
"APA...?! YANG BENAR SAJA DONG PA!" Suara Tiger menggelegar, remaja itu menatap tidak percaya pada Lionel. Bahkan terlihat mencengkram rambutnya sendiri dengan mata terpejam erat.
"Itu perintah dari Mama mu. Kau harus bertanggung jawab untuk menjaga gadis itu seumur hidupmu, dengan cara menikahinya. Ya mau bagaimana lagi, tidak mungkin kau terus berada di sisinya kalau kalian berdua tidak memiliki hubungan dekat. Apa kau mau di hajar sampai mati oleh pria yang nanti menjadi suaminya kalau kau terus memepet Camelia setiap saat?" Lionel bersikap tenang, dia bahkan dia menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Apa kau pernah berpikir kalau nanti diantara mereka ada yang diam-diam menyamar untuk menjadi suami Camelia, seumpama dirimu menolak perintah Mama mu!" Imbuhnya lagi, kali ini terdengar sangat serius.
Lionel menatap tak terbaca pada Tiger, menelisik apa yang sedang dipikirkan oleh putranya tersebut. Dia tahu apa yang ada didalam hati serta otak Tiger saat ini, kalau dirinya ada diposisi itu mungkin Lionel pun akan bersikap demikian.
"Tapi tidak menikahinya juga Pa! Papa tahu aku masih belum cukup umur, kita berdua belum pantas untuk menikah. Lagian aku dan Camelia juga tidak memiliki rasa apapun, lalu bagaimana jadinya pernikahan kita nanti. Apa kalian mau aku dan Camelia berakhir bercerai kalau diantara kami merasa tidak sanggup, bahkan mungkin aku dulu yang merasa tidak sanggup." Tiger makin kacau, dia tidak habis pikir kalau Mama serta Papanya akan memberikan pilihan gila seperti ini.
Tiger bertambah gusar saat melihat Lionel mengedikan bahunya tak peduli, pria dewasa itu bangkit terlihat berjalan mendekat pada Tiger dan menepuk pundaknya pelan.
"Papa hanya menyampaikan perintah Nyonya Besar, selebihnya kau yang memutuskan. Kalau kau belum merasa puas silahkan temui Mama mu sendiri, Papa hanya berharap kau mau menerimanya dengan lapang dada. Tidak buruk juga menikah muda, kau tahu Papa menikahi Mamamu saat menginjak usia 30 tahun, cukup matang bukan. Sekarang usia Papa hampir setengah abad, Papa sudah merasa tua dan berharap segera punya cucu. Kau bisa menikmati masa mudamu dengan kekasih yang bisa kau sentuh kapanpun dan dimanapun kalau menikah sekarang, soal cinta? Semua pasti akan tiba pada waktunya. Kalian hanya perlu menjalaninya, merasakan lalu mengungkapkannya." Rayu Lionel. Terdengar sangat bijak dan cukup puitis, entah sejak kapan Bapak Singa itu menjadi seperti ini.
Mungkin sejak Dahliara memberikan ultimatum padanya soal tidur bersama putramu selama 30 hari kedepan.
'Ayolah Tiger bantu Papa,' Batinnya. Sejujurnya dia sendiri tidak menyetujui rencana Dahliara, menurutnya Tiger belum cukup untuk memanggul beban berat sebagai suami. Putranya itu masih labil, perkara kolor saja selalu sibuk menanyakan pada Mamanya, lalu bagaimana cara anak itu menjadi suami siaga dan bertanggungjawab?
"Aku akan berbicara pada Mama! Aku tidak mau Pa, aku benar-benar belum siap. Menikah? Istri? astaga, kenapa Mama sampai berpikir sejauh itu. Apa bedanya dengan sekarang, aku juga masih bisa menjaga dia. Lalu kalau memang gadis itu ingin menikah nanti, ya carikan saja laki-laki baik yang kalian kenal dekat, agar tidak dicurigai sebagai mata-mata!" Tiger masih teguh pada pendiriannya. Dia tidak ingin menerima perintah Dahliara yang tidak masuk di akal begitu saja.
Bertanggungjawab dengan cara menikahi Camelia? Yang benar saja!
Lionel tidak menyahut, dia terlihat memijat pangkal hidungnya. Kepalanya menunduk, terlihat pasrah sekarang mungkin memang mulai nanti malam hingga 30 hari kedepan dirinya akan tidur bersama Tiger.
__ADS_1
"Bersikaplah seperti pria sejati, Papa dan Mama mu memberi mu nama Tiger karena kami ingin kau garang seperti Macan, bukan seperti kucing rumahan yang manja dan tidak bertanggungjawab." Ucap Lionel pedas sebelum dia benar-benar meninggalkan Tiger yang masih terlihat linglung.
๐ช
๐ช
๐ช
"Me-menikah? Maksudnya Tante?" Camelia bergetar, lidahnya terasa kaki saat mengucapkan kalimat itu. Kedua tangannya yang berkeringat saling bertaut, kedua mata bulatnya menatap tak percaya pada wanita yang sejak beberapa menit yang lalu kembali menemuinya.
"Tidak ada jalan lain, maaf kalau kamu terkejut. Tapi Tante melakukan ini demi kebaikan kamu," Dahliara menatap teduh pada Camelia, bahkan membelai punggung kecil gadis itu untuk memberikan ketenangan.
Dahliara tahu kalau saat ini Camelia pasti terkejut mendengar ucapannya.
"Dengarkan Tante, tolong jangan memotong sebelum Tante selesai berbicara!" Dahliara memotong cepat ucapan Camelia, suara gemetar gadis itu sungguh membuatnya tidak tega.
Senyuman lega Dahliara terlihat saat Camelia mengangguk kecil, walaupun terlihat enggak tapi sepertinya gadis itu berusaha tenang dan bersiap mendengarkan wanita dewasa yang saat ini tengah menatapnya lembut.
"Benda yang ada didalam tubuhmu itu tidak dapat dikeluarkan dengan mudah, kamu tahu bukan? Tiger dan kami tidak bisa selalu melindungi kamu kalau diantara kita tidak memiliki hubungan apa pun. Mungkin saat ini Tiger ataupun Papa nya bisa melindungi kamu, saat kamu sekolah dan kuliah, tapi apa bisa disaat kamu menikah nanti. Apa suami kamu bakalan ngizinin Tiger atau pun orang-orang kami selalu dekat sama kamu? Terus lebih parahnya lagi, bagaimana kalau laki-laki yang menjadi suami kamu nanti adalah salah satu orang yang berniat jahat sama kamu. Dia hanya pura-pura cinta dan menikaimu demi bisa mendapatkan benda yang ada di dalam tubuh kamu Camelia. Terus apa yang bisa Tiger lakukan kalau dia enggak punya hak sedikit pun atas diri kamu, dengan cara itulah dia bisa selalu ada dideket kamu. Kalau kalian sudah halal walaupun cuma secara agama, mau jungkir balik, salto, guling-guling, adu panco sampai SmackDown juga gak masalah." Dahliara berbicara panjang lebar, dia berharap setiap kata yang terlontar dari bibirnya berhasil membuat Camelia berpikir jernih.
Tapi sepertinya saat ini Camelia tidak fokus memikirkan kata-kata pertama yang Dahliara ucapkan, melainkan kalimat terakhir saja yang dia dengar.
Jungkir balik, salto, guling-guling, adu panco, SmackDown? Memangnya dia dan Tiger mau ngapain? Camelia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau benar dirinya dan Tiger SmackDown atau adu panco, membayangkannya saja sudah tidak mau.
__ADS_1
'Bisa babak belur aku!' Ringisnya dalam hati.
"Sayang,"
Camelia tersentak, dia mengerjap pelan dan kembali fokus menatap pada Dahliara yang sudah memasang wajah penuh harap.
'Apa mungkin aku yang bakalan jadi gadis beruntung itu?' Batinnya.
Camelia mende*sah lelah, dia menyesal karena sudah berpikir macam-macam tadi. Bahkan membayangkan gadis beruntung mana yang akan mendapatkan mama mertua sebaik wanita cantik yang ada di dekatnya saat ini.
'Doa baik anak yatim cepat di ijabah ya,'
"Ta-tante, tapi aku sama Tiger masih belum cukup umur. Aku belum genap 17 taun, masih ada beberapa minggu lagi biar bisa dapat KTP. Terus Abang sama Ambu juga pasti enggak bakalan setuju sama pernik,"
"Kalian menikah secara agama dulu itu sudah cukup. Biarkan hubungan kalian berjalan dengan semestinya, enggak perlu di paksa biar mengalir seperti air. Nikmati, rasakan, dan ungkapan, setelah usia kalian berdua siap Tante dan Papanya Tiger bakalan ngelamar kamu ke Ibumu dan kakakmu." Dahliara terus saja berusaha meluluhkan Camelia. Dia terlihat tidak memaksa tapi setiap kata yang diucapkannya terdengar tidak ingin di bantah.
"Tapi Tiger-,"
"Sssttt... Kamu enggak usah khawatir. Masalah Tiger biar Tante yang urus, Tante jamin Tiger bakalan jadi kucing manis dan penurut dari pada macan galak." Imbuh Dahliara lagi tanpa memberikan kesempatan pada Camelia untuk menolak.
BERSAMBUNG...
SEE YOU TOMORROW๐๐๐
__ADS_1