THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 24


__ADS_3

“Hya, lagi..” Giselle menarik lengan Jeno yang sedang ia manfaatkan untuk menjadi tongkat selca.


“Lagi? Kita sudah berfoto lebih dari 3 kali,” Seru Jeno protes.


“Aniya, tapi jelek semua,” ucap Giselle kesal.


“Sini-sini, coba aku saja,” Taeyoung mengadahkan tangannya untuk mengambil HP Giselle.


“Mwoya..” Kang ssaem datang membawa 5 botol air mineral. “kalian tidak gugup?” Tanyanya.


Seluruh anggota klub band pun tersenyum dan saling bertukar pandang. Kini mereka berada di belakang panggung perlombaan band dalam memperingati Chuseok yang akan jatuh dalam 5 hari lagi. Seluruh anggota band tidak terlihat panik seperti dulu. Mereka dengan santainya berbicara dan saling bercanda satu sama lain.


“Mungkin karena kami sudah pernah membawakan lagu ini,” tebak Hendery.


“Oh yang di panti itu ya?” Tanya Kang ssaem yang masih ingat cerita murid binaannya saat mereka berkunjung ke panti asuhan bersama klub charity.


“Ne,” angguk Yangyang. “seharusnya Kang ssaem ikut, disana seru sekali,”


“Haha. Syukurlah kalau kalian menikmatinya,” Kang ssaem membukakan sebuah botol air mineral dan memberikannya pada Giselle.


“Gamsahamnida,” Giselle mengambil botol itu dan segera meminumnya.


“Tetap lakukan yang terbaik, dan n…”


“Nikmati permainanmu,” sahut Yangyang, Jeno, Hendery dan Taeyoung.


“Ahahaha! Sampai hafal!” Seru Giselle yang hampir tersedak mendengar anggotanya menyelesaikan kalimat Kang ssaem.


“Ahaha, ya.. ya.. kalian sudah tahu,” Kang ssaem tertawa sambil menepuk bahu Taeyoung dan Hendery yang ada di kanan dan kirinya.


...****************...


Taeyoung menatap mading yang dipajang di dekat pintu masuk utama. Ia kagum dengan kecepatan informasi yang dimiliki klub broadcasting. Pada mading itu, sudah terpampang berita bahwa klub band dari sekolah Seo Seoul memenangkan juara 3 dalam High School Indie Band Chuseok Festival yang diadakan hari Sabtu lalu.


“Yooo!” Sundulan keras diterima oleh Taeyoung dari arah sampingnya.


“Yuta hya!” Seru Taeyoung.


Yuta tak menghiraukan suara kesal Taeyoung. Ia membaca berita yang tertempel pada mading itu. “heol, menang lagi?” Tanyanya sambil menunjuk mading dihadapannya.


“Juara 3,” ucap Taeyoung membenarkan.


“Ya itu ‘kan menang,”


“Iya sih..” gumam Taeyoung.


“Chukae!” Yuta berjalan sambil merangkul bahu Taeyoung. “Ini dari lagu buatanmu itu?”


“Lepaskan..” Taeyoung melepas rangkulan tangan Yuta dan memukul pelan punggungnya. “buatanku dan yang lainnya,” ia mengoreksi lagi ucapan Yuta.


“Yah pokoknya….selamaaatttt!!” Seru Yuta yang kini memeluk badan Taeyoung hingga ia kesulitan bernafas.


...****************...


PLOK PLOK PLOK


Giselle dan Yangyang tampak malu-malu saat akan kembali ke kursinya. Mereka barusaja datang dari klub broadcasting untuk melakukan siaran langsung mengenai perlombaan yang mereka ikut kemarin.


Haechan, Minjeong, serta beberapa murid kelas 1-3 bertepuk tangan menyambut kedatangan Yangyang dan Giselle.


“Cieee…” goda Haechan.


“Diam kau,” Yangyang tersenyum lebar sambil mendorong badan Haechan.


Minjeong yang duduk diatas meja Giselle menatap erat Giselle yang kembali duduk di kursinya. “Kemarin aku lihat loh perlombaannya, ‘kan ada di TV lokal,”


“Ya. Aku juga lihat,”


“Aku juga,”


Beberapa teman sekelas Giselle ikut menyahut.


“Lagunya keren sekali, Giselle ah,” Minjeong mengangkat jempolnya.


“Jujur aku lebih suka lagu kalian, dari pada yang juara 1,” celetuk Haechan. “jinjja hya, aku tidak melebih-lebihkan,” ungkapnya sambil membentuk angka dua pada jarinya.


“Ey, gwaenchana. Mereka mendapat juara 1 karena ada yang lebih unggul dari kita,” Giselle mengibaskan tangannya.


“Juara 3 juga bagus,” ucap Yangyang sambil mengeluarkan tabletnya dari tasnya. “seharusnya, kalian lihat yang ini,”


Seluruh teman Yangyang mendekatkan diri pada layar tab miliknya. Yangyang kemudian menyetel penampilan bandnya yang sedang membawakan lagu buatan mereka, ‘I’, di acara panti asuhan beberapa minggu lalu.


“Wuaah..”


Decak kagum teman-teman Yangyang terdengar kala mereka melihat anak-anak di acara itu bersorak antusias bahkan bernyanyi bersama mengikuti suara Giselle.


“Daebak, aku merinding,” komentar Minjeong sambil mengelus lengannya.


“Wooohooo..!”


Suara seruan pihak panti dan klub charity yang ramai, terdengar dari speaker tab Yangyang yang bervolume cukup kencang. Haechan otomatis ikut bertepuk tangan melihat penampilan temannya yang sempat direkam itu.


“Keren..” puji Haechan.


“Akan segera aku upload di akunku, hehe,” Yangyang tersenyum senang sambil memencet-mencet layar pada tabnya.


“Banyak sekali anak-anaknya,” Minjeong masih kagum dengan suasana panti yang ia lihat melalui layar tablet Yangyang.


“Mm,” angguk Giselle. “yah sekitar 20 orang. Ada yang seumuran dengan kita juga,”


“Ah, kau harus melihat penampilan Hong ssaem, guru teater kita,” celetuk Yangyang yang masih punya tontonan seru untuk temannya.


“Hong ssaem?” Minjeong mem-beo.


Yangyang lalu menyetel tampilan pantomim dan sulap yang dilakukan Hong ssaem.


Pantomim yang guru mereka tampilkan begitu lucu hingga teman-teman Yangyang ikut tertawa dan bertepuk tangan sambil menatap tablet Yangyang.


...****************...


Semenjak perlombaan itu, Taeyoung sudah bukan menjadi anggota klub manapun. Sebagai murid kelas 3, ia sudah tidak bisa mengikuti kegiatan klub dan harus fokus pada ujian masuk perguruan tinggi yang akan ia ikuti pada bulan November tahun depan.


Taeyoung sudah tidak lagi datang ke gedung klub sekolah yang berada cukup jauh dari gedung departemen Ilmu Pengetahuan miliknya. Kegiatannya hanya ia penuhi dengan belajar hingga larut malam.


Hendery dibantu oleh Giselle, masih disibukkan dengan kegiatan klub band; yaitu menangani jadwal latihan klub band yang rutin dilakukan setiap hari Kamis. Hendery merasakan banyaknya peningkatan kemampuan bermain musik yang dialami oleh seluruh anggota klub.


Kang ssaem juga tidak hanya melatih Giselle saja. Kini ia melatih seluruh murid yang tertarik menjadi seorang vocalist di klub band ini.


Beberapa band yang dibentuk dalam klub band sudah ada yang berani mengikuti perlombaan band antar sekolah. Terkadang, saat ada salah satu anggota band yang masih belum percaya diri dengan penampilannya, baik Yangyang, Giselle, Hendery maupun Jeno, siap menjadi anggota pengganti.



“Sudah kuduga kau ada disini,” dengan santai, Johnny masuk ke ruang klub band bersama Yuta.


Mereka menemukan teman yang sedari tadi mereka cari. Taeyoung terlihat sedang duduk santai di sofa ruang klub band sambil memangku gitar akustik yang sedari tadi ia mainkan. Ruangan itu tampak sepi. Seluruh murid kelas dua dan satu sudah pulang dari tadi. Taeyoung sengaja meminta Hendery untuk tidak mengunci ruangan, agar ia dapat bersantai sebelum kembali ke kelas untuk mengikuti jam malam.


“Diluar turun salju pertama, loh,” ucap Johnny sambil berjalan menuju lemari piala milik klub band. “tidak mau lihat?”


Taeyoung tertawa, menunjukkan giginya, “Mengapa aku harus lihat salju pertama denganmu? Haha,”


Johnny terlihat memajukan bibirnya kesal, ia lalu lanjut mengamati piala-piala baru yang menghiasai lemari klub band.


“Aigoo…” Yuta ikut duduk dan menyandarkan punggungnya pada sofa empuk itu. “baru beberapa minggu meninggalkan klub band, sudah kangen main gitar?” Godanya.


“Haha..” Taeyoung tertawa garing sambil tetap menempelkan jari jemari kirinya pada senar gitar. “sudah lama aku tidak ke ruangan ini,”


“O. Aku juga begitu,” ucap Johnny yang tiba-tiba membalik badannya menatap Taeyoung, setelah sedari tadi ia melihat piala-piala baru yang ada di dalam lemari klub band. “sudah lama sekali aku tidak bermain basket, aigoo..” lanjut Johnny mendramatisir keadaannya sambil memutar-mutar bahu kanannya.


“Aku biasa saja,” celetuk Yuta.


“Kau ‘kan sering bolos latihan,” sambar Taeyoung tanpa melihat Yuta yang sedang duduk di kanannya.

__ADS_1


“Aniya..” Yuta mendorong badan Taeyoung ke samping.


“Taeyoung ah, kau sudah ke ruang BK ‘kan?” Tanya Johnny yang kali ini duduk di kursi dibelakang keyboard. “hanya kau saja yang belum mengumpulkan,”


Taeyoung menjawab dengan gelengan kepala. “Besok aku dipanggil ke BK,”


“Sudah seminggu, kau masih belum memutuskan?” Yuta mendorong lagi badan Taeyoung. “pilih saja satu, daripada harus bicara dengan guru BK,”


“Hya, itu ‘kan angket untuk masa depan, mana bisa kau isi asal-asalan,” ucap Johnny dengan nada cukup tinggi.


“Memang kau pilih jurusan apa?” Tanya Yuta pada Johnny yang terlihat yakin saat mengisi angket jurusan kuliah tujuan yang telah dibagikan wali kelas mereka seminggu lalu.


“Manajemen Bisnis,” jawab Johnny. “kalau kau?”


“Hubungan Internasional,”


“Mwoya,” kini Taeyoung menyenggol paha Yuta dengan gitarnya. “asal pilih?”


Yuta mengangguk yakin tanpa rasa bersalah. “dari namanya, terdengar keren,”


“Ckckck, kau ini..” Johnny menggeleng tak percaya melihat kelakuan temannya.


“Tadi aku bertemu Doyoung, dan bertanya jurusan kuliah apa yang dia pilih,” Yuta masih melanjutkan pembicaraan. “Kurasa namanya lebih keren dari pada pilihanku,”


“Apa pilihan Doyoung?” Taeyoung mengganti posisi duduknya menjadi menghadap Yuta sepenuhnya.


“Food-Science,” Jawab Yuta sambil menggerakkan tangan kanannya dari arah kiri ke kanan. “keren, ‘kan?”


“Haha, iya, iya,” Johnny tertawa meladeni ucapan Yuta. “hanya murid Teknik Kimia yang bisa masuk jurusan itu. Mulai sekarang, kau fokuslah pada jurusan yang kau pilih,”


“Arasseo..” Yuta menjawab dengan memajukan bibirnya mendengar nasihat Johnny. Ia pun kini menepuk lengan Taeyoung. “kau masih belum memilih? Apa menunggu saran dari guru BK?”


“Ani,” Geleng Taeyoung. Jawabannya disambut mata penuh rasa penasaran dari Yuta dan Johnny. “kalau aku memilih jurusan Psikologi, bagaimana menurut kalian?”


“Ha?”


“Psikologi?” Johnny membeo setelah menatap Yuta yang juga mengeryitkan dahinya.


“O. Sepertinya aku tertarik pada ilmu yang mempelajari mental, perilaku manusia, dan alur pikiran manusia,” jelas Taeyoung sambil mengarahkan bola matanya ke atas seperti sedang membayangkan sesuatu. “aku selalu penasaran dengan sosok manusia itu sendiri,”



“Ah geurae? Aku tidak tahu kau tertarik dengan hal seperti itu,” Johnny tersenyum dan berkata dengan nada hangat menyambut pilihan sahabantnya.


Yuta mengangguk menghadap Taeyoung. “Boleh juga,” komentarnya. “lagi pula namanya juga keren,”


BUK


Taeyoung menempelkan bantal sofa pada wajah Yuta. “hya, aku beda denganmu,”


...****************...


Jeno memasukan tangannya pada saku jaket paddingnya. Ia duduk bersandar pada kursinya. Saat ini kelasnya tampak ramai, seluruh murid yang sudah membuka laptop diatas meja terlihat sedang bermain game sambil menunggu guru yang akan segera datang memasuki kelasnya. Ia melirik pada teman sebangku barunya. Pada semester 2 ini, wali kelas 1-1 mengacak tempat duduk mereka dan membuat Jeno mendapat kursi disamping jendela, bersama Karina yang duduk di sisi kanannya.



Jeno masih melirik teman sebangkunya yang tertidur dengan laptop yang berada di pangkuannya. Karina menjadikan pipinya sebagai bantal. Karina mengarahkan kepalanya menghadap jendela dan menghadap Jeno.


Bibirnya sedikit terlihat mengerucut karena tekanan dari pipinya yang ia jadikan sebagai alas tidur. Jeno terlihat menaikkan kedua ujung bibirnya untuk sedetik dan kemudian menurunkannya lagi, berharap tidak seorangpun melihatnya.


Jaemin yang duduk di belakang Jeno menahan senyumnya. Ia dengan jelas melihat tulang pipi Jeno naik saat ia menatap Karina. Jaemin lalu membuang muka dengan terus menatap jendela yang menampilkan langit siang hari di musim dingin.


Karina tiba-tiba membuka matanya. Membuat Jeno kaget. Karina pun menatap Jeno sambil masih meletakkan kepalanya diatas meja. “kau memperhatikanku?”


Jeno memajukan bibir dan mengeryitkan dahinya. “A..ani!” Sanggahnya.


“Tapi mata kita bertemu,”


“Su… sudah kubilang tidak!” Seru Jeno, berusaha menyangkal tuduhan benar Karina.


“O!” Seru Jaemin.


Jeno dengan cepat menoleh ke teman dibelakangnya.



“Jinjja?” Karina segera kembali ke posisi duduk tegak untuk melihat butiran-butiran salju kecil yang turun pertama kali pada tahun ini. “wah.. iya..”


“Ayo buat permohonan,” ajak Jaemin.


“Mwoya, memangnya ada yang ulang tahun,” Ningning yang duduk disebelah Jaemin, berkomentar singkat sambil fokus ke layar laptopnya yang sedang menampilkan game yang ia mainkan.


“Bukan itu, Jaemin ah,” Karina menatap Jemin yang duduk dibelakang Jeno. “salju pertama itu, seharusnya dilihat bersama orang yang kau suka, agar cinta kalian abadi,”


“Jinjja?” Jaemin tertawa mendengar mitos yang dikatakan Karina.


“Heol.. lebih aneh lagi..” komentar Ningning.


“Dua-duanya benar..” Ucap Renjun yang tiba-tiba berdiri dan memukul pelan kepala Ningning. Ia memandang jendela dan ikut menikmati datangnya salju pertama. “namanya juga mitos, jadi kau bisa percaya yang manapun,”


“Woo.. si klub sastra..” cibir Ningning.


“Memangnya ada orang yang kau sukai?” Tanya Renjun pada Karina.


“Eh? Aku?” Karina menunjuk dirinya. “aa.. mm.. ak..”


“Astaga kalian ini,” sela Jeno pada Karina yang belum menjawab pertanyaan Renjun. “ini ‘kan hanya fenomena alam,” ucapnya, mematikan suasana pembahasan mengenai mitos salju pertama.


“Heol, dasar tidak romantis,” Karina menyenggol lengan Jeno.


Jeno kemudian membuang muka dengan menghadap jendela. Sekali lagi, tingkah laku Jeno yang terlihat jelas oleh Jaemin, membuat Jaemin tertawa pelan.


...****************...


“Hyaaa jinjjja mianhae!” Seru Giselle memohon pada Yangyang.


Giselle menggusok-gosokkan kedua telapak tangannya kepada Yangyang untuk meminta permintaan maaf. Pada pelajaran olahraga kali ini, Giselle tidak sengaja melempar sebuah bola voli ke arah Yangyang yang sedang berada di pinggir lapangan. Hal ini membuat Yangyang mengeluarkan darah dari hidungnya.


Giselle masih menatap Yangyang yang membersihkan sisa darah dari dalam hidungnya di keran air yang mengeluarkan air hangat di pinggir lapangan. “ini…” Giselle memberikan handuk pada Yangyang.


“Hya.. kau ini,” ucap Yangyang geram. “kalau smash bola ‘kan ke depan, ke arah lawan, kenapa ke samping?!” Serunya marah. “aish.. padahal aku tidak ikut bermain voli, kenapa aku yang kena..” gumamnya dengan suara yang dibesarkan.


“Hya mian, aku tidak sengaja..” Giselle masih meminta maaf pada Yangyang. “masih sakit? Mau ke uks?”


“Dwaesseo,” tolak Yangyang yang masih memeriksa darah dari dalam hidungnya.


“Ssaem!” Suara nyaring Haechan terdengar hingga pinggir lapangan. Hal itu menarik perhatian Yangyang dan Giselle untuk menatapnya, Haechan kini terlihat sedang menunjuk langit. “Salju!” serunya.


Yangyang dan Giselle otomatis menatap langit. Benar ucapan Haechan, salju pertama telah turun.


“Salju pertama..” gumam Giselle.


“Ya..”


Setelah beberapa detik, mereka berduapun menghentikan tatapan mereka kearah langit.



“Apa lihat-lihat,” ucap Giselle galak pada Yangyang, saat mata mereka tidak sengaja bertemu.


“Hya, mwo?!” Yangyang mengeryitkan dahinya. “galak sekali kau, setelah membuatku mimisan,”


“Hya aku ‘kan tidak sengaja. Apa aku harus meminta maaf sebanyak 100kali?!”


“Geurae, coba saj..”


“Dor!” Minjeong datang tanpa menyadari situasi Yangyang dan Giselle. “mwoya, kenapa?”


“Yangyang ah!” Haechan ikut menghampiri Yangyang sambil memeluk lehernya. “kabar baik! Aku minta Min ssaem menyingkat jam pelajaran karena salju, dan dia setuju! Yey!”


“Yey!” Minjeong ikut berseru senang. “Giselle ah, ayo ke kantin!” ajaknya.

__ADS_1


Giselle tidak menghiraukan ajakan Minjeong. Ia malah memanjangkan tangannya ke arah Yangyang. “Mianhae,”


“Mwoya? Kau belum minta maaf?” Seru Minjeong.


“Sst! Diamlah dulu!” Giselle balik berseru kepada sahabatnya. Giselle pun mengulang permintaan maafnya, “Yangyang ah, mianhae, aku tadi tidak sengaja,”


“Hya tunggu apa lagi,” bisik Haechan.


“Ck, kau ini,” Yangyang menyenggol lengan Haechan dengan sikunya. Yangyang lalu meraih tangan Giselle dan menerima salamannya. “geurae,” jawabnya.



...****************...


Sebuah keajaiban salju pertama juga muncul di kelas 2-3 jurusan Musik. Xiaojun terlihat kaget, ia membangunkan Hendery yang tertidur pulas diatas kamus bahasa inggrisnya.


“Hendery ah.. hyaa!” Xiaojun menggoyang-goyangkan badan Hendery agar dia bangun dari tidur lelapnya di jam istirahat siang hari ini.


“Wae wae wae?” Mark dengan rasa penasaran yang tinggi, bertanya pada Xiaojun.


“Bagunkan dia dulu, jebal,” pinta Xiaojun.


Mark pun mengetuk-ketuk meja Hendery sampai Hendery terbangun. Usaha mereka membuahkan hasil, dengan wajah sedikit bengkak bekas tertidur, Hendery sudah membuka matanya.


Hendery mengucek matanya dan merapikan rambutnya. “Wae?”


Xiaojun pun menunjukkan layar HP nya. Mark ikut mendekat. “Bukankah ini dirimu?”


Hendery mengucek lagi matanya. Dalam layar HP Xiaojun, ia melihat tampilan dirinya bersama dengan bandnya, tampil bernyanyi di acara panti asuhan yang mereka kunjungi pada awal bulan Oktober lalu. “Mm, ini aku dan yang lainnya,” jawab Hendery masih lemas. “Ada apa dengan itu? Yangyang memang meng-upload rekaman itu di akun Youtube-nya,”


“Hya, ani.. ini bukan akun youtube Yangyang!” Xiaojun menggerakkan HP nya, geram dengan reaksi Hendery.


“Hya ini laman surat kabar!” Seru Mark yang berhasil membaca alamat website pada layar HP Xiaojun. “video kalian banyak dibicarakan!”


“Tu..tunggu..” Hendery mengangkat tangan kanan dan kirinya. Otaknya yang baru saja bekerja, tidak bisa memproses seluruh informasi dari kedua temannya. “aku bingung,”


“Ah kau ini,” Xiaojun terdengar kesal.


“Jadi, video yang Yangyang upload beberapa bulan lalu itu, akhir-akhir ini menjadi pembicaraan di internet, sampai-sampai masuk ke koran harian Seoul, lihat itu,” jelas Mark sambil menunjuk kembali layar HP Xiaojun yang jika di geser kebawah, akan menampilkan beberapa tulisan hasil karya seorang jurnalist.


“Jinjja?” Hendery meraih HP milik Xiaojun dan membacanya lekat-lekat.


“Akhirnya kau sadar juga,” komentar Xiaojun.


Hendery membaca berita itu dengan seksama.


Berita itu mengatakan bahwa video yang diupload oleh Yangyang itu sudah dilihat sebanyak 1juta kali. Hendery semakin membaca berita itu hingga artikel tersebut memunculkan komentar-komentar yang ada pada video Yangyang.



“Lagunya enak sekali,” Hendery membaca komentar itu dalam hati.


“Lagu ini seperti membawa kita terbang bebas!”


“Dimana itu? Mengapa mereka bernyanyi di depan anak-anak?”


“Lol. Aku juga ikut bernyanyi”


“Aku pernah mendengar lagu ini!”


“Omo, mereka pernah membawakan lagu ini di chuseok festival!”


“Aku akan men-subscribe lagu akun ini, kalian juga harus melihat video mereka yang lain!”


Bola mata Hendery bergerak kesana kemari membaca setiap tulisan di dalam artikel itu. “daeebak..”


“Apa Yangyang belum sadar kalau ia mendapat begitu banyak komentar dari videonya?” Mark bertanya-tanya.


“Mwoya neo. Kau jadi orang terkenal sekarang!” Goda Xiaojun.


...****************...


Beberapa hari setelah Hendery mengetahui ketenaran video mereka, Yangyang mulai menyadari bahwa ia telah memiliki banyak pengikut baru pada akunnya, dan Hendery juga mengatakan bahwa lagu mereka terkenal dikalangan anak muda yang melihat video Yangyang.


Mereka berlima pun mengadakan pertemuan dadakan di sore hari. Yangyang meminta anggota bandnya berkumpul di ruang klub untuk membicarakan sebuah pesan yang Yangyang terima.


“Lihat,” Yangyang menunjukkan sebuah pesan yang Yangyang terima dari sosial media instagramnya.


Hendery yang berdiri paling dekat dengan layar HP Yangyang itu membaca dengan seksama. Itu adalah sebuah pesan dari seorang produser untuk band-band indie. Produser itu memperkenalkan dirinya dan mengajak Yangyang untuk merekam lagu I di studio miliknya dan mem-publish lagu mereka secara resmi.


“Mwoya,” Giselle menutup mulutnya kaget setelah ia mendengar Hendery selesai membaca pesan yang didapat oleh Yangyang. “ajakan rekaman?”


“Baca pesan berikutnya juga,” pinta Yangyang yang menunjukkan pesan berikutnya dari sang produser.


Hendery membaca lagi. Itu adalah ajakan kedua, mengenai produser tersebut yang meminta mereka untuk tampil di acara tahun baru yang akan di gelar di panggung dekat Namsan Tower.


“Daebak!” Kali ini Taeyoung membulatkan matanya kaget. “kita menjadi salah satu bintang tamu?”


Angguk Hendery. “Katanya, acara itu akan dihadiri oleh sederet penyanyi dan band indie, serta beberapa idol,” lanjut Hendery yang baru saja selesai membaca seluruh pesan. “hyung, kita akan dibayar,” Hendery memelankan suaranya sambil menutup mulutnya.


Jeno yang sedari tadi menatap layar HP Yangyang akhirnya berhenti mem-batu dan mulau bersuara. “apa yang harus kita lakukan?” Tanyanya. Membuat seluruh anggota band nya saling bertatapan bingung.


“Pe..pertama-tama, aku harus membalas pesan ini,” Yangyang menggenggam lagi HP nya. “aku harus jawab apa?”


“Kalian mau? Rekaman?” Tanya Taeyoung.


Giselle mengangguk paling cepat. “..Ne..”


“Kalau untuk menjadi pengisi acara tahun baru? Bagaimana?”


“Aku tidak masalah, oppa,” jawab Giselle lagi.


“aku juga tidak punya acara saat tahun baru,”


“Wah, kau semangat sekali,” komentar Yangyang.


“Mm!” Giselle mengangguk. “Aku senang sekali, hehe!” Giselle tersenyum manis menjawab keomentar Yangyang. “kalau kalian, bagaimana?”


“Kalau untuk rekaman, aku tidak apa-apa,” jawab Yangyang. “tapi untuk tampil di panggung besar… Jeno..” Yangyang melirik Jeno, ia masih ingat bahwa Jeno memiliki masalah saat tampil di hadapan khalayak ramai.


“Aku?” Jeno menunjuk dirinya.


“Ah benar juga,” Giselle mengingat masalah Jeno. Dengan lapang dada, ia masih menggantungkan senyuman pada wajahnya.


“Gwaenchana, rekaman saja, ya?”


Taeyoung dan Hendery mendengar diskusi adik kelasnya. Mereka berdua sudah mengetahui masalah yang dialami Jeno.


Mereka membiarkan ketiga murid kelas satu itu mengambil keputusan bersama.


“Mm, geurae,” angguk Yangyang. “bagaimana, hyung?”


“Iya, terserah kalian,” Hendery tersenyum dan membiarkan Yangyang mengetik pesan balasan untuk produser yang sudah menghubunginya.


“Tunggu,” Jeno bersuara, menghentikan gerakan jempol Yangyang. “a..aku mau tampil..”


Taeyoung memegang pundak Jeno. “Gwaenchana? Tidak apa-apa jika kau keberatan,” Taeyoung mencoba meyakinkan ucapan Jeno sekali lagi.


“Aniyo, hyung,” Jeno menatap Taeyoung. “Mempublikasikan lagu kita tanpa menampilkannya dihadapan penonton, apa gunanya?” lanjut Jeno sambil tersenyum.


“kurasa aku mulai menikmati penampilan kita diatas panggung,”


“Wah, benarkah?” Giselle tersenyum lebar mendengar kemajuan Jeno.


“Tapi aku masih butuh waktu, aku tidak bisa se-percaya diri kalian,”


“Gwaenchana, jadilah dirimu sendiri,” Hendery mengacak pelan rambut Jeno.


“Mmmm…. Jadi… kita datang di acara itu?” Tanya Yangyang yang sedari tadi menahan jempolnya untuk membuat kalimat setuju.


“Ya,” jawab Jeno. “kita akan hadir di acara tahun baru itu,”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2