THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 2


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, lapangan sudah dipersiapkan sebagai lokasi untuk adu bakat dan perkenalan diri oleh setiap klub. Berbagai macam klub sudah tampil untuk mempresentasikan klubnya lebih jauh dan melakukan perkenalan singkat oleh anggota klub. Para murid baru berkumpul di lapangan sesuai dengan arahan osis dan guru-guru.


“Kyaaaa!!!!!”


Doyoung yang sedang berada di belakang panggung kaget mendengar suara nyaring dari teriakan para murid perempuan. Ia sontak berdiri.



“Klub basket..” Yuta yang berdiri di hadapannya menekan pundak Doyoung untuk kembali ke posisi duduk lagi. “sekarang klub basket yang maju,” jelasnya sambil sibuk menali sabuk karate yang ia kenakan.


“Ah.. pantas saja,” ucap Doyoung lega. Sudah mereka duga bahwa klub basket yang beranggotakan para sunbae tampan berbadan atletis akan membuat murid baru antusias.


“Johnny ‘kan?”


Yuta menatap Doyoung yang sedang melanjutkan memakan roti, Doyoung tampak berkeringat kelelahan. Yuta mengangguk. “dulu Johnny, sekarang Jaehyun dari kelas 2,” Yuta menyebutkan nama sang ketua basket.


“Benar juga..” gumam Doyoung yang lupa bahwa para ketua klub sudah ganti, dan kini dipimpin oleh murid kelas 2.


Suara gemuruh teriakan kagum dari murid masih terdengar. Setelah klub basket tampil, saatnya klub cheersleader. Mereka berlari kecil bersamaan menuju lapangan dengan riang sambil melambai-lambaikan tangannya. Ketua klub cheers kemudian membuat kode untuk menyalakan lagu.


“Hya hya.. kurang keras!” Perintah Doyoung pada salah satu anggota osis yang bertugas menjadi pengendali musik.


“O..mian mian..” anggota osis itu menggerakkan jari-jarinya keatas alat-alat pengatur suara.


“Mwoya.. seram juga kau,” komentar Yuta pada Doyoung si ketua osis.


“Hhhh… aku cuma malas meladeni Joy jika ia sedang kesal,” ucap Doyoung sambil membayangkan wajah ketua cheersleader yang penuh emosi.


“Ketua cheers itu pernah marah padamu? Si Joy itu bukannya masih kelas 2?”


“Dia bisa marah pada siapa saja,” jawab Doyoung. “bukan marah padaku sih, tapi pada Ten, ketua klub dance, . Mereka berkelahi berebut ruang latihan. Aigoo… dulu aku sempat melerai mereka, dan Joy memang menyeramkan. Haha..” jelas Doyoung, bercerita mengenai kejadian beberapa minggu yang lalu.


Yuta menjawab dengan anggukan. Dengan diiringi oleh suara tepuk tangan yang meriah, anggota cheersleader kembali ke belakang panggung dengan riang. Joy mengajak seluruh anggota bertepuk tangan sambil berterima kasih.



“Sekarang… dia?” Doyoung menunjuk seseorang yang sedang membawa gitar akustiknya.


Yuta menatap Hendery. Ia terlihat tengah bersiap untuk tampil. “Hendery ah!” Panggil Yuta yang berdiri tak jauh darinya. “Hwaiting!” Ucapnya menyemangati sambil mengepalkan tangannya.


Hendery hanya tersenyum lebar dan kini ia siap untuk menuju lapangan.


“Taeyoung… mana?” Tanya Doyoung penasaran.


“Hmm… aku yakin dia sedang melihat Hendery, entah dari mana,” tebak Yuta sambil berkacak pinggang. Ia memunggungi Doyoung dan berusaha menatap Hendery yang menuju lapangan seorang diri.


Yuta kemudian teralihkan pandangannya pada keempat anggota klub karate yang sedang menunggu giliran dari belakang lapangan.


Mereka berempat sedang berbisik dan tertawa sambil memusatkan pandangan pada Hendery yang kini sedang memperkenalkan dirinya di depan seluruh murid baru.


“Mwohae?” Yuta muncul di belakang adik kelasnya itu.


“Ah!” Mereka berempat terkejut melihat Yuta.


“sun..sunbae!” Hormat mereka sambil membungkukkan badannya sempurna.


“Apa yang lucu?” Tanya Yuta sinis. “Hendery? Dia lucu?”


“A..animnida..” mereka berempat menggelengkan kepalanya cepat. “jwisonghamnida!” Ucapnya bersamaan sambil membungkuk lagi.


“Ambil posisi,” perintah Yuta.


“Yuta hya,” Doyoung berjalan mendekat. “apa yang kau lakukan?” Cegah Doyoung pada Yuta yang akan menghukum anggotanya.


“Mereka berbicara buruk tentang Hendery. Dan aku tidak suka etika seperti itu,”jawabnya sambil tetap memandang keempat adik kelasnya yang kini sudah mengambil posisi push-up. “sudah, kau tidak usah ikut campur, cuma 10 kali kok,”


Doyoung terdiam dan melangkah mundur. “mwoya… dia juga menyeramkan…” gumam Doyoung.


...****************...


Jeno bersama teman sekelasnya menatap Hendery yang sedang bernyanyi solo menggunakan gitar akustik. Hendery mengcover lagu Star dari Kang Minhyuk.


Seluruh murid seketika terdiam mendengar alunan lagu yang dimainkan Hendery seorang diri.


“Keren ya,” komentar Jaemin, teman baru Jeno. “Kau bisa main gitar seperti sunbae itu?”


Angguk Jeno pelan dengan mata masih fokus pada Hendery.


“Wuah keren.. kalau begitu mengapa kau tidak ikut klub band?” tanya Jaemin yang penasaran walaupun Jeno sudah memberitahunya bahwa ia ikut klub basket.


Jeno hanya menjawab dengan pundak yang mengangkat.


“Hya hya…” teman sekelas Jeno yang duduk dibelakang Jeno dan Jaemin mengeluarkan suara bisikan pelan. “kalian sudah dengar rumor mengenai klub band?” Ucapnya usil.


Jeno masih ingat bahwa teman yang tiba-tiba ikut bicara ini bernama Ning-ning.


“Hya…” seorang teman sekelasnya lagi menarik kuncir cepol milik Ning-ning.


“Aw! Renjun ah!” Seru Ning-ning pada Renjun yang duduk di belakangnya.


Renjun memelototkan matanya dan menggerakkan bibirnya tanda untuk memintanya diam.


“Apaan sih! Aku ‘kan tidak mengatakan bahwa rumor itu benar!” Ia berbisik balik pada Renjun dengan kesal. “Unnie yang memberitahuku!”


“Mwoya..” Jaemin memandang kedua teman yang merupakan saudara sepupu itu. “rumor apa?”


“A..ani,” Renjun menggeleng cepat sambil mencubit pelan punggung tangan Ning-ning.


...****************...



Kegiatan awal sekolah tak terasa sudah berlangsung selama dua minggu, Giselle sudah mulai mengenal teman-teman barunya di kelas 1-3. Seharian ini ia tidak sabar menunggu waktu pulang sekolah. Ingin rasanya Giselle segera berlari ke ruang olahraga untuk bertemu teman klub barunya. Kegiatan klub akan dimulai pada minggu ke-3 tahun ajaran baru, dan karena hari ini adalah hari Senin, Giselle wajib berkumpul untuk mengikuti kegiatan klub cheers yang sudah dipilihnya.


Giselle masih menopang pipinya diatas meja. Sudah jelas ia sedang memandang teman sebangku yang duduk di kanannya. “Hhhh…” Giselle menghela nafas panjang, heran karena sedari tadi Yangyang terus berbicara dengan memandang HP yang ia kaitkan di tripod.

__ADS_1


“Kalau ini, temanku!” Yangyang menarik seragam temannya satu per-satu.


Teman-temannya pun menyapa seseorang di HP dengan canggung.


“Ha..halo, gutten tag..” sapa Haechan, salah satu teman Yangyang yang paling mencolok di kelas karena sifat supel nya. “hya, betul tidak?” Tanya Haechan, meminta koreksi Yangyang untuk kalimat ‘selamat siang’ oleh bahasa Jerman yang ia ucapkan dengan logat Korea.


Yangyang menjawab dengan anggukan sambil sedikit tertawa. Semakin lama, teman-teman Yangyang semakin berkerumun di meja Yangyang dan Giselle.


“Ah, kalau ini…” Yangyang mengambil kaki tripodnya dan mengarahkan HP nya pada Giselle. Giselle sedikit terkejut dan memundurkan badannya. “teman sebangkuku! Namanya Giselle!” Serunya dan entah mengapa teman-teman Yangyang berseru sambil bertepuk tangan.


“Hi… I’m Giselle..” Giselle menyapa canggung. Ternyata Yangyang sedang melakukan live melalui akun instagramnya. Ia melihat begitu banyak yang melihat live Yangyang. Komentar-komentar berbahasa Jerman juga terlihat bergerak naik.


Yangyang meletakkan tripodnya lagi diatas meja dan berusaha menjawab pertanyaan yang muncul. Dia bagai seorang selebgram.


“Woo.. Giselle ah, katanya kau cantik,” goda Yangyang yang barusaja membaca komentar yang masuk.


“Cieee….” Haechan ikut menggoda usil diikuti teman-temannya.


Giselle hanya tertawa canggung sambil mengucapkan terima kasih, “haha… danke,”


“Giselle? Iya. Dia dari jurusan Musik juga, sama denganku…” Giselle masih mendengar percakapan Yangyang dengan teman-temannya di instagram. Semua tidak mengerti dengan apa yang Yangyang bicarakan karena Yangyang mulai menggunakan bahasa Jerman.


“Hya,hya..” Yangyang mengetuk-ngetuk perut Haechan yang berdiri dibelakangnya. “di sekolah ini ada jurusan apa saja?” Tanya Yangyang sambil menunjuk komentar yang muncul di layar HP nya. “ada yang tanya nih, tapi aku lupa,”


Haechan bertukar pandang dengan teman-temannya yang sepertinya juga sudah melupakan materi yang disampaikan pada masa oerientasi siswa baru.


Giselle menepuk pelan meja Yangyang tanda meminta perhatian, “Di departemen Seni ada Jurusan Musik, dan Jurusan Seni Rupa; di departemen Teknik ada Jurusan Teknik Komputer, dan Teknik Mesin; lalu… pada departemen Ilmu Pengetahuan ada Teknik Kimia dan Ilmu Sosial,” Jawab Giselle yakin sambil melipat jari-jemarinya saat menyebutkan satu-persatu jurusan yang ada di sekolah barunya.


“Heol.. itu bahasa Jermannya apa ya?” gumam Yangyang berusaha menjawab pertanyaan di kolom komentar. Giselle kemudian melihat Yangyang menjelaskan jurusan-jurusan yang ada disekolahnya dengan terbata-bata. “Ah, anyway, Giselle ini anak cheers loh!” seru Yangyang mengalihkan pembicaraan.


“Hya…” ucap Giselle malu sambil mendorong lengan Yangyang.


“Wae?” Yangyang balik menatap Giselle. “oh ya, hari ini kau latihan ‘kan? Aku ikut lihat ya. Aku mau merekam aula olahraga!”


...****************...


Yangyang menggenggam erat batang tripod yang sudah terpasang HP pada bagian kepala. Ia merekam seluruh ruang olahraga yang cukup luas itu. Ruangan indoor itu terdapat dua arena, yang satu untuk bermain basket, yang satu arena lapang yang dapat digunakan latihan klub voli, anggar dan cheers.



“Nah… karena hari ini hari Senin, jadi kita dapat melihat klub basket disana, dan klub cheers latihan disini,” jelas Yangyang yang sedang merekam.


Yangyang merekam klub basket yang sedang berkumpul menggunakan seragam basketnya. Klub basket terlihat keren! Yangyang melakukan zoom-in untuk dapat melihat lebih jelas anggota klub basket putra dan putri yang sedang melakukan pemanasan.


“Ck..mwoya..” gumam anggota cheers dari kelas 3, ia terus mengamati Yangyang yang kini berjalan mendekat ke klub basket. “byeontaeya?” Cemoohnya karena merasa terusik dengan kehadiran Yangyang disana.


“Waeyo?” Tanya Joy datar sambil menghampiri anggota cheers yang merupakan seniornya.



“Hya, liat dia,” tunjuk salah satu anggota cheers berwajah masam tadi. “apakah dia orang mesum?” ucapnya mengulangi pertanyaannya.


“Ey, sunbaenim,” Joy yang merupakan ketua cheers baru, tertawa menggoda seniornya. “sudah kelihatan jelas dia anak kelas 1, ‘kan. Dia pasti hanya ingin melihat-lihat gedung sekolah,”


Giselle yang mendengar percakapan sunbae di klubnya kini berbalik badan dan berjalan menjauh, ia berencana mengambil tas yang ia letakan di dalam loker.


Seseorang dengan cepat menggenggam pergelangan tangan Giselle yang berjalan cepat. “hya,” bisiknya, membuat langkah kaki Giselle berhenti.


Giselle membalik badan dan menatap anggota cheers beramput hitam pekat dan kuncir kuda itu.


“Itu..” salah satu anggota cheers baru berjalan mendekati Giselle sambil tetap bisik. Giselle bisa melihat nama di jaket olahraganya, anggota cheers itu bernama ‘Karina’. “dia temanmu?” Karina menunjuk Yangyang dengan gerakan mata.


Giselle mengangguk pelan. “kau dengar ya?” Giselle bertanya balik apakah Karina juga mendengar percakapan sunbaenya. “aigoo… dia memang seperti itu, dia hanya ingin merekam untuk kontennya,” Giselle menjelaskan.


“A…” Karina membuka mulut sambil mengangguk tanda mengerti.


“Aku harus memberi tahunya untuk segera pergi dari sini. Aku ambil HP dulu ya,” Giselle membalik badannya cepat untuk berjalan menuju loker dan menghubungi Yangyang.


“Murid kelas 1!” Joy memanggil sambil bertepuk tangan. “Mwohae?! Ayo cepat kumpul!” Serunya keras, membuat Giselle memballik badan dan menggagalkan aksinya.


Giselle melirik Yangyang yang kemudian mengarahkan kameranya ke arah tim cheers. Yangyang berdiri jauh dari tim cheers, tangan Yangyang terlihat sibuk mengendalikan layar HP. Giselle menghela nafas berat, ia kecewa dengan ucapan kejam sunbaenya yang mengatakan bahwa Yangyang terlihat seperti orang mesum.


Yangyang merekam anggota cheers yang sedang melakukan pemanasan. Ia sedikit berhati-hati karena ia kini ia sedang berada di pinggir lapangan klub basket. Tim basket terlihat putri sedang menguasai lapangan dengan latihan dribble. Sedangkan tim basket putra, sedang berdiri sembari menunggu giliran untuk latihan dribble dengan pengawasan pelatih basket sekolah.


“Awas!” Teriak seorang pebasket putri.


Yangyang dapat melihat dengan jelas dari layar HP nya bahwa ada bola basket yang lepas dari lemparan pebasket putri sedang bergerak cepat menuju ke arahnya. Dengan sigap, Yangyang menangkap bola basket itu dengan tangan kirinya.


“Hhh… hampir saja..” gumam Yangyang lega.


“Mianhaeyo!” Teriak salah satu pebasket putri yang berlari ke ujung lapangan. Ia menjulurkan kedua tangannya tanda Yangyang perlu melempar bola itu kembali.


Yangyang melambungkan bola basket itu masih dengan menggunakan tangan kirinya yang tidak sibuk memegang HP. Bola basket mendarat sempurna ke tangkapan si pemilik bola. Pebasket putri itu segera menuju ke tengah lapangan dan terlihat membungkuk pada Yangyang dan meminta maaf pada sang pelatih.


Yangyang tidak sadar bahwa ia berada di sekitar para pebasket pria yang sedang melakukan pemanasan. Ia menurunkan HP nya dan tersenyum canggung pada setiap pemain yang menatapnya.


“Hya, itu tadi berbahaya,” seorang anggota klub yang bersuara berat datang menghampirinya sambil menyilangkan tangan. “kau siapa?”



Yangyang menatap si pembicara yang berjalan pelan ke arahnya. Ia mengenakan baju basket sekolah yang memperlihatkan jelas lekukan otot di lengan atasnya, ia juga berbadan tinggi dan berkulit cerah, semua di dirinya terlihat sangat menarik kecuali dahinya yang kini berkerut seorang melihat hama di ladang padi yang subur.


“Jwi..jwisonghamnida,” Yangyang malah menjawab dengan permintaan maaf. “sa..saya hanya ingin melihat-lihat…”


“Kau…” seorang anggota basket kini datang dari samping kirinya. Yangyang masih mengingat wajah itu. Itu adalah Jeno, siswa baru yang ia temui di hari orientasi pemilihan klub. “yang di klub band itu ‘kan?”


Yangyang tersenyum canggung sambil menggoyangkan telapak tangannya untuk menyapa Jeno.


“Sunbae, dia murid baru, bukan anggota basket,” jelas Jeno pada anggota basket yang berdiri tepat di depan Yangyang. Kini Jeno menatap Yangyang, terlihat dengan jelas mata Yangyang masih terlihat tegang. “dia ketua klub basket, Jaehyun sunbae,”


“Eh?!” Mata Yangyang membundar kaget. Tidak menyangka bahwa ia akan dihampiri langsung oleh sang ketua kharismatik itu. Yangyang membungkuk lagi dan memperkenalkan dirinya. “Saya Yangyang, dari kelas 1, jurusan Musik,”


“Berdiri disana sebentar,” perintah Jaehyun sebelum ia mengambil salah satu bola basket yang sedang tidak digunakan. “Jeno hya, ambil HP nya dulu,” perintahnya lagi, membuat pandangan para anggota klub basket pria kini fokus ke Yangyang.


Seperti dihipnotis, Yangyang menyerahkan HP nya ke Jeno tanpa aksi penolakan. Kini Jaehyun sudah siap dengan bola basket yang ia putarkan diatas jari telunjuknya.

__ADS_1


“Hyungnim,” Jaehyun memanggil anggota basket yang berasal dari murid kelas 3. “bisa bantu aku?”


Anggota itu menunjuk dirinya sendiri. “Mwoya, aku ikutan?”


“Ne. Bisa tolong berdiri jauh di belakangku?”


“Eh? Jadi ring basket?” tebaknya. Jaehyun menjawab dengan senyum manis dan anggukan. “baiklah,” jawab pebasket yang lebih tinggi dan lebih berotot dari Jaehyun itu.


Dengan santai ia membalik badannya dan mengambil posisi berdiri di belakang Jaehyun.


Tanpa disuruh, seluruh anggota basket pria memberikan ruang kosong diantara Jaehyun dan anggota yang ‘menjadi’ ring basket.


“Kau... Yangyang,” Jaehyun membaca ulang name tag seragam Yangyang. “Sekarang kau lihat itu, disana ada Johnny hyung,” Jaehyun menunjuk Johnny yang berdiri siap dibelakangnya. “aku ingin kau mengambil bola ini dan lempar ke Johnny hyung,” ucapnya sambil mendribble cepat bola basket yang ada padanya.


“Ne?!” Yangyang dibuat kaget lagi.


“Apakah ini hukuman?!” Seru Yangyang dalam hati.


“Lakukan saja,” Jeno menyenggol lengan Yangyang pelan.


Yangyang pun menuruti perintah ketua basket itu. Yangyang membuka jas seragamnya dan sedikit melakukan peregangan pada kedua pergelangan tangannya.


Jaehyun mulai mendribble cepat dan berjalan menghampiri Yangyang bak menggodanya. Yangyang berjalan mendekat sambil memfokuskan matanya ke bola itu. Seperti yang sudah diduga, Jaehyun menghindari tangan Yangyang yang hampir menyentuh bola yang sedang memantul. Serangan Yangyang semakin intens, membuat seluruh anggota tim basket pria menatapnya dan memberi semangat kecil. Hal itu membuat tim basket putri yang sedang berada di tengah lapangan juga menatap Yangyang dan penasaran apa yang Yangyang dan tim basket pria lakukan di pinggir lapangan.


“Eits!” Yangyang berhasil mengambil bola dari kuasa Jaehyun. Dengan cepat ia mendribble bola itu dan melambungkannya ke arah Johnny yang berdiri jauh dari mereka.


“Woow,” Ucap Johhny santai sambil menangkap bola Yangyang. “Hya..” Johnny memeluk bola itu di lengan kirinya sambil mengacungkan jempol di tangan kanannya. “kerja bagus, anak baru!”


Jaehyun mengatur nafas sambil menghampiri Yangyang, “sudah kuduga,”


Jeno datang menghampiri Yangyang sambil memberikan jas seragam dan tripod nya. “kau jago basket rupanya,” pujinya datar.


“Jeno hya, dia temanmu?” Johnny mengacak-acak rambut Yangyang yang memiliki tinggi jauh lebih rendah darinya.


Jeno menggeleng cepat. “Hanya kenal saja,”


Jaehyun menepuk pundak Yangyang dari belakang. “hya, jago juga kau, bagaimana kalau join klub kami?”


Yangyang menjawab pujian itu dengan terima kasih. Ia juga mendengar dengan jelas tawaran sang ketua klub basket. Di sekolah mereka, sudah tentu seorang siswa harus mengikuti kegiatan klub sampai kelas tiga semester satu. Untuk klub yang diikuti pun maksimal dua, dan mereka bisa berpindah klub ditengah jalan namun sesuai dengan kesepakatan sang ketua klub.


Yangyang terdiam menatap Jaehyun. Hal ini sudah pernah ia lakukan sebelumnya, berfikir untuk memilih antara klub basket maupun klub band.


Yangyang menundukan kepalanya, “jwisonghaeyo sunbaenim, saya sudah ikut klub band,”


“Klub band?!” Reaksi Johnnya lebih heboh dari yang lain.


“Ooh.. kau ikut klub band,” ulang Jaehyun santai.


“Tu..tunggu. Klub band?!” Johnny berbicara lagi. “jadi kau yang… haah..” kali ini ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Johnny hanya membungkam mulutnya sendiri dengan tangannya.


Semua tidak ada yang tahu dengan pikiran Johnny. Johnny membuka kembali ingatannya di hari orientasi murid baru. Ia masih ingat dengan jelas loncatan riang Hendery dan Xiaojun saat satu murid baru berdiri di stand klub band.


“Jadi dia, murid baru yang mengikuti klub band,” Johnny menerka-nerka dalam hati.


“Kau… yakin ikut klub band? Bukannya anggotanya hanya satu saja?” Tanya Johnny.


Yangyang mengangguk mantap. “Saya suka musik, sunbae. Hehe. Itu menyenangkan. Sama seperti sunbae yang suka dengan basket,”


“Aku? Ahahaha,” Johnny tertawa lantang bak bapak-bapak. Ia mengacak-acak kepala Yangyang lagi. “Klub band, hwaiting!” Serunya tiba-tiba.


Dari kejauhan, Giselle berdiri di atas jari-jari kakinya. Ia berusaha melihat apa yang terjadi pada tim basket pria yang sedang berkerumun. Giselle melihat Yangyang melepas jas seragamnya dan kemudian pandangan Giselle tertutup oleh seluruh anggota basket berbadan tinggi yang berdiri melingkari Yangyang, Jaehyun dan Johnny.


“Wae?” Karina ikut menjinjitkan kakinya penasaran. Ia juga menatap kerumunan tim basket pria diujung lapangan. “temanmu kenapa?”


Giselle menggelengkan kepalanya. “Entahlah, barusan ia memberikan HP nya pada anak itu,” tunjuk Giselle dari kejauhan.


“Mmm. Aku juga melihatnya,” angguk Karina. “itu Jeno, teman sekelasku,” ujar Karina menyebutkan nama teman sekelasnya.


“Giselle!” Tiba-tiba terdengar Joy meneriakkan nama yang ia baca di list anggota cheers yang ia pegang.


Seluruh anggota cheers tampak mencari-cari siapa si pemilik nama. Giselle yang merasa terpanggil segera berlari menuju pusat suara.


Setelah melakukan perkenalan singkat dan pemanasan, kegiatan cheers hari ini akan ditutup oleh kegiatan ukur berat badan dan seragam, agar mereka segera mendapatkan seragam cheers yang biasa digunakan untuk tampil di perlombaan basket sekolah maupun di perlombaan cheers.


Giselle melepas sepatunya. Ia dapat melihat tatapan intimidasi dari sunbaenya yang merupakan murid kelas 3. Sunbae itu duduk di kursi di depan sebuah timbangan digital, kedua sunbae kelas 3 juga terlihat berdiri di kanan dan kiri.


Seorang anggota cheers lain mendekati Giselle dengan membawa tali ukur. Ia tersenyum ramah, Giselle masih ingat bahwa sunbae itu bernama Yeri dari kelas 2. Ia memiliki badan kecil, sudah pasti Yeri adalah anggota cheers yang memiliki peran sebagai flyer.


Joy terlihat mencatat angka-angka yang disebut Yeri. Setelah pengukuran seragam selesai dilakukan. Giselle melangkahkan kakinya menaiki timbangan dihadapan para sunbae klubnya. Giselle menghela nafas dan menatap lurus kedepan sambil berharap angka pada timbangan segera berhenti.


“Pfft!” Giselle dapat mendengar suara sunbae yang menahan tawanya.


“Mwoya?!” Sunbae yang sedang duduk dihadapannya berseru dan mengeryitkan dahi.


“Daeeebak,” subae yang berdiri di kiri Giselle mengeluarkan suara bernada dramatis.


Joy segera mencatat angka yang ia lihat. Tanpa berkomentar apapun, ia segera meminta Giselle untuk memakai sepatunya.


“50?!” Sang sunbae berdiri sambil melipat tangan. Ia menatap Giselle sambil mengeryitkan alisnya. “Joy ah, mwoya?! Bukankah dia terlalu gemuk?!”


“Sunbaenim!” Seru Joy. Ia lalu menurunkan suaranya, “50 tidaklah gemuk dalam tim ini, lagi pula, aku merasa bahwa Giselle bisa menjadi catcher yang sempurna,”


“Hhh,” sunbae menaikkan ujung bibirnya dan berjalan mendekati Joy. “Begitu kah? Apa itu peraturan barumu setelah kau menjadi ketua?”


“S..sunbaenim,” Yeri mencoba menenangkan. “banyak anak kelas 1 disini, tenang dulu,”



Sunbae itu tidak melanjutkan pembicaraannya. Ia masih memandang Joy dengan tatapan rendah. Tanpa sepatah katapun, ia kembali ke kursi yang ia duduki. Joy mengatur nafasnya, mencoba untuk tidak terpancing emosi.


Suasana hening menyelimuti arena latihan cheers. Semua melihat hubungan tidak akrab yang terjadi antara anak kelas 3 dan sang ketua klub.


Giselle yang berada paling dekat dengan pertikaian itu berjalan lesu menjauh. Perkataan sunbaenya sungguh menusuk hati. Karina kemudian menyambutnya dengan elusan halus pada pundak Giselle.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2