
Dia hanya menatap lekat pada bapak tua berwajah teduh itu.
"Wajah bapak ini tenang banget, sorot matanya memancarkan kedamaian, nggak seperti Aki Ibud yang sorot matanya memancarkan kerusuhan!" Batin Juned.
"Apa yang kamu pikirkan, anak brengsek?" Bisik Aki Ibud seraya menyikut perut Juned.
"Siapa namamu anak muda?" Tanya bapak tua itu pada Juned.
"Muhammad Juneda, tapi biasa dipanggil Juned!" Ucap Juned.
"Kamu ganteng sekali nak, tapi bukan hanya wajahmu saja yang polos, hatimu juga dipenuhi perasaan welas asih! Pasti kedua orang tuamu telah mendidikmu secara baik!" Ujar pak tua tersebut.
"Oh iya perkenalkan nama bapak, Mahmud...bapak tinggal di belakang mesjid ini!" Ujarnya.
Juned hanya terdiam. Dia tau betul bahwa bundanya seorang lah yang mati-matian berjuang untuk dia dan saudara-saudaranya sampai detik beliau menghembuskan napas terakhirnya.
"Bapak?" Lirih Juned pelan nyaris tak terdengar.
"Nak, bagaimanapun kesalahan bapakmu di masa lalu harus bisa kamu maafkan, agar bapakmu tenang di alam sana!" Ucap bapak Mahmud.
"Bapak tau bapak Juned sudah meninggal dunia?" Tanya Juned.
__ADS_1
"Ibumu pun juga telah meninggalkan?" Kata orang tua itu tersenyum.
"Bapak cuma ingin memperingatkanmu, Juned! Akan banyak rintangan yang akan kamu dan para saudaramu hadapi kedepannya tapi percayalah, jangan pernah tinggalkan sholat lima waktumu, memohonlah kepada sang pencipta langit dan bumi, mintalah selalu perlindungan kepadaNya, niscaya kalian akan selalu dilindungi, tak ada satu kekuatan hitampun yang bisa menang dari kekuatan putih walau terkadang putih sering kalah selangkah dari hitam tapi percayalah bahwa kebathilan tak akan pernah menang melawan kebaikan, kamu cam kan itu baik-baik! Dan kamu, saya minta selalu dampingi mereka dan bimbinglah selalu mereka!" Ujar bapak Mahmud pada Aki Ibud.
"Sekarang sudah hampir memasuki azan Isya, saya mau berwudhu duluan, permisi...Assalamualaikum!" Ucap pak Mahmud segera berlalu.
"Waalaikum Salam!" Jawab Aki Ibud dan Juned serempak.
Mereka berdua juga beranjak menuju tempat wudhu pria.
"Lho, pak Mahmud tadi mana Ki? Kok nggak kelihatan? Apa beliau wudhu di rumah?" Tanya Juned menatap sekeliling.
Sampai mereka selesai sholat berjamaah tak tampak lagi pak Mahmud di antara para jamaah yang tidak seberapa malam itu.
Juned dan Aki Ibud menoleh kebelakang.
"Lho pak Mahmud rupanya ada di sini?" Tanya Aki Ibud saat melihat siapa yang menyapa mereka.
Dahi orang tua itu mengerenyit sesaat mendengar perkataan Aki Ibud tadi.
"Siapa? Mahmud?" Tanya nya.
__ADS_1
"Iya! Pak Mahmud!" Ucap Juned menjawabnya.
"Maaf, nama saya Muhtar...saya marbot di sini, Mahmud itu saudara kembar saya, tapi beliau sudah meninggal sekitar lima tahun yang lalu karena sakit!" Kata pak Muhtar.
"Ah yang benar pak?" Kata Juned tersentak.
"Bukannya bapak sendiri tadi yang memperkenalkan diri sebagai pak Mahmud dan bapak bilang tinggal tak jauh di belakang mesjid ini?" Kata Juned lagi.
"Di belakang mesjid ini hanyalah kebun kosong, dan agak jauh ke belakangnya memang ada makam saudara kembar saya!" Ucap pak Muhtar dengan sedih.
"Masya Allah!!" Seru Juned dan Aki Ibud bersamaan.
"Apa lagi ini, Ki? Kita sampai tak bisa membedakan mana manusia dan mana yang bukan!" Kata Juned lemas.
*
*
***Bersambung...
Nah loh...apa lagi yang akan mereka berdua alami?
__ADS_1
Mohon dukungannya selalu ya reader🙏🙏