
"Hei bro...apa kabarmu??" Tanya Nathan sambil mereka berpelukan.
"Kamu kok ngilang gitu aja sih?? Kita semua tim basket sepi tanpamu!!" Kata Juma.
"Bagus ya...sudah bertemu teman sepergosipan, dengan enaknya aku dicueki!!" Kata Dina cemberut.
"Iya...iya!! Bawel banget sih?? Nggak berubah juga!!" Kata Nathan mencubit pipi cuby Dina.
Ada perasaan sedih di hati Juma melihat kemesraan keduanya. Dia jadi teringat mengapa dia nekat menjauhi Dina walaupun dia harus mengorbankan perasaannya sendiri.
***Flashback on***
Waktu itu Nathan, Juma dan Leo sahabat baru mereka berkelahi melawan para preman yang menculik Raftar.
Tanpa mereka sadar Juma sedang diincar oleh salah seorang kaki tangan Nuri dan Anya (Baca episode Kutukan Cinta part 261) dan celakanya Juma sama sekali tak menyadarinya.
"Awas Juma!!" Teriak Nathan seraya mendorong keras tubuh Juma.
Juma Selamat tetapi Nathan terkena goresan belati itu di perutnya.
Ternyata belati yang menggores perutnya telah diolesi racun oleh si pemiliknya.
Saat itu keadaan Nathan benar-benar kritis, Dina sama sekali tak tahu menahu tentang hal itu, yang dia tau para sahabatnya telah pulang ke kota dengan selamat, mereka memang sengaja tak ada yang memberi tahukan Dina tentang keadaan Nathan.
Mereka mengatakan Nathan pergi ke Ausie mengikuti kedua orang tuanya pindah tugas kesana padahal yang sebenarnya kondisi Nathan sedang koma dan kritis di rumah sakit.
Melihat pengorbanan sahabatnya, Juma pun berjanji dalam hati untuk melakukan apapun walau itu harus melepaskan Dina yang dia cintai untuk dimiliki oleh Nathan kembali.
Sepanjang komanya Nathan tak henti menyebut nama Dina tetapi kesadarannya tak kunjung muncul hingga Juma bertekad untuk membantu memulihkan Nathan dengan berusaha membangkitkan alam bawah sadar Nathan tentang kenangannya bersama Dina.
Tiga bulan kemudian Nathan sadar tetapi racun belati yang menggoresnya itu telah melumpuhkan sebagian sistem syaraf di tubuhnya.
Hampir setahun Juma membantu Nathan untuk kesembuhannya sampai Nathan harus home schooling untuk mengejar semua pelajarannya yang tertinggal.
Setiap Dina bertanya tentang Nathan selalu dijawab Juma dia tak tau lagi tentang kabarnya Nathan.
***Flashback off***
"Kok kalian bengong sih?? Mari kita masuk dulu!!" Kata Dina mengajak kedua sahabatnya.
"Juma....kok hanya Dina sih yang dikenalkan, aku kan juga mau kenalan sama si ganteng itu." Kata Cecilia dengan gaya manjanya.
"Dina itu tak perlu dikenalkan lagi karena dia dan Nathan telah lama berteman jauh sebelum bertemu dan berteman denganku!!" Kata Juma.
**************
"Sstttt kamu lihat, suasana di dalam rumah kelihatan lengang banget, sepertinya Johan dan lainnya belum pulang deh." Kata kedua orang yang bersembunyi di samping pagar dan mengintai kedalam.
__ADS_1
Berarti kita bebas untuk melakukan misi kita tanpa bersusah payah dong!!" Jawab teman di sebelahnya.
Baru saja kedua orang itu hendak bergerak maju, tiba-tiba dari dalam tampak keluar seorang remaja bertubuh mungil sedang menggendong seorang bayi.
"Siapa gadis kecil itu?? Kamu bilang tak ada siapapun di rumah!!" Kata teman di sebelahnya tak jadi melangkah maju.
"Ya mana aku tau, tapi hanya seorang gadis kecil begitu apa yang kita takutkan? Diketok saja kepalanya pasti dia sudah menangis keras!!" Kata temannya lagi.
"Syifa...Juned dan Dina belum pulang??" Tiba-tiba dari samping rumah muncul seorang lelaki tua bertubuh sedikit bungkuk karena telah dimakan usia.
"Hadeuh...muncul lagi si kakek bungkuk, sekali tendang itu belakangnya pasti berdirinya tegak kembali!!" Kata teman satunya menahan tawa yang hampir menyembur dari mulutnya.
"Memangnya kenapa aki mencari kak Dina dan bang Juned??" Tanya Syifa.
"Aki bawa buah kuranji kesukaan mereka!!" Kata aki Ibud yang memang baru datang dari kampung mengunjungi anaknya.
"Buat Syifa apa ki??" Tanya Syifa.
"Itukan aki bawakan rambutan dan cempedak, kamu sanggar aja nanti!!" Kata aki Ibud lagi.
"Siap kek!!" Jawab Syifa sangat senang.
Karena mereka berdua tidak mengetahui siapa aki Ibud dan Syifa, kedua orang itu lalu memakai penutup wajah dan keluar dari persembunyiannya menuju kearah aki Ibud dan Syifa yang sedang bercakap-cakap sambil menggendong putrinya tante Della.
"Wau ada ninja nyasar kek!!" Teriak Syifa.
"Itu bukan ninja dodol, itu orang jahat!!" Kata aki lbud terlihat panik.
"Jika kalian berdua ingin selamat, serahkan bayi itu dan ibunya atau kami tendang bongkokmu itu aki tua!!" Kata orang bertopeng ala ninja itu.
"Apa? Kurang ajar kalian ya?? Aku sumpahi semoga kalian tidak laku sampai jadi aki bongkok seperti aku!!" Semprot aki Ibud kesal.
"Diam kamu kakek bau tanah? Dan kau bocah, serahkan bayi yang ada di dalam gendonganmu itu!!" Jawab salah satunya.
"Ya kalau om perlu, om berdua lah yang maju kemari!! Masa saya??" Kata Syifa.
"Ihhh beraninya anak perempuan ini!!" Kata lelaki bertubuh ceking di sebelah si gembrot.
"Syifa, kakek capek...biarkan kakek yang menggendong bayi itu, dan tugasmu membuat sambutan hangat selamat datang pada si gembrot dan si cungkring itu." Kata aki Ibud.
Awalnya keduanya memandang remeh pada syifa.
"Masuklah adik kecil, serahkan bayi itu pada kami!!"
"Coba ulangi lagi ucapan kalian?" Kata Syifa geram.
"Kalian memanggilku adik kecil? Kalian tau aku tidak suka dipanggil anak kecil!!" Kata Syifa marah bukan main.
__ADS_1
"Pegang Devina ki, biar Syifa kasih pelajaran si angka sepuluh ini!!" Kata Syifa mengangsurkan Devina bayinya tante Della.
"Kok angka sepuluh??" Tanya aki Ibud.
"Itu yang satu bulat cebol yang satunya lagi tinggi tipis seperti tiang jemuran!!" Kata Syifa.
"Dasar anak kurang ajar!!" Kata aki Ibud sambil tertawa.
"Sini...sini...angka sepuluh!!" Kata Syifa sambil tertawa mengekeh membuat kedua laki-laki di depannya jadi meradang.
"Bocah sialan!!" Lalu yang bertubuh cebol melayangkan tamparannya, tujuannya adalah menampar pipi gadis cantik itu, tetapi...
"Siapa yang mau om tampar?" Kata Syifa sambil tertawa mengejek.
"Astaga...cepat sekali gerakan bocah itu tau-tau dia sudah berada di samping si embot!!" Kata cungkring di sebelahnya.
"Om...om...makanya kalau punya badan jangan gendut...gendut nanti nggak bisa gerak!!" Kata Syifa tertawa geli.
Kini tau lah kedua orang itu jika yang mereka hadapi bukanlah bocah biasa, dilihat dari gerakan tubuhnya yang mampu berpindah cepat.
"Siapa sih bocah kecil ini??" Kata si cungkring berbisik pada di gendut di sampingnya.
"Waduh...kok sepertinya aku mencium bau-bau bahaya ya ndut!!" Kata si cungkring pada temannya.
"Kita tidak punya pilihan lain, kita sudah terlanjur masuk kemari mumpung yang lainnya belum datang mari kita hajar cucu dan aki bongkoknya itu lalu kita ambil bayinya jika perlu kita bawa pula ibunya." Kata si cungkring.
Dengan gerakan cepat kini mereka berdua menyerang Syifa secara bersamaan.
Barulah kini mereka tau betapa hebatnya gadis cilik yang mereka remehkan sebagai bocah itu.
Hingga di suatu kesempatan....
Bag...bug...bag...bug
Dua lengan cungkring dan si gendut beradu dengan lengan kanan dan kiri Syifa.
Auhhhhh....
Mereka berdua teriak bersamaan dan sama-sama melompat mundur kebelakang dengan keadaan lengan mereka masing-masing merah melepuh.
Sementara gadis cilik itu hanya mundur beberapa langkah saja tapi masih menyeringai seperti mentertawakan kedua orang di hadapannya yang tadi beradu lengan dengannya.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Auto kena mentalkan si gendut dan si cungkring😊😊 yang mereka sangka sedari awal cupu ternyata suhu...
Jangan lupa untuk selalu mendukung Tiga Jagoan Yatim Piatu ya reader, terima kasih🙏🙏