Tiga Jagoan Yatim Piatu

Tiga Jagoan Yatim Piatu
Bab 51 Kisah Della 2


__ADS_3

Syifa tampak memegang jarik panjang dan sedang mengikatkannya pada kasau sambil tersenyum pada Della dan sesekali dari bibirnya terdengar suara bersenandung.


"Syifa...ayo turun! Kamu ngapain duduk uncang-uncang kaki di atas situ? Turun! Nanti kamu jatuh lho, di situ lumayan tinggi!" Ucap Della khawatir.


"Tante, mendekatlah kemari ambil kursi plastik itu lalu tante naiklah keatasnya!" Perintah Syifa sambil tersenyum.


Seperti kerbau dicucuk hidungnya, tante Della menuruti apapun yang diperintahkan Syifa padanya.


Dia segera menarik kursi plastik dari samping meja makan dan membawanya mendekati Syifa lalu dengan perlahan naik keatasnya.


Sambil tersenyum menyeringai Syifa mengalungkan jarik yang sudah dia buat simpul dan siap memasukannya kedalam leher Della.


"Tante..."


***Flashback off***


"Syifa sama Aisyah baru saja pulang sekolah tante, kami masuk kerumah karena mendengar Devina menangis kencang! Om Johan dan tante Della nggak ada jadi sambil Syifa mendiamkan Devina, Aisyah mencari tante kebelakang! Untung Aisyah menemukan tante tepat waktu sebelum tante Della benar-benar gantung diri!" Terang Syifa.


"Astaghfirullah...!!" Ucap tante Della bergidik tak berani membayangkan apa yang telah dia perbuat barusan.


"Alhamdulillah Allah masih melindungimu, mah!" Ucap om Johan juga bernapas lega.


"Apa lagi yang telah terjadi, mengapa gangguan itu tak kunjung berhenti?" Ucap om Johan.


***********

__ADS_1


Suit...suit


Pletak...


"Wadaw...apaan sih Ki?" Teriak Juned.


"Matamu itu keliaran kemana-mana, kencing aja belum lurus sudah berani menyuiti cewek dijalan!" Teriak Aki Ibud kesal pada Juned.


"Fokus Juned, fokus pada jalan raya saja biar kita bisa segera sampai di rumah!" Kata Aki Ibud mengingatkan.


Juned yang kena omelan hanya menyengir dari balik helmnya.


"Aki Ibud ini seperti tidak pernah muda saja!" Ucap Juned pelan.


"Sudah kamu fokus pada jalan aja, lihat di langit mendung banget! Jika kita kehujanan di sini maka tamat riwayat kita kebasahan karena tidak ada satu tempat berteduhpun ada di sepanjang jalan ini!" Kata Aki Ibud.


Juned mulai fokus pada jalan yang mereka lalui karena mereka melewati jalan raya yang kanan kirinya masih terbilang hutan, hanya sesekali mereka berpapasan dengan kendaraan itupun hanya risa empat tak ada yang roda dua seperti mereka.


Aki Ibud melirik jam di tangannya.


"Sudah pukul empat belas, jika kami kehujanan di sini bisa malam baru tiba di rumah!" Gumam Aki Ibud.


Tak sengaja matanya melirik kearah kanan jalan.


"Itu bayangan apa ya? Sepertinya semenjak tadi mengikuti kami berdua sejak motor ini memasuki jalan raya yang sepi ini?" Gumam Aki Ibud.

__ADS_1


Jedarrrrrr


Suara kilat berbarengan dengan suara petir di angkasa tetapi seperti dekat sekali di atas kepala mereka berdua.


"Kodok...!!" Teriak Juned sangking kagetnya.


Tak lama tetasan air hujan mulai turun. Juned menambah laju motornya setidaknya mereka bisa keluar dari jalan sepi ini dan bisa segera menemukan tempat untuk berteduh.


Tetapi rupanya kecepatan motor Juned masih kalah dengan derasnya air hujan yang turun.


Dibawah petir yang sambar menyambar dan hujan yang turun semakin deras, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berhenti di tepi jalan.


Ada gubuk tak berdinding hanya sekedar beratap yang mungkin memang di khususkan untuk para pengendara motor beristirahat sejenak.


Juned segera menutupi motor besarnya dengan jas hujan agar businya tidak terkena air hujan yang turun demikian derasnya itu.


"Masya Allah...semoga hujan ini segera reda!" Keluh Aki Ibud seraya menatap kejalan raya yang semakin berkabut oleh derasnya hujan dan kencangnya angin.


*


*


***Bersambung...


Ikuti terus kisah mereka selanjutnya dan jangan lupa dukungannya ya reader🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2