
Dahliara tidak tenang saat melihat hujan turun semakin deras. Beberapa menit yang lalu dia memerintah tiga orang pengawal untuk mengikuti Tiger tanpa sepengetahuan putranya, ibu dari satu orang putra itu merasa khawatir kalau Tiger pergi sendiri mencari Camelia.
Dahliara sendiri terlihat mondar-mandir sembari menatap penuh harap ke arah pintu gerbang yang masih tertutup rapat. Tidak jauh darinya ada Lionel serta anggota keluarga Albarack lainnya tengah duduk, mereka tidak bisa berbuat apapun atau melarang Dahliara mengkhawatirkan dia anak muda yang saat ini belum kembali ke istana.
"Sudahlah Sayang, nanti mereka pasti pulang. Kita akan tahu alasan gadis itu memilih pergi dari sini," Lionel mencoba menenangkan, walaupun nyatanya itu tidak berhasil.
Belum sempat dia mendekati Dahliara, wanita yang berstatus sebagai istrinya itu terlonjak dan berlari menuju pintu utama saat melihat sebuah motor sport diikuti oleh mobil jeep hitam masuk kedalam kawasan istana Albarack. Rasa khawatirnya menguap, tapi belum hilang sepenuhnya terlebih melihat kondisi kedua anak remaja yang dia nantikan kedatangannya sejak tadi.
"Astaga, kamu kemana aja Sayang? Kenapa pergi dari sini?!" Dahliara langsung memberondong remaja perempuan yang baru saja turun dari motor sport sang putra. Keadaannya yang menyedihkan membuat dirinya lemas, seluruh pakaian sang gadis basah kuyup serta wajahnya sayu dan pucat.
"Mama tanya saja sendiri! Lain kali tidak perlu mencarinya, biarkan dia pergi kalau memang ingin pergi!" Tukas Tiger tajam, ekor matanya melirik pada Camelia yang masih tertunduk lesu dan pucat.
"Sialan!" Desisnya.
BRAAKK...!
Tanpa hati Tiger membanting helm yang di genggamnya, benda dengan harga jutaan rupiah itu sama sekali tidak tergores apa lagi hancur walaupun sudah di lemparkan begitu keras. Sang pemilik melenggang pergi dengan emosi yang belum stabil, sedangkan kedua perempuan didekatnya terkejut bukan main. Dahliara bahkan terpekik keras, dia segera memeluk Camelia saat melihat Tiger membanting helmnya tanpa aba-aba.
Dahliara pikir putranya akan menyakiti Camelia, tapi sepertinya walaupun benda lain yang menjadi sasaran kemarahannya tetap saja Camelia merasa dirinya lah yang saat ini di banting seperti itu oleh si Macan.
"Ayo kita masuk, ganti baju kamu setelah itu baru kita bicara." Dahliara membawa Camelia masuk, dia tidak peduli dengan lantai istana yang basah karena air hujan yang menempel di tubuh sang gadis.
Akan ada pelayan yang membersihkannya nanti,, begitu pikirnya.
Saat sampai di ambang pintu mereka di sambut oleh keluarga Albarack, Jiddah Yasmine dan Permaisuri Oceana atau Shena mengambil alih Camelia dan memberikan isyarat pada Dahliara agar menyusul Tiger.
__ADS_1
Mereka tidak ada yang berani menyusul remaja pria itu ke kamarnya, Lionel yang hendak melangkah mengikuti Tiger pun di cegah oleh Jiddah Yasmine karena wanita tua itu tahu menantunya tidak akan berhasil membujuk sang cucu.
Tiger tengah marah saat ini!
Tanpa menunggu lagi Dahliara bergegas menyusul putranya setelah menyerahkan Camelia pada Mommy serta kakak iparnya. Dia tahu kalau saat ini Tiger pasti tengah melampiaskan emosinya, entah dengan cara apa, Dahliara berharap Tiger tidak melakukan hal yang berbahaya.
Tanpa mengetuk Dahliara masuk kedalam kamar. Dia bernapas lega saat melihat kondisi kamar masih rapih, tidak ada satu barang pun yang rusak. Berarti Tiger masih bisa mengendalikan emosinya, dengan langkah pelan Dahliara semakin masuk, matanya terus saja memindai setiap sudut ruangan hingga tertuju pada pintu kamar mandi yang terbuka tapi ada suara air yang mengalir.
Tiger berada disana!
Dahliara mendudukkan diri di kursi belajar putranya, matanya memindai barang-barang kesayangan Tiger yang tertata rapih disana. Bahkan ada beberapa piala serta piagam yang pernah Tiger dapatkan, bukan hanya dari sekolah melainkan ajang sebuah balapan resmi yang dikuti nya beberapa bulan yang lalu. Tapi setelah Tiger kelas 3 dan sebentar lagi akan lulus, dia mengurangi kegiatan itu.
"Kenapa Mama disini?"
"Memangnya Mama enggak boleh masuk kekamar anak Mama sendiri?" Dahliara membalikkan pertanyaan membuat Tiger berdecak.
Remaja pria yang hanya menggunakan sepotong handuk itu melewati Dahliara begitu saja. Dia meraih handuk kecil yang ada di atas tempat tidur lalu menggosokkan benda itu di kepalanya.
"Tiger, Mama tahu kalau kamu sedang-,"
"Mama tahu kalau aku sedang marah, terus kenapa Mama kesini? Harusnya Mama temani saja gadis itu, tidak perlu kesini!" Tiger menyela cepat. Dia berbicara tanpa menatap kearah sang Mama, Tiger tidak cukup berani melihat wajah Mamanya saat ini.
Kalau dirinya melihat raut wajah Dahliara yang sedih, pasti tidak akan tega menumpahkan semua kekesalannya.
"Mama lebih sayang pada gadis itu kan dari pada aku! Sudahlah, aku mau tidur kepalaku pusing sekarang!" Imbuhnya lagi tidak memberikan kesempatan pada Dahliara membuka suara. Tiger melemparkan handuk ditangannya ke sembarangan arah, bahkan dia sama sekali tidak mengganti handuk dengan pakaian layak.
__ADS_1
"Sayang, enggak gitu. Kamu salah menilai Mama, Mama sama sekali enggak pernah-,"
"Terus apa sekarang?! Mama selalu saja menyalahkan ku sejak awal mengenal gadis itu, padahal bukan aku saja yang harus bertanggungjawab dengan semua ini. Papa pun turut andil, Lukas dan Emmir juga, tapi Mama malah menyuruhku untuk menikahinya sebagai rasa tanggungjawab! Ini tidak adil Ma, kenapa bukan Lukas atau Emmir saja yang menikahinya?!" Tiger melupakan semua isi hatinya. Jujur selama ini dia masih gamang, ragu bahkan sangat tidak setuju dengan keputusan sang Mama.
Terlebih dirinya lah yang selalu dipersalahkan disini, bahkan Sang Papa sama sekali tidak membelanya dan menolak keputusan Mamanya, padahal pria itu juga memiliki andil kuat dalam masalah ini.
"Saat dia memilih kabur dari sini, aku juga yang disalahkan. Kenapa Ma! Kenapa Mama seperti ini sama Tiger, apa Mama benar-benar mau Tiger pergi dari sini setelah menikahinya!" Tiger yang kalut semakin tidak terkendali, dia terus saja melontarkan kata- kata yang sama berulang kali. Keputusan yang diberikan Dahliara sepertinya cukup membuat dirinya kalut setengah mati, menikah muda tidak ada di jadwalnya. Liara bergeming, dia tidak mencegah apapun yang dilakukan Tiger saat ini, dia membiarkan sang putra berbicara kesana kemari mengungkapkan apa yang tersimpan di dalam hatinya selama ini.
"Baik, Mama enggak akan maksa kamu lagi buat nikahin Camelia sebagai rasa tanggungjawab. Tapi ingat, jangan pernah berharap apapun setelah masalah ini selesai, kamu enggak bakalan dengar atau tahu kabar Camelia selajutnya. Mungkin ide kamu bisa Mama manfaatkan, ya kamu benar sepertinya Mama bakalan jodohin dia sama cowok yang lebih bertanggungjawab juga gentle dan enggak pengecut, masih banyak kok pangeran Dubai yang pasti mau sama Camelia. Sekarang kamu ganti baju, terus turun dan makan. Mama enggak mau dianggap jahat sama anak Mama sendiri karena enggak nawarin makan!" Setelah mengatakan itu Dahliara berbalik. Berusaha menahan air matanya didepan sang putra ternyata sangat sulit, hingga akhirnya tangisannya tumpah saat pintu kamar Tiger tertutup rapat setelah dirinya keluar.
Dahliara memang tidak bisa menyalahkan Tiger sepenuhnya kalau putranya bersikap demikian, dia tahu kalau Tiger pasti tertekan selama ini dengan permintaannya.
"Dia membuatmu menangis?" sebuah suara bariton terdengar.
Lagi-lagi Dahliara tersentak, dia segera mengusap air matanya saat melihat Lionel tengah menatapnya tajam. Dahliara berusaha tersenyum dan bersikap baik baik saja, tapi sepertinya Lionel sudah tidak lagi bisa di bohongi.
"Aku enggak apa-apa benaran. Tadi aku cuma khawatir sama Tiger, ayo kita turun, kamu belum makan mal- SAYANGGGG...!" Pekikan diakhir kalimat terdengar dari mulut Dahliara saat melihat Lionel mendobrak pintu kamar Tiger dengan kasar.
Dia tahu Lionel tidak akan percaya begitu saja, Dahliara semakin panik dan khawatir kalau suami serta putranya akan terlibat adu mulut bahkan adu tinju karena masalah ini.
Dirinya harus bisa menjinakkan kedua makhluk ganas itu!
BERSAMBUNG...
SEE YOU TOMORROW๐๐๐
__ADS_1