Tiga Jagoan Yatim Piatu

Tiga Jagoan Yatim Piatu
Bab 48 Perjalanan Pulang


__ADS_3

"Nggak terbalik kamu bilang aku gatal? Bukannya kamu yang kegatelan sama om...om? Sekarang om yang mana lagi yang kamu peloroti hartanya? Kasihan Juma, seandainya aku tidak terlanjur menganggap Juma sebagai saudara sudah kurebut Juma dan kuselamatkan dia dari tangan-tangan tak bertanggung jawab seperti kamu!" Balas sindir Dina.


"Kamu..." Teriak Cecilia tak terima.


"Apa??? Nggak terima? Toh memang kenyataannya seperti itu!" Ejek Dina.


"Sudah Cecil! Yang mereka katakan benar, aku hanya ingin berkumpul bersama para sahabatku! Kamu suka silakan ikut, kalau nggak suka pulang sana!" Perintah Juma yang juga jadi kesal pada sikap Cecilia yang sok mau mengatur hidupnya.


"Ingat Cecilia, ibuku menyukai kamu dan menyuruhmu menempel padaku sepanjang waktu bukan berarti aku juga harus suka padamu, kartu matimu ada di tanganku jadi nggak usah berbuat yang aneh-aneh padaku dan pada sahabat-sahabatku! Paham kau?" Bentak Juma.


Cecilia cemberut mendengar perkataan Juma.


"Iya deh, pokoknya aku mau ikut kalian nanti jika aku tidak ikut kamu akan melirik gadis lain!" Cibir Cecilia membuat mereka bertiga semakin muak.


Sementara itu...


"Apa kamu akan terus membawa botol batu berisi hantu Sania itu di dalam ransel kamu, Juned?" Tanya Aki Ibud saat mereka sedang singgah di warung pinggir jalan sekedar melepas lelah dan mengganjal perut mereka.

__ADS_1


Keinginan Aki Ibud agar mereka jangan berhenti lagi karena bisa-bisa sore atau malam mereka baru tiba di rumah tetapi karena Juned merasakan perutnya lapar lagi maka mau tidak mau Aki Ibud menuruti keinginan remaja tanggung itu itu untuk berhenti mencari warung makan karena telinganya sudah tidak tahan terus menerus mendengar rengekan kelaparan Juned.


Hmmmmm...


Juned tidak menjawab dengan benar karena mulutnya penuh dengan sanggar ubi yang masih panas.


Tiba-tiba ransel Juned bergoyang membuat pemuda tanggung itu berhenti mengunyah seketika.


Dia membuka tas ranselnya dan mendapatkan botol batu miliknya bergetar hebat.


"Kamu juga lapar dan mau makan sanggar?" Gumam Juned perlahan dan Aki Ibud juga ikut melirik pada botol itu.


"Kata Sania dia lapar Ki, dia juga mau makan!" Bisik Juned pada Aki Ibud.


"Yang aneh-aneh aja...mana ada hantu makan sanggar, yang ada kamu tuh dikibulin sama Sania!" Bisik Aki Ibud lagi.


"Kamu sungguh-sungguh lapar atau hanya mau keluar dan kemudian kabur dari dalam botol batu ini?" Bisik Juned perlahan.

__ADS_1


"Aku pengen makan sanggar ubi itu Juned, dulu semasa aku hidup ibuku sering menggorengkannya untuk aku!" Suara Sania berbisik seperti nyamuk mendengung di telinga Juned tapi juga masih bisa terdengar oleh Aki Ibud.


"Oke, aku akan mengeluarkanmu tapi kamu harus janji jika aku mengeluarkanmu dari dalam botol batu ini maka kamu tidak boleh kabur karena jika hal itu terjadi maka aku akan mengejarmu kemanapun kamu akan lari dan membuatmu musnah untuk selamanya!" Ancam Juned.


"Aku janji!" Bisik hantu Sania.


Akhirnya Juned membuka penyumpal botol batu itu dan terlihatlah asap tipis bergulung keluar perlahan menyerupai sesosok tubuh.


"Dasar bocah gemblung, percaya saja pada apa yang dikatakannya, manusia aja bisa bicara dusta dan membual, apalagi hanya hantu tersesat seperti itu!" Gerutu Aki Ibud sedikit kesal pada Juned.


*


*


***Bersambung...


Juned membawa hantu Sania karena feeling Juned mengatakan jika suatu hari roh itu akan berguna untuk membantu mereka.

__ADS_1


Ikuti terus kisah mereka ya reader dan jangan lupa dukungannya🙏🙏


__ADS_2