
Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu. Hubungan diantara Tiger dan kedua temannya sedikit merenggang, belum ada penyelesaian termasuk dengan Dahliara serta Camelia sendiri. Disini Tiger yang banyak menghindar, remaja pria itu bahkan jarang pulang ke kediaman Albarack dan memilih untuk berdiam diri di apartemen miliknya.
Sikap keras kepala yang dimiliki oleh Tiger membuat Lionel dan Dahliara hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka berdua membiarkan putra semata wayangnya lebih tenang dan berpikir jernih terlebih dahulu, karena kalau pun mereka berdua memaksa Tiger pulang pria muda itu pasti tidak akan menggubris.
Selama beberapa hari itu pula Lucas dan Emmir tidak pernah meninggalkan Camelia sendiri, bahkan saat di kelas pun karena kelas mereka berbeda Lucas sengaja memasang kamera pengintai selama pembelajaran berlangsung. Dan mereka berdua akan segera bergegas menemui gadis itu tanpa memperdulikan Tiger yang tidak lagi dekat dengan mereka berdua.
"Apa disekolah ini akan ada acara?" Tanya Emmir. Matanya terus saja bergulir liar menelusuri setiap sudut sekolah yang terlihat berbeda. Banyak hiasan pernak-pernik cantik dan beberapa umbul umbul yang belum diketahui akan menyambut acara apa.
"Entahlah aku tidak tahu dan tidak peduli. Ayo, Baby Camel pasti sudah menunggu. Jangan sampai kita teledor lagi dan membuat Nyonya Lionel mengamuk!" Lucas menarik kasar almamater sekolah yang dipakai Emmir. Membawa pria muda berkacamata tersebut kesebuah lift yang akan menghubungkan mereka pada lantai kelas yang di tempati oleh Camelia.
Suasana kelas Camelia sudah mulai sepi. Para murid bergegas meninggalkan kelas setelah bell istirahat pertama berbunyi, belum waktunya makan siang mereka hanya akan mengisi istirahat ini dengan santai dan camilan. Sementara itu Camelia masih sibuk menyalin sesuatu, di sisinya Sovia terlihat sibuk membenarkan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan gara-gara terlalu keras mengacak nya tadi.
"Minggu depan kau sudah tidak disini lagi?" Suara Sovia terdengar pelan, gadis cantik itu melirik pada Camelia yang masih sibuk menuliskan sesuatu di buku catatannya.
"Hm...," Sahut Camelia pelan.
__ADS_1
Dia menghirup napas dalam, meletakkan alat tulisnya dan menghadap pada Sovia yang sudah terlihat sendu bahkan raut sedihnya tidak dapat disembunyikan lagi.
"Aku senang bisa berteman denganmu, Sovia. Aku harap kau tidak akan melupakan ku saat aku sudah tidak berada di sini lagi." Camelia berusaha menarik sudut bibirnya, tangannya terulur menggenggam tangan milik Sovia. Meyakinkan gadis itu kalau semuanya akan baik-baik saja setelah dirinya pergi dari sekolah ini.
Ya mau bagaimana lagi, tugasnya sudah selesai setiap nilai yang Camelia dapatkan cukup memuaskan hingga waktu beberapa bulan ini terasa sangat singkat. Lagi pula tidak ada hal istimewa disini yang mampu membuatnya tetap bertahan hingga berlama-lama di negara kaya ini.
"Justru aku yang seharusnya berkata seperti itu. Kau jangan melupakan ku saat sampai di Indonesia nanti, bila perlu hubungi aku setiap hari. Oh ayolah kenapa kau tidak sekolah disini saja, kalau memang terkendala biaya Papa ku akan dengan senang hati membantumu. Nanti kau akan aku kenalkan pada kedua orang tuaku juga Kakak ku, kalau memang Putra Mahkota Albarack itu tidak menginginkan mu Kakak ku juga masih single, ya walaupun usianya sudah dewasa tapi kau tenang saja dia baik dan pastinya aku akan menjadi adik ipar yang baik untukmu. Aku akan sangat senang memiliki ipar seperti mu, dari pada kakak ku menikah dengan para putri dari keluarga bangsawan yang sombong, angkuh serta sok cantik, aku lebih setuju dia menikah dengan gadis sederhana seperti mu. Ayolah aku mohon pertimbangkan kembali ya ya ya."
Sovia terus saja berceloteh, Camelia sampai tidak tahu harus memberi jawaban apa pada gadis bermata bulat tersebut. Camelia hanya menanggapinya dengan senyuman kaku, terlihat kebingungan sendiri terlebih saat ini Sovia malah memasang wajah penuh permohonan.
"Hei...hei... hei...! Enak saja kau mau menjadikan Baby Camel sebagai kakak ipar mu. Kau tahu tidak kalau kita berdua ini adalah calon suaminya, aku calon suami pertama dan dia yang kedua. Dan maaf tidak ada calon suami yang ketiga, kami berdua tidak akan menerimanya!" Lucas menyambar secara tiba-tiba, remaja tampan itu berkacak pinggang dan menatap tajam penuh peringatan pada Sovia.
Belum selesai masalahnya dengan gadis yang ada dihadapannya, datang satu lagi pembuatan masalah yang semakin membuat dirinya ingin segera meninggalkan tempat ini, tidak perlu menunggu seminggu kemudian.
"Apa maksud mu? Calon suami? Calon suami siapa, astaga kau sedang bermimpi? Hei Tuan Muda Paterson bangun dari tidurmu ini sudah siang!" Sinis Sovia, dia mencebikkan bibir lalu menarik lengan Camelia dan membawa gadis itu keluar melewati Lucas dan Emmir begitu saja.
__ADS_1
Tentu sikap yang diambil oleh Sovia itu membuat Lucas semakin meradang. Dia terus saja mengomel dibelakang kedua gadis tersebut, sementara Emmir hanya terlihat menggelengkan kepala, dia ingin sekali menghentikan Lucas yang sudah mulai hilang kontrol. Mulut temannya itu semakin lama semakin pedas saja saat beradu kata dengan Sovia, keduanya memang tidak akur sedari dulu.
"Diam kau Kulkas rusak! Dasar playboy nanggung, kau belum pernah bertemu dengan kakakku jadi jangan sembarangan bicara ya!" Sovia mulai tersulut, dia yang tadinya membiarkan Lucas terus saja mengoceh kini terlihat berbalik, menatap garang pada pria muda yang tengah memasang wajah menyebalkan dan seolah tidak berdosa.
"Apa, memang benar kalau Kakak mu itu tampan, kaya, menawan, pintar seperti ku ini dia pasti akan mudah mendapatkan gadis bangsawan, tidak perlu dijodohkan oleh adiknya yang menyebalkan seperti mu. Bilang saja kalau kakak mu itu tidak laku!" Tawa Lucas menggema, tingkah over percaya dirinya semakin menjadi. Dia tertawa tanpa peduli dengan raut wajah Sovia yang sudah tidak lagi enak dipandang.
"Sovia, apa kau baik baik sa-,"
"LUCAS SAMUEL PATERSON...!" Pekik Sovia, tanpa aba aba gadis itu berlari cepat menerjang Lucas yang masih tertawa. Keduanya terlihat adu fisik, lebih tepatnya Sovia yang mendominasi. Gadis itu terlihat tengah menyalurkan semua kekesalannya, tidak jauh dari keduanya Camelia dan Emmir hanya bisa menonton. Camelia yang tadinya hendak menghentikan Sovia di cegah oleh Emmir, pria itu bilang biarkan saja anggap itu adalah pelajaran untuk Lucas yang memiliki mulut layaknya seorang wanita.
Banyak siswa-siswi yang menonton pertunjukan mereka berdua, termasuk Tiger yang hanya menatap datar pada Lucas dan Sovia lalu bola matanya teralihkan pada Camelia yang saat ini sedang di rangkul oleh Emmir.
BERSAMBUNG...
SEE YOU TOMORROW๐๐๐
__ADS_1