
Dengan cepat Juned membuka mantel yang menutupi dan melindunginya dari hujan deras tadi.
Juned segera mengengkol motornya dengan sekuat tenaga.
Berkali-kali dia mencoba dengan dibantu penerangan senter dari Aki Ibud, Juned berusaha mengengkol motornya.
"Ayo cepatlah Juned, kamu mengengkol seperti wanita tua yang tidak makan berhari-hari!" Ejek Aki Ibud.
"Ish...coba Aki yang gantian mengengkolnya!" Gerutu Juned.
"Sini...biar Aki saja, kamu lihat betapa kuatnya gurumu ini!" Ucap Aki Ibud.
"Bismillahirahmanirrahim....!" Ucap Aki Ibud sebelum mengeengkol kembali.
Rrrnngggg....
"Alhamdulillah!" Ucap keduanya.
Segera Juned memanaskan mesin motornya sementara Aki Ibud segera bersiap.
Sementara roh cantik yang berdiri di samping mereka tampak mulai gelisah.
"Cepatlah Juned!" Serunya.
Setelah cukup panas, segera keduanya pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Tak sampai lima belas menit dari kepergian mereka, tampak satu sosok putih setinggi manusia tapi memiliki ekor panjang seperti kera datang menghampiri gubuk di pinggir jalan itu.
"Ihhhh, aku datang terlambat...mereka telah pergi!! Tapi bau apa ini?" Mahluk yang berwujud seperti kera dan bisa berbicara itu tampak mengendus-endus di sekitaran Aki Ibud dan Juned berada tadi.
"Ada bau mahluk lain yang bukan manusia! Tapi siapa dia? Teman mereka kah?" Dia berhenti mengendus dan berlari cepat kearah hilangnya motor Juned dan Aki Ibud.
"Cepatlah Juned, aku takut mereka berhasil mengejar kita...kamu ikuti saja instruksi dariku!" Ujar Sania.
Juned memfokuskan diri pada jalan yang mereka lalui dan segera menambah kecepatan laju motornya walaupun tertutup oleh kabut tapi dia percaya pada Sania.
Semakin jauh kabut semakin menipis dan akhirnya hilang sama sekali. Lalu rumah penduduk mulai tampak satu persatu di kejauhan terlihat dari cahaya lampu yang berkelap-kelip.
"Kalian selamat...cepatlah menuju kesana!" Ucap Sania.
Mereka berdua memasuki jalan ramai tepat kurang lima belas menit lagi pukul tujuh.
Mereka berhenti di samping sebuah mesjid dan melaksanakan sholat maghrib di sana. Sementara Sania menunggu agak jauh seraya memperhatikan sekitarnya.
Di kejauhan tampak siekor putih memperhatikan.
"Aku terlambat, mereka telah lebih dulu tiba di perkampungan!" Ucapnya menggeram marah.
"Anak muda itu memiliki aura yang luar biasa, siapa sebenarnya dia hingga Ki Panjul begitu menginginkannya?" Gumam mahluk ekor kera itu.
"Ki, istirahat sebentar ya? Tangan dan kaki Juned sampai kesemutan katena kedinginan!" Kata Juned.
__ADS_1
Sekali ini Aki Ibud tidak membantah karena seluruh tubuhnya juga mengeriput sampai kedalam-dalamnya.
Lagi enak mereka duduk di luar mesjid seraya sekalian menunggu waktunya sholat Isya, seorang bapak tua mungkin lebih tua dari Aki Ibud datang menghampiri mereka entah kapan dan darimana datangnya karena tiba-tiba dia sudah berdiri di samping keduanya.
"Assalamualaikum!" Sapanya.
Serentak Aki Ibud dan Juned menoleh seraya menjawab salam bapak tua tersebut.
"Waalaikum Salam!" Jawab mereka berdua.
Tampaknya kalian bukan berasal dari daerah ini?" Tanya Bapak tua itu dengan ramah.
"Benar pak, kami datang dari kampung seberang mau pulang ke kota tapi terhenti karena dihadang hujan deras dan angin kencang!" Kali ini Aki Ibud yang menjawabnya dan Juned diam saja karena takut kesalahan bicara.
Dia hanya menatap lekat pada bapak tua berwajah teduh itu.
"Wajah bapak ini tenang banget, sorot matanya memancarkan kedamaian, nggak seperti Aki Ibud yang sorot matanya memancarkan kerusuhan!" Batin Juned.
*
*
***Bersambung...
Siapa bapak tua yang datang menghampiri mereka itu?
__ADS_1
Jangan lupa ikuti selalu kisah petualangan 3 Jagoan Yatim Piatu dan jangan lupa dukungannya ya reader🙏🙏