
Perlahan Juned membuka pintu kamar tanpa dia tau aki Ibud memperhatikannya sambil mengulum senyuman.
"Juned...Juned, sebenarnya kamu pemuda yang hebat tetapi sifat penakutmu itu lho yang harus kamu hilangkan!" Gumam aki Ibud.
"Aduh, bayangan apa itu ya goyang-goyang? Itu bayangan pohon atau hantu?" Gumam Juned sambil memegang tengkuknya.
Dengan setengah terpaksa dia memberanikan diri apalagi desakan dari dalam perutnya yang menuntut untuk segera pergi kealam bebas membuat Juned mengabaikan rasa takutnya.
Baru saja dia jongkok dan menyelesaikan hajatnya saat ada satu bayangan putih melintas di depannya.
"Astaghfirullah!!" Desis Juned dengan wajah pucat.
"Apa itu tadi?" Dengan cepat dia berdiri.
"Rasa no kamu leh!!" Kata aki Ibud sambil terkikik-kikik menahan tawanya.
"Masa kamu kalah sama Dina dan Syifa? Mereka berdua aja lebih berani masak kamu yang lelaki kok penakut?" Kekeh aki Ibud geli.
Juned jalan setengah berlari menuju rumah Sukardi kembali tanpa menoleh kebelakang lagi.
__ADS_1
"Kamu dari mana ganteng?" Sebuah suara mengagetkan Juned saat dia membuka pintu dapur dari luar.
"Masya Allah mbak Sumi bikin kaget Juned aja!!" Seru Juned seraya memegang dadanya.
Sosok Sumi tersenyum genit pada Juned.
"Kok mbak Sumi senyum-senyum begitu ke Juned ya?" Gumam Juned bingung.
"Kok kamu keluar rumah nggak ajak mbak Sumi? Kalau ngajak kan bisa mbak antar?" Kata Sumi pada Juned.
"Nggak mbak, terima kasih...Juned berani sendiri kok!" Kata Juned berdiri nyengir setengah takut.
"Kok mbak Sumi pakai baju seksi amat? Pakaian dalamnya sampai kelihatan jelas begitu?" Gumam Juned.
Perasaannya mendadak nggak enak, Juned melirik kearah pintu kamar mbak Sumi yang masih tertutup rapat.
"Kok pintu kamarnya tertutup? Masa mbak Sumi keluar kamar kang Kardi dan kang Sukir nggak tau? Ada yang nggak beres nih!" Ucap Juned seraya waspada menatap Sumi yang mengenakan daster putih itu.
Sumi senyum-senyum berdiri di depan Juned membuat Juned semakin merinding ngeri.
__ADS_1
"Kok kamu seperti takut gitu sih sama mbak Sumi?" Tanya Sumi dengan senyum semakin lebar.
"Mundur Juned!" Suara Aki Ibud tiba-tiba memecah keheningan malam itu.
"Jangan ganggu muridku!" Sentak Aki Ibud lagi.
"Kamu lagi orang tua? Kamu nggak punya pekerjaan apa selain mengikutiku terus menerus?" Kata sosok Sumi tersebut.
"Ya punya kerjaanlah! Mencangkul di kebun, tanam sayuran, angon bebek dan ayam milikku, bukan seperti kamu mengekor muridku saja! Kamu tuh sebenarnya yang nggak punya kerjaan, ngomong-ngomong kamu nggak punya malu ya pamer baju dalam kamu kepada kami berdua? Risih tau melihat perut yang berlemak dan berlipat-lipat begitu, mana badanmu bau kembang kuburan lagi!" Oceh Aki Ibud membuat penyerupaan Sumi itu marah bukan main.
"Setan kamu orang tua...kalau malam ini belum kurobek mulutmu itu tidak tenang rasanya diriku!" Jawabnya marah sekali.
"Kamu pikir mulutku kertas yang bisa kamu robek seenaknya? Dasar bau bunga mayat!" Ejek Aki Ibud sementara Juned sudah gemetar lututnya ketakutan melihat siapa sebenarnya wanita yang menyaru menjadi mbak Sumi itu.
"Aduh nih Aki...Aki kalau bicara mulutnya seperti rem yang blong, nggak ada sendat-sendatnya!" Gerutu Juned menggigil ngeri.
*
*
__ADS_1
***Bersambung....
Beri dukungannya dong reader biar author bisa tetap semangat menulisnya!