Times New Romance

Times New Romance
Bab 23 :: Boneka Kesayangan


__ADS_3

Bab 23


Boneka Kesayangan


{}


Zayn tak menemukan Ayna di manapun. Ia berusaha mencari gadis itu yang tak biasanya bolos kuliah. Penyakit Zayn kambuh tiga hari yang lalu sampai ia harus dirawat di ruang intensif. Kondisi jantungnya memburuk karena Zayn tidak tepat waktu meminum obatnya. Bahkan karena terburu-buru untuk kabur, Zayn seringkali lupa membawa obatnya. Zayn memang tak bisa sembarangan meminum obat. Ada waktu yang ditetapkan untuk melancarkan kinerja jantung yang memompa darah ke seluruh tubuhnya.


Zayn pun memaksakan diri ke luar rumah sakit setelah ia dipindahkan ke ruang rawat biasa. Ia tak mengindahkan perintah Soraya yang melarang Zayn untuk kuliah, Zayn selalu merasa dirinya sehat dan mampu melakukan apapun walau nyatanya tidak demikian.


Zayn yang tidak menghadiri mata kuliah pertama, tapi muncul di mata kuliah kedua sedikit mengejutkan anak kelas. Pras dan Hari memborbardir Zayn dengan tanya, tapi cowok itu hanya fokus mencari Ayna yang tidak tampak di kelas. Padahal semua mengatakan bahwa Ayna menghadiri mata kuliah pertama.


"Di mana terakhir kali kalian ngeliat Ayna?"


Pras menggeleng, membuat Zayn menghela napas kecewa. Zayn yang hendak keluar kelas selepas mata kuliah usai pun mendadak berhenti begitu Hari menahan bahunya. "Apa?" tanya Zayn.


Hari memandang Pras yang mengangguk. Hari pun mengembalikan tatapannya pada Zayn. "Lo harus tahu, Zayn. Ayna dibully di kelas sejak lo nggak masuk kuliah."


***


Zayn tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia melangkahkan kaki berusaha mencari gadis itu untuk mencari pembenaran atas kisah yang disampaikan Pras dan Hari bahwa Ayna dituduh mencuri uang kas kelas. Namun, Zayn tak menemukan Ayna di mana pun. Ia pun kembali ke rumah sakit tanpa sempat melihat wajah mungil gadis itu, tanpa sempat berdebat dan menjahili gadis itu. Ia tak berhasil menemukan Ayna.


"Zayn! Kamu mau buat mama mati muda?" seloroh Soraya begitu Zayn masuk ke dalam bangsal VIP nya. Sudah berdiri Soraya dengan mata yang sembab dan Erik berjas rapi, yang tampaknya baru selesai kerja, berusaha menenangkan istrinya. "Kamu ke mana aja? Kamu masih harus istirahat. Kamu nggak boleh keluyuran kayak gini. Kamu bikin mama khawatir, Zayn."


Erik mengelus pundak Soraya yang mulai menangis. Ia tatap puteranya yang terdiam dengan wajah yang sama kacaunya. Entah apa yang ada di pikiran cowok itu, yang pasti Erik tak bisa tinggal diam. "Darimana aja kamu?" tanya Erik tegas.


Zayn menghela napas sejenak sebelum menjawab dengan tenang. "Dari kampus, Pa."


"Kamu baru aja keluar dari ICU dan langsung nyetir sendiri ke kampus? Apa yang bikin kamu jadi pembantah, Zayn. Papa ngizinin kamu kuliah kalau kamu bisa jaga kesehatan dan minum obat teratur, tapi apa? Kata dokter kamu seringkali telat minum obat yang memperburuk kondisi kesehatan kamu." Erik menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, "Mulai sekarang, belajar aja di rumah kayak dulu. Kamu bisa ikut program kuliah terbuka yang nggak harus bolak-balik ke kampus. Kamu bisa dapat gelar sebanyak apapun yang kamu mau walaupun belajar di rumah."


Zayn terperangah. Rahangnya mengetat bersama tangan yang mengepal kuat. Hatinya terasa dihimpit yang membuat dadanya sesak. Kakinya terasa lemas hingga Zayn berdiri oleng. Ia hampir kehilangan kendali atas tubuhnya, tapi ia berusaha untuk berdiri tegap. Lalu menatap Erik, ayahnya.


"Papa nggak ngerti." Zayn berujar parau. Setetes air mata begitu saja meluncur ke sebelah pipinya. Setetes air mata yang entah menyimpan sebesar apa luka di dalamnya. "Bukan gelar yang aku cari."


Zayn alihkan pandangan ke arah jendela bangsal yang menampilkan hamparan kota yang beratap langit senja. Zayn mengukir senyum miris. Senyuman mengejek untuk dirinya sendiri yang tak lebih hanya boneka kesayangan orang tuanya yang harus bertahan hidup dengan penderitaan. Sudah lama hati Zayn hancur mengetahui dirinya tak bisa melakukan apa-apa selain merepotkan. Zayn ingin melakukan sesuatu yang membanggakan untuk dirinya juga orang tuanya. Setidaknya Zayn bisa mengatakan pada dunia bahwa dirinya bukanlah benalu orang tuanya karena ia mampu melakukan satu kegiatan seorang diri dengan mengandalkan dirinya sendiri.


Zayn pun mengucap kata demi kata dengan terbata. Dadanya sesak ketika berucap. "Aku cuma pengen, sekali aja, hidup normal kayak anak seumuran aku, Pa. Aku ingin merasakan rasanya berjalan, berlari, berbincang dengan banyak orang bahkan berteman dan bermusuhan dengan orang lain seperti papa yang punya hubungan baik dan buruk dengan kolega di kantor. Aku juga ingin jatuh cinta dengan seseorang seperti Papa yang mencintai Mama dan sebaliknya. Aku cuma ingin merasakan bagaimana hidup selayaknya orang lain yang hidup, bukan jadi boneka kesayangan kalian."


"Jangan bodoh, Zayn!" Erik mulai naik pitam ketika Soraya makin sesenggukan menangis. "Papa sama mama sayang sama kamu. Kita peduli sama kamu. Kamu memang punya harapan untuk diri kamu sendiri, tapi papa sama mama juga punya harapan saat memiliki kamu, Zayn. Jadi tolong--"

__ADS_1


Ucapan Erik terpotong ketika Zayn menyelanya, "Aku mau tidur. Biarin aku istirahat, Pa. Zayn capek."


Erik menghela napas gusar sembari menuntun Soraya untuk keluar dari kamar inap puteranya. Zayn berbaring dengan mata memejam. Zayn sudah kehilangan kepercayaan dari orang tuanya. Orang tuanya tidak akan mengizinkan Zayn meneruskan kuliah, tapi Zayn masih punya satu harapan.


Harapan kecil yakni ikatan kesepakatan dengan Faza. Selama kesepakatan itu masih berlangsung, Erik tak punya pilihan lain untuk mengizinkan Zayn kuliah demi menjaga hubungan baik dengan sahabatnya dan menyembunyikan keadaan Zayn sebenarnya. Papa dan mama tak suka keadaan Zayn yang sakit diketahui oleh banyak orang demi menjaga nama baik keluarga Abhicandra.


Zayn harus mempertahankan kesepakatan itu bagaimana pun caranya.


***


Ayna tersenyum kala memperhatikan gelang yang melilit di pergelangan kirinya. Gelang hitam pemberian Nata sebagai jimat keberuntungan bagi Ayna. Katanya ini gelang kramat yang sudah Nata pakai sejak masa SMP. Nata hanya meminjamkannya pada Ayna agar semakin kuat bertahan di tengah huru-hara kelas yang masih memanas.


Senyuman Ayna pun luntur begitu ia mendongakkan kepala. Lelaki berkupluk hitam itu berdiri di depan gedung jurusan seakan memang sudah menunggu untuk menyambut Ayna. Kulit putih Zayn tampak lebih pucat dengan bibir yang kering tak sesegar pertama kali Zayn menginjakkan kaki di Kampus Biru. Pandangannya sayu memandang Ayna yang terpaku.


Segala ucapan kesal, khawatir, sedih, juga penasaran ke mana saja Zayn selama ini, menguap entah ke mana ketika mata mereka beradu pandang. Zayn menebas langkah menyisakan satu ubin jarak. Ayna harus mendongak menatap Zayn yang sedikit menunduk menatap wajahnya.


"Maaf." Tepat setelah Zayn mengucapkan kata pertama, Ayna mengalihkan pandangan ke sepatunya. Gadis itu merasa tak sanggup menatap iris kelam Zayn. "Aku udah tahu apa yang terjadi sama kamu, tapi maaf aku nggak ada di sana buat kamu."


Karena kamu cuma pembual, Zayn. Cuma Nata yang peduli sama aku, batin Ayna. "Ya, terus?" ketusnya.


"Apa yang ingin kamu bilang ke penuduh kamu? Aku yang bakal selesain semuanya. Kita cari sama-sama pelakunya." Zayn meraih tangan Ayna yang langsung Ayna tepis, membuat Zayn terperangah.


"Nggak perlu, Zayn. Kamu nggak perlu buang-buang waktu lagi."


Ayna tak mengerti apa yang diucapkan Zayn. Ayna berusaha mengelak dan melangkah melewati Zayn memasuki gedung jurusan. Namun Zayn mengejarnya dan mencekal dua tangan Ayna. "Kenapa kamu ngehindar dari aku lagi?!" sentak Zayn membuat Ayna terperangah. "Kenapa kamu kayak gini, Ayna?" Mata Zayn memerah. Dadanya terhimpit.


Ayna melihat orang-orang mulai memperhatikan mereka. Zayn tampak seperti anak kecil yang merengek. Ayna berusaha menarik tangannya dari cekalan Zayn, namun Ayna malah membuat pergelangan tangannya sakit. "Banyak yang liat, Zayn." Ayna menekan suaranya.


Zayn mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Untuk pertama kalinya, ia tak suka perhatian yang dicurahkan orang-orang sekitar padanya karena ia hanya butuh satu perhatian yang sulit sekali untuk digapai. Zayn pun membawa Ayna keluar gedung menuju taman kampus.


"Kenapa? Apa karena mereka benci sama kamu karena kamu deket sama aku? Apa yang udah mereka lakuin, Ayna? Siapa yang berani macem-macem sama kamu?" cecar Zayn sudah tak bisa membendung emosinya lagi.


Di sisi lain, Ayna terkekeh sinis. Semua kata yang dilontarkan Zayn akan bermakna sebelum Zayn hilang tanpa kabar. Sudah terlambat untuk peduli. Kini semua itu hanyalah kata-kata basi. "Bukan mereka, Zayn, tapi kamu," tukas Ayna.


Zayn mengerjap. Tenggorokannya tercekat. "Apa?"


Ayna mulai berdiri tegap. Ia pandang mata Zayn yang mengerling tak mengerti. "Sejak awal aku udah nggak betah di kampus dan ingin berhenti kuliah, tapi kamu dengan seenaknya buat kesepakatan sama ayah aku untuk jadi tutor aku?" Ayna tertawa sinis. "Semua ini berawal dari kamu, Zayn. Kamu penyebabnya. Kamu yang bawa semua masalah terseret ke aku!"


Zayn terperangah. Ia mundur. Pandangannya terjatuh ke tanah, tak lagi fokus. Mengapa Ayna bisa berkata demikian?

__ADS_1


Ayna mengatur napasnya yang berderu. Ia yakin telah melakukan hal yang benar. Ia sangat yakin Zayn-lah muara masalahnya berasal. Kalau Ayna berhasil keluar dari kampus ini, mungkin semua masalah tidak akan menimpanya saat ini.


Tapi sayangnya, itu semua hanya omong kosong. Ayna tak benar-benar bisa menipu dirinya sendiri. Karena itu semua hanya pengalih rasa kecewa Ayna pada Zayn karena cowok itu tak menepati perkataannya. Ayna telah berharap cowok itu benar-benar membuat semuanya aman ketika Ayna bersamanya. Kini Ayna terperosok dalam kecewa atas harapan yang dibuatnya sendiri dan menyalahkan Zayn atas semuanya. Karena bila Ayna tak menyalahkan Zayn, Ayna akan mulai menyalahkan dirinya sendiri.


"Makasih atas bantuan kamu, aku jadi ngerti materi pelajaran bahkan aku bisa membuat program sederhana yang diperintah sama dosen, tapi maaf kayanya kita nggak bisa lanjut lagi."


"Apa?" tanya Zayn tak percaya.


"Aku pengen kamu berhenti jadi tutor aku."


Hati Zayn terasa teremas. Hanya Ayna satu-satunya harapan yang Zayn punya. Zayn tak punya lagi jembatan agar ia bisa bernapas lega keluar dari jeruji besi bernama bangsal rumah sakit. "Kenapa, Ayna? Apa aku buat kesalahan? Apa--"


Ayna mengambil ponselnya dari tas dan langsung melakukan panggilan pada seseorang. Ia tempelkan ponsel di telinga sembari menatap Zayn tepat di mata. Zayn berusaha menerka siapa yang Ayna hubungi, tapi ia tak sanggup mempercayai apa yang ada dipikirannya walaupun Ayna sudah membenarkannya.


"Halo? Nata?" ucap Ayna. Wajah Zayn mengeras. "Kamu inget kamu pernah nyatain perasaan kamu ke aku? Jawaban aku--" Zayn terperangah. "Aku juga suka sama kamu. Kita pacaran sekarang." Ayna pun menutup panggilannya dan menjatuhkan ponsel ke samping tubuhnya.


"Ka-kamu?"


Ayna tersenyum puas seakan hal ini tak berdampak pada dirinya. Padahal jauh di dasar hati Ayna, ribuan jarum terasa menusuknya. "Kenapa? Kamu nggak suka kan aku dekat-dekat sama Nata? Kamu sekarang benci sama aku kan, Zayn? Jadi nyerah aja. Berhenti jadi tutor aku. Berkat kamu, aku nggak bakal berhenti kuliah kok."


Zayn merasa seluruh syarafnya mati rasa. Senyuman Ayna yang tampak di wajah mungil itu semakin menyiksanya sedemikian rupa. Ayna memang tak pernah memiliki rasa padanya. Sejak awal, sedikitpun.


Tak ada lagi yang bisa Zayn ungkapkan. Ia pun berbalik pergi dengan langkah tersaruk-saruk tanpa melihat ke belakang. Sudah final. Zayn tak punya harapan lagi. Semuanya sudah hancur. Dunia yang dipandangnya kini tak lagi seindah apa yang ia damba. Genap sudah kekalahannya. Zayn akan berhenti keras kepala.


Di balik punggung Zayn, Ayna merasa kakinya melemas. Ia terduduk di bangku taman di dekatnya. Pandangan Ayna tertuju pada seorang gadis yang memperhatikannya sejak Zayn dan Ayna tiba di sini. Dia Ranya, yang kini tersenyum tipis lantas pergi dan menghilang dari pandangan Ayna. Ayna sudah lelah menjadi bulan-bulanan di kelas, melihat Ranya yang menyaksikan, Ayna pikir ini saat yang tepat untuk bertindak agar Ranya berhenti merundungnya. Tapi, mengapa hatinya ikut tersayat melihat Zayn pergi tanpa kata?


"Aku udah ngelakuin hal yang benar, kan?" Ia pandangi layar hitam ponselnya. Ponselnya tak pernah melakukan panggilan pada Nata. Ia hanya menekan asal aplikasi dan langsung mengunci layar ponselnya agar menjadi gelap.


Zayn pergi, tanpa tahu ini sandiwara.


***


Zayn melangkah gontai. Ia tak tahu ke mana ia harus berpijak. Perjuangannya diam-diam keluar rumah sakit, berujung sia-sia. Tak ada lagi yang bisa menyelamatkan Zayn keluar dari penjara bernama bangsal rumah sakit. Tidak ada lagi cinta yang mampu Zayn rasakan. Gadis itu menolaknya mentah-mentah. Ia telah jatuh pada hati yang salah.


Zayn berjalan menuju tempat parkir. Matanya sedikit memicing ketika melihat seorang laki-laki yang bersandar di pintu mobil tengah melingkarkan lengan di pinggang perempuan. Zayn berjalan mendekati mereka. Tampak lelaki itu mendekatkan bibirnya ke bibir perempuan itu, tapi matanya telanjur menangkap pergerakkan Zayn yang membuatnya berhenti.


Nata tersenyum dan melepaskan perempuan itu lalu melangkah mendekati Zayn. "Zayn, kamu udah balik ngampus?"


Bukan jawaban, Zayn langsung melayangkan tendangan yang bersarang di perut Nata. Nata jatuh ke tanah. Perempuan tadi memekik takut lantas pergi meninggalkan Nata.

__ADS_1


"Brengsek!" pekik Zayn. Zayn menghampiri Nata dan mencengkeram kerah cowok itu untuk berdiri. Tinju yang Zayn berikan mampu ditangkis oleh Nata. Nata pun membalas pukulan Zayn.


Perkelahian yang tak dapat terelakkan.


__ADS_2