TIGER'S

TIGER'S
Tiger's Bab 50


__ADS_3

Selepas subuh Camelia tidak melanjutkan tidurnya, walaupun tubuhnya terasa lelah dan mengantuk tapi dia berusaha menahannya dan memilih bergegas ke dapur.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi lewat lima belas menit, Ambunya sudah berdiri di dekat kompor sembari memeras sesuatu. Dari penglihatan Camelia yang sedang Ambunya perasa adalah santan kelapa. Dahinya sedikit mengerut, tapi tidak lama senyumannya mengembang saat dirinya mengingat pembicaraannya bersama Sang Ambu tadi malam sebelum mereka tidur.


Ambu, Melia pingin makan nasi liwet besok


Dan Camelia tidak menyangka kalau wanita paruh baya yang begitu dia sayangi itu akan membuatkannya pagi ini. Rasa senang yang saat ini Camelia rasakan tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, pada akhirnya gadis berpiyama panjang bergambar kartun itu mendekati Ambunya dengan senyuman lebar penuh kebahagiaan. Camelia seakan melupakan duka yang dibawanya dari Dubai, duka itu sedikit memudar dengan kehadiran Ambunya dan juga perhatiannya.


Bahkan sang Ambu sama sekali tidak bertanya banyak hal kenapa dirinya pulang mendadak dan tidak memberi tahu mereka akan kepulangannya.


"Ambu!" Panggil Camelia seraya memeluk tubuh wanita paruh baya itu dari samping.


Camelia melebarkan senyumannya saat melihat Ambunya melirik, wanita berhijab itu menipiskan bibir sembari memeras santan kelapa.


"Kamu potongin cabe ya, nanti ikan asinnya sekalian goreng aja. Ambu mau ke kamar mandi dulu, udah kebelet ini dari tadi." Selesai memeras santan Ambu segera bergegas meninggalkan kompor yang sudah menyala dan juga Camelia tentunya. Gadis itu sudah tahu tugas serta cara menyelesaikannya, jadi Camelia tidak perlu lagi bertanya dan kebingungan untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.


Gadis berpiyama tidur itu bergegas melaksanakan perintah Ambu, dengan cekatan Camelia memetik cabai dari tangkainya memisahkan ke dalam mangkuk kecil beserta bawang bawangan, tomat dan juga terasi. Pagi ini dia akan membuat sambal terasi, dengan lalapan segar yang akan dia petik di pekarangan rumah nanti saat matahari sudah muncul.


Sembari bersenandung Camelia begitu menikmati paginya, bahkan saking fokusnya pada masakan yang sedang dia buat gadis berambut sebahu tersebut tidak menyadari kalau ada seseorang masuk kedalam rumahnya.


Orang tersebut bertubuh tinggi, dengan rambut cepak, berkulit sawo matang, alis tebal menukik tajam tidak lupa dengan netra coklat yang juga sama tajamnya. Kedua kaki panjangnya melangkah lebar, semakin dibuat penasaran saat mendengar senandung seseorang dari arah dapur.


Di salah satu lengan bertato miliknya ada sebuah pisau belati, entah apa yang sedang dipikirkan orang tersebut hingga dia sampai mengeluarkan senjata tajam yang sering dibawanya saat bekerja.


Kedua kaki berbalut sepatu boots itu melangkah ringan, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun terlebih saat dia sudah berada diambang pintu dapur.


Senandung itu kian jelas terdengar, mata serta kedua telinganya semakin menajam. Perlahan dia masuk, matanya terarah pada satu titik dimana ada sesorang tengah berdiri tegap di depan kompor, masih dengan senandung pelan tapi masih terdengar olehnya.


Dahinya mengerut dalam, dia perlahan menurunkan belati yang ada di tangannya. Kedua kakinya kembali melangkah mendekati sosok tersebut. Beruntung sosok berpiyama tidur itu sama sekali menyadari kedatangannya karena tengah sibuk menggoreng sesuatu.


"Kamu udah pulang, Dek?"

__ADS_1


Traang...!


Spatula yang ada ditangan sosok berpiyama tidur itu terjatuh ke lantai, satu tangannya memegangi dadanya yang terasa berdebar kencang karena terkejut.


Sosok itu berbalik, matanya menatap pada seorang pria berjaket jeans pudar yang tengah memindai nya dari atas hingga bawah.


"Abang, kebiasaan deh! Kalau masuk itu pake asalamualaikum dong jangan tiba-tiba masuk aja kayak maling! Untung enggak copot nih jantung!" Gerutunya kesal sembari berjongkok meraih spatula yang ter campakkan dilantai.


Tapi saat spatula itu berhasil dia raih, tiba-tiba kedua matanya mendelik lebar, lalu benda tersebut kembali dijatuhkannya sebelum dirinya memekik kencang dan melompat tanpa aba-aba pada pria yang masih berdiri didekatnya.


"ABANG, MELIA KANGEN!" Pekiknya keras. Gadis itu bergelayut layaknya anak monyet, bahkan pekikannya yang keras berhasil membuat Ambu bergegas keluar dari kamar mandi.


"Astagfirullah aya naon sih, isuk isuk udah teriak?! Malu ih sama tetangga." Omel Ambu dengan wajah panik.


Wanita paruh baya itu menghela napas pelan saat menyadari sesuatu, dia menatap lekat pada kedua anaknya yang saat ini sedang melepaskan rasa rindu, lebih tepatnya Camelia karena putra sulungnya masih terlihat bingung.


"Kamu udah pulang, Kem?" Tanya Ambu.


"Kenapa kamu pulang enggak ngasih kabar dulu sama Abang? Kamu kabur?" Cetus sang Abang dengan tatapan penuh tuntutan meminta penjelasan.


🐣


🐣


🐣


Camelia berulang kali menghela napas kasar, satu tangannya menopang dagu menatap seseorang yang saat ini sedang memecah kayu di belakang rumahnya dengan kapak. Kayu kering sisa dari pohon kayu manis yang di panen beberapa minggu yang lalu, dari pada mubazir kata Ambu mending di jadikan kayu bakar untuk memasak air.


Kenapa kamu pulang enggak ngasih kabar dulu sama Abang? Kamu kabur?


Selepas Abangnya yang bernama Kemal Adji Sanjaya bertanya seperti itu padanya, Camelia hanya meminta maaf dan mengatakan kalau ponsel miliknya mati dan rusak, hingga tidak bisa memberikan kabar atas kepulangannya. Pada akhirnya setelah Camelia terus saja menampilkan wajah sedih dan penuh permohonan maaf Kemal sang Abang hanya bisa menghela napas pelan lalu memeluk tubuh kecil adik semata wayangnya.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu mereka membersihkan diri lalu menikmati sarapan setelah matahari mulai menampakan diri dan Camelia bisa memetik berbagai sayuran segar di pekarangan rumahnya.


Dan sekarang dia tengah menonton Kemal membelah kayu dengan kapak besar cukup jauh darinya, ekor matanya melirik pada Ambu yang sedang memetik cabai tidak jauh dari tempatnya bersantai.


"Ambu...!" Panggilnya pelan.


Ambu menoleh, dia berkedip pelan seakan mengatakan apa pada Camelia. Wanita paruh baya itu mendekat sembari membawa keranjang bambu berisikan banyak cabai dan beberapa sayuran segar yang akan di masaknya untuk santap siang nanti. Udara segar menerpa keduanya, pagi ini cuaca cukup cerah angin berhembus kencang, bau kayu manis dan rempah-rempah lainnya menubruk indra penciuman mereka. Bau inilah yang sering Camelia rindukan saat berada di Dubai, bau rempah alami yang sering dia petik bersama Ambunya.


"Kenapa?" Tanya Ambu lembut.


Camelia menyerongkan tubuhnya, menghadap pada Ambu yang sudah duduk di atas bale bale bambu. Kedua mata Camelia menatap lekat pada wanita paruh baya tersebut, walaupun sesekali ekor matanya melirik ke arah Kemal yang masih sibuk dengan kegiatannya.


"Abang masih kayak gitu ya?" Tanya Camelia sedikit khawatir.


Dia semakin khawatir saat melihat Ambunya menghela napas, lalu tidak lama setelah menatap sejenak pada Kemal wanita itu mengangguk.


"Kayaknya Abang kamu ngerasa bersalah banget sama dia. Udah hampir 7 tahun kejadian itu berlalu, sampai Ambu bawa kalian kesini tapi kayaknya itu enggak bisa buat Abang kamu lupa sama kejadian yang pernah dia-,"


"Sssttt.. Ambu udah jangan sedih. Melia yakin nanti Abang pasti ikhlas, udah ya Ambu jangan sedih kayak gini. Bukan salah Abang juga kan, emang udah takdir dia juga mungkin. Melia harap Abang bisa nemuin yang lebih baik lagi nanti. Tapi menurut Melia sulit kalau Bang Kemal terus aja masang muka garang, mana bertato lagi, udah gitu kalo liat orang bawaannya kayak pingin nelen idup idup. Pantes aja dulu Babah milih Abang buat jagain pasar waktu Babah lagi sibuk, padahal Abang kan belum lulus SMA." Pada akhirnya Camelia terus saja mengoceh, dari mulai menenangkan Ambunya hingga membongkar kekesalannya pada sang Abang karena pria itu terlalu diam.


Bahkan saat ada beberapa gadis berminat pada Kemal, pria itu justru tidak mau ambil pusing dan memilih mengabaikan. Seakan Kemal tidak menyukai gadis manapun setelah peristiwa mengerikan itu terjadi.


Jangan bilang kalau Bang Kemal belok kiri kanan samping depan belakang? Enggak, enggak mungkin kan Bang Kemal kayak gitu? Kasihan Ambu kalo sampe anak bujangnya gak doyan cewek bisa bisa darah tinggi nanti!



BALEKLAH CAMEL KU BALEK 🀣🀣🀣🀣



BANG KEMAL ADJI SANJAYA MOHON MAAP KALO GAK COCOK πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2