TIGER'S

TIGER'S
Tiger's Bab 25


__ADS_3

Camelia mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru taman, suara binatang malam mulai riuh terdengar tapi entah mengapa dia sama sekali tidak merasa takut. Berbeda dengan saat dirinya berada di asrama atau dikediaman aslinya saat di Indonesia.


Taman bunga ini tidaklah gelap meskipun saat ini sudah pukul 8 malam waktu Dubai. Selepas makan malam Tiger meminta dirinya untuk pergi ke taman samping istana, alhasil karena tidak tahu tempatnya dimana Camelia sempat kesasar beruntung ada pelayan yang mengantarkannya. Lewat bahasa Arabnya yang terbatas Camelia hanya mengatakan Taman Samping Istana tidak lebih dari itu, untung saja pelayan itu peka.


Berbicara bahasa Inggris pun rasanya tidak berguna karena beberapa pelayan yang pernah dia sapa hanya terdiam dengan dahi mengerut dalam, sepertinya mereka tidak paham. Camelia masih sendiri, cukup lama menunggu Sang pangeran Albarack membuatnya menguap lebar, sebenarnya Camelia sudah mengantuk tapi dia tidak bisa mengabaikan Tiger yang memintanya berbicara 4 mata.


Didalam kesendirian serta kesunyian yang dirasakannya, Camelia teringat pada acara makan malam tadi. Dia berpikir anggota keluarga Tiger yang Camelia ketahui sebagai salah satu bangsawan Dubai ini akan memandang rendah atau pun sinis padanya, karena perbedaan status yang sangat jauh.


Setahunya biasanya begitu bukan. Di desanya pun sama, mereka yang memiliki kehidupan layak dan kaya raya banyak yang memandang orang-orang berkehidupan rendah seperti dirinya serta keluarganya. Terlebih mereka yang memiliki jabatan, atau harta warisan yang melimpah ruah, bukan hanya seorang buruh atau cuma pekerja kasar.


Tapi nyatanya salah, ternyata orang yang memang memiliki kekayaan lebih, bahkan tidak akan habis dimakan beberapa turunan justeru lebih ramah, sederhana, tidak memandang manusia lain lebih rendah dari mereka. Camelia sempat tertegun saat wanita cantik bermata biru menyapanya dengan. lembut, bahkan memberikan belaian di wajah kusamnya. Demikian juga dengan wanita sepuh yang tadi memakaikan kaos pada Tiger, bahkan melarangnya mendekat dalam bahasa Indonesia. Walaupun tiga orang pria dewasa yang makan malam bersama mereka hanya mengangguk pelan tanpa senyuman.


Walaupun mereka berbicara dalam bahasa Arab tapi beruntung Camelia tidak terlalu bodoh untuk memahaminya, beberapa pekan tinggal di Uni Emirates Arab sedikit demi sedikit dia perlahan bisa mengasah lidahnya untuk berbicara seperti warga lokal.


"Sorry, aku harus berbicara dengan Mamaku tadi." Lamunan Camelia pecah saat mendengar suara tak asing untuknya.


Gadis itu menoleh, dia tidak bersuara hanya mengangguk lalu mengalihkan pandangannya kearah lain. Camelia sedikit menggeser tubuhnya saat melihat Tiger mendekat, dia memberikan ruang untuk remaja pria itu duduk dengan nyaman.


"Kau tahu apa yang ingin aku bahas denganmu," Ucap Tiger lagi.


Lagi-lagi Camelia mengangguk tanpa mengeluarkan suara emasnya, dia gugup setengah mati dan hanya memilin jari jemarinya sendiri. Kedua matanya terarah pada kuku kakinya, menunduk tidak berani untuk menegakkan kepala.


Camelia tahu apa yang akan Tiger bahas dengannya malam ini, pria itu pasti membicarakan tentang rencana pernikahan dadakan yang di perintahkan oleh Mama Tiger.

__ADS_1


"Kau menyetujui pernikahan itu?" Tanyanya Tiger serius.


Remaja berkaos abu-abu itu menatap pada gadis di sebelahnya, ekspresinya tidak terlihat baik terkesan suram dan datar lain dengan tadi.


"Apa aku bisa menolaknya?" Bukannya menjawab Camelia justru melemparkan pertanyaan pada Tiger. Kali ini Camelia berani mengangkat kepala, membalas tatapan Sang Macan, dia berusaha berani karena tidak ingin disalahkan oleh pria muda ini.


Camelia sudah bisa menebak kalau Tiger pasti akan menyudutkannya, melimpahkan kesalahan padanya bahkan lebih parahnya lagi menuduhnya sebagai gadis yang memanfaatkan situasi demi bisa masuk kedalam keluarga bangsawan.


Tidak! Camelia tidak ingin dirinya maupun keluarganya dicap sebagai orang yang aji mumpung.


"Kalau aku bisa menolak, aku tidak mau menerima pernikahan itu. Aku akan memilih pulang ke Indonesia lebih awal, mungkin dengan begitu mereka tidak akan menemukan aku lagi. Kau tidak perlu khawatir lagi soal pertanggungjawaban, aku bisa mengurus diriku sendiri. Perkara hidup atau mati itu semua urusan Tuhan, kalau memang aku ditakdirkan mati di tangan mereka, ya mau apa lagi. Sekali pun kau menjadi suamiku dan selalu ada di dekatku, kalau sudah nasibku buruk ya mau bagaimana lagi." Camelia memberanikan diri untuk berbicara, sungguh rencana pernikahan yang dia dengar berhasil membuat mentalnya tertekan.


Camelia sungguh resah, dia benar-benar tidak ingin menikah dengan Tiger. Anggap saja dirinya itu gadis bodoh, naif, sok, idiot dan masih banyak lagi ejekan yang tertuju padanya karena menolak pria setampan, kaya raya serta memiliki darah bangsawan Dubai ini, ya walaupun suka menyebalkan.


"Sayangnya kau tidak bisa menolak Camelia, begitu pun dengan aku." Ucap Tiger pelan.


Saat ini netra berbeda warna itu bertemu, saling mengikat, terkunci dan mencoba menyelami satu sama lain.


"Tidak ada yang bisa menolak perintah Mamaku, bahkan Papaku sendiri. Dia bergelar seorang putri keluarga bangsawan Albarack, dan tidak ada yang bisa mencegahnya." Imbuhnya lagi.


Sudut bibir Tiger terangkat, bukan senyuman manis yang dia perlihatkan melainkan senyuman penuh kepasrahan. Otaknya yang blank tidak dapat lagi berpikir, dia hanya bisa pasrah dan tawakal sekarang. Sang Mama memang tidak bisa di ganggu gugat, bahkan setelah dirinya menghiba memohon agar keputusan Sang Putri bisa di tarik serta di batalkan. Tapi nyatanya apa, justru Tiger kembali mendapatkan pukulan di lengan berototnya, berpindah pada punggung serta bok*ongnya yang aduhai hingga membuat area itu terasa kebas.


Mamanya memang kejam, atau jangan-jangan dia bukan anak kandung seorang Dahliara, melainkan anak dari selingkuhan Papanya yang di rawat oleh wanita itu hingga berbuat kejam seperti ini dan ingin menyingkirkan dirinya dari-

__ADS_1


'BERHENTILAH BERPIKIR MACAM-MACAM ANAK SINGA NAKAL! ATAU MAMA AKAN MEMBAKAR SEMUA KOLORMU!'


Tiger tersentak kaget saat tiba-tiba suara Dahliara menggema di kepalanya, remaja itu menelan salivanya kasar. Dia berusaha tenang, mengusap kepalanya kasar berusaha menghilangkan bayang-bayang mengerikan yang terus saja mengganggunya.


'Jangan-jangan Mama adalah jin gurun?' Batinnya.


Tiger mengusap lengannya yang bergidik, ekor matanya mengarah ke pintu samping istana yang terbuka lebar. Dia berharap tidak ada pengikut Sang Mama yang bisa mendengar isi hatinya tadi.


Disisinya Camelia terlihat bingung melihat Tiger yang aneh, dahi gadis itu mengerut lalu memiringkan kepala agar bisa melihat pria muda itu lebih jelas.


"Bisakah kau atau pun Mama mu memberikan aku waktu untuk berpikir, ini bukan hanya soal masa depanmu tapi juga masa depanku. Kita dipaksa menikah bukan karena cinta, tapi karena sebuah tanggungjawab, jadi aku mohon berikan aku waktu sebentar saja sebelum memberikan jawabannya." Pinta Camelia.


Dia menatap Tiger dalam, sorot matanya terlihat bersungguh-sungguh bahkan berkaca-kaca. Dia memohon lewat tatapannya, berharap kalau Tiger akan mengabulkan permohonannya.


"Baiklah, aku akan berbicara dengan Mama,"


Senyuman Camelia terbit, dia terlihat menarik napas dalam dan kembali menunduk dengan jari tangan bertaut.


"Dan aku minta kembalikan lagi aku ke asrama terlebih dahulu, apa boleh?" imbuhnya lagi penuh harap.


BERSAMBUNG...


SEE YOU TOMORROW๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2