THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 22


__ADS_3

Hari yang ditunggu Jeno akhirnya berakhir. Sekolah Seo Seoul Senior High School menjadi pemenang dalam perlombaan cerdas cermat tahun ini. Acara yang diselenggarakan di salah satu studio stasiun TV itu mengundang banyak guru dan perwakilan osis dari setiap sekolah. Seluruh guru dan osis terlihat begitu senang saat tim Jeno berhasil mengumpulkan nilai paling banyak.


Dalam perlombaan matematika tadi, Jeno yang sedikit cemas dengan performanya, dapat mengumpulkan nilai yang sedikit lebih unggul dengan sekolah lain. Ia mencoba mengitung dengan cepat dan berhasil memencet tombol terlebih dahulu sebelum peserta sekolah lain menjawab. Song ssaem, guru bagian akademis sekolah dan pelatih tim cerdas cermat yang juga hadir sebagai penonton, terlihat mengatupkan tangannya untuk mendoakan keberhasilan muridnya yang sudah mempersiapkan diri selama satu bulan lamanya.


Perlombaan kemudian disusul dengan debat bahasa inggris yang dikuasi oleh Chenle sebagai murid yang memiliki keahlian berbahasa inggris dan memiliki teknik perdebatan yang baik. Jeno, Renjun dan Jisung sebagai satu tim, juga ikut membantu Chenle menjawab pertanyaan yang dilontarkan tim lawan, terkadang Renjun juga menjelaskan panjang mengenai topik yang diambilnya. Pertarungan debat bahasa inggris semakin sengit kala para peserta terlihat intens memegang teguh pendapat mereka yang tentu berbanding terbalik. Perlombaan debat yang diikuti oleh 4 tim sekolah dalam setiap sesi, didominasi oleh pendapat yang dilontarkan oleh sekolah Seo Seoul dan dengan sekolah yang memiliki nilai akademis terbaik di seluruh Kota Seoul.


Dalam perlombaan debat bahasa inggris, sekolah Seo Seoul menjadi juara kedua dan berhasil menambah nilai dari hasil sesi perlombaan matematika yang diikuti oleh Jeno. Terakhir adalah soal pengetahuan umum, peserta lomba harus menjawab soal dengan memencet bel terlebih dahulu, sama seperti yang Jeno lakukan di sesi lomba matematika. Pada perlombaan kali ini, Jisung terlihat dapat menjawab dengan lancar. Tangannya begitu gesit memencet tombol dan jawaban yang diutarakan sering kali benar.


Sekolah Seo Seoul akhirnya menjadi juara utama perlombaan ini setelah seluruh nilai dari ketiga lomba dijumlahkan. Chenle terlihat paling senang. Ia bahkan meloncat-loncat saat kamera sedang menyorot dirinya. Mereka ber-empat pun menerima hadiah sebuah piala besar dan uang tunai sebesar sepuluh juta. Jisung terlihat menahan tangisnya. Setelah perlombaan usai dan kamera mati, ia pun berlari untuk memeluk wali kelasnya yang juga datang untuk menonton muridnya.


...****************...


JREEEEENGGGGGG


Taeyoung menggenjreng gitar listriknya. Lagu ciptaan bandnya sudah selesai dimainkan dengan formasi lengkap dengan Jeno pada bass.


“Wuahhh,” Jeno bertepuk tangan. Ini adalah kali pertamanya memainkan lagu ini bersama-sama. “Giselle ah..” ia mengacungkan jempolnya pada Giselle. “suaramu keren sekali. Semakin bagus,”


“Hehe, gomawo. Aku banyak berlatih,” Giselle ikut mengacungkan jempolnya.


“Yangyang juga, rap pembukanya juga keren,” Jeno memuji lagi.


“Gomawooo,” Yangyang mengangkat tangannya seperti akan melakukan high-five jarak jauh.


“Bagaimana lagunya?” Tanya Hendery yang berdiri dan berjalan keluar dari peralatan drum yang menutupinya.


“Bagus sekali, hyung! Aransemennya, liriknya, semuanya!” Jeno tidak berhenti mengagumi lagu yang kini juga menjadi miliknya. “aku jadi tidak enak karena tidak ikut andil dalam pembuatan lagu…”


“Hya, jangan bilang begitu..” Hendery menepuk lengan Jeno.


“Ey, aku dan Giselle ‘kan juga tidak ikut membuat lagu, haha,” sahut Yangyang santai. “ini buatan Taeyoung hyung dan Hendery hyung,”


“Taeyoung hyung yang membuat liriknya,” terang Hendery. “bagus ya? Klub sastra memang beda!” Goda hendery.


Taeyoung yang berada dibelakang Hendery, segera meraih rambut Hendery untuk mengacak-acaknya. “Hyaaaa,”


...****************...


Sudah seminggu giliran Yangyang dan Giselle yang absent dari kegiatan klub. Dalam minggu ini, seluruh murid Seo Seoul akan menghadapi ujian akhir semester satu. Bagi murid lain, mungkin ujian itu hanya ujian akhir semester biasa, namun bagi klub band, ujian itu adalah penentu mereka dapat mengikuti acara perlombaan band atau tidak. Karena kesediaan Jeno menjadi anggota tim cerdas cermat, sekolah sudah menyetujui sebanyak 50% untuk klub band mengikuti perlombaan pada bulan Oktober, kini tinggal menunggu hasil ujian Yangyang dan Giselle untuk dapat melengkapi ke 50% lainnya.



“Hya.. mwoya kalian berdua..” ucap Haechan heran pada dua teman sebangku yang belum beranjak dari kursinya saat ber istirahat berbunyi. “Yangyang ah, kau kenapa tiba-tiba rajin belajar?” Tanya Haechan yang sedikit mengetuk kaki meja Yangyang dengan kakinya.


“Hya sst…” Yangyang menempelkan jari telunjuknya pada mulutnya. “setelah ini ujian bahasa Jepang, aku sedang menghafal,”


“Omo,” Haechan tersentak kaget mendengar jawaban Yangyang yang belum pernah ia dengar sebelumnya. “baiklah, baiklaah..” ucapnya mundur teratur.


“Gis…”


“Hya hya, kau juga mundur,” Haechan membuka lengannya untuk menghadang Minjeong yang hendak berjalan menuju Giselle.


“Mwoya Haechan ah?!” Minjeong terlihat mengeryitkan dahinya. Ia menggeserkan kakinya ke kanan dan kiri untuk dapat melewati Haechan.



“Aku pass, Minjeong ah,” Giselle tiba-tiba mengangkat tangannya. “mian. Aku tidak ke kantin,”


“Hya… waeee….” Minjeong menurunkan pundaknya kecewa.


“Ya ‘kan? Mereka berdua aneh, ‘kan?” Haechan mulai mengompori Minjeong.


“Kau lebih aneh!” Minjeong menghentakkan kakinya dan membalik badannya untuk keluar kelas.


“Hya Minjeong ah! Gatchi ga!” Kejar Haechan yang meminta Minjeong pergi ke kantin bersamanya.

__ADS_1


...****************...


“Aaaah…”


BRUK


Yangyang dan Giselle sama-sama merebahkan badannya pada sofa di dalam ruang band. Mereka membiarkan tasnya jatuh ke lantai begitu saja. Akhirnya minggu-minggu ujian yang sudah dinanti selesai juga. Giselle memejamkan matanya, rasanya ia akan segera mengeluarkan asap dari dalam kepalanya. Begitu pun Yangyang, ia tak berhenti menghela nafas lega setelah selama ini melakukan aktivitas yang jarang dilakukannya, yaitu belajar.


“Tinggal tunggu hasilnya, ya,” ucap Taeyoung yang duduk sambil menopang dagunya pada badan gitar.


“Ne… hyung…” Yangyang mendramatisir keadaannya dengan bersuara lemah.


“Semoga bagus,”


“Harus bagus, lah, hyung… kami berdua ‘kan sudah susah-susah belajar,”


“Kalau tidak bagus, kita tidak bisa ikut perlombaan itu, oppa,”


“Ey, gwaenchana, jangan terlalu memusingkan perlombaan itu. Lagu kita bisa kita nyanyikan dimana saja. Tidak harus diperlombaan itu,” jawab Taeyoung mencoba menenangkan anggota band nya.


“Annyeong!” Seru Hendery yang memasuki ruangan dengan bersemangat. “Omo! Kaget!” Ia sedikit terhentak melihat Yangyang dan Giselle yang terduduk lemah diatas sofa. “bagaimana ujiannya,”


“Yaa…Begitulah, oppa..” Giselle menjawab lemas.


Hendery tertawa kecil melihat Yangyang dan Giselle yang masih belum bergerak. Ia kemudian meletakkan tasnya diatas meja.


“Jeno mana?”


Taeyoung menjawab dengan menaikkan bahunya. “padahal dia yang mengajak kita berkumpul, tapi malah belum datang,”


Tak lama setelah itu, Jeno pun memasuki ruangan, ia tidak sendiri. Ia membawa Chenle dan Jisung yang berjalan dibelakangnya.


“Annyeong,”


“Oh, Jeno,” Taeyoung bersuara datar mengangkat tangannya. Sapaan Taeyoung membuat Hendery berdiri lagi dari kursinya yang berada di belakang drum.


“Ini Chenle, ini Jisung,” Jeno seketika langsung memperkenalkan teman barunya kepada anggota band nya.


Hendery berjalan mendekat ke arah Jeno untuk mengamati kedua murid kelas satu yang tampak asing baginya. “O. Ada apa?”


Chenle menunduk lagi, “Annyeong haseyo, sunbaenim. Kami dari klub charity,” ucapnya.


“Kami mau mengajak klub band untuk menjadi salah satu pengisi acara di acara bakti sosial kami,”


“Omo,” Hendery dengan cepat menutup mulutnya. “bakti sosial?”


“Ne, klub kami rutin mengadakan bakti sosial setiap tiga bulan sekali. Kali ini, kami berencana untuk mengunjungi sebuah panti asuhan yang ada di pinggir kota,” jelas Chenle.


“kami akan membuat panggung kecil untuk menghibur anak yatim piatu disana,”


“Wah… keren…” gumam Yangyang.


“Kapan acaranya?” Taeyoung ikut bertanya penasaran.


“Kurang lebih dua minggu lagi. Saat ini kami masih mengumpulkan barang dan dana untuk disumbangkan,” kali ini Jisung ikut menjawab.


“Wah kalian pasti sibuk,” Giselle berkomentar. “kita ‘kan baru saja selesai ujian semester,”


“Ah.. aniya..” Jisung menggaruk belakang kepalanya. “mm.. panti itu mengasuh anak-anak mulai dari umur 7 hingga 16 tahun, jadi kurasa mereka akan menyukai penampilan musik,”


“Kami bahkan mengundang badut sulap,” Chenle mengimbuhi Jisung.


Hendery yang sedari tadi terdiam menyimak pembicaraan, segera mengambil keputusan, “Baiklah,” ucapnya.


“Eh?” Jeno membulatkan matanya. “Langsung setuju, hyung?”

__ADS_1


Hendery mengangguk. “Sepertinya seru,” jawabnya sambil tersenyum lebar. Ia lalu meminta pendapat anggota bandnya dengan menatap mereka satu persatu. “bagaimana?”


Tak disangka pertanyaan Hendery disambut anggukan oleh seluruh klub band. Mereka semua tersenyum dan menyetujui ajakan sang ketua klub.


Chenle dan Jisung juga segera bertukar pandang. Mereka senang mendengar keputusan para anggota klub band.


“Gamsahamnida,” Chenle menunduk hormat, diikuti dengan Jisung.


“Ey, tidak perlu,” Taeyoung mengibaskan tangannya. “jadi kami akan menampilkan lagu anak?”


“Mmm… terserah sunbae sih..” jawab Jisung sambil mengelus dagunya. “lagu yang tidak terlalu anak-anak juga boleh, yang penting menghibur,” usulnya.


“Bagaimana kalau lagu ciptaan bandmu?” Chenle menoleh ke kanannya, tempat Jeno berdiri. “kudengar kalian membuat lagu?”


“Eh? Kau tahu?” Giselle menunjuk Chenle.


Chenle pun menunjuk Jeno dengan jempolnya. “Dia bilang, setelah perlombaan cerdas cermat, kalian akan mengikuti lomba band dengan membawakan lagu bikinan sendiri. Ya ‘kan?” jawabnya, diakhiri dengan senggolan ke lengan Jeno.


“Wah.. kau masih ingat,” ucap Jeno pelan kepada teman satu timnya pada perlombaan cerdas cermat yang berhasil ia menangkan. “tapi lagu itu belum pernah kami tampilkan, jadi…”


“Gwaenchana,” sela Taeyoung. “lagi pula lagu itu sudah jadi,” Taeyoung menatap Hendery yang juga ikut andil dalam membuat aransemen musik.


“Mm. Ya,” angguk Hendery. “kita mainkan lagu itu saja, bagaimana? Lagipula belum tentu nilai Yangyang dan Giselle naik,” ucapnya bercanda.


“Hyung!”


“Oppa!”


Seru Yangyang dan Giselle bersamaan.


Jeno mendekatkan dirinya pada telinga Chenle dan berbisik, “kalau nilai mereka berdua tidak naik, sekolah melarang kami mengikuti lomba band,”


“Aaa..” Chenle membuka mulutnya sambil mengangguk pelan.


“Hya! Mengapa kau katakan hal itu padanya!” Seru Yangyang sambil menunjuk Jeno.


...****************...


Taeyoung memilih duduk sendiri di dekat jendela di dalam ruang klub sastra. Seperti biasa, ia tidak ikut terlibat dalam kegiatan kelompok klub sastra. Para anggota klub kini sedang berunding di meja yang mereka satukan hingga membentuk susunan persegi panjang besar. Taeyoung dapat mendengar pendapat-pendapat yang dilontarkan para anggota klub. Sesekali ia melirik anggota klub saat mereka melantunkan kalimat-kalimat puitis yang membuatnya tertarik.


Taeyoung kemudian memusatkan matanya pada Renjun yang duduk di depannya dengan memutar kursi hingga berhadapan dengannya. Murid kelas satu ini sedang membaca buku notes milik Taeyoung. Kala itu Renjun terdengar antusias saat mengetahui bahwa Taeyoung sedang membuat lirik lagu. Hampir setiap kegiatan klub, Renjun menghampiri Taeyoung untuk membaca lirik-lirik yang ia buat.


Wajah kecil Renjun tertutup oleh notes Taeyoung. Taeyoung kemudian menempelkan jari telunjuknya pada bagian tengah notes itu dan menurunkannya. Akhirnya ia dapat melihat wajah Renjun yang masih konsentrasi membaca dengan kerutan di tengah dahinya.


“Langit betumpahkan cahaya, di bawahnya terdapat seorang anak, itulah aku,” Renjun membaca salah satu bait lirik buatan Taeyoung. “Seolah bermimpi, aku pun terbang. Hidupku adalah sebuah keindahan,”


“Jangan keras-keras..” ucap Taeyoung datar.


“Wah… hyung mengganti liriknya, ya?” Tanya Renjun yang menutup mulutnya dengan notes Taeyoung.


“Kau menyadarinya?”


Renjun mengangguk cepat, ia menunjukkan matanya yang tampak berbinar-binar. Ia lalu melanjutkan membaca bait lirik yang lain.


“Kelopak bunga yang kumiliki telah layu. Namun kini, kuikuti sebuah cahaya kecil. Hari yang lalu itu, kulepas untuk pergi jauh. Aku pun terbang dengan cemerlang,”


“Hya, sudah, hentikan…” kini Taeyoung menurunkan notesnya hingga tergeletak diatas meja dihadapan Renjun. “baca dalam hati saja,”


“Bagian ini..”


“Iya, itu buatanmu,” Taeyoung menaikkan ujung bibirnya dan tersenyum pada Renjun yang masih menunjuk kata-kata dalam notes Taeyoung dengan jari telunjuknya. “gomawo,”


“Heol! Hyung benar-benar memasukkan syair buatanku?”


“Sst..” Taeyoung menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya. Ia berharap anggota klub sastra yang kini sedang menuliskan sesuatu pada sebuah kertas tidak terusik oleh suara mereka berdua. “bagus, aku suka,” puji Taeyoung.

__ADS_1


“Gomawo, hyung,” Renjun tersenyum senang dengan pujian Taeyoung dan dengan tindakan Taeyoung yang menyetujui syair buatan Renjun untuk dimasukan ke dalam salah satu lirik buatannya. “aku jadi ingin segera mendengarkan lagumu,”


...****************...


__ADS_2