
Semua mata tertuju pada mobil mewah yang baru saja tiba di parkiran sekolah. Semua siswa tidak dapat mengalihkan pandangannya, mereka terpaku menatap tiga orang remaja yang keluar secara bersamaan. Tapi ada hal yang lebih mencengangkan, salah satu dari mereka dengan sigap meraih tas ransel milik gadis berambut pendek diantara kedua remaja pria tersebut.
Sementara pria muda berkacamata, dengan gentle membuka sebuah payung dan membentang benda itu tepat di atas kepala sang gadis. Semua orang terperangah, mulut mereka terbuka karena tidak menyangka kalau dua orang siswa yang menjadi most wanted sekolah ini menjadi pelayan seorang gadis mungil yang mereka kenal sebagai siswi pertukaran.
"Luc, berikan tasku!" Desis gadis berambut pendek itu, ekor matanya memicing penuh peringatan tapi sayang remaja tampan bertindik disalah satu telinganya terlihat menulikan pendengarannya. Dia tidak peduli dengan ocehan gadis yang tadi malam dilamarnya.
"Em, lipat lagi payung mu! Oh... Astaga, kalian kenapa?" Sang gadis terlihat frustasi melihat kelakuan kedua remaja pria yang sedang memperlakukan dirinya berlebihan seperti ini.
"Oh Baby, aku suka panggilan mu, Luc. Itu terdengar sangat, romantis." Lucas berseloroh nakal, dia bahkan mengedipkan sebelah matanya pada si gadis dengan kekehan kecil. Sementara remaja berkacamata yang tidak jauh darinya menampilkan senyuman tipis, terlihat setuju dengan ucapan madunya.
Astaga madu?
Sang gadis memijat ujung hidungnya, dia menghela napas pelan, hanya bisa pasrah membiarkan kedua remaja itu berbuat semaunya. Interaksi ketiganya menjadi tranding topik, tidak lepas dari banyak pasang mata di area luar hingga mereka masuk ke dalam gedung sekolah. Diantara banyak mata ada sepanjang netra tajam menatap pada ketiganya, tak nampak ekspresi apapun, hanya diam.
Banyak suara yang terdengar oleh telinganya, ekor matanya bergerak mengarah pada beberapa siswa yang berbisik merdu membicarakan ketiga remaja yang sudah hilang ditelan tembok.
"Apa yang terjadi pada Lucas dan Emmir? Kenapa mereka terlihat berbeda, bahkan seperti pelayan untuk gadis itu? Astaga, kenapa bukan aku saja atau gadis bangsawan lain, kenapa harus siswi pertukaran itu!" Gerutu seorang siswi berambut panjang, wajahnya terlihat masam, bahkan tidak menyukai interaksi antara kedua siswa most wanted dengan sang gadis.
"Aku rasa gadis itu sudah melakukan sesuatu pada mereka. Apa yang kalian pikirkan sekarang? Apa sama denganku?" Rekannya menyunggingkan senyuman sinis, bahkan lirikan matanya terkesan merendahkan. Bisa dilihat dengan jelas kalau dia tengah berspekulasi buruk pada mereka bertiga, dan itu langsung ditangkap oleh kedua temannya.
"Astaga, aku tidak menyangka. Jangan jangan mereka sudah, ups!" Gadis berambut ikal pendek itu ikut berbicara bahkan menutup mulutnya seakan terkejut dengan pemikirannya sendiri.
Tidak jauh dari mereka, Tiger mendengar semuanya. Tapi remaja itu seolah tidak peduli, melenggang pergi meninggalkan ketiganya melangkah lebar menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas dimana kelasnya berada.
__ADS_1
Jarum jam bergerak cepat, matahari sudah berada diatas kepala, jam makan siang para siswa telah tiba. Semua warga sekolah terlihat berkumpul di area cafetaria termasuk Tiger, remaja tampan itu terlihat sudah duduk tenang di salah satu meja. Dia duduk sendiri, tapi terlihat tidak peduli dengan sekitar bahkan saat ada keributan tidak jauh darinya Tiger seakan menulikan pendengarannya.
"Astaga, kau meninggalkan kami!" Lucas datang dengan wajah lelah dan terengah. Tangannya sibuk meletakkan nampan yang berisikan makan siang yang terlihat cukup banyak.
Tiger hanya melirik tanpa minat, dia kembali menyuapkan makanannya, mengabaikan Lucas yang terus saja berbicara kesana kemari.
"Kenapa mereka lama sekali?!" Suara Lucas kembali terdengar.
Remaja itu berdecak pelan, mulai menikmati makan siangnya. Dia tidak peduli dengan Emmir dan Camelia yang belum sampai, tadi sebelum dirinya memutuskan untuk pergi ke cafetaria terlebih dahulu Emmir menawarkan diri untuk menjemput Camelia dikelasnya.
Jadwal penjagaan yang mereka atur mulai diberlakukan hari ini. Walaupun tidak mendapatkan persetujuan dari Camelia tapi Lucas dan Emmir tidak peduli, mereka bertindak sesuka hati dan tidak membiarkan gadis itu sendiri sesuai dengan janji mereka pada seseorang.
"Kemarikan!"
"Kenapa kau sendiri, mana Baby Camel kita?" Dengan mulut penuh Lucas berbicara dan tanpa izin meraih minuman milik Tiger demi untuk menyelamatkan nyawanya. Rasa kering di area tenggorokannya membuat dia kesulitan untuk bernapas, beruntung ada minuman gratis didepannya.
"Camelia tidak mau ikut, dia memilih ke perpustakaan dengan Sovia." Cetus Emmir ringan sembari mendudukkan diri didekat Tiger.
Kini giliran Tiger yang mendelik, dia menatap tajam pada Lucas yang tengah menikmati minumannya tanpa dosa. Remaja tampan itu meletakkan alat makannya dengan kasar, mendorong kursi yang didudukinya lalu melangkah lebar meninggalkan kedua temannya.
"HEI MAN, KENAPA KAU PERGI?! MAKANANMU BELUM HABIS!"
Tiger tidak peduli dengan teriakan Lucas, dia terus saja melangkah menulikan pendengarannya, menatap lurus hanya melambaikan tangannya pada Lucas tanpa berminat untuk menoleh. Sang Pangeran memutuskan untuk pergi meninggalkan kedua temannya, telinganya terasa tidak nyaman saat membahas Camelia.
__ADS_1
Ditempat lain Camelia sedang sibuk menyusuri rak-rak buku yang menjulang tinggi dihadapannya, matanya terlihat jeli mencari lembaran buku yang dibutuhkannya.
"Sudah dapat?" Sovia mendekat, dia sudah mendapatkan beberapa buku yang dibutuhkannya. Ekor matanya melirik kecil pada Camelia yang masih sibuk mencari.
"Kau duluan saja, aku belum menemukan bukunya." Camelia mengibaskan tangannya pada Sovia, tangannya terulur meraih sebuah buku yang cukup tebal dengan tulisan bahasa Inggris. Sementara Sovia mengedikkan bahunya, dia berlalu pergi menuju kursi dan meja yang sudah disediakan oleh pihak perpustakaan.
Camelia tersenyum tipis melihat buku yang dibutuhkannya, satu persatu dia membuka lembaran kertas bertuliskan bahasa asing yang cukup dipahami olehnya.
Kedua kakinya kembali melangkah menuju rak buku yang sedikit jauh dari ruang baca, bahkan Sovia pun tidak dapat melihat Camelia karena terhalang rak buku yang menjulang tinggi.
Bibir gadis itu terus bergerak, bergumam membaca setiap kata yang dilihatnya. Hingga satu bekapan membungkam mulutnya, Camelia meronta, buku ditangannya jatuh begitu saja. Dia diseret keluar melalui pintu yang tidak diketahui oleh warga sekolah, pintu rahasia yang berada di belakang perpustakaan.
Orang bertopeng dengan pakaian tertutup hingga kepala tersebut membawa Camelia tanpa diketahui oleh siapapun. Dibalik pintu ada dua orang rekannya yang sudah menunggu, sigap membawa Camelia dan segera menutup pintu.
"Bawa gadis ini lewat jalan yang sudah kita persiapkan." Ucap salah satu dari mereka.
Pergerakan mereka cukup kilat, terlihat sangat profesional dan tidak terdeteksi oleh siapapun. Ketiganya tidak peduli dengan sekitar, bergerak cepat menuju mobil yang sudah menunggu. Terlalu abai dan fokus pada tujuan mereka hingga tidak menyadari ada seseorang yang tidak sengaja tengah berdiam diri sembari menyesap nikotin di mulutnya menatap kearah mereka berempat.
Orang itu tidak bereaksi apapun, terlihat membiarkan ketiga orang berpenutup wajah itu membawa seorang gadis yang berseragam sekolah sama seperti yang dipakainya. Dia memilih menikmati nikotin yang belum terbakar habis tanpa peduli dengan sekitar bahkan pada Sang gadis yang sangat dikenalnya.
BERSAMBUNG...
SEE YOU TOMORROW๐๐๐
__ADS_1