TIGER'S

TIGER'S
Tiger's Bab 51


__ADS_3

"Minggu depan aku di mutasi ke perkebunan lain, Mbu. Artinya kita harus pindah, tapi tenang aja enggak jauh kok cuma di kampung sebelah."


Ambu dan Camelia hanya menyimak ucapan Kemal yang terdengar serius. pria yang sedang bertelanjang dada dengan keringat masih mengalir deras sembari menyeruput kopi hitam buatan sang adik, terlihat menatap lurus kearah pegunungan dan hamparan perkebunan cengkeh serta pala yang tidak jauh dari perkampungan.


Dengan gerakan pelan dia menoleh pada adik serta Ambunya, memasang wajah tenang seraya meletakan gelas kopi yang ada di tangannya ke atas meja bambu.


"Jadi aku enggak harus pindah sekolah Bang, kalau kita pindah rumah?" Camelia angkat bicara. Rencana Kemal ini bukan hanya untuk kelangsungan masa depan sang Abang saja, melainkan juga masa depannya. Kalau memang dirinya tidak perlu pindah sekolah ya tidak masalah, kemanapun Abang serta Ambunya pergi dia akan ikut.


"Enggak dong Dek. Sekolah kamu masih yang dulu, tenang aja. Kamu bisa pakai motor, nanti biar Abang ngambil motor perkebunan aja. Belajar yang bener ya, bentar lagi kamu luluskan? Mau kuliah dimanapun Abang enggak bakalan ngelarang asal bisa jaga diri!" Satu tangan Kemal terulur mengusap pucuk kepala Camelia. Pria berwajah tampan itu terlihat begitu menyayangi Camelia, dia memperlakukan gadis itu bukan hanya sebagai adik melainkan juga teman, bahkan menjadikan dirinya tameng menggantikan sang Babah yang sudah terlebih dahulu berpulang ke Rahmatullah, melindungi dua wanita yang disayanginya.


Tidak ada bantahan, Camelia menurut. Dia mengangguk patuh seraya tersenyum pada Abangnya, toh mau menolak pun tidak mungkin dirinya akan tinggal disini sendiri kan? Ambunya pasti akan ikut bersama Kemal, wanita paruh baya itu akan selalu mengikuti putra sulungnya kemanapun selama Kemal belum menikah.


"Ambu, Ambu mau kan ikut pindah sama Kemal?" Kali ini Kemal mencari persetujuan dari Ambunya.

__ADS_1


Walaupun dia tahu kalau wanita mulia itu pasti akan menyetujuinya, tapi sebagai rasa hormat dia kembali bertanya memastikan apakah keputusan yang diambilnya ini sudah tepat dan tidak memberatkan Ambunya.


"Ambu terserah kamu saja, Bang. Selagi Ambu bersama kalian kemanapun Ambu bakalan ikut, biar rumah ini kita sewain saja. Kalau ditinggalkan gitu saja takutnya enggak terawat nanti, jadi Ambu mau sawain aja enggak apa apa kan Bang," Ambu pun pada akhirnya meminta persetujuan dari putranya untuk menyewakan rumah yang akan mereka tinggalkan ini. Tidak berniat menjual karena Ambu tahu pasti sewaktu-waktu mereka akan kembali kesini.


"Gimana baiknya aja, Mbu. Ya udah Kemal mau mandi dulu, nanti harus ke kantor perkebunan buat bikin laporan." Kemal bangkit dia berjalan menuju pintu belakang rumah, mulai memasuki dapur dan berjalan menuju kamar mandi.


๐Ÿ’˜


๐Ÿ’˜


๐Ÿ’˜


"Tidak perlu kau menatap Emmir terus menerus seperti itu, kau akan membuatnya takut!" Pria berating disalah satu telinganya memberikan instruksi, dia mencebikan bibir saat ucapannya seakan tidak didengar oleh manusia yang bernama Tiger tersebut.

__ADS_1


"Sudah hampir seminggu kau belum juga mendapatkan dimana alamat valid Camelia. Apa otak jenius mu itu sudah agak berkurang?" Dengan nada kesal Tiger berucap. Rasa sabar yang kemarin terus saja menggelayuti kini perlahan mulai berubah haluan. Dia tidak lagi sesabar sebelumnya ingin segera mencapai tujuannya.


"Astaga, kau benar-benar tidak sabaran! Ini tidak semudah itu brother, kalau tidak ada yang ikut campur dari awal Camelia pergi alamat tempat tinggalnya sudah aku temukan. Pihak sekolah pun tidak segampang itu ternyata memberikan alamat para siswa-siswi pertukaran kemarin termasuk Camelia." Emmir yang biasanya sabar dan menulikan kedua telinganya, tapi karena terus saja mendapatkan omelan Tiger pada akhirnya pria sabar berkacamata tersebut ikut naik darah.


Sementara Tiger hanya bisa mengumpat, meremas rambutnya kasar menggunakan kedua tangannya. Dia berusaha mengendalikan emosinya saat kedua tangan serta kakinya ingin sekali membanting serta menendang sesuatu untuk melampiaskan emosinya.


"Sudah satu minggu, bagaimana kabarnya? Bagaimana kalau Camelia hamil, lalu aku- AAAKKHHH SIAL! ini pasti ada campur tangan Mama!" Tiger hilang kendali di pertengahan kalimatnya, tapi perlahan dia mulai tenang membuat Lucas yang tadinya hendak melompat ke sofa dan menyembunyikan diri di belakang tubuh Emmir menghela napas lega.


Dia pikir akan ada Macan gila lagi yang mengamuk seperti beberapa waktu yang lalu disaat mereka meminta pihak sekolah untuk memberikan alamat valid dimana Camelia tinggal. Sayang pihak sekolah enggan memberikannya, mereka sangat menutup privasi para siswa-siswi pertukaran termasuk alamat tempat tinggalnya, karena terpaksa mereka hanya memberitahu nama negara serta kota yang Camelia tinggali saja tidak lebih.


Hal itu membuat Tiger meradang, dia hampir saja menerjang kepala sekolah. Kalau saja Lucas dan Emmir tidak segera membawa Tiger pergi dari sana mungkin Macan gila itu sudah menerkam seseorang lagi.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


SEE YOU MUUUUAAAAACCCHHHHH๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2