![THE ZOO [FF NCT AESPA]](https://asset.asean.biz.id/the-zoo--ff-nct-aespa-.webp)
Sore itu Hendery sedang memainkan drumnya dengan begitu keras. Suasana hatinya sedang bagus, banyak yang memuji penampilannya di acara ulang tahun sekolah kemarin. Ia juga puas dengan penampilannya bersama Yangyang, Giselle dan Jeno. Para penggemar Yangyang hari itu juga menyambut klub band dengan baik, bahkan beberapa dari mereka mengajak Hendery berfoto bersama, suatu hal yang membuatnya malu. Kang ssaem bahkan memeluk dirinya di belakang panggung saat acara sudah selesai. Teman-teman Hendery yang merupakan mantan anggota band juga banyak yang mengucapkan selamat padanya.
Hendery kemudian menghentikan permainan drumnya saat melihat Doyoung muncul membuka pintu ruangan.
“Doyoung hyung,” panggil Hendery sambil memegangi cymbal drumnya agar berhenti bergetar.
“Annyeong,” Doyoung menutup rapat pintu ruangan. Ia pun berjalan lurus hingga ia tiba di depan alat musik drum milik klub band. “sendirian?”
“Ya. Karena sekarang hari Senin,” ucap Hendery bagai mengingatkan Doyoung bahwa Taeyoung pernah memiliki aturan bahwa tidak boleh ada anggota band yang berlatih selain hari Kamis.
Doyoung tertawa. “Hya kau masih mengikuti aturan itu?”
“Aku hanya tidak ingin klub ini terkena masalah lagi,”
“Hhh…” Doyoung menyilangkan kedua tangannya. “hya, kau harus tahu apa yang kualami hari ini,” Doyoung membuka suara lagi. “banyak yang mengambil angket klub di ruang osis. Ten sampai kewalahan,”
“Ne?”
“Hya, kau tidak sadar? Banyak yang tertarik dengan klub bandmu!” Seru Doyoung menyambut reaksi linglung Hendery. “setelah ini pasti kau memiliki banyak anggota! Chukahae!” Lanjutnya, memberikan selamat pada sang ketuan klub band.
“Hendery aah!” Xiaojun tiba-tiba datang membuka pintu.
“Oppaaa!” Giselle yang ikut datang bersama mereka masuk mendahului Xiaojun dan Mark.
Hendery berdiri bingung dengan tingkah ketiga temannya itu.
“Oppa, mereka menakutkan!” Seru Giselle menunjuk Xiaojun dan Mark di belakangnya.
“Wae? Wae?” Doyoung yang masih ada di dalam, ikut mencampurusi urusan Hendery.
“Kalian belum pulang?!” Hendery mengeryitkan dahinya menatap kedua Xiaojun dan Mark yang sama-sama membawa tas pada punggungnya.
“Mwoya, sekarang kau banyak penggemar!” Seru Mark tak terima. “Dia..”
“Giselle,” bisik Xiaojun.
“Oh iya,” angguk Mark. “Giselle tadi datang ke kelas dan membawa seluruh coklat dan surat itu,”
Doyoung dan Haendery segera memusatkan pandangannya pada tas kertas yang terlihat penuh berisi kertas dan coklat yang dibungkus oleh kotak berpita.
“Ini,” Giselle memberikan tas itu pada Hendery.
“Tadi banyak yang menitipkan ini padaku,”
“Gomawo,” Hendery menerima tas berisikan hadiah itu.
“Mwoya, Hendery,” Xiaojun ikut tidak terima.
“Hya, jangan iri begitu,” ucap Doyoung melerai.
“Ani, sunbae. Biasanya kami yang mendapat hadiah-hadiah seperti itu,” Xiaojun menunjuk tas yang sudah ada pada tangan Hendery.
“O. Apalagi aku,” Mark ikut menyombongkan dirinya. “kalau Xiaojun ‘kan banyak menerima hadiah dari laki-laki.
“Hya!” Xiaojun mendorong Mark ke samping.
“Aigoo… aku tadi malu sekalii,” Giselle menutup wajahnya. “aku tadi naik ke lantai kelas 2, dan semua seperti sedang melihatku, aaargh. Tas ini mencolok sekalii,” tunjuk Giselle yang tadi cukup menahan malu untuk memberikan hadiah itu pada Hendery. Tasnya tidak cukup besar untuk menampung seluruh hadiah untuk Hendery, sehingga siapapun yang melihat sudah pasti mengetahui isi tas itu.
“Mian, hehe,” Hendery tersenyum menjulurkan lidahnya. “seharusnya kau kirimkan pesan padaku, jadi kau bisa langsung kemari,”
“Haha, sekarang teman kalian juga populer!” Celetuk Doyoung menatap Xiaojun dan Mark yang masih memasang wajah heran.
“Gomawo, oppa,” Giselle berkata pelan pada Hendery.
“Ha? Untuk apa?” Hendery mengeryitkan dahinya berharap Giselle berbicara lebih keras.
“Karena telah mengijinkanku tampil dengan klub band, hehe,” ungkapnya malu-malu.
“Ey, yang mengajakmu ‘kan Yangyang. Aku hanya menyetujuinya saja,” Hendery menolak ungkapan terima kasih Giselle. “kau bicara saja dengan Yangyang,”
“Ah, ne..” Giselle memamerkan deretan giginya.
“Lalu…aku… aku akan masuk ke klub band,”
“EH?!”
Seisi ruangan berseru kaget.
“Be..benarkah?!”
“Anggota klub band?!”
“Lalu klub cheersmu?!”
“Mwoya? Kau anggota klub cheers?!”
Giselle tersenyum canggung mendengar pertanyaan yang dilontarkan Doyoung, Mark, Hendery dan Xiaojun secara berurutan.
“Ne, kurasa klub cheers tidak cocok untukku,” jawab Giselle sambil menggaruk kepalanya.
“Wuah…” Doyoung bertepuk tangan secara perlahan-lahan. “anggota baru pertama,” komentarnya. “kau bisa ke ruang osis untuk bertemu Ten,”
“Ne, gamsahamnida sunbae,” Giselle membungkuk hormat pada ketua osis di hadapannya.
__ADS_1
“Mwoya?! Chukahae, Hendery yah!!” Seru Xiaojun yang berlari untuk memeluk Hendery.
Mark pun ikut bersorak bahagia. Tak disangka, seluruh siswa disana; Xiaojun, Mark, Hendery dan Doyoung, malah bergandengan tangan membentuk lingkaran dan berjalan memutar sambil berlompatan dengan Giselle yang berada di tengah mereka. Giselle hanya tertawa bingung hingga akhirnya ikut berlompatan dengan kakak kelasnya itu.
...****************...
Giselle menjadi pusat perhatian di tengah kerumunan anggota cheers yang sudah siap berlatih. Ia terlihat berbeda karena ia masih memakai seragam sekolahnya, bukan seragam cheers yang biasa ia pakai saat berlatih dengan klub cheersnya.
Giselle menyodorkan seragam cheers itu pada Joy. Ia mengembalikan seragam yang tidak akan ia pakai lagi. Joy terlihat sedih dengan keputusan Giselle yang memilih keluar dari klub cheers. Sang pembina klub cheers kemudian mengarahkan seluruh anggotanya untuk memberikan waktu pada Joy dan Giselle untuk berbicara.
“Gomawoyo, sunbae,” ucap Giselle sambil tersenyum.
“Gisella ah, wae?” Tanya Joy. “Apakah ini ada hubungannya dengan pemilihan anggota untuk acara kemarin?”
“Aniyeyo,”
“Apakah kami menyakitimu?” Tanya Joy lagi, memastikan apa alasan Giselle keluar dari cheers.
“Aniyeyo, sunbae, jangan begitu. Saya sangat senang berada di klub ini, dan saya juga senang ada sunbae yang selalu menyemangatiku,” Giselle mencoba menenangkan Joy dari segala pikiran buruknya. “Saya juga mengerti mengapa Joy sunbae memilih para anggota tertentu untuk dapat tampil di acara ulang tahun sekolah kemarin,”
“Lalu mengapa kau pergi? Sudah kubilang kau dapat menjadi catch…”
“Mianhaeyo, sunbae,” sela Giselle. “Selama ini saya sadar, bahwa saya menyukai cheersleader hanya sebagai penonton saja. Saya sangat kagum dengan setiap pertunjukan yang ditampilkan para cheersleader. Namun hanya sebatas itu saja,” jelas Giselle.
“Mm.. aku mengerti,” ucap Joy memahami maksud Giselle. “Lalu… kau akan masuk ke klub band?” Tebak Joy.
“Ne,” Giselle mengangguk yakin. “saya ingin ada di klub band. Pertunjukan yang kami lakukan kemarin membuat saya sadar bahwa saya seharusnya memilih klub band dan menjadi penonton klub cheers, bukan sebaliknya,”
“Sudah kuduga,” Joy mengelus pelan kepala Giselle. “Sini,” Joy membuka lengannya. Menunggu Giselle untuk masuk.
Mereka berdua pun berpelukan dengan sedikit menggoyang-goyangkan badan dan tertawa.
“Mwoyaaa..” Yeri tiba-tiba datang dan ikut memeluk Giselle bersama dengan Joy. “Giselle aah…”
“Unnie.. gomawoyoo,” ucap Giselle yang masih dalam perlukan erat Yeri dan Joy.
“Aniaa…. Kenapa berterima kasiih,” Yeri terdengar seperti ingin menangis.
“Mwoya? Apa yang sedang kalian lakukan?” Yoon ssaem datang menghampiri mereka bertiga. “kalian seperti akan melepas Giselle untuk pergi jauh,” komentarnya.
“Ssaem!” Giselle lalu memeluk pelatih cheers yang sudah sabar menghadapi dirinya.
“Omo omo!” Seru Yoon ssaem yang terdorong mundur karena serangan pelukan dari Giselle. “sehat selalu ya!” Ucapnya yang masih ingat bahwa terakhir kali ia berlatih dengan Giselle, Giselle terlihat pucat dan lemas.
Giselle mengangguk menatap Yoon ssaem. Ia bagai berjanji bahwa ia tidak akan lagi mengabaikan kesehatannya. Ia lalu sedikit kaget dengan Karina yang tiba-tiba muncul dan berdiri di dekatnya.
“Tidak tahu… aku sedih saja tidak bisa berlatih denganmu…” ucapnya sambil terisak.
“Aigoo…” Giselle kini bergantian memeluk Karina yang ikut bersedih atas kepergian Giselle dari klub cheers.
Giselle pun selesai berpamitan pada klub yang kurang lebih selama 4 bulan menjadi klub kesayangannya. Ia kini melihat seluruh anggota cheers kembali menuruti perintah Yoon ssaem untuk membentuk sebuah barisan.
“Hya, Jooyeon ah,” panggil Giselle yang melihat Jooyeon sedang menali sepatunya dan belum masuk ke barisan.
Jooyeon mendongakkan kepalanya menatap Giselle yang berjalan mendekat. “Wae?” Ia kemudian berdiri dan menyilangkan tangannya, masih bersikap angkuh. “Aku tidak akan mengucapkan salam perpisahan padamu. Hhh, drama sekali,”
“Aku juga tidak mengharapkan itu darimu,” Giselle ikut menyilangkan tangannya.
“Cih,” Jooyeon membuang muka. “Hya, jadi kau sudah menyerah? Atau kau sudah tahu kalau klub ini tidak pantas untukmu?”
“Haha, tidak keduanya,” Giselle tertawa cukup keras. Yoon ssaem yang menyadari pertemuan Giselle dan Jooyeon, membiarkan mereka berdua berbicara empat mata. “aku hanya ingin menyemangatimu saja,”
“Mwo?!”
“Kau cantik, langsing, dan berbakat,” ucap Giselle dengan langkah kaki maju pada Jooyeon, dan membuat Jooyeon melangkah mundur perlahan. “jangan berkecil hati, itu tidak keren,”
“M..mwo?!”
“Sikapmu padaku,” Giselle lalu menghentikan langkahnya. “sikapmu padaku menunjukkan kalau kau tidak percaya diri. Kau takut kalah saing denganku, bukan?”
“Ha?! Yang benar saja?!”
“Ssstt! Jangan keras-keras, nanti semua mengetahui masalahmu,” goda Giselle sambil menaikkan salah satu ujung bibirnya. “yah, pokoknya, aku hanya ingin menyemangatimu,” Giselle pun berjalan mundur sambil berbisik, “Jooyeon, hwaiting! Klub cheers, hwaiting!”
Belum sempat Jooyeon berteriak kesal padanya, Giselle berbalik badan dan pergi meninggalkan seluruh anggota klub cheers yang sedang melakukan latihan rutin di dalam aula olahraga. Perasaan Giselle hari itu cukup beragam, ia sedih karena sudah meninggalkan orang-orang yang disayanginya di klub cheers, ia sedih karena hari-harinya di klub cheers sudah tidak ada lagi, tidak ada lagi latihan bersama yang penuh tawa bersama Yeri dan Karina. Namun ia juga senang karena sebentar lagi ia akan resmi menjadi anggota klub band. Ia tidak menyangka bahwa ia akan sangat menikmati penampilannya di acara ulang tahun sekolah hari Jumat kemarin.
“Oh..” Giselle melihat Yangyang sedang melewati taman belakang sekolah dengan tripod dan Hpnya yang seperti biasa, ia gunakan untuk merekam kegiatannya.
Giselle bergerak cepat untuk dapat kabur dari pandangan Yangyang. Namun semua itu terlambat karena Yangyang sudah memanggilnya. “Giselle ah!”
Kaki Giselle terdiam. Ia menoleh ke belakang dan tersenyum palsu pada Yangyang yang berlari ke arahnya.
“Hya,” sapa Yangyang yang sudah berdiri di hadapannya. “mau pulang?”
“Oh? Mm.. ya,” jawab Giselle yang menghindari kontak mata dengan Yangyang.
“Kau kenapa?” Kepala Yangyang mengikuti arah bola mata Giselle. Membuat Giselle menyerah dan akhirnya menatapnya. “ada apa? Kau lapar?”
“Hyaa..” Giselle menghentakkan kakinya kesal. Ia lalu menurunkan suaranya. “aku.. aku keluar dari klub cheers,”
“Jinjja? Yangyang kaget. Ia lalu siap mendengarkan cerita Giselle, ia bahkan mematikan kamera Hpnya dan menatap Giselle lekat-lekat. “Wae?”
__ADS_1
“Tidak ada yang terjadi. Aku yang mengundurkan diri,”
“Wae?” Yangyang mengulang lagi pertanyaannya.
“Karena aku masuk klub band, dasar bodoh!” Giselle memukul lengan Yangyang.
“Aw! Sakiiit!” Rintih Yangyang. “Mwoya?! Benarkah?!” Yangyang berseru tak menduga. “Yeeeyyy!!!” ia seketika memeluk Giselle hingga Giselle sedikit terdorong ke belakang. “Gomawooo!!!”
“Hya mwoya?!” Seru Giselle yang cukup terkejut dengan reaksi Yangyang. “lepaskan..” Giselle melepas pelukan Yangyang.
“Mian mian, aku terlalu senang!” Yangyang tersenyum lebar. “Gomawo,”
Giselle membuang muka karena merasa malu, “untuk apa berterima kasih,”
Yangyang masih tersenyum lebar dihadapannya. Sepertinya Hendery memang belum bertemu Yangyang untuk mengabarkan bahwa Giselle akan masuk ke klub band.
“Kau..” Giselle terdengar terbata-bata. “mau makan ramyeon?”
“Mwo?!”
“Aduh kaget!” Giselle memegang dadanya. “ada apa dengan reaksimu?!”
“Ramyeon?!”
“Ah! Bukan itu maksudku!” Giselle terdengar panik menghadapi Yangyang yang salah paham dengan ucapannya. Yangyang barusaja mengira Giselle akan mengajaknya berkencan, karena ia menggunakan kalimat yang memiliki dua arti. “Ma..maksudku, aku mengajakmu makan ramyeon di 7/11!” seru Giselle membetulkan kalimatnya.
“Ooh.. hehe,” Yangyang menggaruk kepalanya. Wajahnya masih terlihat merah. “wae? Untuk merayakan kau keluar dari klub cheers, atau kau masuk klub band?”
“Aigoo… kau memang banyak bicara,” Giselle kemudian menggerakkan kakinya untuk berjalan maju menuju gerbang sekolah.
“Hya.. tunggu..” Yangyang mengikuti Giselle.
“Sebagai ucapan terima kasih,” jawab Giselle pada pertanyaan Yangyang.
“Ha? Apa?” Yangyang mendekatkan badannya pada Giselle.
“Hya!” Giselle mendorong pelan badan Yangyang ke samping. “jangan pura-pura tidak dengar,”
...****************...
Giselle dan Yangyang membaringkan badannya pada sofa di ruang klub band. Ia tidak menyangka hari Kamis ini merupakan hari pendaftaran anggota baru klub band. Barusaja mereka melayani murid-murid baru yang akan menjadi anggota baru klub band. Hendery dan Yangyang mula nya terlihat senang, namun lama kelamaan mereka lelah menyampaikan syarat ke para anggota baru dan mewawancarainya mengenai keahlian apa yang mereka miliki.
Jeno yang juga menjadi anggota baru klub band pun membagikan sebuah minuman dingin pada Hendey, Yangyang dan Giselle. Berbeda dengan Giselle, Jeno tidak meninggalkan klub basket. Ia masih rutin berlatih dengan klubnya. Pertanyaan Johnny kala itu membuat Jeno berpikir ulang.
“…aku tahu kau juga suka bermain gitar. Kenapa kau tidak coba masuk klub band saja?”
Itulah pertanyaan Johnny yang membuat Jeno yakin untuk kemudian menjadi anggota klub band. Tadi Hendery sedikit terkejut saat melihat Jeno ada diantara begitu banyak anggota klub band yang baru. Ia tidak menyangka bahwa Hendery yang sudah berkali-kali menolaknya untuk masuk ke klub band, akhirnya mendaftarkan diri sebagai salah satu anggota.
“Aigoo… akhirnya sepi,” Seseorang tiba-tiba memasuki ruang klub dengan pintu yang masih terbuka lebar.
“Taeyoung hyung!” Hendery berdiri dari kursi kayu yang biasa ia gunakan untuk belajar di ruang klub band.
“Annyeong,” sapanya, menyusuri Giselle dan Yangyang yang sedang bersantai di sofa, dan juga melewati Jeno yang sedang berdiri bersandar di dinding. Ia kini berada di hadapan Hendery. Ia menatap kertas-kertas yang Hendery tumpuk di meja dihadapannya. “tadi aku berniat kemari, tapi ramai sekali,” lanjutnya sambil mengambil kertas berisi angket pendaftaran anggota klub.
“Hyung..”
“Banyak juga,” Taeyoung melihat satu persatu angket-angket di tangannya. “selamat, kau akan segera mendapat guru pembina klub,” ucapanya yang mengetahui bahwa klub band Hendery yang baru buka di awal tahun belum bisa mendapatkan guru pembina jika anggota kurang dari 5 orang.
“Tapi tidak kusangka akan jadi sebanyak ini, hyung,” gerutu Hendery sambil menyandarkan badannya ke kursi yang keras itu.
“Untuk pertemuan besok, suruh mereka membentuk grup. Nanti mereka akan selalu berlatih bersama grup yang mereka pilih. Bagaimana?” Taeyoung memberikan usul. “lalu, berikan jadwal jam mereka berlatih. Satu jam atau satu setengah jam saja cukup. Ingat, sekolah masih memintamu membuka ruangan setiap hari Kamis. Yah, walaupun kalian sebagai tim inti bebas masuk kapan saja,”
“Tu.. tunggu,” Hendery kemudian menuliskan setiap perintah Taeyoung pada buku yang biasa ia jadikan sebagai coretan saat membuat nada baru. “Bagaimana dengan jadwal tadi, hyung?” Tanya Hendery meminta Taeyoung mengulangi perkataannnya.
Mendengar percakapan dua ketua band, Jeno segera menutup pintu dan mengajak Yangyang dan Giselle untuk menghampiri mereka berdua.
“Contoh, grup a berlatih di satu jam pertama, lalu disusul oleh grup b. Jika waktu tidak cukup, minggu depan grup c,” ulang Taeyoung dengan penjelasan lebih jelas. “kulihat anggota barumu sampai 17 orang,”
“Ne hyung, kebanyakan dari mereka adalah murid kelas 1,” jawab Hendery yang masih menulis.
“Untuk anggota yang meminta pelatihan alat musik, lakukan saja setelah grup terakhir selesai berlatih. Itu juga perlu kau jadwalkan, siapa yang akan berlatih di hari itu,”
“Ne, hyung,”
“Satu lagi,” Taeyoung menjentikkan jarinya.
“karena mereka murid kelas 1, mereka bisa saja tidak mengerti aturan ketat di klub ini. Sudah kau jelaskan?”
“Ne hyung, tadi sudah kami sampaikan,”
“Wuaahh…” Yangyang membuka mulutnya kagum. “sunbae keren sekali,” Yangyang mengacungkan jempolnya pada Taeyoung.
“Sunbae orang yang terorganisir ya,” puji Giselle. “tadi semua terlihat rumit dan membingungkan, tapi sunbae dapat mengatur dengan baik!”
“Haha, aniya,” Taeyoung menggeleng sambil tersenyum. “dulu ada anggota band bernama Kun, dia yang biasa mengatur semua jadwal. Aku hanya meniru saja,”
“Kun hyung,” panggil Hendery dalam hati. Ingin rasanya ia bertemu Kun dan menceritakan kejadian hari ini, termasuk perubahan sifat Taeyoung yang akhirnya mau berbicara bahkan memberikan saran padanya. “Kun hyung, klub band berhasil ‘hidup’ kembali!”
...****************...
__ADS_1