THE ZOO [FF NCT AESPA]

THE ZOO [FF NCT AESPA]
Part 6


__ADS_3


Setelah rapat yang panjang dengan ketiga anggota osis tadi, klub band memutuskan untuk berkumpul di ruang band seusai pulang sekolah. Mereka mengikuti perintah Wendy. Taeyoung mengunci pintu ruangan dari dalam agar tidak ada yang bisa masuk ke ruang klub band selain mereka ber enam. Tak jarang mereka mendengar kerumunan suara dan ketukan pintu, namun tim inti klub band tidak menghiraukan, mereka berharap pengunjung ruangan segera pergi.


“Hhh… kau gila Taeil ah, kau sudah gila…” Sehun berbicara sambil menutup matanya. Ia menguasai sofa panjang di ruangan dengan posisi berbaring diatasnya.


“O,” Kai mengiyakan ucapan Sehun sambil duduk di kursi di belakang keyboard. “hanya Kun dan kau yang bisa. Itu tidak mudah bagi kami,”


“Hya, tidak ada pilihan lain..” ucap Taeil pasrah. Ia dan Kun duduk bersebelahan di lantai karpet dan menyenderkan dirinya pada dinding. “kalau nilai kita terus turun, entah apa yang akan guru lakukan pada klub ini,”


Suasana ruangan semakin suram. Tidak ada yang memiliki ide lebih baik dari ide Taeil, mereka harus meningkatkan nilai mereka. Seluruh anggota band tidak tahu apa yang akan pihak sekolah lakukan pada klub itu jika klub band terus memberikan pengaruh buruk pada anggotanya. Kenyataan bahwa klub band bukan klub paling berprestasi di sekolah juga membuat mereka ragu pihak sekolah akan mempertahankan klub ini.


“Hyung..” suara Hansol memecah keheningan. “apa yang harus kita lakukan pada anggota lain?”


...****************...


Doyoung duduk manis di kursi yang sudah disediakan. Ia duduk di tengah ruangan klub band, lengkap dengan meja dan listrik yang siap menampung charge laptopnya. Taeyoung, Kun, Hansol, Sehun, Taeil dan Kai berdiri mengelilingi Doyoung dengan wajah bingungnya. Siang tadi, mereka ber enam menghampiri Doyoung untuk mencegahnya pulang. Sehun meminta Doyoung membantunya hari ini. Doyoung yang tidak bisa menolak karena Sehun memasang wajah menyeramkan, mengiyakan dan mengikutinya hingga kini ia tiba di dalam ruangan klub band.


Hari ini adalah hari kamis dimana kegiatan klub band diadakan. Menurut penjelasan Sehun tadi, klub band akan menyeleksi anggota band lagi untuk mengurangi jumlah anggota yang terlalu banyak.


“Caranya?” Doyoung masih ingat tadi ia bertanya hal itu pada Sehun.


“Untuk murid yang peringkatnya turun lebih dari 5 tingkat, dia akan ‘gugur’,” ucap Sehun bangga pada idenya. Ia bahkan mengacungkan jempol.


“Mwoya.. bahkan diantara anggotanya, dia sendiri turun lebih dari 5 tingkat..” komentar Doyoung dalam hati.


Untuk itulah para anggota band meminta Doyoung membantunya untuk melihat data ranking siswa yang hanya dimiliki oleh guru dan osis.


Taeyoung berdiri di depan ruangan, meminta seluruh anggota band untuk baris satu persatu. Murid pertama datang. Murid itu terlihat bingung dengan hal yang tidak biasa terjadi.


“Jungwoo,” sebut Taeil pada Doyoung sesudah Hansol meminta murid bernama Jungwoo untuk duduk dihadapan Doyoung. "kau dari jurusan apa? Aku lupa,” tanya Taeil pada Jungwoo.


“Saya Jungwoo dari jurusan Teknik Mesin, kelas 1-4,” jawab Jungwoo mendongak menatap Taeil yang berdiri di sebelahnya. “sunbaenim, ini ada ap..”


“Sssstt…” Kai menempelkan jari telunjuknya pada bibir. “diam saja…”


Jungwoo seketika berwajah tegang menatap salah satu sunbae di klub band yang menyeramkan selain Sehun.


Doyoung segera mengetikkan informasi mengenai Jungwoo pada laptop osis dihadapannya. Setelah menekan tombol enter dengan keras. Doyoung mencari informasi yang ia butuhkan.


“Turun 2,” jawab Doyoung. “dari peringkat 10 ke 12,”


“Wooo..”


“Woo… pintar juga kau,” goda Sehun dan Kai bergantian.


“Oke, kau lulus,” Taeil menepuk punggung Jungwoo.


Jungwoo menatap semua anggota band yang sedang berdiri itu. “tu..tunggu, ada apa ini sebenarnya?”


“Ey, santai saja, kami sedang menyeleksi anggota,” jawab Sehun sambil menyilangkan tangan. “kami tidak suka memiliki anggota dengan nilai yang turun, jadi bagi anggota yang nilai semester kemarin turun 5 peringkat dari semester awal, akan kami usir. Haha,” gurau Sehun dengan perkataan yang tak sepenuhnya benar.


“Tapi…” Doyoung tetap menatap layarnya. “Jungwoo hya, bukankah kau ikut klub broadcasting juga?” ucap Doyoung yang merupakan ketua dari klub broadcasting.


“Ne,” angguk Jungwoo. “bukankah tidak apa-apa memilih 2 klub, sunbae?”


Doyoung memundurkan badannya. “Ya… tidak apa-apa, sih..” gumam Doyoung pelan. Ia lalu menatap Taeil yang berdiri di sampingnya. “bagaimana?”


“Mmm… kau punya dua klub ya..” Taeil mengelus dagunya. “sekarang, syarat mengikuti klub ini akan kami perketat. Dengar ya, satu, anggota tidak boleh turun peringkat lebih dari 5 tingkat. Dua, latihan band hanya di hari Kamis, jadi kalian tidak bisa masuk ruangan di hari lain. Dan tiga, anggota klub band tidak boleh memiliki poin pelanggaran lebih dari 30,”


“Hhhhhh?!” Jungwoo terkejut menarik nafas dalam saat mendengar syarat menjadi anggota band. “Waeyo?!”


“Sudah jangan banyak tanya,” ucap Sehun pedas, menolak menjawab pertanyaan Jungwoo. “kau sanggup tidak? Kau ‘kan ikut dua klub,”


“N…ne, s..sanggup, sunbae,” jawab Jungwoo terbata-bata.


“Ya sudah,” Taeil tersenyum kecil menatap kepanikan Jungwoo. “panggil giliran berikutnya. Hari ini tidak ada latihan dulu ya,”


Seperti itulah ‘audisi’ yang dilakukan klub band. Mereka memanggil satu persatu anggotanya untuk kemudian Doyoung memastikan bahwa anggota tersebut tidak mengalami penurunan nilai yang drastis. Sampai saat ini, klub band sudah melepas begitu banyak anggota klub yang mengalami penurunan peringkat pada nilai sekolah.


“Annyeong haseyo…” murid kelas 1 memasuki ruangan. “maaf telat, sunbaenim…” ucapnya sambil menunduk.


“Oh hya… jam berapa ini?” Kai menekan-nekan pergelangan tangannya yang tidak terdapat jam tangan disana.


“Jwisonghamnida,”


“Xiaojun ‘kan?” Sebut Kun yang tidak jadi mengemasi barangnya untuk pulang. “kami hampir saja pulang. Kau membuat anggota osis menunggu,” lanjut Kun dengan nada bercanda.


“Maaf sunbae,” ucap Xiaojun lagi sambil menunduk satu-persatu pada seluruh sunbaenya. “tadi kami harus mengepel aula teater, jadi…”


“Oh, dihukum ya?” Goda Kai tertawa.


“N..ne..” Xiaojun menjawab pelan.


“Apa kau datang bersama Mark dan Hendery?” Tanya Taeil menatap pintu ruangan yang terbuka. Taeil tidak bisa melihat siapapun disana karena ada Taeyoung yang berdiri diambang pintu.


“Ne, saya bersama mereka berdua,” jawab Xiaojun menyebutkan kedua teman sekelasnya yang juga anggota klub band.


“Mwoya, kalian bertiga dihukum bersama ya,” Kai masih menggoda Xiaojun. Diikuti tawaan Sehun.

__ADS_1


“Yasudah, kalian langsung masuk saja bertiga,” pinta Taeil.


Xiaojun pun segera bergegas berlari kecil menuju pintu ruangan. Ia memanggil kedua temannya untuk masuk ruangan. Taeyoung pun ikut masuk dan mendekati Doyoung dengan laptopnya yang siap menlihat data nilai dari ketiga murid kelas satu yang terakhir datang hari ini.


Taeil menjelaskan secara singkat apa yang akan mereka lakukan terhadap Xiaojun, Mark dan Hendery. Ia juga menjelaskan mengenai peraturan-peraturan baru klub band jika mereka ‘lolos’ audisi menjadi anggota klub.


“Xiaojun, Mark, dan Hendery dari jurusan Musik, kelas 1-1,” jawab Mark. Mereka bertiga tidak ada yang duduk dihadapan Doyoung. Dengan lucunya mereka bertiga berdiri bergandengan tangan, berharap mereka bertiga lolos dalam audisi klub band.



Dengan cepat, Doyoung mengetikkan jari-jarinya di atas keyboard. “Oke. Xiaojun dulu ya..” Doyoung menatap layarnya. “Hmmm…. Ikut klub sepak bola juga ya,” gumam Doyoung menjawab riwayat keanggotaannya. “Oke, saatnya kau fokus dengan klub sepak bolamu itu,” ucapnya sambil mendongakkan kepala menatap Xiaojun yang berdiri di hadapannya.


“Ne?!”


“Kau turun 9 peringkat. Dengan nilai terendah, sastra Korea,” lanjut Doyoung entah mengapa sambil tersenyum.


“Andwae!!” Xiaojun bersikap dramatis sambil mencengkeram rambutnya.


“Dari rangking 20 ke rangking 29,” lanjut Doyoung, kali ini Doyoung berbicara menghadap Taeyoung, karena Xiaojun sudah heboh sendiri dan tidak mendengarkan ucapannya.


“Xiaojun ah!” Mark yang berdiri ditengah menoleh ke kanannya menatap Xiaojun dengan wajah iba.


“Hya! Chingu hya!” Hendery ikut bereaksi.


“Mark hya, Hendery hya, aku bukan anggota band lagi!” Xiaojun membuat nada sedih berlebihan. Mereka bertiga membuat posisi lingkaran dengan saling berpelukan. “aku gagal menjadi vocalist baaanndd..” rintihnya. Reaksi mereka bertiga membuat sunbae disana hanya tertawa diatas penderitaan Xiaojun.


“Lanjut ya,” Doyoung mengetikan nama lagi pada keyboardnya. “selanjutnya… Mark…”


“Hya, sst sst,” Mark membuang Xiaojun ke sisi kanannya jauh dan hanya menggenggam kedua tangan Hendery. “Ne, sunbae. Mark imnida,”


“Mwoya, sayang sekali, kau turun 7 peringkat,” Doyoung mendekatkan wajahnya pada layar laptop.


“Mwo?! Andwae sunbaenim!” Seperti Xiaojun, Mark juga bereaksi berlebihan. “Sa..saya tidak memiliki klub lagi! Saya hanya mengikuti klub band,” protesnya.



“Ey, cari lagi lah,” Sehun menyibakkan telapak tangannya di depan wajahnya.


“Omo! Hya, kau bilang suka basket, ‘kan? Kau bisa masuk klub basket!” Xiaojun menunjuk Mark yang yakin memiliki hobi bermain basket selain bermain gitar.


“Apakah bisa, sunbae?” Mark menatap anggota osis yang duduk dihadapannya. “saya masuk klub basket secara tiba-tiba, apakah bisa?”


Doyoung mengangguk menjawab pertanyaan Mark. “Temui saja ketuanya,”


“Ah takut,” Mark mengelus tengkuknya sambil tersenyum pahit. “ketua klub basket terlihat menyeramkan. Hehe. Johnny sun….”


Lengannya sudah disenggol oleh Hendery dan ia berbisik pada Mark, “Taeyoung sunbae adalah teman dekat Johnny sunbae. Sst,”


Mark segera menutup mulut dengan tangannya. Ia kemudian menatap Taeyoung dan menunduk meminta maaf.


“Haha. Santai saja,” Taeyoung tertawa renyah melihat hoobae yang ternyata takut dengan teman dekat Taeyoung. “akan kubantu bicara padanya,”


“Oke? Sudah selesai ya, Mark? Kau masuk klub basket saja,” usul Doyoung sesuai dengan minat Mark dalam bermain basket. “sekarang…. Hendery,”


“Ne,” angguk Hendery sambil menggenggam kedua tangannya.


“Murid Taeyoung,” ucap Kun pelan sambil bertukar pandang dengan Taeil yang sedang tersenyum.


“Hmm… kau juga sayang sekali, turun 6 peringkat,”


“Mwo?!”


“Mwoya? Diantara kita tidak ada yang lolos?!” Sela Xiaojun kaget. “Ahahaha!”


“Apakah benar?” Taeyoung berpindah posisi menghampiri layar Doyoung. Doyoung menunjuk layarnya dan Taeyoung dapat melihat bahwa Hendery turun dari peringkat 6 ke 12. Raut wajah Taeyoung sedikit kecewa.


“Tapi dia murid berprestasi, loh,” Hansol menunjuk sederet informasi lain dari Hendery yang tertera pada laptop Doyoung. “Hendery masuk dengan jalur nilai akademis yang tinggi saat SMP, lalu ia mendapat nilai paling tinggi di ujian praktek seni musik di awal semester, ini lihat,” tunjuk Hansol pada sederet prestasi Hendery. “Aa… dia bagus dalam bidang olahraga juga ya, pasti staminanya bagus,”


Hendery memasang senyum canggung mendengar data dirinya disebut. Klub band juga satu-satunya klub yang ia ikuti, Hendery belum tahu akan memilih klub apa jika ia tidak lolos dari audisi ini.


“Berapa anggota yang sudah lulus sejauh ini?” Tanya Sehun pada Kun, sang sekertaris klub.


“6 dari 20,” ucap Kun membaca catatannya.


“Ha?!” Murid seisi ruangan kaget bersamaan. Sungguh selisih yang banyak.


“Nilai-nilai mereka benar-benar jelek ya,” komentar Hansol menyadari telah kehilangan begitu banyak anggota.


Kun mengangguk setuju.


“Jadi, Hendery bagaimana, sunbae?” Xiaojun memastikan kembali nasib temannya.


“Dia bisa bermain dua alat musik, loh,” Taeil membicarakan keahlian Hendery pada Taeyoung yang tentu sudah tahu. “dia pemain drum, dan kini sedang belajar bermain gitar darimu, ‘kan?”


“Yah, aku rasa dia bisa meningkatkan nilai akademisnya dengan mudah,” Doyoung ikut berkomentar.


Taeyoung terdiam sambil menatap layar laptop Doyoung. Ia mengenal Hendery sebagai anggota klub dan sebagai adik kelas yang ia ajari bermain gitar. Selama ini, Hendery antusias mempelajari gitar karena ia berfikir bahwa permainan gitar itu keren. Hal itu mengingatkan Taeyoung pada dirinya dulu saat meminta Taeil untuk menjadi mentor gitarnya.


“Hyung…” Hendery mengeluarkan pancaran mata iba pada Taeyoung.

__ADS_1


“Sunbaenim… tolong terima Hendery,” Xiaojun memohon pada sang ketua klub.


“..Ya?” Mark juga ikut berpartisipasi, ia bahkan menyatukan seluruh jari jemarinya.


Taeyoung tidak dapat mengontrol dirinya untuk menahan tawa. “Ah, baiklah baiklah! Hendery, kau lolos!”


“Eh?!”


“Hya!! Henderyyy!” Seru Xiaojun dan Mark. Mereka bertiga pun berpelukan lagi di depan sunbaenya.


...****************...


Perlakuan pihak sekolah pada klub band benar-benar berbeda, terutama semenjak nilai ujian semester diumumkan dan seluruh anggota klub mengalami penurunan nilai. Kim ssaem tidak lagi sering berkunjung untuk terkadang ikut bermain gitar, alat musik favoritnya.


Hari ini Taeyoung, Hansol dan Kun memilih berkumpul bersama di ruang band untuk belajar bersama. Kun memberikan materi matematika dan bahasa inggris yang tidak mereka kuasai. Mata pelajaran tiap jurusan memang berbeda, namun Taeyoung dan Hansol bersyukur karena pada mata pelajaran inti, yaitu matematika, sastra Korea, bahasa inggris dan gegografi, seluruh jurusan mendapatkan materi yang sama.


Hansol sedang mengerjakan latihan soal bahasa inggris, hal yang harus dikuasainya karena ia merupakan murid jurusan Teknik Mesin. Sedangkan Taeyoung sedang diam mendengarkan Kun yang sedang menjelaskan mengenai pemecahan soal matematika.


“Oh! Jadi ini seperti ini ya?” Seru Taeyoung saat berhasil memecahkan soal matematika yang sedari tadi dijelaskan Kun secara berulang-ulang.


“Wae wae?” Hansol yang penasaran, mengarahkan pandangannya pada buku Taeyoung yang duduk disebelahnya.


“Hya… selesaikan ini dulu…” Kun mencoba memusatkan kembali perhatian Hansol dengan mengetuk-ngetuk pelan buku Hansol.


Hansol tersenyum usil sambil kembali menatap 10 soal bahasa inggris yang tersisa. Ia masih mendengar Taeyoung dengan kehebohannya karena dapat mengerjakan soal matematika. Taeyoung terdengar tidak berhenti kagum pada dirinya dan berterima kasih pada Kun.


Kun yang duduk berhadapan dengan Taeyoung dan Hansol tertawa melihat reaksi Taeyoung. “Aigoo… berisik sekali,” ucapnya sambil berakting menutup telinganya.


“Hya, kau ‘kan sudah biasa mengerjakan soal ini. Sedangkan aku, aku baru mengerti! Wuaahh, jinnnnjja gomawo!” Taeyoung membulatkan mata dan mulutnya.


“Iya..iya..” Kun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “lanjut soal berikutnya,”


“Kun, ah,” Hansol menopang dagunya. “tidak bisakah kau jangan pergi?” Ucapnya pelan dengan wajah memelas menatap Kun.


“Ha? Tiba-tiba?” Kun mengeryitkan dahinya sambil sedikit tertawa.


“A..ni…” Hansol menyeret suaranya. “jangan kembali ke Cina, apa yang bisa kulakukan tanpamu?”


Tawa Kun pecah lagi, “Hahaha! Mwoya?! Hentikan. Kau berlebihan,”


“Mmm..” Taeyoung ikut berbicara. “Hya… aku membutuhkanmu untuk ini jugaaa…” Taeyoung mengetuk-ketukan pensilnya keatas buku. “siapa yang akan mengajari ku setelah kau pergi?” rengek Taeyoung.


“Belajar sendiri sana. Atau pergi ke Hagwon,” jawab Kun santai sambil menyebutkan tempat les yang biasa dikunjungi murid.


“Aaaa…. Gajimaaaa” Taeyoung menggoyang-goyangkan badannya ke kanan dan kiri sambil tetap merengek meminta Kun untuk tidak pergi ke Cina.


Kun mengeryitkan dahinya melihat kedua temannya bertingkah sok imut. “Sebenarnya aku juga tidak ingin pergi, tapi yah, mau bagaimana lagi, aku tidak bisa tinggal sendirian di sini,”


Taeyoung dan Hansol masih menatapnya memelas.


“Aku juga masih ingin bermain band..” lanjut Kun menatap instrumen-instrumen band di dalam ruang klub. “lomba di Paju nanti merupakan lomba terakhir kita, ya?”


Taeyoung mengangkat pundaknya. Ia harap itu bukan perlombaan terakhir yang diikuti klub band sekolah Seo Seoul. Semenjak pihak sekolah melakukan pengawasan ketat terhadap kegiatan klub band, pihak sekolah sudah tidak mengijinkan klub band lagi untuk mengikuti kegiatan di sekolah untuk sementara waktu. Hal itu berpengaruh besar pada klub band. Biasanya, setiap ada kegiatan perlombaan atau undangan dari pihak luar kepada klub band, Kim ssaem datang untuk melakukan pendampingan, seperti, mengantar-jemput mereka dengan mini bus sekolah, membiayai keperluan klub band dengan dana sekolah, dan ia juga bertindak sebagai penyemangat murid-muridnya yang terkadang mengalami demam panggung sebelum naik ke panggung besar tempat mereka tampil.


Sebulan lalu, Kim ssaem bersama keenam anggota band datang ke Incheon untuk mengikuti perlombaan band antar sekolah. Incheon merupakan wilayah yang cukup jauh dari sekolah mereka di Seoul. Seperti biasa, klub band bersama Kim ssaem datang dengan mini bus sekolah dan membawa gitar kesayangan mereka. Kala itu mereka menunggu giliran bernyanyi sampai sore tiba karena peserta yang mengikuti perlombaan itu cukup banyak. Mereka tidak menyangka bahwa mereka akan masuk ke babak final dan mengalahkan 20 band lain. Kemenangan merekapun sempat dimuat di majalah sekolah dan Winwin, dari klub broadcasting, mengundang mereka berenam sebagai tamu di siaran radio yang biasa ia lakukan saat jam makan siang.


Namun sayang, sudah beberapa minggu ini klub band seperti ditelantarkan oleh pihak sekolah. Kim ssaem yang biasanya berkunjung ke klub band pun hampir tidak pernah kelihatan. Taeyoung sudah memberitahu Wendy bahwa akan ada perlombaan final di Kota Paju untuk memperebutkan juara dari band terbaik seluruh Provinsi Gyeonggi. Namun, Wendy menyarankan Taeyoung untuk tidak mengikuti perlombaan itu, karena pihak sekolah sudah tidak mendukung kegiatan klub band.


Taeyoung masih ingat ucapan Kai saat itu yang memprotes kebijakan sekolah pada Wendy, “Mwoya?! Kau bilang sekolah tidak akan membubarkan klub band, tapi mengapa kami mendapat perlakuan seperti ini?! Ini sama saja dengan membubarkan klub!” seru Kai saat mereka ber-enam dan Wendy sedang mengobrol di dalam ruang osis. “Kalian sudah tidak menganggap kami lagi?!” Kai masih melanjutkan ucapannya.


“Kai ah..” Sehun dan Taeil saat itu juga berusaha menenangkan Kai. Mereka berdua memegang lengan Kai dan mengelus pelan punggungnya.


“Sudahlah, kita bisa pergi sendiri,” ucap Sehun menepuk-nepuk punggung Kai lagi.


“Hya, andwae,” larang Wendy. “Paju itu jauh, kalian butuh pengawasan,” ucapnya khawatir.


“Itu kau tahu!”


“Hya hya… Kai ah…” kali ini Sehun meninggikan suaranya agar Kai semakin tenang dan tidak berbicara kasar pada wanita. “sudahlaaah,”


“Sunbaenim,” Taeyoung membuka suara.


“perlombaan di bulan Agustus nanti adalah perlombaan lanjutan dari bulan Juni lalu, dan kami sudah menantikkannya,” jelasnya lagi. “kami akan tetap mengikuti perlombaan ini,” Taeyoung sebagai ketua klub band membuat keputusan.


“Mmm, benar!” Sehun menjentikkan jarinya. “aku setuju, Taeyoung ah. Kita akan berangkat sendiri,”


“Ha?” Taeil membuka mulut mengeryitkan dahinya menatap Sehun dan Taeyoung bergantian. “hya, Paju itu jauh..” Taeil sedikit berbisik.


“Oh ayolah Taeil, ini lomba utama kita sebelum lulus!” Sehun berkata geram. “lomba terakhir Kun juga sebelum ia pindah sekolah!” Sehun menunjuk Kun yang tak lupa ia sebutkan karena perlombaan ini tidak bisa mereka ikuti lagi di tahun depan.


“Ne, hyung..” Kun setuju dengan pernyataan Sehun. “aku ingin melakukannya,” pandang Kun mantap pada setiap orang di ruang itu. “aku ingin melakukan hal yang paling aku sukai di sekolah ini sebelum aku pindah sekolah,” lanjutnya.


“Geurae. Aku juga!” Sehun menyenggol bahu Kun dengan lengannya.


“Ne, aku juga, hyung!” Hansol juga terdengar semangat. “Kalah menang tidak masalah, ayo kita ikuti perlombaan ini sampai akhir!”


Taeyoung tersenyum lega mendengar seluruh anggota band setuju dengan keputusan yang ia buat. Ia pun menatap Wendy lagi yang masih memasang wajah ragu. “Sunbaenim, kalau begitu… kami akan pergi sendiri, tolong sampaikan hal ini pada pihak sekolah, dan pada Kim ssaem,” pinta Taeyoung.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2