
Camelia berjalan terseok-seok menelusuri lorong kamar asramanya. penampilannya saat ini jauh dari kata rapih, air matanya mengalir deras, sesegukan tanpa suara, tangannya mencengkram erat gaun yang dipakainya.
Gadis itu masuk kedalam kamar asrama tanpa bersuara, bersyukur kondisi gedung asrama ini sepi karena penghuninya masih menikmati pesta di hotel mewah yang tidak jauh dari tempat itu. Pesta pelepasan para siswa siswi pertukaran, pesta yang dibayangkan oleh semua orang akan begitu indah dan istimewa termasuk oleh Camelia.
Tapi sayang bagi Camelia pesta itu adalah tempat mengerikan setelah seseorang melakukan hal yang tidak baik padanya, memaksakan sesuatu bahkan melukai dirinya. Camelia tidak tahu kenapa orang yang dia kenal baik itu melakukan hal yang menyakiti hati serta raganya, bahkan beberapa saat yang lalu di dalam kamar hotel itu Camelia tidak bisa mengenalnya dengan baik. Dia terlihat berbeda, pemaksa, bahkan melukai tubuhnya.
Braaakk...!
Dengan kencang Camelia menutup pintu kamar. Dia luruh di balik pintu, air matanya kembali mengalir deras, sesegukannya bertambah parah bahkan sampai terasa sesak. Dengan sisa kekuatan yang ada Camelia bangkit, dia mendekati koper yang ada di pojok tempat tidur, menatap benda itu sekejap sebelum membuat lemari pakaian yang sudah tak berisi.
Camelia mengeluarkan sesuatu, sebuah kotak kardus. Dia membukanya, lalu meletakkan benda itu ditempat tidur, Camelia terlihat merogoh tas kecil pemberian Dahliara. Air matanya mengalir saat dia mengingat wanita baik itu, tapi kenapa anaknya tidak sebaik ibunya?
Dengan cepat Camelia mengeluarkan isinya, dia meraih ponsel lalu membuka sebuah aplikasi penerbangan internasional dan menukarkan tiket pesawat yang akan membawanya pulang ke Indonesia lusa. Tapi malam ini Camelia menukarnya dengan penerbangan darurat, dan dilakukan malam ini juga. Beruntung pihak maskapai memberikannya, mungkin itu juga sudah rezeki dari Tuhan untuk Camelia, si gadis malang yang mendapatkan perlakuan buruk dimalam perpisahan yang diadakan sekolahnya.
🥀
🥀
🥀
Kelopak mata itu berkedut, dahinya berlipat dalam, tidak lama ringisan keluar dari bibirnya. Perlahan tubuh yang tidak memakai apapun itu bergerak, tangan kokoh berurat terulur kearah kepala dan memegangnya saat merasakan pusing yang luar biasa.
Perlahan kedua matanya terbuka, menyipit untuk menetralkan cahaya yang masuk ke retinanya. Pikirannya masih blank, dia belum bisa berpikir jernih karena rasa sakit dia area kepala serta bagian tubuh bawahnya.
Tunggu, tubuh bagian bawahnya sakit?
Mata tajam itu reflek terbuka lebar, dia bangkit seketika tidak peduli dengan rasa sakit yang sedang di deritanya. Netranya menelusuri setiap sudut ruangan yang dia tempati sekarang, termenung sesaat sebelum dia meremas kepalanya sendiri dan menarik rambutnya hingga ada yang rontok.
"AAARRRGGGHHH...!!" Sekencangnya dia berteriak saat mengingat apa yang sudah terjadi tadi malam.
FLASHBACK...
__ADS_1
Camelia diseret paksa oleh Tiger, gadis itu sudah meronta dan memohon untuk di lepaskan tapi sayang sepertinya Tiger sudah kehilangan akal. Ada sesuatu di dalam minuman yang di nikmati nya tadi, itu bukan jus yang disediakan oleh pihak hotel melainkan minuman beralkohol kadar cukup tinggi.
Entah siapa yang berhasil menyelundupkan benda itu di pesta ini, minuman itu bahkan di kelas dengan apik hingga tidak meninggalkan kecurigaan. Tiger yang nota bene tidak pernah mengkonsumsi minuman haram itu, berefek dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Belum lagi rasa asing yang terus saja menggerogoti hati serta otaknya, memicu pikiran laknat yang terus saja menggodanya.
Dan akhirnya dia lepas kendali, sang macan menjadi liar, dia tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya saat siasat licik didalam otaknya dijalankan.
Braak!
Brugh!
Camelia terhempas di tempat tidur. Tubuh gadis itu bergetar hebat, kedua mata basahnya menatap
nanar dan penuh permohonan pada Tiger yang tengah menatap lurus dengan napas memburu.
"Tiger, jangan!" Cegah Camelia saat melihat pria muda itu menanggalkan kancing kemejanya satu persatu. Pikiran buruk kian menghantui, Camelia mencoba mundur ke belakang untuk menghindari Tiger yang entah sejak kapan sudah melemparkan kemejanya ke lantai.
"Bukankah kau ingin menikah denganku, kenapa kau malah menerima mereka? Ayo, akan aku buat pernikahan indah untukmu, aku yakin setelah ini Mama atau siapapun tidak akan memaksamu menikah dengan siapapun kecuali aku!"
"Jangan! A-aku, aku bakalan pergi dari Dubai. Aku tidak akan menggangu siapapun lagi, aku tidak akan meminta pertanggungjawaban siapapun, tapi aku mohon lepaskan aku, aku mohon Tiger. Kita tidak boleh seperti i- AAAKKHHH...!" Camelia berteriak saat Tiger berhasil menarik kedua kakinya, mengurungnya dibawah kukungan tubuh besar miliknya. Air mata dan keringat bercampur jadi satu, bahkan keringat Tiger sudah menetes tepat di pipi Camelia.
Wajah tampan itu memerah, menatap tajam penuh makna pada Camelia. Deru napasnya terdengar berat, bahkan bau alkohol menyerebak masuk kedalam indra penciumannya.
Tiger mabuk!
"Siapa yang menyuruhmu pergi? Aku tidak pernah menyuruhmu untuk pergi, katakan siapa yang menyuruhmu pergi!" Tiger menekan setiap katanya, dia berbicara tepat di depan wajah Camelia yang terlihat sangat ketakutan.
Gadis itu berulang kali menelan salivanya sendiri, air matanya kembali mengalir membasahi pipi, isakannya terdengar pilu, matanya sembab dengan ujung hidung yang memerah.
"Sssttt... aku tidak menyuruhmu untuk menangis. Kita akan bersenang-senang Sayang, aku membawamu kesini bukan untuk menangis. Kita akan bersama setelah ini dan tidak akan ada lagi yang-,"
"Tiger, please. Ini salah, kau sedang mabuk. Mama Dahliara akan ma-,"
__ADS_1
Belum sempat Camelia menyelesaikan ucapannya, Tiger terlebih dahulu membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya. Tiger menekan kepala bagian belakang Camelia agar sang gadis tidak bisa memberontak, memagut bibir yang selalu membuatnya kesal, kesal karena bibir itu terus saja tersenyum pada orang lain tapi mencebik saat bersamanya.
Tiger melampiaskan semuanya malam ini, diantara sadar dan tidak dia mengoyak gaun yang Camelia pakai hingga tubuh bagian atasnya terlihat. Camelia menjerit, tapi sayang jeritan itu teredam karena kamar yang menjadi saksi bisu itu kedap suara tidak akan terdengar dari luar.
Tiger semakin menggila, dia menurunkan bibir pada leher Camelia, bahu, tulang selangka hingga belahan dada yang sudah terbuka karena ulahnya. Camelia mulai lelah, dia lelah dan lemah saat tenaganya habis dengan sia sia. Kekuatannya tidak sebanding dengan Tiger, bahkan saat salah satu tangan Tiger bergerilya Camelia sudah hampir kehilangan kesadaran.
Gadis itu menoleh pasrah, dia tidak ingin melihat wajah liat sang Macan yang dulu selalu melindunginya. Tuhan apa ini akhirnya dari keperawanannya, dirinya harus kehilangan kehormatan di negeri orang?
Kedua mata Camelia merabun, kesadarannya hampir hilang, tapi saat melihat sesuatu yang samar dinakas penglihatannya kembali normal. Sebuah vas bunga yang terbuat dari kristal, Camelia mencoba mengulurkan tangannya saat cekalan Tiger mengendur karena pria itu sibuk dengan tubuhnya.
Camelia mencoba menggeser tubuh perlahan hingga akhirnya mendapatkan apa yang dia mau, tangisan kembali pecah tanpa suara, dia menatap yakin pada benda di tangannya, matanya mengarah pada Tiger yang sedang fokus pada tubuh bagian atasnya, lalu-
BUGH!
Tanpa ampun Camelia memukul kepala Tiger dengan vas tersebut, Pria muda itu menggerang keras, tangannya yang tadi mencekal tangan Camelia terlepas dan memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Tapi sayang Tiger masih menindih tubuh Camelia, remaja pria itu seakan enggan menjauh walaupun sudah terluka.
Camelia dapat melihat ada cairan merah keluar dari rambut Tiger, bagian kepala yang dia pukul tadi.
"Camelia, kau menyakiti ku. Ini rasanya sakit seka- , "
DUGH!
Ucapan Tiger terhenti saat merasakan sesuatu yang keras menghantam inti tubuhnya, dia menggerang hebat dan berguling menjauh dari Camelia sembari memegangi bagian tubuh bawahnya. Sedangkan Camelia buru buru bangkit, berlari menuju pintu dan keluar dari sana. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi pada Tiger didalam sana, mau pria muda itu pingsan atau mati sekalipun Camelia tidak peduli lagi.
Hatinya sudah sakit, tubuhnya pun sama, dia sudah tidak mau memikirkan nasib Tiger sekalipun aset masa depannya bermasalah dikemudian hari.
Bodoamat, bila perlu impoten sekalian! raung Camelia didalam hati.
BERSAMBUNG....
SEE YO MUUUUAAAACCHHH😘😘😘
__ADS_1