
Aku ingin sekali Sukardi memanggilku dan mengingatku sebagai ibunya!! Ibunya masih hidup dan belum meninggal dunia!!" Desis nyi Seketi.
Dia hanya ingat saat itu, saat sepulangnya dia dari desa sebelah setelah mencari-cari korban yang akan dia ambil nanti malam.
****Flashback on****
"Kang...akang??? Kardi?? Kalian berdua kemana sih? Ini ibu bawa buah buat kalian!!" Teriak Seketi dari ruang tamu.
"Lho...kok sepi? Kemana kang Ibud membawa Kardi? Tumben siang gini Kardi nggak tidur siang??" Gumam Sartika yang sudah berganti nama menjadi Seketi.
"Ah biarlah, mungkin tadi Kardi rewel makanya kang Ibud membawanya jalan-jalan!!" Ucap Seketi seraya memperhatikan wajahnya di kaca.
"Nanti malam bulan purnama, berarti nanti malam aku harus menculik bayi yang aku lihat di kampung sebelah tadi siang." Gumam Seketi.
Seketi meletakan buah yang dia beli di pasar tadi lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil menunggu Ibud dan Kardi pulang kerumah.
Tak terasa hari hampir maghrib saat Seketi terbangun dari tidurnya dan merasakan sekujur tubuhnya mulai terasa gatal dan panas.
"Kang...kalian sudah pulang?" Ucap Seketi sambil mencari-cari keberadaan suami dan bayinya.
Tiba-tiba Seketi merasa ada yang aneh. Dengan cepat dibukanya lemari pakaian mereka. Dan alangkah terkejutnya dia saat tak menemukan sepotong pakaian pun milik suami dan bayinya.
Seketi mengaum seperti seekor singa. Betapa sakit dan hancurnya perasaannya kini mengetahui anak dan suaminya telah pergi.
Dia mengakui tak begitu dekat lagi dengan Kardi dan Saribud karena Seketi sebisa mungkin untuk menahan diri agar tidak memakan darah dagingnya sendiri karena dia selalu haus akan darah jika berhadapan dengan bayi.
Dia tidak ingin mencelakai anak dan suaminya sendiri.
"Kang Ibud??? Kardi???" Teriak Seketi panik melihat dua orang yang dia cintai sudah meninggalkan rumah.
Dengan cepat Seketi bersemedi untuk mencari tau keberadaan anak dan suaminya.
"Teganya kamu membawa Kardi dari aku kang Ibud!!" teriak Seketi geram.
"Aku akan menyusulmu kerumah ayah, aku akan menjemput kembali kalian berdua." Kata Seketi.
Tapi seperti yang pernah diceritakan, aki Saman bertindak lebih cepat membawa Saribud dan Sukardi pindah jauh dari sana dan menutup serta melindungi Saribud dan cucunya agar tak tersentuh oleh ilmu hitam Seketi sehingga sampai Saribud menikah dengan Arimbi, maka Arimbi lah yang terkena imbasnya dan meninggal membuat Saribud semakin membenci Seketi.
****Flashback off****
Dddrrrttttt...
Tiba-tiba disela lamunannya, ponsel aki Ibud berdering.
__ADS_1
"Sukardi? Ada apa dia menelpon malam-malam begini, nggak biasanya?" Gumam aki Ibud.
๐ฑ"Assalamualaikum, ya ada apa Kardi?"
๐ฑ"Ayah, bisakah ayah pulang malam ini juga? Sumi kesurupan...aku dan Sukir sudah berusaha membantu malah Sukir dibanting oleh Sumi!!"
Sumi dan Sukir adalah anak Saribud dari pernikahan keduanya dengan Arimbi, yang artinya saudara lain ibu dengan Sukardi.
Dulu pada saat aki Ibud tersesat di kota dan ditolong oleh Dina karena aki Ibud ingin menyusul Sukir putranya yang bekerja di kota dan sudah lama tidak pulang, saat bertemu mereka akhirnya dia kembali ke kampung tetapi karena keluarga Sania terlanjur menyayangi aki Ibud, akhirnya lelaki tua itu kembali lagi ke kota dan tinggal dengan keluarga Sania.
๐ฑ"Bagaimana bisa Sumi kesurupan, Kardi?"
๐ฑ"Kardi nggak tau persis jalan ceritanya karena Kardi dan Siti juga baru pulang dari rumah mertua menjemput Denok!!"
๐ฑ"Baiklah, ayah akan usahakan pulang malam ini sebisa mungkin jauhkan Siti dan Denok dari Sumi ya Kardi, ayah takut istri dan anakmu akan ketempelan juga!!"
๐ฑ"Ya sudah ayah siap-siap dulu, Assalamualaikum!!"
๐ฑ"Waalaikum Salam, yah!! Hati-hati dijalan.
Bergegas aki Ibud keluar rumah menuju rumah Dina.
Dina beserta ketiga adiknya sedang duduk di teras bersama Aisyah sementara Miki dan Miko, serta Raftar dan Sari baru saja pulang karena besok mereka harus masuk sekolah.
"Ada apa ki? Kok sepertinya tergesa-gesa begitu?" Tanya Dina.
"Bisa ki, tapi masalahnya ini sudah jam 9 malam, bus terakhir berangkat satu jam yang lalu!!" Kata Juned sambil menaruh gitar yang sedang dia mainkan.
"Biar Juned saja yang mengantar aki pulang kampung, kalau naik motor bisa hemat waktu setengah jam!!"Kata Dina.
"Iya benar ki, nanti Juned antar aja!!" Kata juned seraya bersiap.
"Tapi nanti merepotkanmu, besok kan kamu juga akan pergi sekolah?" Tanya aki Ibud.
"Nggak apa ki, besok masih pertandingan basket antar sekolah kok, bolos sehari nggak apalah!!" Kata Juned.
"Sebenarnya ada apa sih ki? Sepertinya telah terjadi sesuatu?" Tanya Dina.
"Kamu benar Dina, aki belum bisa cerita nanti saja jika aki balik nanti akan aki ceritakan!!" Kata aki Ibud.
"Kamu dan Syifa jangan terlalu meninggalkan tante kalian jauh-jauh ya, aki usahakan aki dan Juned akan cepat kembali!!" Pesan aki Ibud pada Syifa dan Dina.
"Asyek!! Bolos...bolos!!" Seru Juned girang.
__ADS_1
"Ayo ki kita berangkat sekarang, Juned tinggal pakai jaket nih!!" Seru remaja tanggung itu.
"Abang, segitu senangnya mau bolos!!" Bisik Aisyah pada Syifa.
"Iya, dia memang seperti itu orangnya!!" Sahut Syifa.
"Sebenarnya ada apa sih kak?" Bisik Aisyah.
Aisyah memang tidak mengetahui apa yang terjadi karena dia juga baru menginap kemarin.
"Sudah nggak apa-apa!!" Kata Syifa.
"Apa nggak sebaiknya sholat Isya dulu ki, baru kalian berangkat?" Tanya Dina.
Akhirnya mereka memilih sholat berjamaah bersama dengan tante Della karena sesuai dengan yang dinasehatkan aki Ibud agar tante Della tidak selalu ketinggalan sholat lima waktu untuk membentengi diri dan Devina bayinya.
Setelah selesai sholat berjamaah bersama dengan om Johan juga, mereka berkumpul kembali di teras seraya menunggu Juned bersiap.
"Apa mau saya antar dengan mobil, ki?" Tanya om Johan menawarkan.
"Nggak usah, Johan!! Kamu di rumah saja, cukup naik motor bersama Juned saja!!" Kata aki Ibud.
"Dina, jangan kamu lupa air putih yang sudah dibacakan ayat kursi tadi seperti biasa kamu cipratkan ke sekeliling rumah ya!!" Pesan aki Ibud sebelum berangkat.
"Baik aki!!" Jawab Dina.
Lalu aki Ibud dan Juned berangkat malam itu pulang ke kampung aki dengan menggunakan motor.
Sepeninggal aki Ibud dan Juned tak lama om Johan mendapat telepon dari ibu Intan bos nya.
"Waduh...om harus pergi ke perusahaan di kota sebelah bersama nenek kalian, tetapi bagaimana ini semua yang lelaki pada pergi, masa kalian para perempuan ditinggal semua sendiri?? Om jadi khawatir, sebaiknya om teleponkan Juma supaya datang kemari!!" Kata om Johan.
"Ah, nggak perlu om...kita berani kok!!" Jawab Dina.
"Atau om teleponkan bang Hans aja?" Goda Johan.
"Ish...terserah om sajalah!!" Jawab Dina.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Siapa kira-kira yang akan ditelepon om Johan untuk menemani mereka?
Ikuti terus kisah mereka ya reader dan jangan lupa dukungannya๐๐