Times New Romance

Times New Romance
Prolog


__ADS_3

Di bilik jendela bangsal rumah sakit, lelaki itu bertopang dagu. Ia pandangi hamparan kota yang terbentang luas di hadapan. Sapuan angin membelai wajah lelaki itu yang hampir saja membuatnya terpejam hingga satu suara menyadarkannya dari lamunan.


"Sekarang waktunya," ucap seorang dokter wanita berjas putih.


Lelaki itu menoleh, lantas mengangguk. Kembali ia pandangi hamparan kota yang di matanya tak pernah sesederhana apa yang ia lihat. Baginya, di sanalah kehidupan yang nyata. Bisa bercengkerama dengan banyak orang seperti hari-hari sebelum ia kembali terjebak di penjara yang semesta ciptakan untuknya agar bisa bertahan di dunia. Penjara yang menjadikan alat infus dan berbagai obat-obatan sebagai senjata ampuh untuk menyiksanya tanpa ampun.


Setidaknya, ia pernah menginjakkan kaki di luar bangunan ini. Setidaknya, ia pernah sekali membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum bahkan tertawa. Dan setidaknya, ia berhasil masuk ke ingatan orang-orang yang ia harap akan mengingatnya suatu hari nanti. Tidak ada lagi penyesalan dalam hidupnya.


Dokter itu pun mulai menuntun lelaki berpakaian khusus seorang pasien untuk berbaring di atas ranjang. Ranjang yang membawanya masuk menuju ruangan yang lebih pengap. Matanya mulai memejam. Ia pasrah menerima hasil apapun setelah operasi.


Terakhir yang mampu ia lihat adalah banyaknya kepala bermasker yang mengenakan penutup rambut hijau yang senada dengan warna pakaiannya. Lalu setelah jarum itu ditusukkan ke lengan kanan, lampu sorot menyala terang di atas kepalanya. Rasa kantuk luar biasa pun menyergapnya sampai gelap melahap seluruh kesadarannya.

__ADS_1


Jauh bermil-mil dari lelaki yang dipaksa menyerahkan nyawanya di tangan dokter, seorang gadis berjalan lambat di tepi jalan kota. Langkahnya terasa berat setelah keluar dari Rumah Sakit. Fakta yang baru ia ketahui seakan membuat seluruh syarafnya melemas.


Bisingnya kendaraan yang berlalu lalang pun gagal menilap riuh suara di tempurung kepalanya. Pandangan matanya kosong. Bukan lagi jalanan yang mampu dilihatnya, tapi bayangan pemuda itu. Pemuda yang tanpa sadar telah mengisi ruang di hatinya. Namun, ia terlambat menyadarinya.


Seharusnya ia lebih cepat sadar. Seharusnya ia bisa membuka mata lebih lebar untuk menyadari ada cinta dan ketulusan yang lelaki itu beri, tapi semuanya kini hilang. Dia, juga perasaannya yang kini hanya bisa disimpan dalam kotak bernama kenangan.


Gadis itu berhenti melangkah bersamaan dengan hilangnya bayangan pemuda itu. Ia mencoba bertumpu pada dinding di pinggirnya, hingga kakinya terasa tak lagi mampu menopang tubuhnya, tubuh gadis itu pun meluruh bersama dengan tangis yang ikut lolos dari matanya.


**Hoho cerita baruu... Jangan lupa komentarnyaa yaaa. Dimohon membaca dulu baru promosi. Makasiđź’•


Prolognya dikit aja ya yang penting pesannya nyampe. Aku pengen nyiptain suasana haru ya jadinya gitu kata-katanya rada puitis hahaha.

__ADS_1


Tiap cerita yang aku tulis punya nuansanya masing-masing yang nggak bisa aku sama-samain. Kayak Because You Were There, itu ceritanya santai dan sedikit kocak, tapi bisa buat kita kagum sama perjuangan tokohnya**.


**Cerita ini bakal jadi cerita yang ringan dengan alur yang tidak banyak kejutan. Kisah seputar anak kuliahan yang benci sama jurusannya, pertemanan, pertengkaran di kelas, dan juga cinta.


Aku harap kalian suka sama ceritanya!


Jangan lupa komentarnya ya! Komen banyak biar lebih cepat buat update!


Love,


Onlyana**.

__ADS_1


__ADS_2