Tiga Jagoan Yatim Piatu

Tiga Jagoan Yatim Piatu
Bab 52 Setelah Hujan Reda


__ADS_3

Juned segera menutupi motor besarnya dengan jas hujan agar businya tidak terkena air hujan yang turun demikian derasnya itu.


"Masya Allah...semoga hujan ini segera reda!" Keluh Aki Ibud seraya menatap kejalan raya yang semakin berkabut oleh derasnya hujan dan kencangnya angin.


"Gubuk derita ini tak akan bisa menaungi kita dari derasnya hujan dan kencangnya angin, Ki...karena gubuk ini hanya beratap tapi tak berdinding, malah semakin membuat hidupku menderita saja!" Gerutu Juned.


"Nggak usah banyak mengeluh, anak kampret! Sudah syukur kepala kita tidak basah karena kalau basah Aki bisa terserang batuk dan pilek!" Kata Aki Ibud.


"Dasar lebay!" Gerutu Juned mencibir.


Mereka berdua duduk saling berdekatan sambil mengenakan jas hujan yang satu lagi agar baju mereka tidak basah terkena tempiasan air hujan.


"Ki, jangan tidur...Juned takut!" Sentak Juned seraya menyikut pinggang Aki Ibud.


"Anak kambiiinnnggg!!" Teriak Aki Ibud sangking terkejutnya karena dia terbangun paksa dari tidur ayamnya.


"Enak aja ngatain Juned anak kambing!" Kata Juned cemberut.


"Habis kerjamu bikin kaget saja dari tadi!" Sentak Aki Ibud.


"Juned takut, Ki...hari lebih cepat gelap dari biasa padahal sekarang baru pukul setengah lima!" Ucap Juned pelan.


"Ya iya lah cepat gelap, kan hari hujan ditambah lagi kabut turun cukup tebal! Berdoa saja agar hujan segera berhenti dan kabut segera menipis agar kita bisa melanjutkan perjalanan pulang kerumah." Kata Aki Ibud.

__ADS_1


"Tapi Aki jangan tidurlah...bisa-bisanya tidur duduk dalam keadaan lembab dan basah begini!" Gerutu Juned.


"Namanya juga mengantuk!" Tangkis Aki Ibud.


Tak lama hujan mulai reda, hanya kabut saja yang belum menipis.


"Sepi sekali, Ki! Tak ada satupun kendaraan melintas dijalan ini!" Ucap Juned.


"Tak ada kendaraan yang berani lewat, Juned! Mereka takut kesasar karena jangkauan lampu kendaraan tak bisa menerangi sampai jauh!" Terang Aki Ibud.


Juned menyalakan senter yang sejak tadi ada di saku baju kaosnya.


"Lumayan ada cahaya, Ki...daripada gelap gulita hanya terlihat bola mata sama giginya Aki doang yang putih, entah putih atau entah kuningkah!" Seloroh Juned ngasal.


Serta merta hilang sudah kantuk Aki Ibud karena terlalu banyak mengumpat, sementara yang diumpati hanya terlihat anteng saja menanggapinya.


"Juned...buka dong tutup botolnya, aku mau keluar karena aku merasa sedang ada bahaya di sekitar kalian!"


Suara Sania menggema di telinga Juned dan Aki Ibud.


Juned mengeluarkan botol batu dari dalam tasnya dan membuka penutup botolnya untuk mengeluarkan Sania dari sana.


Tampak asap tipis mengepul keluar dan membentuk sesosok tubuh.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian berdua jangan terlalu lama beristirahat di tempat ini, sebentar lagi hari akan memasuki senja!" Ucap Sania.


"Tapi kabutnya terlalu tebal, kami tidak bisa melihat jalan dengan jelas!" Ucap Juned.


"Sudah ikuti aku saja!" Kata Sania lagi.


"Nanti mengikutimu, kau bawa pula kami masuk kedalam jurang dan ikut mati bersamamu!" Ucap Aki Ibud ragu-ragu.


"Aku memang bukan manusia lagi, tapi pantang bagiku menyakiti dan mengkhianati manusia yang telah menolongku!" Ucap Sania meyakinkan.


"Ayo cepatlah, kita tak punya waktu banyak!" Kata Sania lagi.


Dengan cepat Juned membuka mantel yang menutupi dan melindunginya dari hujan deras tadi.


Juned segera mengengkol motornya dengan sekuat tenaga.


Berkali-kali dia mencoba dengan dibantu penerangan senter dari Aki Ibud, Juned berusaha mengengkol motornya.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Ikuti terus kelanjutan kisah Tiga Jagoan Yatim Piatu ya reader dan jangan lupa dukungannya🙏🙏


__ADS_2