakukan aktivitas klub sastra di hari yang sama dengan klub band, dapat mendengar suara band samar-samar.
Sore ini Hendery berjalan melewati aula olahraga di belakang sekolah. Kepalanya ia hadapkan pada aula yang terbuka dan terdengar suara gaduh dari dalam. Hendery melihat klub karate sedang melakukan latihan disana. Hendery berjalan hingga ia menempelkan dirinya ke pintu aula. Ia melihat dua murid klub karate sedang berkelahi dan yang lain duduk dipinggir arena sambil menyemangati mereka berdua.
“Oy,” terdengar suara dari belakang Hendery.
Hendery menoleh dan melihat Yuta dengan seragam karate dan sedang memakan ice cream di suhu udara yang cukup dingin hari ini.
“Oh, Hendery!” Wajah garang Yuta berubah menjadi ceria lagi. “Wae? Sekarang kau minat dengan karate?” Tanya Yuta pada murid kelas 2 yang sedang mengintip kegiatan klub nya.
“Ah, aniyeyo sunbae,” jawab Hendery agak panik. “hanya lihat-lihat saja,”
Yuta mengangguk mengerti. “bagaimana kabar klub mu? Aku dengar kau mau tampil di acara ultah sekolah ya?”
“Ne!” Suara Hendery kembali bersemangat seperti biasa. “Ada murid kelas 1 yang membantu kami menjadi vocalist dan gitarist,”
“Woow… keren..” puji Yuta sambil menarik stick ice cream dari dalam mulutnya.
“Yuta hya!” Johnny memanggil Yuta dari arah taman sekolah. Seperti biasa, ia datang bersama Taeyoung. “mwoya, kau bolos latihan?” Tanya Johnny yang memergoki Yuta sedang bersantai di luar aula.
“Hya aniya!” Seru Yuta tak terima. “Lihat, anak kelas 1 sedang sparing. Giliranku sudah selesai,” jawab Yuta yang menunjuk kegiatan di dalam aula dengan stick ice creamnya.
“Taeyoung ah, kau tahu? Mereka akan tampil di ultah sekolah,” Yuta kini menunjuk Hendery yang berdiri di sampingnya.
“O. Aku sudah cerita,” Johnny menyela Yuta.
“Hya mengapa kau tidak memberitahuku?!” Protes Yuta.
__ADS_1
“Aigoo, sudah kok. Kau saja yang tidak mendengarkan,” Johnny menyipitkan matanya menatap sinis Yuta.
Hendery tertawa canggung. Pikirannya masih menata kalimat untuk mengajak Taeyoung kembali ke klub band, “Kami akan tampil membawakan dua lagu,” ucap Hendery tanpa ditanya. “A..aku kembali ke posisi drum,”
“Mm,” angguk Johnny yang sudah mengetahui formasi band Hendery. “karena sudah ada Giselle dan Jeno, ‘kan,”
“Kalau hyung…” Hendery mengeluarkan kata perlahan-lahan. “apa hyung mau tampil bersama kami?”
Seperti sudah terbiasa mendengar ajakan Hendery, Yuta dan Johnny saling bertukar pandang siap menunggu reaksi Taeyoung. Kali ini reaksi Taeyoung berbeda dari biasanya. Ia tidak pergi mengacuhkan Hendery. Taeyoung menghela nafas dan menyilangkan tangannya. Taeyoung menurunkan alisnya dan memasang wajah heran pada Hendery.
“Kau… tidak pernah kehilangan teman, ya?” Ucap Taeyoung yang baru kali ini memandang Hendery tanpa rasa kesal.
“Hya,” sela Yuta.
Taeyoung tak peduli pada bentakan ringan Yuta. Ia masih menatap Hendery yang terlihat kaget dengan apa yang baru saja diucapkannya. “Karna aku, seseorang kehilangan nyawanya. Karna aku, keluarga Hansol jadi kehilangan anak laki-laki satu-satunya,”
Kali ini Johnny ikut menenangkan dengan memegang pundak Taeyoung. “Taeyoung ah, kenapa kau bicara seperti ini? Itu semua bukan salahmu,”
Taeyoung tersenyum dengan mengangkat salah satu ujung bibirnya. “Hhhh…aku ketua band nya, dan aku yang malah menghancurkan semuanya. Dan sekarang… kau memintaku kembali? Kembali ke klub yang sudah kuhancurkan sendiri?” Ucapnya yang masih memusatkan pandangan pada Hendery.
“Mwoya?! Hentikan!” Yuta terdengar makin emosi. “Sudah kubilang itu bukan salahmu! Mengapa kau tidak mengerti?!” ucapnya geram, membuat Hendery takut dengan pertengkaran kedua seniornya itu.
“Aniya, Yuta hya,” Taeyoung mencoba mengendalikan emosinya dengan bersuara tenang. “kau yang tidak mengerti,”
Taeyoung mengucapkan kalimat terakhirnya, ia berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan teman-temannya. Yuta yang belum selesai meyakinkan Taeyoung bahwa dia bukan penyebab kejadian setahun lalu itu, ikut berlari mengejar Taeyoung yang mulai masuk ke pekarangan taman sekolah dengan bunga-bunga yang dirawat baik oleh penjaga sekolah. Langkah Yuta ia percepat hingga tanah basah pada taman itu sedikit berserakan terkena langkah kaki Yuta. Hendery masih terdiam menatap kedua punggung seniornya yang menjauh. Pikirannya masih campur-aduk. Ia kemudian memberanikan diri ikut mengejar Taeyoung dengan Johnny yang juga mulai berjalan di belakangnya.
Hendery mulai dapat melihat sosok Taeyoung dan Yuta. Taeyoung masih gentar berjalan cepat setelah barusaja Yuta berhasil menarik pundaknya dan membalikkan badan Taeyoung.
“Hyung!” Hendery berteriak memanggil Taeyoung. “Aku mengerti, hyung!” Ia semakin mengeraskan suaranya.
__ADS_1
Johnny yang mengikuti Hendery dari belakang memberhentikan langkahnya. “Hendery ah,” Johnny bersuara pelan.
Taeyoung dan Yuta pun ikut terdiam mendengar teriakan Hendery yang sangat keras. Taeyoung dan Yuta membalikkan badannya menatap Hendery.
Hendery berjalan pelan menghampiri Taeyoung. Yuta kemudian menyingkirkan dirinya dari hadapan Hendery agar kedua anggota klub band ini bisa bicara dengan saling berhadapan.
“Aku mengerti…” ulang Hendery kali ini dengan suara yang lebih tenang. “Sama seperti hyung, aku juga sedih. Aku juga kehilangan Hansol hyung. Hansol hyung-lah yang mengajariku bermain drum dengan benar. Kami berdua juga dekat, hyung.”
Hendery mengeluarkan kalimat yang selama ini ia pendam karena Taeyoung selalu mengacuhkannya. Wajah Hendery terlihat memerah karena menahan rasa geram dan sedih yang kini menjadi satu. Ia melihat Taeyoung terdiam mendengarkan, suatu hal yang belum pernah Taeyoung lakukan sebelumnya.
“Lalu kecelakaan itu..” lanjut Hendery. “apa hyung yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi?”
Johnny memegang pundak Hendery seperti mencoba mengontrol emosinya. Selama setahun penuh, teman-teman Taeyoung belum pernah sekali pun membahas mengenai kecelakaan buruk itu.
“Aku yang mengajak mereka,” jawab Taeyoung sambil menunjuk dirinya. “aku yang mengajak mereka mengikuti lomba itu di Kota Paju,”
“Hhhh…!” Hendery yang benar-benar terlihat kesal mengacak acak rambut sampingnya. “Aniya! Itu karena kalian mau berusaha sampai akhir, bukan?!” Hendery meninggikan suaranya. “Klub akan segera ditutup, sekolah memberikan begitu banyak syarat dan mulai tidak mendukung kegiatan klub, tapi hyung masih mau mencoba sampai akhir, ‘kan?! Hyung dan hyung yang lain, semuanya mau membuktikan bahwa klub kita bisa membanggakan sekolah, hyung bahkan berusaha menaikkan nilai!” Ucapnya dengan nafas tersengal-sengal. “tentang kecelakaan itu, hyung hanya ada di waktu yang tidak tepat…”
Johnny menurunkan pundaknya dari bahu Hendery. Ia sangat setuju dengan ucapannya. “Benar, Taeyoung ah. Berhenti menyalahkan diri sendiri,”
“Hyung..” Hendery segera melanjutkan lagi kalimatnya. Senyum ceria yang biasa ia pasang diwajahnya benar-benar tak terlihat lagi hari ini. Raut wajah Hendery yang sedang marah sedikit membuat Taeyoung terintimidasi. “aku mengajak hyung kembali ke klub bukan untuk menambah anggota agar klub mendapatkan guru pembina,” Hendery berjalan mendekat ke Taeyoung yang sedari tadi tak berkutik.
“Hendery ah,” panggil Johnny yang tak digubris oleh Hendery.
“Aku mengajak hyung kembali, karena masih terasa jelas bahwa hyung masih ingin bermain gitar, bahwa hyung masih ingin berada di klub band,” ucapnya dengan jarak yang cukup dekat dengan mantan ketua klub band itu. “tapi jika dugaanku salah, yasudah. Aku tidak perlu mengajak hyung lagi,”
Taeyoung melangkahkan mundur kakinya. Mata bulat Taeyoung masih terbuka lebar dengan mulut tertutup, tidak tahu harus bereaksi apa terhadap tebakan Hendery yang tepat sasaran. Hendery pun menghentikan percakapan dingin hari ini dengan bungkukkan hormat dan ia berbalik badan berjalan menjauh dari Taeyoung, Yuta dan Johnny.
...****************...
__ADS_1