
Dahliara menangis tergugu diatas tempat tidur. Beberapa menit yang lalu wanita itu tersadar setelah tidak sadarkan diri selepas mendengar penuturan putra semata wayangnya yang mengatakan kalau pria muda itu sudah menodai seseorang.
Jiddah Yasmine dan Oceana berusaha menenangkan Dahliara, tapi wanita cantik itu justru semakin menangis. Terlebih saat mengingat putranya dan nasib sang gadis yang sudah pergi tanpa pamit padanya.
"Kenapa Tiger kayak gitu Mom. Camelia pasti sedang stres sekarang gara-gara Tiger, gadis malang itu pasti sedang menangis sekarang. Liara harus gimana Mom?" Sang Putri menutup wajah dengan kedua tangannya, dia kembali menangis mengabaikan tatapan sendu Mommy serta kakak iparnya.
Sementara di kamar sebelah, seorang pria muda terlihat pasrah terlentang diatas tempat tidur. Napasnya naik turun, dengan beberapa lebam diarea wajah tampannya. Tidak jauh darinya ada tiga orang pria dewasa yang sedang menatap tak berekspresi padanya. Sedangkan dua pria muda yang saat ini sedang mengobati luka luka di area wajahnya hanya diam tak berkutik.
Aura di ruangan itu cukup mencekam. Sepertinya akan ada ronde kedua kalau pria muda yang sudah babak belur ini kembali berbicara, terlebih membuat ulah memancing emosi salah satu dari ketiga pria dewasa tersebut.
"Camelia...," Gumamnya.
Kedua matanya tetap terpejam, tapi mulutnya terus saja bergerak mengucapkan satu nama seorang gadis yang sudah pergi dari negara ini. Kepergian sang gadis yang tanpa pamit pada siapapun terlebih hal itu terjadi karena gadis itu telah di sakiti secara lahir dan batin.
__ADS_1
Itu yang mereka ketahui, walaupun kejadian sebenarnya tidak seperti yang keluar dari mulut Tiger. Mungkin karena dia panik, takut, kecewa, marah, merasa bersalah, hingga tidak menyadari serta merasakan kalau di area tubuhnya ada yang terluka karena hantaman benda keras yang dilayangkan oleh Camelia tadi malam.
Luka itu mengeluarkan darah, memercik pada sprei hingga akhirnya Tiger menyangka kalau itu adalah darah perawan milik Camelia. Padahal secara harfiah bukan, walaupun memang benar dia hampir saja memerawani gadis itu.
Disaat Tiger dan keluarga Albarack lainnya dilanda gelisah, di belahan dunia lain Camelia sedang melakukan perjalanan menuju kampung halamannya. Hampir setengah hari dia menempuh perjalanan darat menggunakan mobil bus kecil dan akan dilanjutkan dengan menaikan mobil travel yang akan membawanya ke halaman rumahnya nanti.
Saat ini Camelia tertidur, tidak ada penyambutan apapun di area bandara internasional tadi karena dirinya pulang bukan di waktu yang sudah di jadwalkan. Masabodoh Camelia tidak peduli, mungkin besok dia akan mengatakan kalau dirinya terpaksa menggunakan penerbangan darurat karena sesuatu terjadi pada keluarganya.
Nanti Camelia akan memikirkan ide gila yang masuk di akal, kalau pihak sekolah bahkan pemerintah setempat menanyakan hal tersebut padanya. Yang penting sekarang dirinya sudah bisa pulang dengan selamat tanpa kurang satu apapun, termasuk kehormatan yang hampir saja direnggut oleh seseorang.
Matahari mulai menyerup, sang surya tenggelam di ufuk barat saat mobil travel yang dinaiki Camelia mulai memasuki area perkampungan. Jalanan yang cukup terjal karena ternyata perkampungan itu merupakan jalan lintas satu satunya menuju area perkebunan rempah-rempah seperti Kayu Manis, Cengkeh, Pala, bahkan ada pula yang bertanam sayuran-sayuran.
Perlahan kedua kelopak mata Camelia berkedut, dia terbangun saat mobil yang dinaikinya berguncang. Karena penumpangnya hanya tiga orang jadi kursi cukup lenggang membuat Camelia dan yang lainnya tidak berdesakan.
__ADS_1
"Sudah sampai ya Mang?" Tanya Camelia pada sang sopir.
"Iya Neng, udah ngelewatin gapura Dukuh Batu. Rumah Neng sebelah mana ya?" Sopir itu menyahuti dengan ramah, kedua matanya terus saja menatap liar kearah luar tapi cukup fokus pada jalanan.
"Terus aja Mang, enggak jauh lagi kok. Nanti ada rumah cat ijo sebelah kanan, di depannya ada pohon mangga pagernya ijo." Jelas Camelia dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Sopir itu mengangguk, dia tidak lagi bertanya karena sudah paham. Sementara Camelia sendiri memilih untuk kembali merilekskan dirinya mempersiapkan diri untuk bertemu Ambu serta Abangnya. Dia harus memberikan alasan apa nanti kalau Ambu serta Abangnya bertanya kenapa pulangnya tidak serempak dengan siswa-siswi pertukaran lainnya.
"Bodo ah, nanti aku cari alesan apa kek. Aku enggak sabar buat ketemu Ambu sama Abang, makan nasi liwet besok pagi sama ikan asin." Gumam Camelia pelan sembari membayangkan makanan nikmat itu, tapi sayang bukannya nasi liwet dan ikan asin yang hadir tapi wajah Tiger yang tengah berurai air mata.
"Astaghfirullahalazim!" Ucapnya spontan seolah Camelia baru saja melihat sosok mengerikan dalam pikirannya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
SEE YOU MUAAACCHHH๐๐๐๐