TIGER'S

TIGER'S
Tiger's Bab 49


__ADS_3

Camelia memandang rumah yang tidak terlalu besar di hadapannya. Posisinya sekarang masih berada di luar pagar bambu yang di anyam sedemikian rupa, membentuk anyaman unik namun kokoh dan kuat. Gadis berambut sebahu itu menghirup napas dalam sebelum dia melangkahkan kedua kakinya, membuka perlahan pintu gerbang kecil yang juga terbuat dari bambu tersebut.


Hari yang sudah gelap membuat suasana disekitar rumahnya cukup sepi, para tetangga sudah berkumpul di dalam rumah mereka masing-masing termasuk Ambu dan Abangnya.


Tangan serta kaki Camelia terasa bergetar saat dia menginjak ubin dingin yang sudah lama tidak di rasakannya. Seketika kedua mata Camelia berembun, langkahnya yang tadi pelan dan terlihat meragu tiba-tiba saja menjadi cepat menghampiri daun pintu yang sudah tertutup rapat.


TOK... TOK... TOK...


"Assalamu'alaikum... Ambuuuuu...!" Camelia mengetuk beberapa kali, seraya memanggil sang Ambu. Dua berharap wanita paruh baya ataupun Abangnya bisa mendengar. Walaupun Camelia tidak terlalu yakin sang Abang ada di rumah, dia malah sangat yakin kalau pria yang sudah berusia 25 tahun itu masih bekerja di perkebunan sebagai keamanan. Biasanya pria itu mengambil sip malam, karena para rekannya banyak yang memilih sip pagi.


Memang tidak adil, mentang-mentang sudah pada beristri eh Abangnya pula yang di korbankan, kasihan nasib jomblo.


"Assalamu'alaikum...!" Serunya lagi.


"Walaikumsalam...!" Terdengar sahutan dari dalam rumah, walaupun terdengar tidak jelas karena terhalang oleh tembok serta pintu tapi Camelia masih bisa mendengarnya.


Tidak lama daun pintu lebar itu terbuka. Seorang wanita berkacamata bening dengan daster rumahan tidak lupa kerudung khas emak emak yang menutupi kepalanya dengan sempurna terlihat membuka pintu. Mata yang terbingkai itu terlihat menyipit, memastikan penglihatannya agar tidak salah. Lampu teras rumah yang tidak terlalu terang sedikit menyulitkannya untuk mengenali wajah orang yang ada dihadapannya.


Tapi sekian detik berlalu, wanita paruh baya itu membulatkan matanya, raut wajahnya terlihat amat terkejut ketika selesai memindai raga mungil yang begitu familiar untuknya.


"Melia!" Panggilnya dengan penuh kegembiraan.


Camelia yang sedari tadi membiarkan Ambunya menyelidik, memindai kearahnya kini malah terlihat menangis haru dan segera memeluk tubuh wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


"Ambu... Melia kangen." Rintihnya.


Gadis itu tidak kuasa menahan air matanya. Semua beban yang ada didalam hati, otak serta pundaknya terasa sedikit berkurang setelah bertemu dengan wanita yang selalu ada untuknya dikala dirinya sakit, memiliki masalah, sedih, pokoknya Ambunya adalah orang yang akan dia curhati saat Sang Abang tidak bisa dia ganggu karena pekerjaannya.


"Ya Allah Gusti Nu Agung, kenapa kamu teh pulang malem malem gini atuh?! Kenapa enggak nelpon Ambu apa Abang kamu dulu. Gusti, kamu teh bikin Ambu deg degan, alhamdulillah bisa meluk Eneng lagi." Ambu pun ikut menangis, wanita itu menciumi seluruh permukaan wajah putri bungsunya yang basah karena air mata.


Dia sesegukan seraya membawa Camelia masuk kedalam rumah, matanya basah, mulutnya terus saja mengoceh tapi hatinya sekarang sangat amat bahagia dan bersyukur. Pada akhirnya dia bisa kembali memeluk sang putri yang beberapa bulan ini jauh dari jangkauannya, dari penglihatannya, walaupun mereka sering bertukar pesan, melakukan video call tapi rasanya itu tidaklah cukup.


Dan sekarang Ambu akan memuaskan diri memeluk putri kecilnya yang selama ini menguatkannya setelah kepergian sang suami, selain putra kebanggaannya tentunya. Putra sulungnya itu menjadi tulang punggung keluarga setelah sang Ayah yang biasa mereka panggil Babah itu berpulang ke Rahmatullah saat Camelia masih menginjak sekolah dasar. Bahkan putra sulungnya tidak lagi melanjutkan kuliah, pria itu mengatakan kalau dirinya tidak mau membebani sang Ambu dan memilih bekerja di perkebunan sebagai keamanan berbekal ijazah SMA yang dimilikinya.


"Ayo istirahat dulu, Ambu bakalan siapin kamu makan. Kamu pasti laparkan, anak gadis Ambu pasti lapar." Tangisan Ambu kembali pecah sembari menggiring Camelia menuju ruang tengah dan mendudukkan tubuh putrinya di karpet tepat di depan televisi yang masih menyala.


Camelia yang sedari tadi membiarkan wanita yang melahirkannya itu sibuk sendiri, hanya mengulum senyum. Dia membiarkan Ambu meluapkan emosinya sejenak, menurut adalah hal yang tepat untuk saat ini. Karena kalau dirinya menolak wanita itu pasti akan kembali menangis sesegukan.


Terimakasih ya Tuhan karena aku sudah selamat sampai rumah.


Sementara di belahan bumi lain, tepatnya di Dubai Uni Emirates Arab waktu setempat. Seorang remaja pria dengan wajah yang masih terlihat lebam tengah memandangi kotak kardus yang dibawanya dari kamar Asrama seorang gadis.


Kedua matanya menatap nanar serta sendu pada benda-benda yang biasa dipakai oleh gadis yang sudah meninggalkannya tanpa pamit. Bahkan sudah berani membawa bibit unggulnya, padahal dia tidak pernah mengizinkan gadis itu pergi.


"Camelia bahkan melepaskan kalung yang Mama kasih buat dia." Seorang wanita paruh baya terdengar berbicara dengan suara serak dan dalamnya, saking lamanya menangis.


Dia beberapa kali menyeka air matanya yang terus saja turun tanpa di undang, usapan lembut penuh ketenangan tidak mampu meredakan tangisan serta rasa sedih yang saat ini tengah menyelimuti hatinya.

__ADS_1


"Ponsel, baju, tas, sepatu, aksesoris, semua gak ada yang Camelia bawa. Dia benar-benar mau melupakan Mama Tiger! Anak gadis Mama pergi tanpa pamit, terus kemana kita akan mencarinya?!" Imbuhnya lagi, diiringi dengan tangisan yang terdengar dalam dan sangat sakit.


Pria bertato yang sedari tadi memeluknya hanya bisa menghela napas, memberikan usapan lembut dan membisikkan kata kata penenang agar wanita yang dicintainya tersebut menghentikan tangisannya.


"Sudah tenanglah, aku akan mencari Camelia di Indonesia. Kita pasti akan mendapatkan alamat lengkapnya, pihak sekolah akan memberikannya besok pagi. Kita akan mencarinya sampai ketemu, karena seseorang harus bertanggungjawab padanya!" Ucap Lionel pelan, namun terdengar menusuk di hati seseorang terlebih saat ekor mata pria itu melirik pada sang putra yang kebetulan saat ini tengah menatap kearahnya.


Remaja pria itu menatap lekat pada sang Papa. Sorot matanya seakan menyiratkan permohonan, permintaan yang tidak pernah dia minta sebelumnya. Otaknya yang biasanya genius tiba-tiba saja mendadak blank setelah kejadian tersebut, dalam otaknya terus saja memanggil nama Camelia.


Setiap waktu, setiap saat, dia bahkan tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi?


"Kamu benar, dia harus bertanggungjawab! Pokoknya kalau dia enggak mau bertanggungjawab sama anak gadis aku lihat saja, aku bakalan kirim dia ke padang pasir buat ngitungin biji pasir yang ada disana, semuanya!" Wanita cantik yang bergelar Putri Bangsawan Albarack itu kembali bersuara.


Lionel hanya mengangguk mengiyakan, tidak mengeluarkan suara sedikitpun termasuk orang-orang yang ada disana. Jiddah Yasmine yang biasanya cerewet pun terlihat tidak banyak bicara, dia sama sedihnya seperti Dahliara, begitu pula dengan Permaisuri Oceana. Wanita cantik itu pun merasa sedih saat Camelia pergi tanpa pamit, terlebih setelah tahu penyebabnya.


Padahal dia sudah sangat menyukai Camelia yang santun, banyak bicara tapi sopan, ceria, mudah bergaul, Camelia menginginkannya pada Anyelir sang putri. Jarang bertemu dengan putri semata wayangnya membuat Oceana merasa Camelia adalah pengganti putrinya yang memang jarang pulang ke istana ini.


"Aku akan mencarinya Ma! Aku akan bertanggungjawab dengan-,"


"Harus! Pokoknya harus, kalau kamu belak belok lagi pikirannya Mama bakalan nyuruh Jiddi sunat kamu lagi, PAHAM!" Tukas Dahliara memotong cepat ucapan Putranya, menekan satu kata diakhir kalimatnya membuat Tiger menelan salivanya susah payah dengan mengangguk kaku.



TIGER MULAI ACAK ACAKAN 🀣🀣🀣🀣

__ADS_1


BERSAMBUNG....


SEE YOU MUAAACCCCHHHH 😘😘😘😘


__ADS_2