THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 25 END dan Epilog


__ADS_3


Hari ini seluruh anggota band Hendery melakukan rekaman untuk lagu I di sebuah studio kecil yang berada di pusat kota. Setelah sempat berkenalan dengan sang produser, mereka semua menjalani rekaman mulai dari instrumen, hingga rekaman suara yang akan dilakukan oleh Giselle dan Yangyang.



Yangyang kembali ke kursinya setelah keluar dari ruang rekaman dan melakukan rekaman pada bagian rap miliknya. Ia duduk di bersama teman-temannya yang menyambut Yangyang dengan senyuman dan acungan jempol karena ia telah melakukan rekaman dengan lancar.


Produser Jung, membalik kursinya untuk menatap seluruh murid SMA yang duduk rapi di sofa ruang rekaman yang tampak remang itu, “Untuk chorus terakhir, bagaimana kalau kalian berlima juga ikut bernyanyi?” Produser Jung mengeluarkan idenya sambil menatap kertas yang berisi lirik lagu I.


“Ne?” Tanya Giselle.


“Iya, karena lagu kalian ‘kan sudah viral di internet, dan yang paling terkenal adalah bagian chorus ini. Bagian yang bisa dinyanyikan bersama-sama,” lanjutnya sambil menggerak-gerakan kertas di tangannya.


“Baik, PD-nim,” angguk Hendery.


“Ah, lagu kalian benar-benar bagus,” pujinya yang sekali lagi membaca kertas berisi lirik lagu. “liriknya juga menyentuh sekali,”


“Gamsahamnida,” seluruh anggota band berterima kasih.


“Band kalian belum memiliki nama?” Tanya Produser Jung. “lagu ini akan aku upload, aku bingung akan memberi nama apa, masa’ aku menulis nama kalian semua,”


“Belum..” Hendery tersenyum canggung. “sebut saja Seo Seoul Band, PD-nim,”


“Hahaha! Oke, oke,” angguk sang produser. “baiklah, bersiap kalian semua masuk untuk bernyanyi ya, sebelum Giselle rekaman solo,”





...****************...


Setelah lagu mereka jadi, produser Jung mengunggah lagu mereka di internet dan pada sebuah aplikasi musik. Lagu mereka disambut baik oleh para pendengar. Bahkan hari ini, pada jam istirahat, klub broadcasting menyetel lagu I sebagai salah satu lagu yang diputar pada jam istirahat.


Giselle memegang pipinya. Ia malu mendengarkan suaranya sendiri. Suasana kantin yang ramai membuatnya menadapatkan tatapan mata dari murid-murid yang berlalu lalang.


“Wiii,” senggol Haechan yang datang dan duduk di sebelah Giselle. “sudah terkenal kau ya,”


“Hentikan,” Giselle menyenggol balik Haechan sambil masih memegang kedua pipinya.


“Sudah kubilang, lagu ini enak,” puji Haechan menatap Minjeong yang duduk di depan Giselle.


“Mm!” Minjeong mengangguk. “aku setuju!”


“Wuah, lihat itu…” Yangyang duduk di sisi kiri Giselle dengan membawa beberapa macam roti. Ia menunjuk kerumunan yang berada di pojok kantin dengan arahan dari dagunya.


Kerumunan itu adalah kerumunan siswa dan siswi yang antri untuk berfoto dengan Hendery, sang artis baru sekolah Seo Seoul.


Kepopuleran Hendery semakin meningkat semenjak mereka tampil di acara ulang tahun sekolah, hingga puncaknya pada keviralan video yang diupload Yangyang.


“Tapi bukankah Hendery sunbae memang keren?” Minjeong mendekatkan badannya pada Giselle sambil berbisik.


“Mm!” Angguk Giselle. “setuju!” Giselle juga berbisik.


“Mwoya, kau menyukai Hendery hyung?” Yangyang menoleh pelan pada Giselle di sampingnya.


“Aniaa!” Seru Giselle. “Aku hanya setuju dengan pendapat Minjeong,” Giselle menunjuk Minjeong. “Hendery oppa, Taeyoung oppa, Jeno, semua teman-temanku keren,” Giselle melanjutkan pujiannya sambil menatap Minjeong.


“Kalau aku?”


Giselle menjawab Yangyang dengan pandangan mata dan hembusan nafas berat.


“Ahaha!” Haechan dan Minjeong tertawa.


“Oh ya,” Giselle mengalihkan pembicaraan. “kalian akan datang ke acara tahun baru itu, ‘kan?”


“Oh, benar,” Yangyang menjentikkan jarinya.


“Tentusaja, aku akan datang dengan Jaemin dan Chenle,” angguk Haechan.


“Mwoya, bukankah itu murid jurusan lain?” Tanya Minjeong yang baru saja mendengar nama yang asing di telinganya.


“Ya. Aku sering bermain bola dengan mereka saat pulang sekolah. Kami selalu berada di satu tim,”

__ADS_1


“Hya, pergilah dengan Minjeong juga, dia sendirian,” Giselle memukul pelan lengan Haechan.


“O. Gatchi ga,” Minjeong mengeluarkan wajah melasnya, meminta Haechan untuk juga pergi bersama dengannya.


“Bukankah Karina juga datang?” sahut Yangyang dengan mulut penuh roti.


“Ah benar,” Giselle mengetuk pelan meja kantin. “kau masih ingat, ‘kan, kita pernah makan tteokpokki bersama Karina, teman sekelas Jeno,”


“O.. yang itu…” pikir Minjeong, mencoba mengingat-ingat sosok Karina.


“Ania ania,” Haechan tiba-tiba bersuara sambil mengibaskan tangannya. “aku juga akan pergi denganmu,” Haechan menunjuk Minjeong. “disana banyak orang, kau pasti tersesat,”


“Hya aku bukan anak kecil..” Minjeong menatap Haechan dengan tatapan datar.


“Yeyy! Kalau begitu, semua datang!” Giselle bertepuk tangan. “Kami hanya menampilkan dua lagu, setelah itu, kita akan menuju ke bagian penonton dan menonton kembang api bersama, ya!”


...****************...


“Dingiiin!!!” Seru Yangyang. Ia tak henti-hentinya *******-***** hotpack yang barusaja dibagikan panitia kepada seluruh pengisi acara tahun baru itu.


“Giselle ah, letakkan disini,” Jeno menempelkan sebuah hotpack tepat di leher depan Giselle. “jangan sampai suaramu beku,”


“Ahaha, bisa saja,” Giselle tertawa mendengar perhatian aneh Jeno. “bagaimana keadaanmu?”


“Sedikit gugup,” Jawab Jeno sambil menempelkan kedua hotpack pada pipi kanan dan kirinya.


“Daeebak, penontonnya banyak sekali…” ucap Hendery yang barusaja masuk ke belakang panggung.


“Tentu saja, ini tempat pusat perhitungan mundur tahun baru,” jawab Taeyoung sambil berjalan ditempat untuk menjaga agar suhu tubuhnya tetap hangat.


“Seo Seoul Band,” panggil seorang tim acara kepada mereka. “Bersiap maju,”


“Ne!” Jawab seluruh anggota band.


Mereka berlima pun membuka jaket padding yang dari tadi dikenakannya. Mereka berjalan beriringan menuju sisi panggung.


“Ah, aneh sekali, nama band kita menggunakan nama sekolah,” komentar Hendery sambil berjalan menyusuri lorong sebelum bertemu sisi panggung.


“Gantilah namanya, hyung,” sahut Yangyang yang berjalan di belakang Hendery.


“Inilah dia! Seooo Seouullll Baaanddd~” Suara nyaring kedua MC acara terdengar begitu keras dari belakang panggung.


“Wooohhhoooo!!!”


Seluruh anggota Seo Seoul band naik perlahan keatas panggung yang begitu besar. Panggung itu sangat terang karena diterangi oleh cahaya lampu yang berwarna- warni. Mereka belum pernah berdiri di panggung sebesar itu sebelumnya. Suara sorakan dan tepuk tangan menyambut mereka semua. Giselle dapat melihat dengan jelas beberapa orang yang datang dengan membawa papan nama berisikan nama mereka. Banyak yang membawa papan nama bertuliskan ‘Jeno’ dan ‘Taeyoung’.


Giselle pun mulai menyapa seluruh penonton. Seperti biasa, ia membuka penampilan dengan memperkenalkan dirinya dan seluruh anggota band. Giselle membawakan lagu yang pernah ia bawakan pada perlombaan band pertamanya, yaitu lagu berjudul Stand Up milik J-min feat Trax. Lagu bergenre pop rock itu berhasil membangkitkan semangat penonton yang ikut bernyanyi dan beloncatan seolah mengabaikan angin musim dingin yang berhembus di dataran tinggi itu.


Kemudian Giselle membawakan lagu kebanggaan grup bandnya. Lagu ‘I’ yang populer berkat video yang di-upload oleh Yangyang mendapat sambutan meriah. Seluruh penonton mengangkat tangan dan melambaikan tangannya kekanan dan kiri. Mereka juga ikut bernyanyi saat Giselle menyanyikan bagian chorus secara berulang-ulang.


“My life is so beauuutyyyy…” Giselle menyanyikan lirik terakhir pada lagu ‘I’.


Hendery memegang cymbal pada drumnya agar berhenti bergetar. Dari arah belakang, ia dapat melihat sosok anggotanya yang saling melemparkan senyum satu sama lain saat lagu selesai dimainkan. Hendery juga melihat jelas para penonton yang bertepuk tangan antusias mengiringi lagu ‘I’ . Hendery tersenyum lebar. Ia senang ia dapat tampil di hadapan begitu banyak penonton. Ia senang bahwa lagu milik bandnya mendapatkan apresiasi yang luar biasa yang belum pernah ia bayangkan. Dan yang paling terpenting, ia senang karena ia sekali lagi, menjadi anggota band sekolah dan kini ia berada pada titik ini.



TAMAT.


...****************...


Epilog


4 Tahun kemudian


“Gamsahamnida,”


“Gamsahamnida,”


Para anggota band The Zoo saling membungkuk untuk mengucapkan terima kasih pada sang Mc yang barusaja mengakhiri sesi wawancara mereka di salah satu stasiun TV. Tidak lupa, mereka juga membungkuk untuk mengucapkan terima kasih pada seluruh kru yang bertugas.


Wawancara sekaligus promosi lagu baru The Zoo dengan stasiun TV telah selesai dilakukan. Manajer The Zoo segera menghampiri mereka dan memberikan kopi dingin yang baru saja ia beli.


“Aku baru pertama kali ini mendengar sejarah nama The Zoo,” ucap manajer Kim sambil memberikan gelas kopi untuk Taeyoung.


“Ey, hyung tahu ‘kan, alasan aslinya,” Taeyoung meminum kopi itu sambil sedikit tertawa. “tadi kami hanya membual, kami tidak mungkin mengatakan bahwa nama itu terbentuk secara mendadak karena acara di kebun binatang,”

__ADS_1


“Ahaha, iya,” Hendery datang menghampiri manajer Kim yang hanya berjarak 2 tahun lebih tua dari Taeyoung. “tidak terasa sudah empat tahun kita menggunakan nama itu,”


“Mm, semenjak kau lulus SMA,” Taeyoung berkata pelan.


“Dan lusa adalah hari wisudamu, hyung,” senggol Hendery pada Taeyoung yang sudah menyelesaikan kuliahnya.


“O. Tiga anak itu kemana?” Tanya manajer Kim menyapukan pandangan ke seluruh studio.


“Mereka menghampiri temannya,” jawab Taeyoung. “teman SMA,” Taeyoung pun menunjuk tiga anak berumur 20 tahun yang beridiri di dekat pintu studio.


“Ah, jinjja?” manajer Kim menatap ketiga artisnya. “aigoo, kenapa tidak ijin dulu sih, bikin khawatir saja,”


Giselle terlihat memeluk sosok yang dari tadi ia cari saat pertama kali menginjakkan kaki di gedung staiun TV ini. Ia memeluk Karina yang bekerja sambilan menjadi salah sau kru TV disana.


“Aaa! Kau semakin cantik, Giselle ah!” Puji Karina sambil melompat-lompat.


“Kau jugaaa!” Puji Giselle balik.


“Lama tidak bertemu, Karina,” sapa Yangyang. “Kau kuliah di kampus yang sama dengan Jeno, ‘kan?”


“Iya, tapi aku juga hampir tidak pernah bertemu dengannya,” jawab Karina sambil melirik Jeno. “kalian sibuk sekali, ya?”


“Ey, aniyaa… kami masih sempat kuliah,” jawab Yangyang rendah hati. “hanya manggung biasa, dan membuat lagu,”


“Uwaa..keren,” ucapnya bertepuk tangan.


“Kau yang sibuk,” giliran Giselle memukul pelan lengan Karina. “karena kerja sambilan ini, kita jadi tidak bisa bertemuuu..”


“Aaa…miann…” Karina mengajak Giselle berpelukkan.


Yangyang kemudian menyenggol lengan Jeno.


“Kau tidak mengatakan sesuatu?” Bisiknya.


“Ha?”


“Dia teman dekatmu, ‘kan?” lanjut Yangyang meminta Jeno untuk bersikap ramah.


Yangyang pun menghela nafas, membiarkan Jeno tidak berbicara satu katapun pada teman lamanya. Setelah mereka asik berbincang-bincang, manajer Kim pun meminta mereka untuk segera kembali ke mobil dan melanjutkan kegiatan mereka selanjutnya. Hendery dan Taeyoung pun melambaikan tangannya pada Karina yang bersiap lanjut kerja bersama kru TV lainnya.


“Karina hya,” panggil Jeno yang berlari ke arah Karina lagi. Ia membiarkan temannya pergi mendahuluinya kembali ke mobil.


Karina yang masih berdiri di tempat yang sama tersenyum melihat Jeno. “akhirnya kau bicara juga. Kupikir kau tidakk mengenaliku,” sindirnya.


“Mian,” ucap Jeno.


“Wae?” Karina memiringkan kepalanya setelah menunggu Jeno yang masih terdiam.


“Sa..sabtu ini, Taeyoung hyung wisuda,”


“Wah.. selamat,” Karina bertepuk tangan pelan.


“A..ani, bukan itu yang mau aku katakan,” Jeno menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.


“Ha? Lalu apa?”


“Setelah datang ke acara wisuda, aku akan menghadiri acara radio di gedung ini,”


“Oke. Lalu?” Tanya Karina. “Mengapa kau menyebutkan jadwal kegiatanmu padaku,”


“Setelah itu… apa kita bisa bertemu?” Tanya Jeno dengan telinganya yang sedikit memerah.


“Ha?”


“A..aku tidak memaksa,” Jeno melambaikan tangannya. “hanya.. kau tau, pertemuan sebagai teman. Aku juga punya voucher kopi di café dekat sini,”


Karina pun mengangguk. “Ok. Setuju,” jawab Karina. “aku akan menghubungimu,”


“O?” Jeno membulatkan mata dan mulutnya.


“Wae? Nomormu ganti?”


“A…Ani. Masih tetap,” Jeno masih menjawab dengan canggung. “aku saja.. aku yang akan menghubungimu,”


“Baiklah,” Karina pun tersenyum manis. “Akan kutunggu,”

__ADS_1


TAMAT.


__ADS_2