TIGER'S

TIGER'S
Tiger's Bab 42


__ADS_3

Camelia berjalan masuk kedalam istana, ditangannya membawa sebuah paper bag yang entah berisikan apa. Gadis itu menipiskan bibir seraya membungkuk pada orang-orang yang berpapasan dengannya, termasuk pelayan dan juga para pengawal. Camelia berusaha bersikap ramah dan sopan, adat istiadat, sikap serta sifat ramah yang sejak kecil tertanam tidak dia lupakan begitu saja saat menginjakkan kaki di negara orang, tidak peduli bertemu dengan siapa entah itu orang yang memiliki pangkat dan darah bangsawan atau hanya sekedar pelayan serta bawahan.


Sikap yang Camelia tunjukkan sering kali membuat sebagian dari mereka yang disapa terlihat heran, memandang aneh karena baru kali ini ada seorang tamu kehormatan majikannya bersikap sopan dan ramah pada mereka.


Karena biasanya kadang kali kenalan atau tamu yang berkunjung ke istana memiliki sikap arogan, sombong bahkan begitu merendahkan para pelayan istana.


"Aku rasa Ola memang sakit jiwa sudah mengganggu Nona Camelia, bersyukur dia sudah ditendang dari istana ini dan tidak akan pernah kembali. Menurutku biarpun Nona Camelia tidak terlahir dari keluarga bangsawan menurutku itu lebih baik dari pada Yang Mulia Putra Mahkota menikah dengan salah satu putri bangsawan yang sombong, angkuh, sok berkuasa, ihhh... baru membayangkannya saja sudah terlihat mengerikan." Cetus salah pelayan yang baru saja berpapasan dengan Camelia tadi.


Pelayan muda yang sedang membersihkan lantai itu sempat tertegun saat melihat gadis yang digadang-gadang akan menjadi calon istri dari Putra Mahkota Albarack itu tersenyum kearahnya sembari membungkukkan tubuh, alhasil dia pun reflek menundukkan tubuhnya juga.


Memang tidak ada pembicaraan diantara mereka tadi, tapi si pelayan terus saja menatap Camelia hingga gadis itu menghilang di telan tembok.


"Kau benar, tapi ya sudahlah biarkan saja. Ayo kita bekerja lagi, sebelah samping belum sempat kita bersihkan!"


Rekannya menarik lengan si pelayan muda, tidak memperdulikan celotehan wanita muda yang sejak tadi pagi bekerja bersama tanpa lelah. Mereka tidak menyadari sejak tadi ada sepasang mata tajam terus saja mengintai, kedua telinganya menajam mendengarkan pembicaraan pelayan istananya.


Matanya bergulir menatap kearah lain, dia seperti memastikan kalau keadaan aman tidak ada orang yang menyadarinya barulah dia keluar dari pilar besar yang menyembunyikan tubuh tegap tingginya. Kedua kakinya melangkah lebar memasuki istana dalam, menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas.


Dilantai atas tepatnya di lorong istana yang menuju ke kamarnya Camelia terlihat sudah hampir membuka pintu sebelum seseorang memanggilnya, terdengar bahagia saat melihatnya sudah kembali.


"Gimana, sudah beresin barangnya?" Tanyanya terdengar antusias tapi tidak dapat dihindarkan kalau ada nada sedih disana.

__ADS_1


Senyuman yang ditunjukkannya bahkan terlihat sendu di mata Camelia, dia tahu kalau wanita cantik yang berstatus sebagai tuan putri keluarga bangsawan Albarack begitu tulus menyayanginya tidak peduli dirinya siapa, dari keluarga mana, bahkan status sosial yang begitu berbeda tidak membuat sang putri menjauh darinya.


"Sudah Ma, aku cuma beresin barang yang aku bawa dari Indonesia aja." Camelia menipiskan bibir, memberikan senyuman manis yang terlihat baik baik saja. Dia tidak ingin Dahliara tahu apa yang dipikirkannya saat ini, karena Camelia tahu kalau wanita dihadapannya pasti bisa menebak isi hatinya. Camelia juga heran kenapa Dahliara sering kali benar saat menebak isi kepalanya bahkan hatinya saat dia sedang tidak baik baik saja.


"Ya sudah kalau begitu, sekarang temenin Mama ada yang mau Mama tunjukkin sama kamu!" Dahliara menarik lengan gadis yang dia inginkan sebagai menantunya tersebut. Sayang Putra semata wayangnya terlalu memiliki ego yang sangat tinggi sama seperti Papanya- Lionel. Dulu dirinya pun harus memberikan pelajaran yang berharga terlebih dahulu pada pria yang menjadi suaminya itu, pergi jauh dari negara ini dan menghilangkan jejak hingga sampai beberapa tahun mereka tidak pernah bertemu.


Dan sekarang sepertinya Tiger pun akan melakukan hal yang sama, lebih parahnya keduanya sama-sama keras kepala. Dahliara tahu apa yang sedang Camelia dan juga Tiger rasakan, sudah ada percikan api asmara tapi mereka enggan menyulutnya agar lebih membara. Memilih memadamkannya terlebih Camelia, dia tahu gadis itu terus saja menampik terlebih setelah perlakuan Tiger padanya.


Tapi sekarang Dahliara seakan membiarkan keduanya menyadarinya sendiri, dia tidak lagi ikut campur dengan masalah perasaan sepasang remaja berkepala besi tersebut. Karena menurutnya semakin dirinya ikut campur maka mereka semakin mengelak, jadi biarkan mengalir apa adanya.


πŸ’”


πŸ’”


πŸ’”


Sebuah kalung berwarna silver menggantung disana, entah sejak kapan Camelia memakainya yang jelas gadis itu tidak pernah memakai apapun sebelum-


"Kalung yang bagus, aku yakin itu pemberian dari seseorang!"


Camelia terperanjat saat Sovia tiba-tiba saja duduk di sisinya, meraba kalung yang terpasang indah di lehernya. Sudut bibirnya tertarik kala melihat liontin berbentuk bunga Camelia menggantung disana.

__ADS_1


"Hanya pemberian seseorang, dia bilang buat kenang-kenangan. Aku sangat menyukainya, liontinnya berbentuk bunga dan itu adalah bunga Camelia, seperti namaku." Camelia terkikik geli, dia tidak menyangka kalau ada benda yang bisa dijadikannya sebagai lambang namanya.


Ya walaupun dari dulu dia juga tahu kalau Camelia adalah sebuah bunga, bunga yang sangat indah bahkan banyak warna yang dimilikinya. Camelia merah melambangkan cinta tulus, sama seperti bunga mawar merah, tapi kenapa Ambunya tidak memberikannya nama Tulip saja atau Anggrek misalnya.


Kekehan Camelia kian menjadi saat pikirannya berkeliaran entah kemana, bahkan sampai membahas soal namanya yang unik. Dan kalau dipikir pikir bukankan nama dirinya, Mama Dahliara, Jiddah Yasmine juga Kakak sepupu Tiger yang bernama Anyelir adalah nama nama bunga?


Ini suatu kebetulan atau?


"Ini kan detik-detik perpisahan kita, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Ayo kita ke cafetaria, sepertinya dua penjaga mu juga sudah tidak sabar menunggu tuannya keluar dari kelas." Sovia menarik ujung almamater yang Camelia pakai, ekpr matanya melirik sinis pada remaja pria yang baru saja sampai dan tengah berdiri diambang pintu dengan wajah menyebalkan.


"Siapa yang kau bilang penjaga huh?! Astaga bibirmu memang minta untuk di luruskan rupanya Sovia. Kami berdua ini adalah calon suaminya, kau pasang telinga mu baik baik!" Sungut Lucas tidak terima.


"Ayo Baby Camel, kita akan makan siang bersama, jangan terlalu dekat dengan nenek sihir ini kau bisa tertular nanti!" Imbuhnya lagi, bahkan pria muda itu merebut lengan Camelia dari genggaman Sovia. Melirik gadis cantik itu tak kalah sinis, dan segera membawa Camelia pergi tanpa peduli dengan teriakan Sovia.


"APA MAKSUD MU BUAYA GURUN? SIAPA YANG KAU BILANG NENEK SIHIR HUH?! DASAR PLAYBOY NANGGUNG, KEMARI KAU AKAN KU ***** MULUT KURANG AJAR MU ITU DENGAN SEPATUKU!" Teriak Sovia keras, bahkan Emmir yang masih berada disana terlihat memejamkan mata dan mengorek lobang telinganya yang berdengung.


"Sudahlah, tidak perlu kau lawan. Kau tahu sendiri Lucas memang agak sedikit-," Emmir memiringkan telunjuknya di dahi, lalu merangkul Sovia sembari terkekeh pelan melihat wajah masam sang gadis.


BERSAMBUNG...


SEE YOU TOMORROW😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2