TIGER'S

TIGER'S
Tiger's Bab 30


__ADS_3

Tiger menembus derasnya hujan, berkendara dengan sangat hati-hati saat jalanan terasa begitu basah serta licin karena air hujan. Sore menjelang malam, matahari yang tadinya nampak begitu berkilau serta begitu menyengat tiba-tiba berubah gelap dengan petir terus saja bersahutan diatas langit Dubai selepas Tiger keluar dari kediaman Albarack.


Sudah hampir setengah jam dia menyusuri jalanan yang dipastikan Camelia lewati, entah mengapa Tiger sangat yakin kalau gadis itu belum sampai ditempat tujuannya. Tidak membawa alat pengenal, handphone bahkan uang sepeserpun, karena penjaga gerbang mengatakan kalau Camelia hanya memakai pakaian rumahan tanpa membawa apapun, ditambah lagi sore ini hujan datang dengan derasnya. feeling Tiger mengatakan kalau gadis kerasa kepala itu pasti sedang berteduh suatu tempat.


"Kau dimana Camelia? Jangan semakin membuat aku di salahkan oleh Mama saat pulang nanti, kalau malam ini tidak menemukanmu!" Gumamnya.


Mata tajam Tiger begitu awas memindai setiap tempat yang dilewatinya. Dia sangat berharap kalau Camelia berada diantara orang-orang yang saat ini tengah berteduh, kecepatan sepeda motor sport yang dikendarai sang Pangeran perlahan melambat, dia benar-benar memperhatikan satu persatu orang-orang yang tengah berdiri di depan sebuah gedung pencakar langit, menunggu hujan berhenti.


Hingga akhirnya motor yang Tiger kendarai berhenti total saat melihat seorang gadis bergaun rumahan sedang memeluk pilar sembari menatap kearah derasnya hujan. Mata Tiger menyipit, memastikan siapa gadis yang terlihat basah kuyup dan cukup berantakan itu. Setelah merasa yakin akhirnya dia turun dari motor dan mulai menyebrangi jalan.


Kedua matanya terus saja terarah pada satu titik, kepalanya yang masih terbalut helm full receh cukup berat tidak menyulitkannya untuk bergerak cepat. Sampai akhirnya gerakan kedua kakinya kian melebar saat melihat beberapa orang berpakaian hitam mendekati sang gadis dan memaksanya.


Tiger mendelik dibalik helmnya, dia cukup paham siapa mereka. Setelah beberapa waktu ini tidak ada pergerakan yang mencurigakan kini orang-orang itu mulai beraksi kembali memanfaatkan kelengahannya untuk bisa membawa Camelia.


Jarak diantara Tiger dan Camelia tinggal menyisakan beberapa belas meter saja, didepannya Camelia terus memberontak tetapi tidak bisa berteriak atau hanya sekedar meminta tolong pada warga sekitar karena saat orang-orang itu mendekat, sasaran utama mereka adalah mulut sang gadis.


Salah satu dari mereka membekapnya, tidak memberikan kesempatan pada sang gadis untuk berteriak dan mengundang perhatian orang. Bahkan saking hebatnya, mereka mengatakan pada warga yang mulai curiga kalau gadis yang dibawa saat ini merupakan anak majikan mereka yang kabur dari rumah karena merajuk.


Alhasil warga yang ada disana terlihat percaya, walaupun ada yang masih gamang dan ingin membantu. Tapi melihat delikan orang-orang mencurigakan itu mereka tidak berani mengambil tindakan lanjut. Camelia terus meronta, dia tidak bisa lagi membendung air matanya, hatinya berteriak sekencang mungkin memanggil nama seseorang.


Hingga akhirnya dia memilih pasrah, tubuhnya yang lelah dan lemas tidak dapat dia topang dengan baik. Camelia membiarkan orang-orang asing itu membawa, mungkin hari ini adalah hari terakhir dirinya melihat dunia. Esok atau nanti malam Camelia yakin arwahnya sudah terlepas dari raga dan besok pagi jasadnya yang tidak lagi berguna itu akan dibuang oleh mereka.


Lebih parahnya seluruh organ penting didalam tubuhnya pasti akan menghilang, mungkin mereka akan mengambil serta melelang nya dengan harga cukup mahal di pasar gelap.


'Aku pasrah ya Tuhan,' Gumamnya sakit.


Kedua mata Camelia terpejam, dia merasakan tubuhnya melayang hingga rasa sakit tiba-tiba mengantamnya dan membuat gadis itu membuka mata seketika.


Bola mata bulatnya membeliak saat melihat beberapa orang yang membawanya tersungkur di jalanan beraspal, hujan deras yang mengguyur semakin membasahi tubuh karena payung yang mereka bawa sudah bertebaran tiada arti.

__ADS_1


Mata Camelia kian membulat saat melihat beberapa orang yang membawanya itu tengah menyerang seseorang, dia tidak tahu siapa karena terhalangi tubuh para penculiknya.


'Dia siapa?'


Camelia mencoba bangun walaupun tubuhnya begitu lemas. Belum mengisi perutnya selama seharian ditambah lagi dirinya harus berjalan begitu jauh dalam keadaan perut keroncongan, lalu kehujanan dan sekarang masih ada masalah yang semakin membuat tubuhnya tak berdaya.


BUGH!


Satu orang lagi terkapar penuh luka. Wajahnya berdarah karena terkena hantaman benda tumpul yang dibawa oleh pria didepannya saat ini. Camelia menelan salivanya susah payah, orang berjambang lebat itu menggerang sembari memegangi hidungnya yang mungkin patah.


Camelia beringsut, dia berusaha menjauh tapi sayang salah satu kakinya kembali dicekal hingga pergerakannya tidak bebas.


"Lepaskan kakiku!" Rontanya.


Gadis itu berusaha menarik kaki kirinya, tangannya yang gatal terus saja mencubit bahkan memukuli tangan milik orang yang saat ini masih ingin mencoba menahannya padahal keadannya sendiri sudah tidak lagi berbentuk.


DUGH..!


Camelia terhenyak dan terhuyung kebelakang saat tiba-tiba seseorang menendang pria yang tadi menahan kakinya hingga terjungkal beberapa kali dan batuk darah. Gadis itu mendongak, mata sembabnya semakin menganak saat melihat siapa orang yang menendang penculiknya tadi.


"Tiger," Cicitnya teredam hujan.


Mata Camelia terpejam erat saat melihat Tiger kembali menghajar orang-orang yang masih terlihat bergerak hingga benar-benar tidak sadarkan diri. Remaja pria itu terlihat murka, bahkan tidak peduli dengan kondisi lawannya yang sudah babak belur tidak karuan, bahkan mungkin sudah kritis.


Camelia ngeri melihatnya, Tiger terlihat berbeda, pria itu seperti psikopat yang tengah menghabisi korbannya tanpa peduli dengan sekitar. Darah bercampur dengan air hujan, bahkan terlihat sekali kalau helm yang dibawa Tiger ternodai oleh darah lawannya.


"Tiger sudah!" Camelia bangkit, dia mencoba menahan pria itu agar tidak lagi menghajar para lawannya yang sudah tergeletak tak berdaya.


Tapi sayang seperti larangan Camelia tidak Tiger hiraukan, Sang Macam tetap mengamuk tidak terkendali bahkan berulangkali menghantamkan tinjunya pada tubuh sang lawan.

__ADS_1


BUGH...


BUGH...


BUGH...


"TIGER MEREKA BISA MATI!" Pekik Camelia histeris. Bahkan dia tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang ringkih, gadis itu mendekat pada Tiger dan memeluk tubuh basah kuyup sang Macan dari arah belakang dengan erat.


"TIGERRRRRRR STOOP...!" Teriaknya keras bersaing dengan gemuruh guntur dan hujan.


"APA...!"


Suara Tiger tidak kalah menggelegar, remaja pria itu menyentak kasar tangan kecil milik Camelia yang melingkar di perutnya. Tiger berbalik, rahangnya mengetat, raut wajahnya begitu tidak bersahabat di mata Camelia.


"T-Tiger-, "


"KALAU AKU TIDAK MEMBUNUH MEREKA, MEREKA YANG AKAN MEMBUNUH MU APA KAU PAHAM HUH!"


Camelia memejamkan kedua matanya rapat, suara teriakan penuh amarah yang Tiger luapkan bebarengan dengan suara guntur. Dua kali lipat terdengar lebih mengerikan untuk Camelia, dia memilih bungkam dan menundukkan kepala.


"Jangan menjadi gadis bebal, dan jangan membuat Mamaku susah serta khawatir, ayo pulang!" Suara Tiger melunak, dia menarik pelan lengan kecil milik Camelia yang sudah terasa dingin serta lemah.


Camelia yang tidak bisa berbuat apapun hanya diam menurut, Tiger memang berbicara pelan sebelum membawanya pergi dari tempat mengerikan itu, tapi rasanya ucapan pelan yang Tiger katakan lebih menyakitkan dari para teriakkannya tadi.


Jangan membuat Mamaku susah!


Kalimat itu terus saja terngiang-ngiang di kepalanya dan mungkin akan selalu Camelia ingat sampai kapanpun.


Baiklah, mulai sekarang dirinya tidak akan menyusahkan siapapun!

__ADS_1


BERSAMBUNG...


SEE YOU TOMORROW๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2