![THE ZOO [FF NCT AESPA]](https://asset.asean.biz.id/the-zoo--ff-nct-aespa-.webp)
Haechan tersenyum usil. Ia berdiri tepat membelakangi pintu kelasnya. Kedua tangannya ia letakkan di belakang untuk memegangi pintu kayu yang masih tertutup rapat. Haechan menatap Yangyang dan Giselle yang berdiri di depannya dengan wajah kesal. Sedari tadi, mereka berdua meminta Haechan untuk segera membuka pintu kelasnya, namun permintaan itu tidak digubris oleh Haechan.
“Haechan ah!” Seru Minjeong yang berdiri di belakang Giselle. Badannya yang mungil tidak terlihat oleh Haechan karena tertutup oleh Yangyang dan Giselle. “cepat buka pintunya!”
Haechan menggelengkan kepalanya pelan-pelan sambil memajukan bibirnya. Dia tahu betul kini Yangyang dan Giselle sedang kesal dengan dirinya. “’Kan belum jam istirahat,” ucapnya.
“Hya, Lee ssaem ‘kan sudah keluar kelas,” Yangyang terlihat memasang pose untuk berlari. “cepat buka,”
“Sirheeooo..” tolak Haechan dengan keusilan yang semakin menjadi-jadi. Haechan kini juga melihat Giselle yang sedang berpose sama dengan Yangyang, yaitu bersiap untuk berlari.
TIINGGG TOOONG…
Bel istirahat pun berbunyi.
“Hya! Ppallii!” Seru Giselle meneriaki Haechan.
“Yeorobun! Ayo kita hitung sama-sama!” Haechan berteriak kepada seluruh teman di kelasnya.
Seluruh murid kelas 1-3 pun mengikuti ajakan Haechan. Semua terlihat sedang tertawa dan berhitung bersama.
“3…”
“2…”
“1..”
“Go!” Haechan kemudian membuka pintu geser milik kelas 1-3. Yangyang dan Giselle seketika berlari cepat keluar kelas. Suara langkah kaki mereka pun segera hilang dari lorong lantai 2 jurusan Musik.
“Hya Giselle ah!” Seru Minjeong yang tidak dapat mengikuti kecepatan Giselle.
BUK!
Minjeong melayangkan pukulan pada perut Haechan yang masih tertawa di lorong depan kelasnya. “Dasar usil!”
Yangyang menuruni tangga dengan cepat, meninggalkan Giselle yang masih mengontrol langkah kakinya hati-hati agar tidak terjatuh di tangga yang kini dipenuhi banyak murid. Mereka berlari melewati kantin. Tujuan mereka hanya satu; mading sekolah. Hari ini adalah hari dimana sekolah memajang hasil ujian semester. Yangyang sudah melihat beberapa murid berdiri mengerumuni mading sekolah untuk mencari nama mereka sendiri. Dengan badannya yang kecil, Yangyang menyelinap masuk ke kerumunan dan mencari namanya.
“Yang….yang…” gumamnya sambil terus membaca setiap nama yang ada pada kertas yang tertempel rapi di mading sekolah.
“Yang! Yangyang ah!” Giselle yang tidak dapat menembus kerumunan itu, berlompatan di kerumunan belakang.
Yangyang tidak dapat mendengar panggilan Giselle. Mata Yangyang tertuju pada nama yang ia cari. “Oh?!” Yangyang pun segera berjalan keluar dari kerumunan yang semakin ramai. Para murid jurusan musik yang baru saja keluar kelas, terlihat menghalangi Yangyang untuk dapat menjaduh dari mading.
“Hya..” Giselle yang melihat Yangyang di dalam kerumunan, membantunya dengan menariknya keluar.
“Aw!!” Yangyang berhasil keluar dari kerumunan itu dengan sudah payah. Mereka berdua pun berdiri di luar kerumunan murid kelas 1 jurusan musik. “Kenapa menarik rambutku?!” Serunya sambil memegang bagian atas kepalanya. Rasanya rambutnya hampir botak karena tarikan Giselle.
“Hya, aku tidak melihat tanganmu!” Sanggah Giselle. Dengan sedikit merasa bersalah, ia berjinjit dan mengelus kepala Yangyang.
“bagaimana hasilnya?”
“Kau kemarin peringkat berapa?”
“Aku? 30,”
“Hya! Jinjja?!” Yangyang memegang lengan kanan dan kiri Giselle dan sedikit menggoyangkannya. “sekarang kau peringkat 26!” Serunya.
“Aaa!” Giselle mengeluarkan teriakan lumba-lumbanya dan melompat senang. Ia kemudian membuka lengannya lebar-lebar untuk memeluk Yangyang yang ikut berlompatan dengannya. “tunggu!” Giselle menghentikan tindakkannya. “bagaimana denganmu?”
“Aku peringkat 67! Yeyy!” Seru Yangyang.
“Mwoya? Hanya naik 1 tingkat?” Cibir Giselle.
“Yang penting naik! Yeeey!!” Yangyang dengan cepat meraih kedua tangan mungil Giselle dan kembali berlompatan bersama.
“Cie,” Sebuah sundulan yang datang dari belakang Yangyang membuat Yangyang hampir terjatuh membentur badan Giselle.
Yangyang menoleh dengan cepat. Suara cempreng itu sudah pasti milik Haechan.
“Hya!” Seru Yangyang.
“Bagaimana nilaimu?” Tanya Haechan.
“Naik, lah!” Yangyang memamerkan jempolnya. Ia lalu merangkulkan lengannya pada leher Haechan. “hari ini sepulang sekolah, kita jajan tteokpokko. Call?” ajak Yangyang pada teman akrabnya.
“Call!” Angguk Haechan menyetujui ajakan Yangyang.
“Giselle ah, kau ikut juga ya. Tenang, ‘oppa’ yang traktir,” ucap Yangyang pamer.
“Kalau aku?” Minjeong menunjuk dirinya yang ikut datang bersama Haechan.
“Geurae kau juga, Minjeong ah!” Yangyang mengangguk semangat.
“Kalau aku?”
“Gaeurae, kau…. Aigoo kaget! Hya, kenapa kau disini?!” Seru Yangyang yang menoleh ke belakang dan mengira itu adalah suara teman sekelasnya.
Si pemilik suara adalah Jeno, ia melambaikan tangannya menyapa Giselle yang sedang tertawa. “aku penasaran nilaimu, jadi aku kemari,” jawab Jeno. “kurasa hasilnya baik. Ya ‘kan?”
__ADS_1
“O. Nilai kami naik!” Jawab Giselle sambil bertepuk tangan.
“Wah, selamat,” Jeno tersenyum hingga matanya membentuk lengkungan seperti sebuah pelangi. “jadi aku kau traktir juga, ‘kan?” Goda Jeno.
“Aigoo… geurae-geurae! Semua boleh ikut!” Seru Yangyang antara senang dan geram dengan kenyataan bahwa ia memiliki begitu banyak teman.
“Asik! Gomawo Yangyang ah!” Karina yang tiba-tiba muncul setelah berlari mengejar Jeno, berseru riang.
Yangyang menunjuk Karina dengan nada terkejut. “Karina?! Kau juga?!”
...****************...
Jeno mengetuk pintu ruang klub charity yang dipenuhi dengan kardus-kardus besar. Acara keberangkatan mereka ke panti asuhan tinggal 3 hari lagi, yaitu pada hari Sabtu. Hal itu membuat seluruh anggota klub charity sibuk memasukkan barang sumbangan ke dalam kardus, dan merapikan susunan barang. Trolli barang milik sekolah juga sesekali terlihat mampir keluar masuk ruang klub. Jeno tidak sendiri, ia bersama seluruh tim bandnya, masih berdiri didekat pintu ruangan.
“Jeno?” Suara Jaemin terdengar dari tumpukan kardus tinggi yang menutupi badannya. Jaemin pun terlihat menghampiri teman sekelasnya yang tidak bisa masuk ke dalam ruangan. Jaemin juga terlihat susah payah melangkah dan menghindari tumpukan kardus-kardus besar disana.
“Ini. Yang kubilang tadi,” Jeno menyerahkan sebuah amplop pada Jaemin. “kau tidak mau menerima ini di kelas ‘kan, jadi kami menghampirimu,”
“Oh,” Jaemin mengambil sebuah amplop putih tebal dari tangan Jeno. “iya, karena di kelas tidak ada klub charity yang melihat, dan aku tidak mau ada salah paham. Apalagi uang ini jumlahnya banyak,” ucap Jaemin.
Jeno kemudian menoleh ke belakang, menatap seluruh anggota bandnya. “ini Jaemin, teman sekelasku,” kata Jeno, memperkenalkan Jaemin. Ia lalu menatap lagi Jaemin untuk menggodanya. “Calon ketua klub charity,”
“Hya aniyaa…” Jaemin membulatkan matanya dan memajukan bibirnya. Ia terlihat malu mendengar perkataan Jeno. “annyeong haseyo, saya Jaemin,” Jaemin membungkuk menatap seluruh anggota band.
“Annyeong haseyo,” seluruh anggota band menundukkan kepala menyapa Jaemin.
“Sebentar ya, aku catat dulu,” Jaemin lalu menuliskan sesuatu pada buku yang menampilkan tabel-tabel yang sudah penuh dengan tulisan tangannya. “dana ini dari klub band, ya? Atas nama kalian berlima?”
“Ya,” angguk Jeno yang barusaja menyerahkan uang yang dihasilkan klub band untuk ikut disumbangkan ke panti asuhan yang akan mereka datangi.
“Banyak juga,” komentar Jaemin. “gomawo,”
“Ini uang dari hasil kami live di youtube,” Yangyang menjelaskan pada Jaemin mengenai bagaimana mereka dapat mengumpulkan uang itu. Kegiatan rutin mereka yang sering live di youtube Yangyang, membuahkan hasil yang kini dapat mereka gunakan untuk membantu orang lain.
“Daebak,” Jaemin membuka mulutnya mendengar perkataan Yangyang. “keren..”
“Wae? Apa kami yang paling banyak menyumbang?” Jeno sedikit melirik catatan Jaemin.
“Tidak sih, masih ada Ten sunbae. Ia juga menyumbang cukup banyak,” jawab Jaemin sambil membalik halaman bukunya. “lalu Chenle juga, ia dua kali menyumbangkan dana,”
“Wah, Chenle…” gumam Hendery sambil menggelengkan kepalanya. “dua kali?”
“Ne, orang tuanya sudah menyumbang dana, lalu Chenle sendiri menyumbang lagi,” jelas Jaemin. “kau tahu uang hasil perlombaanmu itu, ‘kan? Dia menyumbangkan seluruh uangnya ke panti ini,”
“Jinjja?” Jeno membuka mulutnya tak percaya karena uang hasil kemenangan lomba cerdas cermat yang cukup banyak itu, sama sekali tidak dipergunakan Chenle.
“Sekali lagi terima kasih ya,” Jaemin tersenyum kepada Jeno dan teman-temannya. “sampai jumpa hari Sabtu,”
...****************...
Dua mini bus milik sekolah berjalan beriringan. Satu minibus berisi anggota klub charity bersama para guru, sedangkan yang satu lagi berisi anggota klub band dan barang-barang yang akan sekolah berikan kepada panti asuhan yang berlokasi cukup jauh dari pusat kota Seoul.
“Hya hya hya, Giselle ah, andwae,” Taeyoung mengambil kardus yang Giselle coba angkat dari dalam mobil. “kau bantu mempersiapkan makan siang saja, sana masuk duluan,”
“O Giselle ah, ini berat,” sahut Hendery yang sedang menata kardus diatas trolli yang siap mereka antarkan masuk menuju panti asuhan.
“Ne, Oppa,” Giselle menuruti kedua sunbaenya itu. Ia meninggalkan anggota bandnnya yang sedang menurunkan barang bersama dengan anggota klub charity lainnya.
Giselle menyapa seluruh anak-anak panti asuhan. Mereka terlihat ramah dan senang dengan adanya tamu dari sekolah di Seoul. Giselle menuju meja panjang yang sudah disediakan. Bersama dengan anggota klub charity yang lain, Giselle menata rapi makan siang yang akan mereka santap bersama.
“Annyeong haseyo,” Giselle menyapa pelan pada salah satu pengurus panti asuhan yang sedang mengangkat beberapa piring. “mari saya bantu,” ucapnya.
“Gomawoyo,” Pengurus panti asuhan yang masih terlihat muda itu tersenyum cantik bak seorang malaikat.
“Apakah kau yang akan bernyanyi di acara nanti?” Tanya sang pengurus panti dengan tangan yang sibuk menata makanan.
“Ne?”
“Ah, gurumu bilang kalau di dalam bis satunya, ada band dari sekolah yang akan menghibur anak-anak nanti,” jelasnya. “jadi kupikir kau adalah seorang vokalisnya, diantara anggota pria disana,”
“Ah, ne, benar. Saya anggota band sekolah,” jawab Giselle malu-malu.
“Terima kasih sudah datang, anak-anak disini semuanya senang bernyanyi dan menari,” ucapnya sambil tersenyum, membayangkan tingkah lucu anak-anak yang diasuhnya.
“panggil aku unnie saja,” pintanya. “siapa namamu?”
“Giselle,” jawab Giselle sambil tersenyum malu. “kalau unnie?”
“Aku Irene. Salam kenal,” sang pengurus panti itu menyebutkan namanya.
Panti itu memiliki halaman yang cukup luas. Halaman rerumputan itu kemudian disulap menjadi sebuah panggung kecil dimana akan digunakan untuk menghibur anak-anak panti asuhan yang berjumlah kurang lebih 20 orang.
Setelah kegiatan perkenalan diri dari sekolah Seo Seoul, Lee ssaem, sang guru pembina klub charity, mengajak mereka semua untuk makan bersama.
__ADS_1
Ini adalah hal baru bagi klub band, mereka melihat seluruh anggota klub charity cepat sekali mengakrabkan diri dengan anak-anak panti asuhan. Mereka duduk dan bercanda bersama seperti sudah saling mengenal satu sama lain.
Seluruh anggota band masih berdiri di kejauhan, memandang ruangan luas yang kini dijadikan ruang makan bersama.
“Hyung..” panggil Yangyang.
“Kita harus kesana juga ‘kan?” Ucap Giselle yang masih canggung.
“Iya lah, ayo!” Ajak Hendery yang bersiap melangkah.
“Ne?” Jeno yang belum siap dengan ajakan Hendery, berjalan paling akhir.
Tidak disangka, Taeyoung yang memiliki sifat pemalu pada orang yang baru dikenal itu justru paling cepat mengakrabkan diri dengan anak-anak disana. Ia sudah terlihat bercanda bersama bahkan sampai membuat anak-anak tertawa cukup kencang. Jeno masih terus mengikuti Yangyang. Jeno yang masih terlihat canggung itu tampak lucu saat anak-anak memeluk Jeno satu persatu.
Setelah acara keakraban dan makan bersama selesai, saatnya anak-anak melihat pertunjukan yang dibawa oleh sekolah Seo Seoul. Irene, sebagai pembawa acara, mempersilahkan Jaemin untuk maju dan berbicara selaku perwakilan dari klub charity dan juga sebagai ketua acara hari ini. Pada awal pertunjukkan, Jaemin mempersilahkan Hong ssaem yang merupakan guru teater sekolah, tampil untuk melakukan pantomim lucu dan melakukan beberapa trik sulap. Sesuai dugaan, seluruh anak-anak terhibur dan tertawa terbahak bahak.
Yangyang yang berdiri jauh di belakang bersama tripodnya, juga ikut tertawa sambil menutup mulutnya agar suara Yangyang tidak terlalu menonjol di rekaman handy-cam miliknya.
“Hahaha, itu gurumu, ya?” Irene muncul menghampiri Yangyang sambil masih tertawa. Ia menunjuk penampilan pantomim yang ada di depan.
“Ne, beliau guru teater kami,” jawab Yangyang. “lucu ya,”
“Ne! Hong ssaem jago sekali!” ucap Irene sambil bertepuk tangan. “lihat, anak-anak juga tertawa!”
“Hehehe, memang begitulah guru kami,”
Irene memandang ke depan lagi dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya.
“Mm.. permisi..” Yangyang berbicara pada Irene.
“Hmm?”
“Saya nanti juga akan tampil. Apa saya bisa minta tolong untuk jaga camera ini?” Pinta Yangyang.
“Ne?”
“Ah, tidak perlu pencet tombol apapun, hanya dijaga agar tripod ini tidak bergeser, atau jatuh.. yah, seperti itu,”
“Oh, kau juga anggota band?”
“Ne, saya Yangyang. Saya nanti bermain piano,”
“Oh, baiklah. Akan kujaga,” angguk Irene setuju. “Aku hanya cukup berdiri disini saja, ‘kan? Aku tidak mengetahui apapun tentang camera ini…”
“Ne, saya sudah pencet tombol rekamnya. Jadi nuna hanya perlu berdiri disampingnya saja,”
Yangyang pun segera berterimakasih dan pergi menjauhi bagian belakang barisan anak-anak panti. Ia kemudian membantu klub charity untuk membawa keyboardnya dan memasangkannya kepada speaker sekolah yang juga mereka bawa hari ini.
Jaemin pun mempersilahkan band sekolah untuk bersiap menampilkan diri. Hari ini mereka akan bermain secara akustik. Klub band tidak membawa seperangkat peralatan drum yang cukup besar itu. Hendery akan bermain menggunakan kajon sebagai pengganti drum, dan Taeyoung menggunakan gitar akustiknya, sedangkan yang lain, tetap pada posisi instrumentnya masing-masing.
“Annyeong haseyooo…” Sapa Giselle yang sudah siap dengan mic nya. “kami dari band sekolah Seo Seoul,”
“Yeeeyy…” seluruh anak-anak bertepuk tangan menyambut band sekolah mereka.
“Kita kenalan dulu ya,” ucap Giselle menggunakan tone suara ramah yang biasa ia gunakan saat sedang berbicara dengan anak-anak. Giselle pun memperkenalkan dirinya dan seluruh anggota band. Seluruh anak-anak juga bertepuk tangan tiap kali Giselle menyebutkan nama anggota timnya.
Giselle kemudian memberikan mic pada Hendery. Hendery yang awalnya terlihat kebingungan, mencoba mengimprovisasi kalimat pembukanya. “Senang sekali kami berada disini dan dapat bermain bersama kalian,” ucapnya. “jadi hari ini adalah hari spesial juga bagi kami, band sekolah, karena, hari ini adalah pertama kalinya kami membawakan lagu buatan kami sendiri,”
“Wooooaaaa!!”
Sorak sorai ramai dan tepuk tangan keras, keluar dari pihak panti dan pihak sekolah yang juga baru mengetahui bahwa klub band memiliki lagu ciptaan mereka sendiri.
“Lagu ini berjudul, ‘I’, ‘Aku’,” lanjut Hendery sambil menunjuk dirinya. “lagu ini bercerita tentang menjadi diri sendiri dengan cara yang bebas, sambil beranjak dari masa-masa yang sulit,”
Taeyoung menunduk sambil tersenyum saat mendengar Hendery yang sedang menjelaskan lirik lagu buatannya.
“Lagu ini juga menggambarkan tentang hidup kita yang indah, hehehe,” Hendery mengakhiri penjelasannnya dengan suara tawa khasnya.
“Bingung ya?” Sahut Yangyang yang juga sedang memegang mic. Tak disangka suara sahutan Yangyang membawa tawa bagi pendengarnya.
“Hyung, kita langsung nyanyi saja,” ajak Yangyang.
“Ah, mian, mian. Benar juga,” Hendery menepuk dahinya dan memberikan mic pada Giselle.
Seluruh penonton pun bertepuk tangan. Mereka siap mendengarkan lagu buatan band sekolah yang sudah melalui proses cukup lama hingga akhirnya lagu itu siap dibawakan.
Lagu dibuka oleh suara Giselle yang merdu. Seketika seluruh penonton terdiam. Mereka terpana dengan suara Giselle. Lalu suara instrumen lainnya masuk mengiringi alunan lagu Giselle. Tak lupa Yangyang, melantunkan rap santai sebagai pendukung lagu. Irene yang berdiri jauh di belakang kerumunan, melihat penampilan band sekolah melalui layar kecil handy-cam Yangyang. Irene mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti musik yang dimainkan band sekolah Seo Seoul itu.
Lirik pada bagian chorus yang mudah diingat, membuat seluruh anak panti dan anggota klub charity ikut bernyanyi. Giselle mengulang bagian chorus lagi sambil mengajak mereka bernyanyi bersama. Giselle juga mengajak mereka mengangkat tangan dan melambaikannya ke kanan dan kiri, mirip sebuah konser tunggal.
“My life is a beauuuty..”
“Woooohooooo..”
PLOK PLOK PLOK
Giselle mengakhiri lagunya. Sebuah sambutan yang meriah datang dari seluruh penonton. Seluruh anggota band tersenyum senang menerima sorakan dan tepuk tangan dari mereka. Ke-lima anggota itu pun berdiri dan membungkuk berterima kasih secara bersamaan.
__ADS_1
...****************...