TIGER'S

TIGER'S
Tiger's Bab 38


__ADS_3

"EEEMMMPPHH...!" Camelia terus saja memberontak, menggerakkan kedua tangan serta kakinya, mencoba menendang serta meraih apapun yang dia bisa walaupun ada dua orang dewasa yang sedang mencekal nya erat.


Matanya mulai memanas saat usahanya sia sia, dia benar-benar tidak bisa melepaskan diri, air matanya turun melewati pipi. Terpejam sesaat sebelum bola mata bulat miliknya bergulir kearah lain, Camelia tertegun saat melihat seseorang yang begitu di kenalnya.


Dia kembali memberontak mencoba melepaskan bekapan di area mulutnya agar bisa berteriak sekuat mungkin. Camelia berharap teriakannya akan berhasil membuat orang itu menyadari keberadaannya dan segera menyelamatkan dirinya.


Tapi ternyata semua itu percuma, bekapannya terlalu kuat, dia hanya bisa meronta tidak bisa memberikan gigitan ataupun sekedar pukulan. Hingga pada akhirnya pandangan mereka bertemu, orang yang Camelia harapkan akan menjadi penyelamat hidupnya menoleh kearahnya. Jantungnya sudah berdetak lebih kencang, dia tersenyum dalam hati dan percaya kalau dirinya akan baik baik saja.


Tapi...


Camelia tertegun saat orang yang dia harapkan satu satunya itu memalingkan wajahnya, memilih untuk menghirup nikotin yang entah sejak kapan di hirupnya. Orang yang dulu selalu mengikutinya kemanapun, bahkan tidak pernah melepaskan dirinya dari pengawasan kini mengabaikannya.


Dia membiarkan orang-orang asing yang pasti sangat menyeramkan ini membawanya keluar dari area sekolah. Dada Camelia tiba-tiba saja terasa sesak, air matanya yang tadi mengering perlahan berkumpul dan siap membanjiri. Harapannya luruh, tubuhnya terasa lemas, jiwanya seakan tercabut dari jasad saat kesempatan yang dia miliki tadi sirna begitu saja kala melihat ketidak pedulian seseorang.


Camelia memilih memejamkan kedua matanya. Dia tidak lagi memberontak seperti tadi, seakan membiarkan orang-orang berpenutup wajah ini membawanya tanpa perlawanan.


Sementara di tempat tadi terlihat dua orang remaja pria tengah berlari sekencangnya menuju sensor bahaya yang tersambung pada ponsel mereka. Dengan napas terengah-engah mereka melewati sebuah lorong panjang yang terlihat begitu suram seakan tidak pernah ada makhluk hidup yang melewati. Lorong panjang itu menghubungkan jalan menuju perpustakaan, lebih tepatnya jalan rahasia yang berada di belakang gedung yang penuh dengan buku tersebut.


"Sinyalnya berhenti di sini!" Seru remaja berkacamata mata yang terlihat sangat khawatir tersebut.

__ADS_1


Keduanya tidak lagi membuang waktu, bergegas berlari menuju jalan yang tadi sempat dilewati oleh Camelia. Dan benar saja, saat mereka tiba keduanya melihat siluet beberapa orang mulai menjau dan menghilang di balik tembok tinggi yang mengitari sekolah.


"Astaga, sekolah seelit ini kenapa sistem keamanannya sangat buruk sekali!" Geram remaja bertindik disalah satu telinganya tersebut.


Napas pria muda itu terengah, dia merasa kalau udara yang ada didalam paru-parunya habis terkuras. Disaat temannya sudah berlari menyusul, dia masih sempat rehat sejenak guna menetralkan nyawanya yang sudah terasa di ujung ubun-ubun. Selagi mengatur napas kedua matanya terpejam, hanya sebentar sebelum dia kembali membukanya dan mengalihkan pandangannya ke arah sekitar.


Bola matanya hampir saja melompat dari sarangnya saat melihat seseorang yang sangat dia kenal tidak jauh darinya, dan bisa di pastikan kalau orang itu melihat semuanya dengan jelas. Yang lebih membuatnya geram adalah temannya itu malah asik menghisap nikotin yang entah sejak kapan di nikmatinya. Rasanya dia tidak pernah melihat temannya mengkonsumsi barang tidak berguna seperti itu, walaupun mereka memang terkenal nakal.


Dengan napas memburu dia segera berlari mendekat, tangannya terkepal erat kala melihat sikap yang ditunjukkan oleh orang yang sudah menjadi temannya selama bertahun-tahun itu, bahkan saat mereka masih anak anak.


"TIGER!" Teriaknya kencang.


Wajah remaja bertindik tersebut memerah menahan amarah, tangannya semakin mencengkram erat, dengan mata menatap nyalang pada Tiger. Namun apa yang dia dapat, Tiger hanya meliriknya tanpa minat, menyentak kasar cekalan Lucas hingga membuat remaja itu semakin meradang.


"Untuk apa, bukankah gadis itu calon istrimu? Kenapa harus aku yang menyelamatkannya, apa gunanya kalian?" Sahutnya santai.


Tiger bangkit, dia menyesap nikotin nya kembali, menghembuskan asap penuh racun itu ke udara sebelum membuang sisa benda tak berguna itu lalu menginjaknya hingga hancur. Dengan senyuman sinis Tiger berlalu begitu saja, kedua tangannya dia masukkan ke kantung celana, bibirnya bersiul riang seakan tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.


Tiger meninggalkan Lucas yang masih terdiam di tempat dengan kedua tangan mengepal erat, matanya terus saja tertuju pada punggung temannya yang mulai menghilang di dalam lorong.

__ADS_1


Kesadaran Lucas kembali saat ponsel yang ada di saku celana sekolahnya bergetar, dia mengumpat saat ingat kalau Emmir tengah mengejar Camelia seorang diri. Dia berharap kalau temannya yang tidak banyak bicara namun sekali bicara bisa membuat orang terkena serangan jantung tersebut baik baik saja, terlebih Camelia.


"Awas kau Tiger, lihat saja nanti!" Gumamnya dengan langkah lebar berlari menuju lokasi yang akan membawanya pada Emmir dan Camelia.


Semua yang ada didalam pikiran Lucas benar, Emmir tengah mengejar mobil hitam mewah yang saat ini membawa Camelia pergi. Bermodalkan taksi yang dia hadang dan memberikan sejumlah penawaran fantastis akhirnya sopir taksi tersebut rela memberikan modal untuk mencari nafkahnya pada Emmir.


Walaupun mobil taksi ini tidak sehebat, secepat dan secanggih mobil miliknya tapi remaja pria tampan dengan kacamata bening yang membingkai wajahnya itu tidak menyerah, dia menekan pedal gas dengan maksimum. Seandainya ada kesempatan dirinya untuk kembali ke parkiran sekolah dan mengambil mobil yang tadi pagi dia bawa bersama Lucas, kejadiannya tidak akan seperti ini.


Mobil taksi ini sangat lambat, tidak cukup cepat untuk mengejar dan menghadang mobil mewah yang ada di depannya bahkan sekarang jarak mereka sudah cukup jauh.


"Sialan! Akan aku bakar ini mobil saat semuanya selesai!" Gerutunya kesal. Emmir tidak ingat kalau mobil yang dia kendarai saat ini bukan miliknya.


Berulang kali Emmir menyalip beberapa mobil di depannya, cukup kesulitan karena kendaraan yang di bawanya sekarang tidak sesuai dengan ekspetasinya.


Hingga Emmir sedikit oleng saat ada sebuah Ferari merah melewatinya dengan kecepatan penuh. Emmir bahkan seketika menginjak pedal rem, saat melihat Ferari merah tersebut tanpa ragu menghantamkan body mulus serta mahalnya pada mobil hitam mewah yang membawa Camelia.


Setelah Mobil yang membawa Camelia tersingkir ke bahu jalan dan tidak dapat lagi bergerak, sang Ferari merah kembali melaju cepat meninggalkan lokasi tanpa rasa bersalah. Emmir yang tidak jauh dari posisi kedua mobil mewah tersebut segera menekan pedal gas, memotong jalan agar para penculik itu tidak dapat melintas dan kembali membawa Camelia. Tidak peduli kalau dirinya hanya seorang diri, katakan saja Emmir modal nekat. Dia hanya akan mengulur waktu sampai bantuan yang di panggilnya segera datang termasuk dengan Lucas juga.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


SEE YOU TOMORROW😘😘


__ADS_2