
"Saat aku hidup orang memanggilku Sania!" Jawabnya.
"Apa??????"
Juned kaget bukan main mendengar nama itu.
"Kok mirip seperti nama bundaku sih?" Gumamnya.
Bukan hanya Juned yang kaget tapi termasuk Aki Ibud juga kaget mendengarnya.
"Kok bisa mirip ya namanya?" Gumam Aki Ibud.
"Ya sudah siapapun namamu, kamu masuk gih kedalam botol ini dan jangan ganggu kakak ini lagi ya!" Pinta Juned.
Arwah itu langsung menuruti permintaan Juned. Dia keluar dari tubuh Sumi, berubah menjadi gumpalan asap dan masuk kedalam botol batu itu.
Plup...
Juned menutupnya rapat. Bersamaan dengan itu Sumi ambruk ke tanah. Untung Sukir yang berada tak jauh di dekatnya dengan sigap menangkap tubuh adiknya itu.
"Pintar kau Juned! Kamu bukan hanya ganteng tapi juga cerdas, tidak salah Aki dan Aki Saman memilihmu menjadi murid!" Kata Aki Ibud.
"Jadi besok kita sudah bisa pulang ke kota ya, Ki?" Tanya Juned.
"Insya Allah besok kita akan kembali Juned, kasihan tante Della kalian jika kita tinggal di sini terlalu lama!" Kata Aki Ibud.
"Betul itu Ki, orang di rumah kan penakut semua!" Kata Juned pembualan.
__ADS_1
"Hadeuh....kamu sok betul Ned, Juned!" Kata Aki Ibud mencibirkan bibirnya.
Malam menjelang subuh itu suasananya sudah tenang, si pengganggu sudah masuk dengan selamat kedalam botol keramat milik Juned.
*************
"Hadeuh...tiba-tiba badanku kok jadi meriang gini ya? Apa karena ada bang Hans di sini?" Gumam Dina masih berusaha membolak balikan tubuhnya di atas kasur lipat yang mereka gelar di kamar tante Della.
"Siapa juga nggak meriang makin kesini makin ganteng aja bang Hans ini seperti oppa-oppa korea aja, seperti siapa tuh membernya BTS yang tertua tapi yang paling ganteng tuh? Oh iya, Seouk Jin oppa!!" Kata Dina sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Isshhh, sudah stres aku ini jadinya!" Gumam Dina lagi.
Dia bangun membuka pintu perlahan. Dilihatnya semua yang ada di kamar telah tertidur.
Hans tidur di ruang tamu sendirian.
"Duh!!! Terbuat dari apa sih mahluk satu ini? Gantengnya kelewatan? Masa aku yang baru tujuh belas tahun aja sudah kesengsem berat sama bang Hans?" Bisik Dina.
"Kalau mau bilang, jangan cuma mengagumi dari jauh aja! Aku juga nggak keberatan kok kalau kamu jadi kakak iparku!" Bisik seseorang di belakangnya.
Dina terpaku di tempat dia berdiri. Seluruh sendinya terasa seperti tak bertulang lagi.
Hana yang berdiri di belakangnya hanya tersenyum-senyum tanpa dosa.
"Kalau naksir abangku itu bilang, jangan plin-plan dong! Gantengkan abangku kalau tidur begitu?" Tanya Hana lagi.
Wajah Dina merah seperti kepiting rebus mendengar ucapan Hana.
__ADS_1
"Abangku itu jomblo, kamu jangan khawatir tapi aku nggak bisa menahannya lebih lama untuk jadi jomblowan terus ya? Secara abang gue itu guanteng bingitz gitoe!" Keluar deh narsisnya Hana๐๐.
"Anu...apa itu?" Kata Dina gugup tak bisa meneruskan ucapannya.
"Sumpah demi apapun, nih anak brengsek banget sih?" Bisik Dina dalam hati.
"Anu apa? Anu nya bang Hans?" Goda Hana semakin menjadi-jadi membuat Dina yang biasanya selalu tenang dalam menghadapi situasi apapun termasuk situasi dalam bahaya sekalipun kini jadi mati gaya dihadapan adik lelaki yang ditaksirnya itu.
"Hana, bisa diam nggak! Kalau nggak bisa aku tinggal tidur nih?" Ancam Dina kehabisan kata-kata.
"Emang kamu bisa tidur? Jangan kamu pikir aku nggak tau ya kalau kamu itu sedari tadi hanya sibuk membolak-balikan badanmu saja di atas kasurmu itu!" Ucap Hana tanpa beban.
"Pokoknya besok aku harus memberi tahu abangku!" Ucap Hana lagi.
"Aduh Hana, please jangan bilang apapun deh, nanti hubunganku dengan bang Hans jadi rusak karena perasaanku yang sialan ini!" Kata Dina sambil memohon pada Hana.
"Oke, tapi aku akan memantaumu terus! Kamu sudah kuanggap akan jadi calon iparku, jadi jangan selingkuh dengan cowok yang lain, oke?" Tekan Hana memberi ultimatum.
*
*
***Bersambung...
Dina si jagoan bisa juga mati kutu karena cinta๐๐
Ikuti terus lanjutan ceritanya ya reader dan jangan lupa dukungannya.
__ADS_1