![THE ZOO [FF NCT AESPA]](https://asset.asean.biz.id/the-zoo--ff-nct-aespa-.webp)
“Yeeyy!” Seru Jungwoo sambil bertepuk tangan. Seluruh anggota band Hendery saling bertukar tatap dan ikut bertepuk tangan seperti Jungwoo.
Siang ini klub broadcasting mengundang seluruh anggota band Hendery untuk menjadi bintang tamu di radio sekolah. Klub broadcasting mengucapkan selamat karena band Hendery dapat meraih juara 1 pada perlombaan yang diadakan di pantai Daecheon hari Jumat kemarin.
“Sekali lagi, selamat!! Wuuu,” ulang Jungwoo menatap Hendery dan Giselle yang duduk di kanannya dan Yangyang, Jeno dan Taeyoung yang duduk di kirinya. “menjadi juara satu! Hebat sekali,”
“Ah, terima kasih,” ucap Hendery malu-malu.
Jungwoo kemudian mewawancari seluruh anggota band mengenai perlombaan kemarin dan bagaimana mereka mempersiapkan pertunjukan hanya dalam waktu 3 minggu.
Sesekali Jungwoo memberikan lelucon untuk menaikkan suasana karena seluruh anggota band menjawab dengan malu-malu.
Winwin berdiri menatap kinerja Jungwoo dari balik kaca ruang radio. Ia ikut tertawa dengan celetukan Jungwoo dan Hendery yang terucap begitu saja. Winwin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kagum pada pembawaan Jungwoo, sang mc utama radio sekolah.
“Ahahaha,”
Winwin mendengar Ten masuk ke ruangan sambil menutup mulutnya, menahan tawa. Ia kemudian berdiri di samping Winwin dan mengamati wawancara yang terjadi di dalam ruang berkaca itu.
“Aku baru tahu kalau Taeyoung sunbae sudah kembali,” ucap Winwin membuka suara kepada teman sekelasnya yang juga anggota osis itu.
“Mm, aku juga,” angguk Ten. “Doyoung hyung juga terlihat senang sekali saat Taeyoung sunbae mendaftarkan diri untuk lomba band,”
“Akhirnya perjuangan Hendery berbuah manis, ya,” Winwin menyilangkan tangannya sambil menatap Hendery yang sedang bercerita pada Jungwoo dengan menggebu-gebu.
“Haha, iya. Aku masih ingat ceritamu mengenai Hendery,”
“Mm. Waktu itu, aku sampai harus membawa laptopku sendiri karena Hendery terus meminjam komputer klub broadcasting untuk mengetik proposalnya,” Winwin bercerita sambil tertawa mengingat tingkah Winwin dahulu yang sungkan menegur Hendery untuk bergantian menggunakan komputer klub.
“Masih lama?” Suara seorang siswi tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk.
“Joy ah,” sapa Ten pada Joy yang berjalan masuk ke ruangan bersama dengan Yeri.
“Untuk apa kau kesini?” Tanya Winwin pada Joy yang juga teman sekelasnya dari jurusan Seni Rupa.
“Kami tadi mendengar berita tentang Giselle. Kami mau memberi selamat, tapi wawancaranya lama sekali,” ucapnya dengan wajah geram.
“Ani, bukan lama, kau saja yang tidak sabar,” celetuk Yeri. “wawancaranya baru mulai, dan Jungwoo baru memberikan selamat atas kemenangan mereka. Kau saja yang langsung bergegas kemari,”
“Haha, benarkah?” Winwin menertawai Joy yang sedang memelototkan matanya pada Yeri untuk memintanya diam.
“Mantan anggotamu, ‘kan?” Ten menatap ruang di dalam kaca itu lagi.
“O. Giselle dulu anggota cheers,” jawab Joy. “aku jadi ikut senang atas kemenangannya,”
...****************...
Koleksi piala klub band bertambah satu lagi. Piala itu terlihat lebih kecil dari piala lama milik klub band yang mengikuti perlombaan di Kota Paju, namun Hendery, Yangyang, Giselle dan Jeno sangat senang karena itu adalah piala pertama mereka sebagai sebuah band.
Kegiatan sekolah dan klub pun kembali berjalan dengan lancar. Taeyoung yang masih tidak mau masuk ke klub band, hanya berkunjung di hari tertentu untuk bermain gitar selama satu jam dan kemudian pergi. Giselle juga semakin sering berlatih vocal dengan Kang ssaem dan memiliki kemajuan di kemampuannya meraih nada tinggi dan teknik bernyanyi lain yang sudah Kang ssaem ajarkan. Jeno yang masih sibuk dengan klub basket dan perlombaan basketnya, hanya muncul di ruang klub pada hari selasa, hari dimana tidak seorang pun, kecuali anggota inti, berada di dalam ruang klub band.
“Pe..permisi..”
Hendery berbalik badan menatap suara kecil yang muncul dari arah pintu yang sedikit terbuka. Hendery menatap murid yang terlihat seperti adik kelasnya. Siswa itu terlihat berbadan kecil dan imut. Ia bahkan hanya memunculkan kepalanya saja dari balik pintu.
“Ya?” Hendery membuka lebar pintu ruang klub band. “Siapa ya?”
“Annyeong haseyo,” siswa itu membungkuk hormat dengan sebuah buku yang ia pegang dengan kedua tangannya. “saya Renjun, kelas 1, dari klub sastra,” ucapnya memperkenalkan diri sambil menunjuk arah kanannya, letak dimana ruang klub sastra berada.
“O. Aku Hendery,” Hendery ikut memperkenalkan diri. “ada apa?”
“Oh? Mm, ini,” Renjun memberikan buku tulis kecil yang dari tadi ia pegang kepada Hendery. “ini milik Taeyoung hyung, jatuh di dalam ruangan,”
Hendery meraih buku itu dan mengamati sampul depan dan belakangnya. “tidak kau kembalikan sendiri ke kelasnya?”
“Oh! Jwisonghaeyo sunbae,” Renjun tiba-tiba meminta maaf. “karena saya pikir Taeyoung hyung sering kemari, jadi…”
“Gwaenchana, akan kuserahkan padanya saat Taeyoung hyung datang,” Hendery tersenyum untuk menghilangkan kepanikan dari wajah Renjun. “buku apa ini?” Hendery kemudian membukanya.
“Itu buku catatan yang biasa digunakan Taeyoung hyung di klub,”
“Oh…” Hendery membolak-balik halaman yang penuh dengan tulisan dan coretan pena. “aku tidak tahu kalau Taeyoung ahli membuat puisi,”
“Bukan puisi, sunbae, dia menulis lirik lagu,”
“Mwo?!”
“Ne, itu sebuah lirik lagu,” Renjun menunjuk buku yang halamannya tidak berhenti dibuka oleh Hendery. “saya juga bingung mengapa Taeyoung hyung tidak masuk ke klub band saja, hehe,” Renjun meringis tersenyum mengucapkan kalimatnya.
“Yah, mungkin dia sudah menyukai klub mu,”
Renjun menggeleng. “Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi seluruh sunbae di klub sastra membiarkannya ikut klub tanpa menghasilkan satu pun karya sastra. Selain itu, Taeyoung hyung selalu duduk di bangku paling belakang, bahkan tidak ikut berdiskudi. Ia tampak mendengarkan permainan band yang suaranya terkadang tembus sampai klub kami,” jelas Renjun yang penasaran dengan tingkah laku senior di klubnya itu.
“Wah, tembok kami tidak soundproof ya,” komentar Hendery. “mian,” ucapnya meminta maaf.
__ADS_1
“Haha, aniyeyo sunbae,”
“Benar juga ya. Klub sastra juga berkegiatan di hari Kamis,” Hendery menjentikkan jarinya saat mengingat fakta bahwa ia sering melihat klub sastra berkumpul di ruangan pada hari Kamis. “jadi…. Taeyoung hyung sering mendengarkan permainan kami?”
“Ne,” angguk Renjun. “Saya sempat berpikir mengapa Taeyoung sunbae tidak join klub band saja,”
“Hehe, panjang ceritanya,” Hendery menepuk-nepuk pundak Renjun. “gomawo bukunya. Akan kukembalikan pada Taeyoung hyung,”
...****************...
Hendery duduk sambil memandangi ruang osis yang sepi. Ia tidak pernah memasuki ruangan besar yang penuh dengan kursi yang mengelilingi meja bundar itu. Kini hanya ada dirinya dan Doyoung yang berada di dalam ruangan. Doyoung sedikit menutup tirai di ruangan dan membuat ruangan menjadi semakin gelap di sore hari.
KLIK
Hendery menyipitkan matanya kala Doyoung menyalakan lampu ruangan. Doyoung yang sudah familiar dengan ruangan luas itu kini berjalan kesana kemari dan mengambil laptop serta map berisi kertas-kertas.
“Hyung…” Hendery masih terduduk rapi dengan kepala yang bergerak mengikuti kemana Doyoung pergi.
“O. Sebentar, sebentar,” ucap Doyoung hingga akhirnya ia duduk tepat di depan Hendery. “nah, aku harus cepat. Sebentar lagi aku ada kelas malam,”
“Mm,” angguk Hendery. “kenapa hyung memanggilku?” Tanya Hendery langsung ke intinya.
“Aku dengar dari Ten, kau mau ikut perlombaan band lagi, ya?”
“Ya. Aku sudah memberikan pengajuan surat ijin pada Ten kemarin. Waeyo, hyung?”
Doyoung kemudian melihat surat yang ia ambil dari dalam map yang ada di hadapannya. Ia membacanya dengan seksama. “Oktober… ini setelah ujian semester 1, ya?” Doyoung membaca seluruh keterangan di dalam kertas itu, termasuk tanggal perlombaan band.
“Iya, untuk acara chuseok,” jelas Hendery dengan senyum lebar seperti sudah tidak sabar mempersiapkan diri menghadapi perlombaan itu.
“Begini, Hendery ah,” Doyoung kemudian meletakkan kembali kertas itu dan menatap Doyoung lekat-lekat. “Ten sudah memberikan surat ini pada guru pengawas klub sekolah, dan sayang sekali, Son ssaem tidak mengijinkan kalian mengikuti lomba,”
“Mwo?!” Seru Hendery kaget. “Waeyo, hyung?! Kang ssaem ‘kan sudah mengizinkan kami. Malah Kang ssaem yang memberitahu kami soal lomba ini,” jelasnya panjang.
“Ani… tapi, Kang ssaem belum tahu kalau Son ssaem tidak mengizinkan kalian mengikuti lomba,”
“Eh?”
“Ini karena ketiga anggotamu,” Doyoung mulai mengetikkan sesuatu di laptopnya. “kau tahu ‘kan, sekolah ini selalu bersaing dalam bidang akademis dengan sekolah-sekolah di Seoul,”
“Jangan-jangan… karena nilai lagi?!” Tebak Hendery tepat sasaran.
Doyoung mengangguk. “ada beberapa guru yang kecewa karena Jeno baru saja menolak menjadi anggota tim lomba cerdas cermat mewakili sekolah. Kurasa itu akar masalahnya, sehingga, Son ssaem juga ikut membawa-bawa Yangyang dan Giselle dalam hal ini. Mereka mengawasi nilai Yangyang dan Giselle, dan benar saja…”
“Hanya Giselle yang turun. Kalau Yangyang… nilainya malah tidak pernah naik, dia selalu berada di urutan dasar,”
Hendery terdiam. Ia sudah pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya. Sudah bukan hal aneh lagi jika sekolahnya terobsesi menjadi sekolah terbaik dengan peringkat 5 besar di kota Seoul.
“Kenapa sekolah memaksa Jeno?” Hendery menghela nafas berat. “Bisa saja kegiatannya sudah terlalu padat hingga dia tidak bisa mengikuti lomba itu…”
“Oleh karena itu sekolah ingin Jeno beristirahat dulu dari klub band, dan fokus ke basket dan belajar untuk perlombaan cerdas cermat,” jelas Doyoung mencoba menjelaskan dari pihak sekolah. “mian, tapi, tentu sekolah lebih memilih klub basket, klub basket sekolah kita sudah terkenal dan memiliki banyak prestasi,”
Hendery terdiam lagi mendengarkan fakta kejam yang diutarakan oleh Doyoung. “Sekolah tidak bisa memilih murid lain untuk perlomaan itu?"
Doyoung mengangkat bahunya. “entahlah. Yang kutahu, pada setiap lomba, dipilih 4 perwakilan siswa yang ahli dalam matematika, bahasa inggris dan yang memiliki keahlian dalam berkomunikasi. Kau ingat Kun? Dia dulu terpilih untuk mengikuti perlombaan itu dan menjadi pemimpin dalam sesi debat,”
“Mmm..” Hendery mengangguk pelan.
“..kau terlihat kecewa sekali,” komentar Doyoung terhadap reaksi lemas Hendery.
“Tentu saja, hyung..” Hendery menggoyangkan badannya merengek. “di perlombaan kali ini, kami akan melombakan lagu buatan kami sendiri,”
“Wah, jinjja?” Doyoung terlihat menganga kaget. “Kalian membuat lagu?”
“Ani, aku belum bisa membuat lagu. Hehe. Tapi Taeyoung hyung bisa,”
“Wah, keren…”
“Ya ‘kan?” Hendery kemudian menurunkan pundaknya kecewa. “tapi sekolah malah melarang kita tampil. Padahal bisa saja kami menang, dan diliput. Hyung tahu? Perlombaan itu akan mengundang stasiun TV lokal,”
“Ck. Sayang sekali, ya,” Doyoung bersuara, ia ikut kecewa. “bagaimana kalau kau bujuk Jeno? Jujur aku tidak mengerti mengapa ia menolak perlombaan itu,”
“Ya mungkin benar katamu, hyung. Dia terlalu sibuk dengan dua klub,”
“Mungkin kau bisa membuat lagu dulu tanpa Jeno? Jika chord sudah selesai, baru kau mengajaknya latihan,” usul Jeno. “perlombaan cerdas cermat akan dilaksanakan satu bulan lagi. Sedangkan perlombaanmu masih lebih lama, setelah ujian semester 1, ‘kan?”
“Hanya berjarak 2 minggu saja..” gumam Hendery pelan.
“Tinggal Yangyang dan Giselle itu, suruh mereka menaikkan nilai. Mungkin Son ssaem bisa mempertimbangkan lagi jika kedua anak ini mengalami kenaikan nilai,”
“Hhmmm…. Giselle sih.. aku yakin dia bisa menaikkan nilai. Tapi Yangyang…” Hendery mengelus dagunya sambil mengeryitkan dahi. “aku tidak pernah melihatnya belajar,”
...****************...
__ADS_1
“Aigoo…..” Jeno merebahkan badannya ke atas sofa di dalam ruang klub band. Ia merentangkan kedua tangannya bak sayap lebar. “kau main terus sih,” cibirnya pada Yangyang yang terlihat tak terima usai Hendery memintanya menaikkan nilai sekolahnya.
“Hya..” Yangyang menghentakkan kaki sambil menyilangkan tangannya. “Dasar sombong,”
“Kok aku juga ikutan,” Giselle juga terlihat geram, memandang Hendery yang duduk jauh di balik instrument drumnya.
“Nilai mu turun jauh,” jawab Hendery kepada dua hoobae yang berdiri menghadap dirinya. “hya, kalian harus naikkan nilai, kalau tidak, aku pilih anggota lain,” ucap Hendery berbohong.
Taeyoung yang sedang duduk memunggungi Hendery sambil memangku gitar pun menoleh dan berbisik. “memang ada yang mau menggantikan mereka?”
Hendery menggeleng cepat. “malah jika nilai mereka tidak naik, kita tidak bisa ikut lomba, hyung,”
Jawaban Hendery membuat Taeyoung tersenyum sambil membuang nafas. “ckckck… alasan itu lagi,” ucapnya.
Jeno kemudian membuka matanya lebar. Ia kaget tiba-tiba Giselle berbalik badan dan tersenyum penuh arti memandang dirinya.
“Wae?” Tanya jeno datar. Diikuti dengan Yangyang yang juga memandang dirinya.
“Kata Karina, kau murid terpintar di jurusan Teknik Komputer,” Giselle sedikit menyipitkan matanya, membuat perkataannya dramatis seperti polisi yang sedang mengintrogasi.
“Kalian masih berteman?”
“Kau pasti bisa membantu kami,” lanjut Giselle, menghiraukan pertanyaan Jeno.
“Mwoya, kau murid pintar rupanya!” Yangyang menutup mulutnya kaget. “apa-apaan... enak sekali menjadi dirimu…”
“Hya hya, jangan ganggu Jeno,” Teriak Hendery dari kejauhan. “dia akan segera mengikuti perlombaan cerdas cermat,”
“Eh? Hyung tahu?”
“O. Doyoung hyung yang memberitahuku,”
“Tapi aku sudah menolaknya,”
“Waaeee?” Hendery pun berdiri. Ia melewati Taeyoung dan menghampiri Jeno yang masih duduk dengan memeluk bantal. “wae?”
Jeno menunduk dan memeluk bantal dengan semakin erat. “hanya.. tidak mau saja..” ucapnya sambil memajukan mulutnya.
“Wae? Kau ‘kan…”
Taeyoung memegang pundak Hendery dari belakang. “dia tidak mau,” ucap Taeyoung menatap Hendery.
“Tapi hyung,”
“Gwaenchana, perlombaan masih banyak ‘kan. Kalian masih kelas 1, dan kau masih kelas 2,” ucap Taeyoung menenangkan.
“Tapi di perlombaan ini kita akan tampil sebagai diri kita sendiri, hyung,” Yangyang menolehkan badannya menghadap Taeyoung. “kita ‘kan akan membawakan lagu buatan kita sendiri,”
“Selain itu..” Giselle menambahi. “ini perlombaan terakhir kami bersamamu, oppa.
Sebelum oppa mempersiapkan ujian,”
Taeyoung tertawa mendengar ungkapan Giselle. Ia kemudian menggerak-gerakkan telapak tangannya ke atas kepala Giselle. “Mwoya, mengapa terdengar sedih sekali,”
“Kalian.. sungguh ingin ikut lomba itu?” Jeno kemudian membuka suara. Ia menatap seluruh anggota band yang sedang berdiri di hadapannya, sedangkan ia masih terduduk di sofa.
“Gwaenchana jeno hya, kita..”
Taeyoung terdiam karena perkataannya disela oleh gerakan Jeno yang tiba-tiba berdiri.
“Wae?” Tanya Yangyang pada Jeno yang masih diam.
“Geurae. Ayo ikut lomba band itu,” angguk Jeno.
“Jinjja?!”
“Kya! Jinjja, Jeno hya?!"
“Tapi perlombaanmu?” Tanya Hendery ditengah kebisingan suara Yangyang dan Giselle.
“Aku akan ikut perlombaan cerdas cermat itu, hyung,”
“Omo! Jinjja?!”
“Apa tidak apa-apa, Jeno hya? Kami tidak ingin kau mengikuti perlombaan itu karena kami,”
“Gwaenchana, hyung,” jawab Jeno pada Taeyoung.
“Jeno hya, kau fokus dulu saja dengan perlombaanmu, biar kami yang membuat lagu. Nanti kami akan menghubungimu jika semua sudah selesai,” ucap Hendery yang persis mengikuti arahan Doyoung.
“Ne, hyung,”
“Nah, masalah Jeno sudah selesai,” Hendery menepuk tangannya. “tinggal kalian berdua,” Hendery menunjuk Yangyang dan Giselle yang berdiri sejajar.
__ADS_1
...****************...