![THE ZOO [FF NCT AESPA]](https://asset.asean.biz.id/the-zoo--ff-nct-aespa-.webp)
Yangyang kembali ke kelas setelah membantu gurunya membawakan buku tumpukan PR ke ruang guru. Ia tampak mengeryitkan dahinya saat melihat dua orang murid kelas 1 berbadan tinggi berdiri di pintu masuk kelasnya. Mereka menghalangi Yangyang untuk masuk ke kelasnya sendiri.
“Cari siapa?” Tanya Yangyang ketus sambil menyaku kedua tangannya di saku celananya.
Dua murid yang belum pernah Yangyang lihat itu kini berbalik badan menatapnya. Satu orang terlihat gugup, satu orang lagi menahan tawanya.
“G..g..”
“Giselle!” Jawab murid yang telihat lebih santai. “dia mencari Giselle,” tunjuknya pada temannya sendiri. “apa dia ada?”
Yangyang memasukkan kepalanya ke dalam kelas. Ia lalu menjawab dengan gelengan kepala setelah melihat Giselle sedang tidak berada di dalam kelas.
“K..kalau begitu… ini,” seorang murid yang bukan dari jurusan Musik itu menjulurkan sebuah sandwich telur dan susu strawberry pada Yangyang. “bisa tolong kau berikan ini pada Giselle?”
“Eh?” Yangyang mengambil kedua makanan itu. “kau bisa menunggunya kembali ke kelas,” usul Yangyang, karena jam istirahat masih panjang. Usulan Yangyang itu disambut gelengan penolakan pada si pemberi makanan.
Yangyang lalu menyadari bahwa penggemar Giselle itu menempelkan sticky note pada salah satu sisi susu strawberry. “O!” Yangyang membaca notes itu. Yangyang tersenyum membaca nomor HP yang tertera di sana.
“Omo! Cieee…” goda Yangyang.
“P..pastikan kau berikan padanya, ya!” Si pemberi makanan itu terlihat tersipu malu. “g..gomawo!” serunya sambil berlari pergi bersama temannya.
Yangyang terpaku melihat gerak gesit dari penggemar Giselle. Ia menoleh untuk melihat kedua punggung murid kelas 1 yang melaju kencang, hingga hilang dari kerumunan murid kelas 1 jurusan Musik yang berlalu-lalang di lorong koridor.
Yangyang kemudian masuk ke kelasnya dan menuju mejanya. Ia meletakkan kedua makanan itu diatas meja Giselle di sisi kiri mejanya. “Hya, kau melihat Giselle?” Tanya Yangyang pada Haechan yang duduk dibelakang Yangyang.
“Mm,” Haechan menjawab singkat sambil menggeleng. Matanya fokus menatap layar HP, sedangkan mulut dan tangannya sedang sibuk memakan bekal dengan nasi yang cukup banyak untuk satu porsi. “kau membelikan Giselle makanan lagi?” ucapnya yang sempat melihat gerakan Yangyang di depannya.
“Ani,” Yangyang duduk memutar bangkunya menghadap Haechan. “ada murid kelas lain yang memberikan itu untuk Giselle,”
“Siapa?” Mata Haechan kali ini menatap Yangyang. Sedangkan mulutnya masih membulat berisi makanan.
Yangyang hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu. Tangan kananya ia sembunyikan dari Haechan. Yangyang barusaja meremas sebuah sticky notes yang dia ambil dari sandwich Giselle. Notes yang sudah remuk itu kemudian ia masukkan ke saku celananya.
Yangyang melirik ke pintu kelas. Ia dapat melihat Giselle masuk dengan Minjeong, sahabatnya. Giselle yang terlihat lemas sedari pagi, berjalan sempoyongan menuju teman-teman yang khawatir padanya. Giselle hanya menjawab dengan senyuman dan berkata bahwa ia baik-baik saja.
Yangyang lalu memandang Haechan lagi yang masih berkonsentrasi pada layar HP nya dan makanannya. “Ah Haechan ah, melihatmu makan, aku jadi lapar,” ucap Yangyang. Setelah melirik Giselle, ia memanjangkan tangannya dan meraih makanan dari meja Giselle.
“Hya.. mwoya?” Haechan berkata pelan melihat Yangyang yang mengambil makanan Giselle. “hya hya, kembalikan, bukankah itu makanan Giselle?!” Perintah Haechan pada Yangyang yang sedang membuka sandwich Giselle.
“Hehehe..” Yangyang hanya tertawa menatap Haechan yang terlihat panik.
“Kau lapar? Mau ini?” Haechan menyodorkan bekalnya pada Yangyang. “atau kau ke kantin sana! Hya jangan ambil makanan orang!” Haechan berusaha meraih sandwich dari tangan Yangyang namun ia kalah gesit, Yangyang menggerakkan tangannya kesana kemari agar Haechan tidak dapat menangkapnya.
“Amm…” Yangyang berhasil memasukkan sandwich kedalam mulutnya dan melakukan gigitan pertamanya.
“Hya!!” Seru Haechan sambil berdiri melihat aksi tidak baik Yangyang. “Giselle aaah!” Haechan bersiap lapor ke pemiliki sandwich.
“Ada apa sih?! Dari tadi berisik sekali!” Minjeong melipat tangannya dan berjalan menuju Haechan dan Yangyang.
“Wae? Wae?” Tanya Giselle yang berjalan di belakang Minjeong.
Haechan yang masih berdiri kemudian menunjuk Yangyang yang menyantap sandwich dengan lahap. Yangyang melakukan ekspresi berlebihan seolah itu adalah sandwich paling enak yang pernah ia makan.
“Itu, Yangyang memakan makananmu!” Lapor Haechan. “Tadi ada yang memberimu ini, dan susu itu. Tapi Yangyang memakannya!”
“Yangyang ah!” Minjeong memukul lengan Yangyang yang masih duduk manis memakan makanan curian itu.
“Siapa yang memberiku makanan ini?” Tanya Giselle.
“Tidak tahu. Yangyang yang menerimanya,” jawab Haechan.
Giselle menatap Yangyang geram. “Ck! Kau kenapa sih?”
“Kau ‘kan sedang diet. Sebagai teman yang baik, aku sedang membantumu menghabiskan makanan ini,” jawab Yangyang sambil mengangkat sandwich telur yang kini tinggal beberapa suap lagi. “aku baik, ‘kan?”
Giselle hanya melirik kesal. “Aku sedang tidak ingin meladenimu hari ini,” Ia kemudian berjalan cepat untuk duduk dan merebahkan badannya pada meja.
...****************...
Pandangan Giselle masih berkunang-kunang walau ia sudah meneguk obat yang diberikan oleh guru UKS kepadanya. Ia juga yakin sebuah roti isi dapat mengganjal lapar dan memberikannya energi untuk melakukan aktivitas cheers sore hari ini.
Pada latihan hari ini, Joy meminta seluruh anggotanya untuk membentuk grup yang terdiri dari 1 flyer dan 5 catcher. Para catcher diminta ‘menerbangkan’ dan menangkap flyer yang nantinya akan melakukan lompatan tinggi di udara, sebuah atraksi yang biasa grup cheerleaders lakukan.
Giselle sudah menemukan kelompoknya. Seorang flyer yang diangkatnya adalah Yeri, sunbaenya. Badan Yeri yang mungil dan ringan membuatnya pas untuk mendapat posisi flyer.
Yeri tersenyum pada seluruh catchernya seakan mengajak mereka bekerja sama dengan baik. Raut wajah flyer selalu lebih gugup dari para ctacher. Bahkan Karina yang menjadi flyer di kelompok lain pun sempat memejamkan matanya, berdoa agar latihan hari ini berjalan dengan baik.
Guru pembina klub cheers bertugas memberikan hitungan pada seluruh anggota disana. Hitungan itu menandakan kapan flyer akan menginjak tangan para catcher, lalu para catcher mengangkat flyer, dan flyer melakukan lompatan di udara. Sedangkan Joy, dia mempersiapkan diri untuk ber-atraksi solo dengan melakukan roll depan maupun samping sebagai bagian dari pertunjukan.
“Hup!!” para catcher otomatis mengeluarkan suara saat menangkap flyer yang jatuh seletah melakukan atraksi.
“Fyuhh…” Yeri menghela nafas lega setelah ia dapat mendarat dengan sempurna. “gomawo,”
__ADS_1
Ke-lima catcher kelompok Yeri juga tersenyum lega.
“Giselle ah, wae?” Yeri menatap Giselle yang terlihat berkeringat cukup banyak dengan bibir putih pucat. “aku berat, ya?”
Giselle memalsukan senyumannya. “Aniyeyo, sunbae,” sanggah Giselle.
“Ey, panggil ‘unni’ saja,” pinta Yeri sambil menepuk pelan lengan Giselle.
“Mwoya? Kau sakit?” Salah satu anggota kelompok mengeryitkan dahinya. Dia lagi. Sang pembully Giselle dari murid kelas 1 jurusan Ilmu Sosial. Gadis itu memandang Giselle dari bawah sampai atas. “Hya sepertinya dietmu berjalan lancar. Haha. Selamat,”
“Mwoya?! Kau diet?” Yeri menatap Giselle lagi setelah pandangannya teralihkan pada salah satu adik kelasnya. “kau sudah makan? Kau tidak bisa berolahraga kalau tidak ada energi! Berbahaya, kau tahu?!” Yeri terlihat khawatir.
Giselle tidak dapat menjawab. Dia memang sedang kekurangan energi saat ini. Ia hanya terus mengeluarkan nafas beratnya.
Pandangannya semakin kabur dan berkunang-kunang. Keramaian aula olahraga yang berisi dengan kegiatan klub cheers dan klub basket bahkan semakin pudar. Ia melihat Yeri terus berbicara namun tidak terdengar satu kata pun. Kemudian, ia melihat Joy datang menghampirinya, lalu semua menjadi gelap.
BRUK!
“Giselle ah!” Karina berteriak. Ia melihat Giselle jatuh dari kejauhan. Karina segera menghampiri Giselle yang pingsan dipelukan Joy.
“Giselle ah!” Yeri menutup mulutnya kaget melihat Giselle yang tiba-tiba pingsan dihadapannya. Joy melakukan aksi penangkapan yang sangat cepat hingga kepala Giselle tidak membentur lantai aula yang keras.
“Pucat sekali..” gumam Joy sambil menyeka bulir-bulir keringat di dahi Giselle. “badannya juga dingin,”
Suara panik klub cheers dan teriakan Karina yang cukup kencang menarik perhatian klub basket yang juga berlatih di aula olahraga yang sama. Semua menghentikan aktivitasnya dan terdiam menghadap kerumunan gadis-gadis klub cheers yang terlihat panik.
“Karina?” Ning-ning berkata pelan melihat tingkat Karina dari jauh.
“Wae?” Para anggota klub basket penasaran dan bahkan berjinjit untuk mengetahui siapa yang sedang mereka kerumuni.
“Jeno hyaaa!” Karina tiba-tiba meneriakkan nama Jeno. Dengan cepat, Karina berlari menghampiri klub basket.
Dengan bola basket yang masih di tangannya, Jeno menoleh menatap teman yang sedang berlari ke arahnya itu.
“Hhhh…hhh…” Karina mengatur nafasnya. Wajahnya masih panik.
“Ada apa?” Tanya Johnny menatap anggota klub cheers yang datang menghampiri salah satu anggota klub basket.
“Itu… sunbaenim… anggota kami… teman saya… pingsan,” Jelas Karina tersengal-sengal.
“Omo Karina hya!” Seru Ning-ning menghampiri Karina yang menjadi pusat perhatian klub basket. “Benarkah?!”
“O!” Angguk Karina cepat. “Jeno hya, tolong bawa Giselle ke UKS!” Pinta Karina sambil menarik baju basket Jeno.
“Ha?” Jeno malah bereaksi lamban. Ia hanya membuka mulut bingung.
“Joy ah!!” Tiba-tiba Jaehyun berseru lantang.
Semua anggota klub basket dan klub cheers pun menatap Jaehyun, sang ketua basket. Joy menghentikan gerakannya. Joy telah membawa Giselle di punggungnya dan siap berdiri dan berlari ke UKS.
“Biarkan Jeno yang bawa!!” Seru Jaehyun pada Joy. “Jeno hya, tunggu apalagi?! Cepat pergi!” Jaehyun juga geram dengan reaksi lamban Jeno. Jaehyun meminta Jeno segera pergi mengambil alih tugas Joy yang siap membawa Giselle di punggungnya.
“Gamsahamnida, sunbae,” Karina menunduk hormat pada Jaehyun sebelum ia dan Jeno berlari menghampiri Joy.
Jaehyun melihat Jeno berlari begitu cepat dan mengangkat Giselle yang siap dipindah ke punggungnya. Badan Giselle terlihat lemas dengan mata yang masih terpejam. Dengan diikuti oleh Joy, Jeno berlari keluar aula olahraga.
“Aigoo… Jeno hya…” Jaehyun menggelengkan kepalanya heran dengan reaksi Jeno barusan yang tidak segera mengangkap maksud Karina untuk menolong temannya.
Guru pembina klub cheers kemudian mengumpulkan seluruh muridnya dan memberikan himbauan agar mereka harus mengisi tenaga agar dapat mengikuti aktivitas cheers. Semua dengan seksama mendengarkan nasihat guru pembina itu setelah melihat sendiri contoh murid yang mengabaikan kesehatannya.
“Dia ‘kan sedang diet, tentu saja lemas tak bertenaga seperti itu,” ucap seorang anggota yang berdiri di belakang Karina.
“Tapi setidaknya dietnya berhasil, haha. Seragam cheersnya tampak muat, hahaha,” sahut temannya yang terkekeh menertawakan Giselle.
“Hahaha. Benar. Aku juga menyadari hal itu,” salah satu temannya berbisik dan tertawa.
Karina yang terusik pun membalik badannya. “Hya! Kalian membicarakan Giselle?!”
Ketiga gadis itu mengeryitkan dahinya menatap Karina yang terlihat emosi. Gadis cheers yang berada di tengah melipat tangannya dan tersenyum dengan menarik satu ujung bibirnya. “Wae? Memang benar, ‘kan?”
“Benar Karina hya. Jangan berlebihan, kau tau badan Giselle tidak sesuai dengan klub ini,” salah satu anggota menyambar dengan perkataan yang kasar.
“Hya!” Seru Karina. “Jaga ucapanmu!” Karina mendorong bahu gadis itu dengan keras.
“Omo!” Ia terdorong beberapa langkah ke belakang. “Kau…”
Mereka berdua berjalan mendekat penuh emosi. Karina kemudian menarik keras rambut gadis bermulut kasar itu. Tak mau kalah, musuh Karina itu juga menjambak rambut Karina hingga kuncir ekor kudanya berantakan.
Suasana makin gaduh, kedua gadis itu berkelahi dan tidak ada yang berani melerai karena mereka begitu kuat dan bergerak agresif kesana kemari.
“PRRIIIIIITTTTTT!!!!!”
Sebuah tiupan peluit berbunyi sangat keras. Peluit itu ditiup oleh guru pembina klub.
Setelah aksi melerai yang dilakukan sang guru tidak dihiraukan, guru itu bergegas meniupkan peluit tanda saatnya mereka berdua berhenti berkelahi dan menerima hukuman.
...****************...
__ADS_1
GREEEK!
“Aduh kaget!” Seru Jeno saat ia membuka pintu UKS untuk kembali ke aula olahraga. Ia bertatapan dengan Karina yang juga hendak membuka pintu UKS itu untuk dapat masuk dan menjenguk Giselle.
Karina juga kaget menatap Jeno. Ia hanya tersentak sambil membulatkan matanya.
“Hya! Kau kenapa?” Tanya Jeno melihat tampilan Karina yang berantakan. Rambutnya terangkat tak karuan, karet yang tadi mengikat kuncir kudanya hampir jatuh dari ujung rambut, matanya terlihat bengkak seperti habis menangis, dan seragam cheersnya terlihat kusut.
Karina hanya diam memandang Jeno, ia tidak bisa menjawab karena air mata akan segera bercucuran jika ia menjelaskan apa yang baru saja terjadi padanya.
“Hya?” Kedua tangan Jeno memegang pipi Karina hingga membuat bibirnya mengerucut seperti ikan buntal. Jeno menggerakkan kepala Karina ke kanan dan kiri, melihat apakah ada luka di wajah temannya itu. “berkelahi?” Tanyanya lagi sambil menghadapkan kepala Karina padanya lagi.
“Mmmm!” Karina yang tidak dapat bicara dengan mulut seperti itu kemudian menggerutu dan mengeryitkan dahinya. Ia meminta Jeno melepaskan tangannya dari pipi Karina.
Jeno mengikuti perintah Karina. Tangan kanannya yang usil itu kini ia tempatkan diam diatas kepala Karina. “Kau berkelahi?” Jeno mengulang lagi pertanyaannya.
“Mmm,” angguk Karina dengan wajah memerah menahan tangis. “Giselle bagaimana?”
“Aduh, kau ini..” Jeno mengusap-usapkan tangannya diatas kepala Karina yang penuh dengan rambut yang mencuat kesana kemari. “Giselle sedang istirahat, Jung ssaem barusaja memberikan susu hangat padanya,” jelas Jeno yang sempat menemani Giselle sampai ia selesai meneguk susu pemberian guru UKS itu.
“Oh… syukurlah..” Karina menunduk lega sambil tersenyum pahit. “Joy sunbae… masih di dalam?”
Jeno mengangguk perlahan. “Sst, dia pasti akan memarahimu,” bisik Jeno menakut-nakuti Karina yang berpenampilan berantakan dengan masih menggunakan seragam cheers nya.
“Ck kau ini!” Karina memajukan bibirnya geram pada Jeno. “Sudah sana kembali kau ke aula!” Karina mengusir Jeno yang memang berniat pergi dari ruang UKS.
“Memang mau pergi kok,” Telapak tangan Jeno yang lebar ia tempelkan pada dahi Karina dan mendorongnya mundur. “bye,” ucapnya, dan Jeno pun berlari pergi.
Karina mulai memasukkan kepalanya pada ruang UKS. Benar kata Jeno. Joy masih ada di dalam ruangan. ia melihat Joy duduk menghadap ranjang Giselle yang masih terbaring lemah. Giselle terlihat seperti sedang berbicara dengan Joy.
“Ya?” guru penjaga UKS, Jung ssaem mendapati kepala Karina yang mencuat dari luar ruangan. “teman Giselle kah?” tebaknya.
“Eh?” Karina menoleh ke arah gurunya dan segera memasukkan dirinya seutuhnya dalam ruang UKS. “n..ne, saya teman Giselle,” jawab Karina. “permisi ssaem,”
“Karina?” Giselle mengeluarkan suara lemasnya menghadap teman satu klubnya yang datang mengunjunginya.
Joy menoleh membalikkan badannya. Ia kaget menatap sosok anggota klubnya yang terlihat berantakan. “Karina?! Kau? Kenapa?” Joy terlihat kaget dan terbata-bata.
“Pelatih Yoon memintaku pergi….” Karina berjalan mendekat kearah ranjang Giselle.
“Kau berantakan sekali,” komentar Giselle. “kau berkelahi?”
Karina mengangguk menjawab pertanyaan Giselle.
“Dengan siapa?” Tanya Joy yang kemudian berdiri dan melipat tangannya. “dengan Minseo, Jooyeon, atau Jihyun?” Joy menyebutkan nama ketiga anggota klub cheers yang biasa beradu mulut dengan Karina dan Giselle.
“…Jooyeon, sunbae,”
“Aigoo…. Karina hya… mwoya?” Giselle tampak sebal dengan Karina yang tidak bisa mengontrol emosi sehingga membuatnya berkelahi dan diusir oleh sang pembina klub. "Mereka mengolokku lagi, ‘kan? Biarkan saja…”
Karina menatap Giselle dan melirik Joy yang terlihat menggelengkan kepala. “Ha..habisnya…kau ‘kan sudah berusaha diet dan berlatih cheers dengan keras, lalu… perkataan mereka terlalu kejam… jadi…” Karina menjelaskan dengan ragu-ragu.
“Kalian berdua dengar,” Joy menatap Giselle dan Karina bergantian. “akan selalu ada orang seperti Giselle dan Jooyeon pada setiap klub.
Anggap saja keduanya hanya ingin yang terbaik untuk klub. Keduanya ingin menampilkan penampilan yang terbaik. Namun dengan cara yang salah. Giselle, kau boleh diet, aku tidak mengerti mengapa kau terus diet ketat padahal aku tidak memintamu, tapi kau harus ingat bahwa aku tidak butuh tubuh kurusmu yang lemah. Aku butuh tubuhmu yang kuat dan lincah,”
Giselle yang sedang terbaring terlihat menundukkan matanya sambil merenungi kesalahannya.
“Senior kelas 3 kita dulu terbiasa berlatih bersama seluruh anggota yang memiliki badan seperti Karina, oleh karena itu mereka menonjolkan permainan akrobat lempar tangkap dengan berbagai gerakan diudara. Kita tidak harus mengikuti mereka ‘kan? Aku ingin penampilan kita juga memiliki unsur seni di dalamnya. Selama aku yang menjadi ketua cheers, aku ingin para catcher melakukan beberapa koreografi pemanis sebelum kalian menerbangkan flyer,” Jelas Joy lagi, berusaha mengerti mengapa para senior kelas 3 kini terlihat tidak puas dengan beberapa berat badan juniornya.
“Lalu soal Jooyeon dan teman-temannya. Biarkan saja mereka. Mereka akan terus seperti itu tidak peduli seberapa kurusnya dirimu,” Joy menatap Giselle lagi.
“Ne..” jawab Giselle.
“Jadi jangan berkelahi untuk hal yang tidak penting,” Joy kini menatap Karina yang tertunduk diam sambil memainkan kukunya. “ya, Karina?”
“Ne, sunbae,”
“Dulu Yeri juga sama sepertimu,” Joy menunjuk Giselle dengan tatapannya. “seperti yang kubilang, dulu semua anggota klub cheers memiliki badan yang tinggi dan kurus. Anggota kami banyak yang berasal dari kelas 2 dan 3. Kala itu aku sebagai murid kelas 1, masuk pada pertengahan semester dan menyadari bahwa Yeri adalah satu-satunya anggota klub yang berbadan ideal. Tidak kurus namun tidak gemuk. Yah, seperti yang bisa kalian tebak, banyak yang tidak setuju dengan keberadaan Yeri disana,”
Karina membuka mulutnya kaget sambil membayangkan wajah ceria Yeri yang selalu mencerahkan suasana latihan klub cheers.
“Namun Yeri membalas semua kekejaman para sunbae dengan kerja kerasnya. Semua ragu saat Yoon ssaem meminta Yeri menjadi flyer, karena, para anggota yang kurus-kurus itu rasanya tak sanggup untuk menangkap Yeri. Tapi kau tahu yang dilakukan Yoon ssaem? Ia malah melatih pada catcher untuk memiliki lengan yang kuat. Kurasa Yeri tidak seberat itu, masalah utamanya adalah para anggota kami yang saat itu terlalu lemah. Bahkan saat itu semua anggota bisa menjadi flyer!” Joy lanjut menceritakan kejadian yang terjadi pada klub cheers dulu.
“Woah…Yeri unnie..” Giselle terdengar kagum mendengar cerita Joy.
“Jadi, Giselle, aku yakin, tim cheers tidak membutuhkan tubuh kurusmu yang lemah. Mau kau menjadi flyer ataupun catcher, aku ingin kau memiliki tubuh yang sehat dan lincah. Contoh saja Yeri,” Joy lalu memberikan nasihat pada Giselle. “sampai sekarangpun, para senior kelas 3 itu masih tidak suka dengan fakta bahwa Yeri adalah flyer utama tim cheers. Tapi apa yang Yeri lakukan? Dia tidak peduli. Haha,”
“Haha, ne,”
“Jadi kuharap kau tidak peduli juga. Kau harus pedulikan kesehatanmu!”
“Ne, sunbae,”
...****************...
__ADS_1