THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 14


__ADS_3

Hendery tersenyum lebar menyambut seseorang yang datang bersama Yangyang.


“Hyung, jangan terlalu berharap,” bisiknya pada Hendery yang tak berhenti menatap Giselle yang berdiri berjabatan tangan dengannya. Yangyang kemudian memukul tangan Hendery agar ia melepas jabatan tangannya dengan Giselle.


“Hehehe,” Giselle tertawa canggung.



“Kalau kau anggota cheers.. berarti… anggotanya Joy, ya?” Tebak Hendery dengan jawaban yang sudah diketahuinya.


“Ne, sunbae,” jawab Giselle yang menatap Hendery yang sedang duduk di belakang instrument drum.


“Ah, santai saja. Kau ‘kan teman Yangyang,” ucap Hendery sok akrab.


“..Ne.., op..pa,” Giselle membetulkan ucapannya.


“Hyung, kau terlihat terlalu senang..” komentar Yangyang bersuara pelan. “dia tidak ikut klub band, dia hanya ‘membantu’ kita,”


“Iya iya, aku tahu. Kau galak sekali..” goda Hendery pada Yangyang.


Perkenalan ulang antara Hendery dan Giselle membawa mereka kepada latihan rutin yang dilakukan untuk tampil di panggung sekolah.


Dengan suka rela, Giselle membantu klub band untuk menjadi vocalist di penampilan mereka, Yangyang mengambil alih posisi keyboard, dan Hendery kembali pada posisi drumnya. Mereka berlatih hampir setiap hari. Terkadang, Hendery dan Yangyang membawa teman-temannya untuk sekedar melihat mereka berlatih.


Hari ini tamu yang hadir melihat agenda latihan mereka adalah Karina dan Jeno. Semenjak Giselle vakum dari kegiatan klubnya, ia jarang bertemu dengan Karina. Namun sore ini, Karina yang masih rutin berbalas pesan dengan Giselle, penasaran dengan kegiatan baru Giselle dan berencana mengunjunginya di ruang klub band.


Karina dan Jeno duduk manis di sofa dan bersiap mendengarkan permainan klub band dan Giselle. Suara dentuman drum yang sudah lama tak terdengar mulai dimainkan oleh Hendery yang terlihat sangat bahagia.


Yangyang juga dengan lincah menggerakkan jari jemarinya kesana kemari. Karina bertepuk tangan kecil mengikuti nada lagu. Giselle juga terlihat bernyanyi begitu riang. Giselle mengeluarkan senyuman bahagia yang tidak pernah Karina lihat sebelumnya.



“Yeeeeyyyy!” Karina bertepuk tangan saat lagu pertama mereka selesai dimainkan.


“Mian mian, tadi ada salah ya,” ucap Hendery yang melakukan kesalahan pada permainan drumnya.


“Gwaenchana hyung, kita bisa coba sekali lagi,” Yangyang menoleh ke belakang menghadap Hendery.



“Yangyang ah, aku merasa nadanya terlalu tinggi…” ucap Giselle sambil memegang lehernya.


“Oh ya? Mian,” Yangyang mencoba mencari nada yang tepat untuk Giselle.


“Anu…” Jeno tiba-tiba berdiri dan bersuara pelan. “a..apakah aku boleh ikut main?”



“Ha?!” Karina terdengar kaget melihat Jeno yang ikut campur dalam aktivitas klub band.


“Gitar?” Tanya Hendery. “Tentu saja,”


sambutnya.


“Mwoya, aku tidak tahu kau bisa bermain gitar,” Karina menutup mulutnya saat melihat Jeno sudah bergerak dan mengalungkan tali gitar pada badannya.


Jeno mengutak-atik sound system hingga suara petikan gitar dapat terdengar. Mereka pun saling bertukar tatap. Sekali lagi Hendery memulai permainan drumnya, kemudian diikuti oleh suara keyboard dan gitar. Giselle menyanyikan lagu itu sekali lagi. Lagu itu terdengar lebih sempurna setelah Yangyang menyesuaikan nadanya dengan suara Giselle, dan dengan bantuan Jeno yang mengambil alih posisi gitarist.


Pendengar permainan klub band bukan hanya Karina saja. Johnny yang saat itu sedang berada di lantai ruang klub sekolah pun ikut mendengarkan, tanpa sepengetahuan penghuni ruang klub, ia membuka sedikit pintu ruang klub. Johnny menatap Jeno yang mencoba menjadi gitaris klub band. Sama seperti anggota klub band yang sedang memainkan alat musik masing-masing, Jeno terlihat tersenyum lebar dan sesekali ikut bersenandung mengikuti nyanyian Giselle.

__ADS_1


“Woooh! Yeeeyyyy!” Karina bertepuk tangan sekali lagi.


“Wooww!!” Johnny membuka lebar pintu ruangan dan ikut bertepuk tangan.


“Johnny sunbae?!” Seru Hendery dibalik set drumnya.


Johnny tersenyum sambil melambaikan tangan menyapa mereka semua. “Formasi baru?”


“Hehe, kami akan tampil di acara sekolah, sunbae!” Jawab Hendery yang sedikit berteriak karena jarak drum dan pintu ruangan yang cukup jauh. “Aku, Yangyang dan Giselle,” Hendery menunjuk para pemain band dengan stick drumnya.


“Kau?” Johnny menunjuk Jeno dengan mengangkat dagunya.


“Oh, aniyeyo, hyung, aku hanya ingin mencoba saja,” jawab Jeno. “Aku belum pernah bermain gitar bersama dengan alat musik lain,”


“Taeyoung bagaimana?” Johnny menatap Hendery lagi. “Kau tidak mengajaknya?”


“Hhh… Apa Taeyoung hyung mau?” Hendery kembali melempar pertanyaan setelah sebuah helaan nafas berat ia keluarkan.


“Entahlah,” Johnny mengangkat kedua bahunya. “tapi ini ‘kan bukan pertama kalinya kau mengajaknya kembali bermain gitar,” Johnny tersenyum sambil melipat tangannya di depan dada. Ia sedikit membayangkan sosok Hendery setahun lalu. “Kau sudah tidak pernah menemuinya lagi. Kau sudah menyerah?”


Hendery hanya membalas dengan sebuah senyuman bodoh andalannya. Ia selalu seperti itu. Ia selalu berusaha meyakinkan semua orang bahwa ia baik-baik saja. Ingin rasanya ia membalas perkataan Johnny dengan teriakan bahwa ia sudah lelah dengan Taeyoung. Sekian lama ia mengajak Taeyoung untuk kembali ke klub band, namun Taeyoung tetap mengacuhkannya. Hendery yakin Taeyoung masih menyukai klub band dan ingin terus bermain gitar. Tapi Hendery tidak mengerti apa yang membuatnya begitu benci pada Hendery hingga Taeyoung terus mengabaikannya.


Mendengar perkataan Johnny membuat Hendery mengingatkan dirinya setahun lalu. Setelah kondisi sekolah kembali normal, guru dan murid beraktivitas seperti biasa. Bahkan foto Hansol sudah dicabut dari majalah dinding sekolah. Hendery melihat jelas foto itu sedang berada di atas meja klub broadcastingnya, klub baru yang diikuti Hendery dengan ajakan paksa Doyoung.


“Ini…” Hendery mengangkat foto Hansol yang di print cukup besar, foto itu tadi tergeletak bersama bunga-bunga dan hiasan mading lainnya yang menyatakan bela sungkawa terhadap kematian Hansol.



“Kami sedang membersihkan mading,” Winwin, salah satu anggota klub broadcasting, menjawab dengan memunggungi Hendery, Winwin sedang membaca satu persatu isi berita yang baru saja diambil dari mading, “tema bulan depan adalah… oh!” Winwin kaget saat ia berbalik badan dan terdapat Hendery di sana. “Hendery ah, bikin kaget saja, kukira tim media,” Winwin memegang dadanya.


“Ini…” Hendery membalik foto Hansol membuat foto itu menatap Winwin. “mau kau buang?”


“Mian,”


“Hendery ah,” Jungwoo yang juga anggota klub broadcasting, datang dari arah belakang Hendery. Ia menepuk pundak Hendery pelan.


“Mau berapa kali pun tim media mengganti mading, sekolah masih akan terus mengenang Hansol hyung,” Jungwoo berusaha menghibur Hendery yang masih mematung dengan pandangan kosong.


“O. Benar,” Winwin menyetujui perkataan Jungwoo.


“Komputer kami sedang tidak digunakan. Kau mau pinjam, ‘kan?” Tebak Jungwoo yang sudah hafal dengan aktivitas Hendery di klub broadcasting.


Hendery bukan seutuhnya anggota dari klub broadcasting, Doyoung membawa Hendery masuk ke klub itu agar ia dapat mendapatkan nilai keaktifan klub yang wajib dimiliki oleh seluruh murid. Doyoung tahu bahwa Hendery tidak memiliki minat di bidang broadcasting ataupun media. Doyoung sang ketua klub broadcasting, membiarkan Hendery melakukan apapun di dalam klub itu asal tidak mengganggu aktifias klub. Begitu juga dengan teman-teman Hendery di dalam klub, semua sudah memaklumi Hendery dan menganggap Hendery sebagai salah satu anggotanya.


Tiga bulan setelah kepergian Hansol dan apa yang terjadi pada klub band, Hendery memutuskan untuk berkonsultasi pada pihak osis mengenai pembukaan kembali klub band. Hendery terus bertanya pada Doyoung mengenai apa yang harus dilakukannya. Doyoung membantu Hendery dengan arahan-arahan dari Wendy, sang ketua osis. Tak jarang Hendery dan Kun datang menemui Wendy untuk mengajaknya berdiskusi bersama.


Saat itu Doyoung berhasil membawa Taeil, seniornya dari jurusan Teknik Kimia, ke hadapan Hendery dan Kun. Ujian masuk perguruan tinggi yang akan ditempuh murid kelas 3 sudah semakin dekat. Murid kelas 3 kini semakin jarang terlihat ada di lapangan untuk bermain bola maupun menghabiskan waktu di kantin sekolah.


Taeil membagikan kaleng jus pada Doyoung, Kun dan Hendery. “Aku sudah dengar dari Doyoung,” Taeil membuka pembicaraan.


“Bukankah Kun mau pindah ya? Dua bulan lagi, ‘kan?”


“Tiga bulan lagi, hyung,” jawab Kun. “Setelah kenaikan kelas, orang tuaku masih mengurus berkas disini, setelah itu, kami resmi kembali ke Cina,” Jelas Kun. Dua bulan lagi memang saatnya seluruh murid di sekolah Seo Seoul naik kelas dan menikmati liburan kenaikan kelas selama satu bulan lamanya. “sementara itu, aku akan membantu Hendery,” lanjutnya, mengembalikan topik mengenai tujuan utamanya bertemu Taeil.


“Oh..” angguk Taeil. “Nah, Hendery, apa yang bisa kubantu?”


“Ini..” Hendery menyodorkan sebuah kertas angket kosong pada Taeil. “silahkan diisi, sunbae, ini salah satu berkas yang dibutuhkan untuk proposal saya,”


Taeil memiringkan kepalanya sambil mengangkat kertas itu. “Apa ini?” Tanyanya yang tak mengerti walaupun sudah membaca keterangan-keterangan singkat di dalam angket itu.

__ADS_1


“Itu angket yang harus diisi anggota band, sunbae,” Doyoung membantu Hendery menjelaskan. “Semua anggota band yang ingin membuka klub band kembali, harus mengisi alasan mengapa sekolah harus membuka klub ini. Serta tanda tangan dari penulis juga,”


“Tapi aku ‘kan tidak ikut klub lagi, aku sudah semester 2,” Taeil meletakkan kertas itu diatas meja dan menatap Doyoung penuh tanda tanya.


“Benar hyung, walaupun begitu, angket ini perlu diisi oleh para anggota klub dari kelas 1 sampai 3 yang menyetujui pembukaan klub,” Kun ikut menjawab. “Anggota kita ‘kan ada 12, aku, Hendery, lalu 3 anak kelas 1 sudah mengisi angket persetujuan ini,”


“Tiga anak? Siapa saja?”


“Jungwoo, Joy, Jaehyun,” Hendery menjawab pertanyaan Taeil dengan mengeluarkan satu-satu jari jemarinya.


“Apakah mereka bertiga akan kembali ke klub musik?”


“Saya tidak tahu, sunbae, yang pasti mereka semua telah setuju mengenai pembukaan kembali klub band. Hehehe,” Hendery meringis senang.


Taeil ikut tersenyum melihat Hendery. Ia pun mulai menuliskan namanya pada selembar kertas itu dan memikirkan alasan yang tepat mengapa sekolah harus membuka kembali klub band. “Jadi… kalian berharap sekolah dapat membuka kembali klub ini dalam waktu dua bulan ini?”



“Ne,” Hendery dan Kun menjawab hampir bersamaan.


“Setelah itu, saya dan anggota klub band yang baru akan berlatih untuk acara penerimaan siswa baru April nanti,” Hendery menyebutkan rencananya.


“Mm,” Kun ikut mengangguk. “aku juga akan ikut melatih anggota klub yang baru. Hari pemilihan klub sekolah pasti ramai, kau nanti juga tampil unjuk bakat, ‘kan?”


“O. Harus itu!” Hendery bertepuk tangan, semakin antusias membayangkan dirinya tampil di acara penerimaan siswa baru. “nanti aku akan tampil seperti hyung-hyung dulu saat hari pemilihan klub!” Seru Hendery yang masih mengingat dirinya melihat penampilan klub band di acara penerimaan murid baru.


“Ahaha..” Taeil tertawa sambil membubuhkan tanda tangan pada angket itu. “Nih,” ia menyodorkan angket yang sudah penuh dengan tulisan Taeil. “Semoga berhasil,”


Hendery masih bisa membayangkan perasaan senangnya kala ia berhasil menemui satu persatu anggota klub band dan meminta mereka mengisi angket dari osis itu. Ia beruntung ada Kun yang selalu menemaninya.


Kun yang ahli bernegosiasi dan memiliki skill komunikasi yang bagus itu berhasil menjelaskan dan membuat anggota klub band mau mengisi angket tidak peduli apakah mereka akan gabung di klub band lagi atau tidak.


“Hhh… kurang satu,” gumam Kun menatap lembaran kertas yang ada di pelukan Hendery.


Dengan dibantu oleh sahabat-sahabat Taeyoung, yaitu Johnny dan Yuta, Kun menjelaskan misinya yang ingin membuka kembali klub band. Taeyoung sama sekali tidak ingin membahas mengenai klub itu. Hal itu membuat Kun kesulitan meminta Taeyoung untuk mengisi angket. Kun hanya bertemu Taeyoung pada saat pertemuan dengan klub sastra, sedangkan Hendery dengan keras kepalanya menemui Taeyoung setiap hari, setiap jam istirahat ke dua.


Hendery sudah terbiasa diacuhkan oleh Taeyoung. Awal mulanya, Johnny dan Yuta membantu Taeyoung meminta Hendery untuk tidak menemuinya lagi. Namun lama kelamaan, kedua sahabat Taeyoung itu membiarkan Hendery dan malah semakin akrab dengannya. Hal yang diminta Hendery sama; yaitu mengisi angket dan kembali ke klub band. Sudah setiap kegiatan klub broadcasting Hendery habiskan untuk meminjam komputer klub untuk memperbaiki isi proposalnya. Jika saja Taeyoung segera mengisi angket itu, Hendery rasa semua sudah sempurna, tinggal memberikan proposal itu pada guru yang bersangkutan dan memberikan presentasi singkat ditemani oleh Wendy dan Lucas.


Hari itu Hendery yang sudah lelah terdengar kesal dan marah besar hingga berteriak di lorong kelas 2 jurusan Ilmu Sosial. “Aaaa!!! Hyung!!!” Semua mata menatap anak kelas 1 yang sedang berdiri di lorong yang ramai. Hendery menatap punggung Taeyoung yang barusaja berjalan melewatinya.


“Aduh kaget!” Seru Yuta. Ia pun membalik badannya. “Hya!!” Yuta balik meneriaki Hendery yang berdiri jauh darinya.


“Yuta hya,” Johnny memanggil nama Yuta pelan dan memintanya untuk tidak ikut campur dengan masalah Taeyoung dan Hendery.


“Ssst,” Johnny menggelengkan kepalanya menatap Yuta yang berdiri di samping Taeyoung.


Taeyoung pun membalik badannya, ia berjalan cepat menghampiri Hendery.


“Hyung, aku..”


“Hya,” Taeyoung mendorong tubuh Hendery. Membuat setiap murid yang ada di lorong dan kelas Taeyoung menjadikan Taeyoung dan Hendery sebagai pusat perhatian. “mwoya neo?!”


“Taeyoung ah, Taeyoung ah,” Johnny dan Yuta memegangi kedua lengan Taeyoung yang berjalan terus mendekati Hendery yang terdorong kebelakang.


“Hyung..” ucap Hendery pelan, ia berjalan mundur dengan kakinya yang masih lemas karena ini pertama kalinya ia melihat Taeyoung dengan raut wajah yang penuh emosi.


Taeyoung meraih kertas itu dari tangan Hendery. Ia mengangkat kertas itu dan merobeknya. Tepat di hadapan Hendery. Taeyoung merobek kertas itu menjadi beberapa bagian. “Puas?” Taeyoung berkata singkat. “Pergi kau,”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2