THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 19


__ADS_3

Johnny meregangkan badan sambil berjalan menyusuri lapangan sekolah bersama kedua sahabatnya. “Uurgh!” Johnny membuka kedua lengan lebarnya yang mengeluarkan bunyi bagai sendi-sendi yang sedang patah. “Capeknyaa…”


“Hmm..” Yuta menguap lebar bagai singa. “sebentar lagi kita akan memasuki semester 2, sudah pasti kelas selesai lebih malam lagi,”


Taeyoung melirik jam di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Mereka bertiga berjalan lemas setelah selesai mengikuti kelas tambahan di sekolahnya. Langkah kaki mereka terseok-seok bagai ada sebuah batu besar terikat di pergelangan kaki tiga murid kelas 3 itu.


“Sebentar lagi aku harus hidup tanpa klub karate…” Yuta membuang nafasnya sedih. “bosan sekali..”


“Oh, aku kira kau tidak menyukai klub itu,” ucap Johnny seenaknya. “kau ‘kan sering membolos,”


“Hya siapa bilang!” Yuta mencoba mengklarifikasi, “saat ini sebagai sunbae, aku hanya membantu mereka latihan dan memberikan contoh sparing saja. Fokus kami ke para hoobae, makanya aku punya banyak waktu luang,”


“Iya, iya..” Johnny menerima penjelasan Yuta. “hya, tapi akhirnya Taeyoung segera keluar dari klub membosankan itu,” ucap Johnny sambil tertawa.


“Aniyaa, jangan berbicara seperti itu, klub sastra tidak membosankan!” Seru Taeyoung.


“O? Kau mulai menikmatinya?” Yuta ikut menggoda Taeyoung.


“Mm.. setelah kuikuti, kurasa klub sastra tidak buruk,” puji Taeyoung lagi. “aku dapat mengetahui karya sastra yang bagus, dan dapat mendengar puisi-puisi buatan klub sastra,”


“Mwoya, kau sekarang pandai berpuisi?”


“Bodoh,” Taeyoung mendorong Yuta yang merangkul pundaknya. “aku masih belum bisa, pemilihan kata yang digunakan terlalu sulit,”


“Wooo, pria romantis..” goda Yuta lagi yang disambut dengan dorongan lagi oleh Taeyoung.


“Mmm… mungkin klub itu ada gunanya juga, kau menjadi puitis,”


“Hyaa,” kini Taeyoung mendorong Johnny yang ikut menggodanya. “diam kalian,”


“Hahaha. Bercanda…” Johnny kini merangkul pundak Taeyoung. “maksudku, kau bisa gunakan ilmu itu untuk menulis lirik lagu, bagaimana?”


Taeyoung terdiam mendengar usulan Johnny. Taeyoung sudah pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Selama berada di klub sastra, ia dikelilingi oleh murid dengan keahlian bersyair dan memiliki pengetahuan mengenai berbagai diksi yang bagus. Taeyoung cukup belajar banyak dari klub itu. Walaupun ia belum pernah sama sekali menghasilkan karya, namun ia telah belajar begitu banyak dari klub yang menampungnya setelah dirinya keluar dari klub band itu.


“Oh, Taeyoung ah, lihat ini,” Yuta tiba-tiba berlari setelah mencabut poster yang tertempel di sebuah papan pengumuman di taman.


“Hya, kenapa kau seenaknya saja mencabut kertas itu?!” Seru Johnny dengan gerakan seperti akan menendangnya.


Taeyoung kemudian meraih kertas poster berwarna warni itu. Ia membaca setiap tulisan di sana. Itu adalah suatu pengumuman mengenai lomba band antar SMA yang akan diadakan di Seoul dengan waktu sekitar 3 minggu lagi. Taeyoung membaca setiap tulisan disana dengan seksama. Pendaftaran peserta tinggal dua hari lagi.


“Berikan ini pada Hendery,” Taeyoung mengulurkan tangannya yang sedang membawa poster itu.


Johnny dan Yuta pun bertukar pandang dan menjawab kompak. “Tidak mau,”


“Hya..” Taeyoung terdengar kesal pada kedua temannya yang menolah permintaannya.


“Berikan sendiri. Mengapa harus kami?”


“Benar,” angguk Johnny menyetujui penolakan Yuta. “berikan sendiri pada Hendery. Ajak dia untuk ikut perlombaan ini,” Johnny menunjuk-nunjuk kertas di tangan Taeyoung. “kudengar kalian sudah baikan,”


“Ck, yasudah,” dengan kesal, Taeyoung menyimpan poster itu ke dalam tas nya.


...****************...



“Eh?” Jungwoo menunjuk dirinya. Ia kini sedang berdiri di depan kelasnya bersama dengan Jaehyun yang merangkul pundaknya pada Jungwoo untuk ikut membaca poster yang kini dipegang oleh Jungwoo setelah Taeyoung menyerahkan poster itu padanya.


“A..aku menemukannya,” Taeyoung menggaruk tengkuknya. Ia yang masih keras kepala tidak mau memberikan poster itu kepada Hendery, ia malah memberikan poster itu pada salah satu anggota broadcasting yang cukup dekat dengannya. “tempel poster ini di mading,”


“Waeyo? Bukankah sebaiknya hyung menyerahkan poster ini ke klub band langsung?” Tanya Jaehyun penasaran dengan perintah Taeyoung.


“H..hya, ini agar banyak murid yang melihat, tidak hanya klub band saja,” jawab Taeyoung yang dapat memutar otaknya dengan cepat. “murid lain yang ikut membaca poster ini ‘kan bisa datang sebagai pendukung,” lanjutnya beralasan.


“Ooh..” Jaehyun dan Jungwoo mengangguk bersamaan.


“Mading di dekat pintu masuk?” Jungwoo memiringkan kepalanya, membayangkan letak mading-mading yang tersebar di seluruh sekolah. Ia kemudian memandang Jaehyun untuk meminta rekomendasi.


“Di belakang sekolah juga ada mading, yang di dekat aula olahraga itu,” ucap Jaehyun ikut berpikir.


“Hya hya, letakkan saja di mading kantin,” usul Taeyoung yang sudah merencanakan penempelan poster itu. “disana paling ramai,”


“Oh tapi disana sudah ada pengumuman…”


“Pokoknya di mading kantin!” Taeyoung agak meninggikan suaranya. Membuat teman-teman Jungwoo yang sedang berlalu-lalang terdiam.


“Hyung…”


“Mian,” ucap Taeyong merasa bersalah pada Jungwoo yang tersentak kaget.


...****************...


Benar dugaan Taeyoung, poster itu akan lebih terlihat jika ditempel di mading dekat kantin, karena banyak murid yang akan berlalu-lalang melewati mading itu. Jungwoo dengan suka rela melepas beberapa hiasan mading agar poster itu muat tertempel disana. Dengan menyela beberapa gerombolan yang berdiri di depan mading, Jeno berhasil memotret poster itu dan mengirimnya ke grup chat yang beranggotakan anggota inti klub band.


“Mwoya, besok hari akhir pendaftarannya?” Chat dari Giselle muncul, mengawali percakapan yang membahas poster itu.


“Wah, lomba grup band antar SMA? Sepertinya seru!” Ketik Yangyang diakhiri dengan stiker penuh semangat.


“Oppa, apa kita akan ikut?”


“Anggota lain juga bisa ikut, ‘kan?” Chat Yangyang muncul dengan cepat. “kalau banyak peserta dari sekolah ini ikut, kemungkinan menang akan semakin tinggi! Haha,”


“Ide bagus! Total kelompok band di klub kita ‘kan ada 4,” Giselle ikut menimpali dengan diakhiri stiker kelinci yang sedang tertawa.


“Hyung, bagaimana?” Tanya Jeno.


Percakapan tadi membuat Hendery mengajak Yangyang, Giselle dan Jeno berkumpul di ruang klub band. Hendery sudah mengirim poster itu ke grup chat klub band dan bertanya keikutsertaan mereka pada perlombaan itu.


“Banyak yang belum siap…” Giselle menghela nafas membaca chat di grup mereka yang masih bergerak naik.


“Berlatih selama 3 minggu bukanlah hal mudah,” Hendery membaca lagi poster hasil jepretan Jeno. Ia membaca satu persatu persyaratan yang harus dilakukan untuk dapat menjadi peserta lomba.


“Sepertinya tidak ada yang bersedia, hyung,” tebak Yangyang setelah membaca chat anggota band yang pesimis dengan ajang lomba itu.


“Ya sudah, kalau begitu, kita saja,” Hendery menyaku HP nya dan bertepuk tangan satu kali, tanda memberi semangat.


...****************...


Taeyoung terlihat berjalan sendirian sambil terlihat berhati-hati. Ia terus memandang kanan dan kiri seperti berharap tidak ada yang menyadari sosoknya disana. Langkah kaki Taeyoung semakin dekat dengan mading sekolah. Mading di dekat kantin itu tampak sepi karena jam pulang sekolah bagi murid kelas 1 dan 2 telah berbunyi. Taeyoung mengeryitkan dahinya dan berjalan semakin dekat dengan mading.


“Mwoya?! Dimana poster itu?!” Seru Taeyoung bingung. Ia menempel-nempelkan tangannya ke seluruh permukaan mading. “aku yakin tadi siang Jungwoo sudah menempelkan poster ini..”


Taeyoung kemudian berlari cepat menuju gedung yang cukup jauh dari lokasinya sekarang. Gedung itu adalah gedung yang digunakan sebagai tempat seluruh ruang klub sekolah. Ia berlari semakin cepat menuju lantai tiga dan menghampiri ruangan yang berada di paling ujung.


DRAP DRAP DRAP


GREEKKK!


“Oh!”Johnny yang berdiri dibalik pintu menoleh kaget memandang temannya yang membuka pintu ruang klub band secara tiba-tiba.


“Baru saja kami membicarakanmu,” ucap Yuta yang juga ada di dalam ruangan itu.


“Hya, kalian berdua hh…hh…” Taeyoung memasuki ruangan yang sudah penuh dengan anggota band Hendery dan kedua temannya. Nafasnya masih tak beraturan usai berlari cukup jauh.

__ADS_1


“Kau mencari ini?” Johnny mengangkat poster yang dicari Taeyoung di mading tadi.


“Hya! Hhh…hh.. mengapa kau ambil?!”


“Aku yang seharusnya bertanya mengapa poster ini ada disana,” Johnny menatap bingung pada Taeyoung yang sedang menyeka keringatnya. “bukankah kau ingin memberikan ini pad…..Aw!!”


Taeyoung berhasil menginjak kaki Johnny tanpa sepengetahuan Hendery dan seluruh adik kelasnya.


“Hya,” Taeyoung merebut poster itu dari tangan Johnny. Ia lalu menyenggol badan Johnny dan Yuta agar dapat berhadapan langsung dengan Hendery. “kau akan ikut ini?” Tanya Taeyoung yang sedang sambil menghadapkan poster itu pada Hendery.


“Eh? Mm, ne, kami akan ikut,” jawab Hendery sambil menunjuk anggotanya. “anggota kami yang lain masih belum siap,”


“Oh, baguslah kalau begitu,” Taeyoung menurunkan tangannya, ia lega karena Hendery sudah melihat poster lomba band itu. “segera daftarkan diri kalian, ini ada nomor..”


“Yong ah,” Yuta menyela perintah Taeyoung yang ia tujukan pada adik kelasnya. Taeyoung pun diam dan menatap Yuta. “bagaimana kalau kau ikut?”


“Mwo?” Taeyoung mengeryitkan dahinya.


“Iya,” badan Johnny yang tinggi besar itu merangkul pundak Taeyoung. “tadi sebelum kau kemari, kami sempat usul pada mereka untuk mengajakmu bermain sebagai anggota band,”


“Hya lepaskan,” pinta Taeyoung yang tidak bisa menahan berat lengan besar Johnny.


“Ayolah, sudah lama aku tidka melihat mu bermain gitar,” Johnny tetap merengek pada Taeyoung.


Melihat tingkah jahil Johnny, Yuta pun mengikuti. “Ayolah Yong ah..”


Yangyang, Giselle dan Jeno menahan senyumnya melihat tingkah Johnny dan Yuta kepada Taeyoung. Mereka berusaha menyembunyikan giginya yang mulai terlihat.


“Hyung..” Hendery ikut membuka suara.


“Mmm… Jeno akan bermain bass di lagu yang akan kami tampilkan. Jadi… kurasa band kami akan lebih lengkap jika ada permainan gitar darimu,”


“Tuh kan!”


“Suaramu terlalu kencang,” Taeyoung memukul pelan Yuta yang tiba-tiba berteriak di samping Taeyoung.


“Ayolah… hyung,” Yangyang ikut memohon sambil membulatkan matanya dengan pacaran penuh harap. Hendery sedikit menyenggol Yangyang karena ia sudah memanggil Taeyoung dengan sebutan ‘hyung’ tanpa diminta.


“K..Kumohon…op..pa,” Giselle mengikuti gerakan Yangyang. Ia juga tidak ragu memanggil Taeyoung akrab dengan sebutan ‘oppa’.


“Hya.. lihat mereka,” Johnny menunjuk Giselle dan Yangyang yang semakin mengeluarkan ekspresi iba yang dibuat-buat sehingga membuat Taeyoung menahan tawanya.


“Baiklah,”


“Ne?!”


“Aaaa! Benarkah, oppa?!”


“Hya Taeyoung ah!!”


Seruan kegembiraan itu terdengar keras dan kompak. Mereka semua tidak percaya bahwa Taeyoung akan membantu klub band untuk mengikuti perlombaan yang diadakan dalam waktu kurang dari satu bulan.


...****************...


“Hyung,” panggil Ten, sang anggota osis, pada Doyoung yang sedang memasuki ruang osis.


“Hmm?”


Ten memberikan selembar kertas pada Doyoung. “Apa ini? Apa ada rapat? Aku ada kelas malam,”


“Aniyeyo, hyung,” Ten tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Ini dari klub band,”


“Mwo?!”


Ten yang tahu bahwa Doyoung selalu tertarik dengan perkembangan klub band, membiarkan Doyoung menarik cepat kertas itu dari tangan Ten. Doyoung pun membacanya. Itu adalah surat ijin yang diajukan oleh anggota band Hendery dengan alasan mengikuti perlombaan band. Mereka ijin untuk tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada hari Jumat itu.


“Hyung, baca lagi namanya,” pinta Ten, memancing rasa penasaran Doyoung.


“Hmm? Wae?” Doyoung pun membaca ulang nama murid yang mengajukan ijin di hari jumat pada 3 minggu lagi. “Hendery, Yangyang, Giselle, Jeno,….. Taeyoung?!” serunya. “Ada Taeyoung?!”


“Ne hyung, aku juga kaget, hehe,”


“Mwoya? Dia kembali ke klub band?”


...****************...



Yangyang, Giselle dan Jeno otomatis membuka mulutnya dan mematung. Mereka berdiri di hadapan Taeyoung yang sedang memainkan gitar melodynya. Jari-jemari Taeyoung yang bergerak begitu cepat itu membuat ketiga anggota band itu kagum.


“Wuaah…”


Mereka bertiga bertepuk tangan kompak.


“Keren sekali..” Jeno menggelengkan kepalanya melihat permainan gitar Taeyoung yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


“Ey, sudahlah, kalian membuatku malu,” ucap Taeyoung sambil menyembunyikan senyumnya di tundukan kepalanya. “cepat kembali ke posisi,” pinta Taeyoung pada ketiga hoobaenya.


Setelah memutuskan dua lagu yang akan mereka tampilkan pada perlombaan itu. Mereka pun rutin berlatih hampipr setiap hari. Pada hari Kamis, mereka membiarkan ruang latihan dipakai penuh oleh para anggota baru. Namun selain hari itu, Taeyoung bahkan menyempatkan diri berlatih selama satu jam pada jam pelajaran terakhir sebelum ia mengikuti pelajaran tambahan.


Taeyoung juga beberapa kali melatih Jeno yang semakin berkembang dalam permainan bassnya. Ia juga memberikan saran pada Giselle mengenai pilihan makanan yang akan membantu menjaga kualitas suara Giselle. Perasaan Hendery semakin gembira melihat keaktifan Taeyoung pada klub bandnya. Sampai saat ini Taeyoung memang belum mendaftarkan diri sebagai anggota band, namun kehadirannya kembali di dalam band sudah cukup membuat Hendery senang.


“Ssaem!” Suara Giselle membuat seluruh anggota band terdiam dan mengarahkan pandangan pada pintu ruangan.


“Annyeooong,” sapa Kang ssaem yang tersenyum gembira hingga mata kecilnya berbentuk seperti bulan sabit. Ia sedikit menari-narikan langkahnya menghampiri Giselle.


“Annyeong haseyo,” semua murid Kang ssaem membungkuk hormat.


“Mulai sekarang, aku menjadi guru pembina klub band,” ucapnya.


“Waaa…” Giselle dan Yangyang bertepuk tangan bersamaan.


“Aku juga akan melatih vocalmu, Giselle ah,”


“Gamsahamnida, ssaem!” Giselle tersenyum riang dan membungkuk lagi.


“Gamsahamnida, ssaem,” Hendery muncul dari balik peralatan drumnya. Ia lalu menjulurkan tangannya pada Kang ssaem untuk mengajak gurunya bersalaman. “saya ketua klub band, mohon bantuannya,” ucapnya sambil tersenyum pada guru yang sering ia ajak bercanda itu.


“Oh, ne, ne, Hendery ah,” Kang ssaem menjabat erat tangan Hendery. “ssaem juga, mohon bantuannya. Ahahaha,”


“Oh ya, ssaem,” Hendery kemudian memundurkan langkahnya untuk menunjuk Jeno dengan telapak tangannya. “Ini Jeno, dari kelas 1, jurusan Teknik Komputer,”


“Annyeong haseyo, Jeno imnida,” sapa Jeno memperkenalkan diri pada guru yang tidak ia kenal.


“A iya, aku masih ingat padamu,” Kang ssaem menjabat tangan Jeno dan menepuk-nepuk pundaknya. “kau yang membawa banyak fans pada acara kemarin, ‘kan?” Goda Kang ssaem yang masih ingat kericuhan yang ditimbulkan oleh penggemar Jeno di acara ulang tahun sekolah kemarin.


“Kalau yang ini Taeyoung hyung, dari kelas 3 jurusan Ilmu Sosial,” Hendery lanjut memperkenalkan anggotanya pada guru di jurusan Musik nya itu.


“Annyeong haseyo, Taeyoung imnida,”


Kang ssaem menatap Taeyoung seolah telah mengenalnya lama. Tanpa berkata apapun, Kang ssaem memeluk erat Taeyoung. Badan besar Kang ssaem sedikit membuat Taeyoung sesak. Kang ssaem kemudian menepuk-nepuk punggung Taeyoung dengan tepukan yang cukup kuat yang semakin menyiksa Taeyoung.


“Aigoo…muridku yang malang” ucapnya pelan hingga hanya dapat didepangar oleh Taeyoung.

__ADS_1


Kang ssaem lalu menyudahi pelukannya dan menatap Taeyoung lagi. Dilihat dari tingkahnya, Taeyoung menyadari bahwa Kang ssaem mengerti kejadian yang Taeyoung alami satu tahun lalu. Kang ssaem masih menepuk lengan kanan dan kiri Taeyoung seolah memberinya semangat.


“Ssaem, Taeyoung hyung kesakitan…” ucap Hendery yang membaca ekspresi Taeyoung.


“Oh benarkah?” Mata Kang ssaem terbuka lebar. “Ahahaha! Mian, mian!”


...****************...



Angin musim panas di bulan Juli mengiringi langkah Taeyoung berjalan membawa tas punggung besarnya menuju sekolah. Suasana hari ini sangat berbeda dengan satu tahun lalu. Hari ini adalah hari dimana Taeyoung mengikuti perlombaan yang diadakan di pinggir kota Seoul. Taeyoung tidak menyewa mobil seperti yang ia lakukan dulu. Kali ini, ia melakukan perlombaan sesuai prosedur sekolah; mereka berangkat bersama guru pembina dengan menggunakan mini bus sekolah, dan sebelum itu, beberapa guru serta ketua osis akan hadir di sekolah untuk ikut melepas keberangkatan tim band.


Doyoung memberikan lambaian tangan pada Taeyoung yang sudah terlihat dari balik gerbang. Taeyoung kemudian berlari kecil menghampiri anggota bandnya dan beberapa guru yang sudah hadir di sekolah. Taeyoung melihat mini bus yang sudah lama tidak ia tumpangi. Mini bus itu terlihat begitu bersih dan menyisakan banyak kenangan bagi Taeyoung.


Hendery, Yangyang, Giselle, Jeno dan Taeyoung berjajar rapi menatap beberapa guru jurusan Musik, Kang ssaem dan Doyoung yang berdiri di hadapannya. Seorang guru sedang memberikan petuah dan menyemangati klub band. Mereka juga melakukan doa bersama.


Anggota band mulai memasukkan gitar dan bass ke dalam mini bus sekolah. Hendery, Yangyang, Giselle dan Jeno yang belum pernah menaiki bus itu terdengar cukup ribut dan berebut tempat duduk.


“Taeyoung ah,” Doyoung menepukkan tangannya pada pundak Taeyoung yang hendak berjalan menuju arah pintu bus.


Taeyoung menoleh menatap Doyoung.


“Gomawo,” ucap Doyoung.


“Apanya?”


“Hendery..” Doyoung menunjuk Hendery dengan bola matanya yang bergerak. “ia terlihat senang sekali,”


“Haha, ckck.. anak itu,”


“Aku tahu kau masih suka bermain gitar,”


Taeyoung hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan setuju dengan perkataan Doyoung.


“Nah, seperti biasa,” ucap Doyoung mengakhiri percakapannya. “nikmati permainanmu, kau tidak harus menang, hanya lakukan yang terbaik,”


Taeyoung tertawa kecil. “Perkataan Kim ssaem,” komentarnya pada nasihat Doyoung dengan menyebutkan mantan guru pembina klub band.


“Ya. Haha, aku menirunya,”


...****************...


“Hya hya! Lihat di kanan!” Seru Kang ssaem yang duduk di depan berdampingan dengan sopir bus.


Perjalanan selama hampir dua jam membawa mereka ke lokasi perlombaan di pantai Daecheon, sebuah pantai barat di Korea Selatan. Semua mata anggota band terpana melihat pantai yang cukup ramai dengan deburan ombak yang bergerak maju mundur menyapu pinggir pantai.


“Woooaahhhh…” decak kagum terdengar dari para murid yang berada di dalam mini bus.


“Wah, sudah lama aku tidak ke pantai…” gumam Jeno.


“Ssaem, setelah lomba, apa kita boleh bermain?” Tanya Hendery dengan mengeraskan suaranya karena ia duduk di kursi belakang bus.


“Ey, andwae. Acara akan selesai sampai malam, kalian harus segera pulang,” tolak Kang ssaem.


“Yaah ssaem…”


“Kalau sebelum lomba?” Usul Yangyang. “Kita kan tiba lebih awal ssaem…”


“Hya andwae,” kali ini Giselle yang menolak. “nanti make-up kalian luntur! Sia-sia nanti usahaku,”


Kang ssaem tertawa mendengar penolakan Giselle diikuti dengan nada kecewa teman-temannya. “yah, kalian tidak boleh main berlebihan, kasihan Giselle,”


Perlombaan yang mereka ikuti akan dimulai pukul 5 sore. Mini bus pun sudah terparkir rapi di lokasi. Giselle menyapukan pandangan ke sekeliling lahan parkir. Banyak mobil van dan mini bus sudah terpakir rapi disana. Giselle juga melihat beberapa segerombolan anak muda berlalu lalang dengan membawa gitar.


“Hmmm…. Bau laut!” Seru Hendery sambil memejamkan matanya sedetik setelah ia turun dari mini bus sekolah.


“Banyak juga peserta lombanya,” komentar Giselle yang sudah beberapa kali melihat para peserta lomba yang berasal dari SMA lain.


“O. Pengunjungnya juga banyak,” ucap Yangyang yang berjalan disamping Giselle, ia memandang sederet orang yang sudah ramai di pantai.


“Itu karena acaranya gratis,” sahut Jeno dengan tas gitar yang sudah bertengger di punggungnya. “orang-orang bisa bermain di pantai sambil menonton pertunjukan band, acara yang menarik..”


Kang ssaem memimpin murid-muridnya menuju panitia acara untuk mendapatkan nomor urut tampil. Kang ssaem juga mengamati keadaan sekitar panggung yang sudah dipenuhi oleh murid-murid SMA yang datang bersama dengan guru mereka. Para guru terlihat menenangkan dan memberi petuah pada murid-murid yang terlihat gugup.


Setelah mendapat nomor urut yang bertuliskan ‘6’ pada sticker yang ia terima dari panitia, Kang ssaem siap berjalan kembali ke arah murid-muridnya untuk menyerahkan nomor itu pada Giselle untuk ia tempelkan nomor itu pada bajunya.


“Wah, Taeyoung ah,” ucap Kang ssaem pada Taeyoung yang berjalan menghampiri Kang ssaem bersama para hoobaenya. “aku tidak bisa membayangkan bagaimana perlombaanmu dulu,”.


Taeyoung sedikit tersentak dengan tepukan tangan Kang ssaem yang mendarat di bahu kirinya. “Ne, ssaem?”


“Kalian dulu pergi mengikuti perlombaan sendirian, ‘kan? Tanpa pendampingan siapapun,” jelas Kang ssaem, membahas kejadian band Taeyoung.


Taeyoung mengingat kejadian yang sudah cukup lama itu. Benar juga, ia dulu berangkat tanpa pendampingan siapapun, bahkan mereka berangkat tanpa menggunakan bus sekolah. “Ah, ne..”


“Hebat sekali,” puji Kang ssaem sambil menepuk-nepuk lagi pundak Taeyoung dengan tangan kuatnya.


Taeyoung kemudian menoleh menatap seluruh hoobaenya yang masih sibuk berbicara sambil berjalan menghampirinya. Mereka terlihat tertawa dan asik sendiri dengan pembicaraannya. Hendery yang sedari tadi terfokuskan untuk bermain di pinggir pantai juga terlihat senang sambil menunjuk-nunjuk pantai yang membentang luas di hadapan mereka.


Taeyoung kemudian memunculkan senyum pahitnya sambil menunduk. “Hh.. seperti ini seharusnya lomba terakhir yang kuikuti bersama ‘mereka’,” ungkapnya dalam hati, ia cukup iri dengan keadaannya saat ini dibandingkan saat ia mengikuti perlombaan di Kota Paju satu tahun lalu. Kala itu seluruh anggota band Taeyoung berusaha mengikuti perlombaan dengan susah payah dan tanpa dukungan sekolah, dan pahitnya lagi, perlombaan itu berakhir menyedihkan.


Waktu sudah semakin malam. Beberapa band sudah menampilkan pertunjukannya diatas panggung megah yang penuh dengan lampu warna-warni. Para pengunjung pun semakin ramai. Banyak yang datang untuk melihat pertunjukan perlombaan band yang diikuti oleh murid-murid SMA Kota Seoul, maupun datang hanya untuk menikmati pantai di malam hari.


“Nah, sini,” Taeyoung memimpin anggotanya untuk berkumpul.


Hendery, Yangyang, Giselle dan Jeno yang belum pernah bermain band di depan banyak orang seperti hari ini terlihat gugup hingga mereka tidak sadar bahwa band dengan nomor urut lima, hampir selesai menyanyikan lagu.


Taeyoung mengajak seluruh anggotanya berdiri melingkar.


“Haha, wae?” Taeyoung tertawa menggoda hoobaenya yang memasang wajah gugup yang lucu. “gwaenchana, tarik nafas… buang…” aturnya.


“Oppa..” Giselle menurunkan ujung bibirnya seperti meminta pertolongan.


Taeyoung kemudian melebarkan lengan kanan dan kirinya untuk merangkul bahu Hendery dan Jeno yang berdiri di sebelahnya. “Gwaenchana, hari ini akan menyenangkan. Seperti saat kalian tampil di acara sekolah kemarin,” lanjut Taeyoung menenangkan. “Tidak usah terbebani untuk menang, nikmati saja permainan kalian, ok? Lakukan yang terbaik,” ucap Taeyoung dengan menggunakan perkataan Kim ssaem yang masih membekas diingatannya setiap ia akan mengikuti perlombaan bersama dengan anggota bandnya.


“Nah, anak-anak,” Kang ssaem muncul setelah seorang panitia berbicara dengannya. “ayo naik, ini giliran kalian,”


Seluruh adik kelas Taeyoung yang sedang membuat lingkaran untuk berdoa bersama terlihat kaget. mereka mengatur nafasnya dan Jeno mempersiapkan tangannya agar kering dari keringat dingin yang biasa muncul saat dirinya gugup.


“Lakukan yang terbaik! Hwaiting!” Seru Kang ssaem pada seluruh murid bimbingannya.


“Woaaahhhhhh…”


Seluruh anggota band Hendery dapat mendengar suara sambutan dan tepuk tangan penonton yang sesaat setelah mereka naik ke atas panggung. Mereka tidak meyangka bahwa acara band yang diperuntukan untuk umum akan menarik begitu banyak orang.


Ke-enam anggota band itu kemudian menunduk memberi salam. Yangyang tersenyum menyadari bahwa ada beberapa followers instagramnya hadir diantara para penonton malam hari ini. Mereka terdengar meneriakkan nama Yangyang, Giselle, Jeno bahkan Hendery yang semakin terkenal berkat kegiatan live Yangyang melalui akun instagramnya.


“Annyeong haseyo, kami dari sekolah Seo Seoul High School,” sapa Giselle. Ia kemudian tersenyum tersipu malu saat para penonton menyorakinya riang sambil bertepuk tangan. Giselle kemudian mengangkat tangannya untuk membentuk angka 3-2-1.



Musik diawali oleh permainan gitar Taeyoung dan keyboard dari Yangyang. Kali ini mereka membawakan lagu dengan genre K-rock yang berjudul ‘Stand up’ oleh J-min Feat. T-Rax. Giselle mencoba bernyanyi dengan melihat seluruh penonton yang menikmati pertunjukkannya. Ketiga juri yang duduk di depannya, terlihat mengangguk angguk mengikuti alunan lagu yang merupakan lagu penyemangat dalam menjalani hidup dan menggapai mimpi. Giselle cukup kaget karena nada tinggi yang diambilnya dapat ia lantunkan dengan mudah. Kang ssaem berperan besar dalam melatih suara Giselle, Kang ssaem tersenyum lega dan bertepuk tangan keras saat Giselle dapat melantunkan nada tinggi yang ia tunggu-tunggu.


“Woooooohhhh….”

__ADS_1


Penonton menyoraki mereka dan memberikan tepuk tangan saat lagu selesai mereka mainkan. Seluruh anggota band tersenyum sedang dan memberikan hormat kepada para juri dan penonton


...****************...


__ADS_2