
Bab 22
Bolos Kuliah
{}
"Kamu udah nemu belum?" tanya Ayna yang sibuk mengelilingi bangku kantin siapa tahu dompet itu terjatuh. Ayna telah menanyakan satpam bahkan semua penjual di kantin, tapi nihil tak ada satupun yang melihat dompet cokelat Siti. Ayna sudah memastikan ia tak meninggalkan dompet itu di rumah. Bahkan Ayna sama sekali tidak membuka tasnya.
Mira yang turut membantu Ayna menyerah dan duduk di salah satu bangku kantin. "Kayanya nggak ada di sini, Ayna. Coba kita inget-inget lagi siapa aja yang ada di dalem kelas waktu itu."
Setelah mendengar ucapan Mira, mereka pun mulai mengurutkan kejadian dari awal mendapati dompet Siti. Saat itu anak kelas mulai berhmaburan keluar ketika Siti menghampirinya. Ayna melihat Ranya dan Via yang sempat melihat saat dompet diserahkan pada Ayna, namun mereka keluar kelas lebih dulu. Lalu ada Nino yang masih berkutat di depan komputer, ada Lika, Wita, dan Sacha yang masih mengobrol sembari berjalan keluar kelas dan ada Gio. Ayna terperangah. Gio sibuk bermain game di bangku pojok bahkan sampai Ayna dan Mira berpisah dengan Siti di luar kelas.
"Gio!" Mira terbelalak sembari menutup mulutnya tak percaya. "Gio kan butuh banget uang waktu itu sampe minjem ke semua anak kelas, Ayna."
Ayna mengangguk paham. Ia tak berniat menuduh, tapi tak ada salahnya kan untuk memastikan? Mereka pun bergegas menemui Gio.
****
"Lo bilang apa?" Gio sampai berdiri dari duduknya bersama anak kelas yang lain. Seusai mata kuliah, Ayna meminta Gio untuk berbicara di tempat yang lain. Gio pun mengikuti Ayna dan Mira yang masuk ke satu kelas kosong.
"Apa kamu pernah ngeliat dompet cokelat punya Siti yang sekarang ilang, Gio?" tanya Ayna hati-hati. Ia berusaha memilah kata yang tidak membuat Gio merasa dituduh. Namun, Ayna gagal. Gio sudah tahu topik bahwa uang kas baru saja hilang dan ia merasa dipojokkan ditanya mengenai hal itu.
"Lo mau bilang gue nyuri uangnya?" tukas Gio tidak santai. "Lo mau bilang apa, Ayna?" Gio menendang bangku membuat Mira memekik terkejut saat Ayna tersentak kaget. "Ah, ini pasti gara-gara gue yang mau minjem duit ke elo ya, Mir?!" Mira yang ditatap tajam oleh Gio mengangguk takut-takut.
"Habisnya kan emang bener. Kamu lagi butuh uang dan kebetulan ada di kelas jadi ya gitu deh," jawab Mira.
Gio terbahak keras saat tak ada yang lucu. "Hei, Girls. Terserah kalian mau nuduh gue atau apa. Yang jelas gue bukan pencuri." Gio langsung menyodorkan lengannya pada Ayna. "Potong aja tangan gue kalau kalian yakin gue pencurinya."
Gio tertawa melihat Ayna dan Mira yang seketika bungkam. "Nggak berani, kan? Makanya jangan nuduh orang tanpa bukti!" Gio pun membanting kasar pintu sembari keluar dari kelas.
Lutut Ayna terasa melemas. Tubuhnya langsung meluruh ke lantai yang diikuti oleh Mira. "Sekarang aku harus gimana, Mir?"
Mira menggeleng kecil. "Aku yakin dompetnya masih ada di kampus. Kita cari lagi ya, Ayna."
__ADS_1
***
Sudah tiga hari berlalu sejak insiden hilangnya dompet Siti. Anak kelas yang semula tidak terlalu memperhatikan Ayna, mulai menjadikan Ayna bahan guncingan di sela obrolan santai mereka. Topik yang ia anggap akan mereda justru semakin memanas apalagi ketika Ranya yang seakan menghasut teman-teman perempuan lain untuk membenci Ayna. Tidak cukup dengan tatapan menyindir, mereka mulai melancarkan sindiran terang-terangan yang menjelma jadi belati yang menghujam benak Ayna. Ayna sudah berusaha untuk mengabaikannya, tapi ingatannya tidak akan hilang semudah menekan tombol off di perangkat komputer. Semakin Ayna tenggelamkan ingatan itu justru semakin naik ke permukaan.
"Lo tahu nggak kalau hp Ayna udah ganti?"
"Beneran? Jangan-jangan dia beneran pakai uangnya lagi."
"Gue nggak mau curiga sih, tapi gimana ya kalau ada fakta yang jelas kayak gitu. Hpnya model terbaru tahu!"
Ranya, Via dan Sacha bergunjing dengan suara keras yang mampu Ayna dengar begitu memasuki kelas. Ayna mengeratkan jemarinya yang berkeringat sembari melangkah melewati bangku Ranya. Ranya mendecih geli dan seketika mengeluarkan dompet dari tas untuk ia pegang erat-erat. "Hih, awas jaga dompet kalian, ada pencuri dompet di kelas ini," tukas Ranya yang disambut gelakan tawa dari Via dan Sacha.
Ayna pun duduk di kursinya dan menggeram sebal. Mengapa mereka bisa menyimpulkan hal sepele seperti itu? Ayna bukan tidak ingin meluruskan pendapat mereka hanya saja ia terlalu lelah unttuk berdebat. Mau sekeras apapun Ayna memekik, bila orang yang mengatainya tidak ingin mendengarkan Ayna hanya akan membuang tenaga.
Ayna duduk seorang diri karena Mira harus merawat ayahnya di rumah sakit karena penyakit darah tingginya kambuh lagi. Tidak ada orang yang menjaganya karena ibu Mira harus bekerja. Ayna mulai merasa kesepian. Ayna pun menunduk dalam-dalam di atas lipatan tangan. Ia selalu berharap agar kehidupan kuliahnya dimudahkan, tapi sepertinya Tuhan tidak mengizinkan.
****
Ayna hampir saja jatuh ke lantai apabila Gio tidak menahan tubuhnya yang limbung. Ketika Ayna hendak masuk ke kelas, ada kaki yang tiba-tiba muncul menjegal langkah Ayna. "Kalau gue nggak pegang lo, lo udah diketawain sama semuanya." Sejak Ayna yang ingin memastikan bahwa Gio pelakunya atau bukan, sikap cowok itu jadi lebih dingin dari biasanya. Setelah Ayna berdiri tegap, Gio melotot pada Ranya, si pelaku yang senyum-senyum tidak jelas. "Nggak lucu, Ran. Lo harus belajar lagi kalau mau ngelucu."
"Belum tentu Ayna pelakunya," cetus Pras yang datang bersama Hari. Ia tatap Ranya yang mendelik tak suka. "Kalau Zayn tahu lo mojokin Ayna terus, Zayn pasti nggak bakal diem aja sama lo, Ranya."
Mendengar nama Zayn, Ayna merasa belati yang sudah ditancapkan orang-orang padanya semakin menusuknya dalam. Sudah tiga hari berlalu, tapi Zayn tidak muncul juga. Tidak ada kabar ke mana cowok itu. Bukankah ia yang mengatakan bahwa akan melindungi Ayna? Bahwa cowok itu akan selalu berdiri tegak dan siap jadi penopang saat Ayna rapuh? Saat Ayna membutuhkannya sekarang, Zayn justru menghilang tanpa kabar seolah enggan ditemukan.
Ranya mendengkus geli. "Bukannya ketidakhadiran dia juga membuktikan kalau dia nggak mau berurusan sama pencuri?" Ranya melangkah mendekati Ayna lalu menyelipkan rambut Ayna ke belakang telinga. Ayna mengeraskan tatapannya, tapi ia terlalu malas untuk melakukan sesuatu. "Ternyata lo pinter mikat cowok ya? Sekarang bukan Zayn aja," cetus Ranya sembari menatap Gio, Pras dan Hari. "Gue kayanya perlu berguru sama lo."
Ranya pun menggandeng Via yang sedari tadi memperhatikan. Mereka tertawa dengan centil meninggalkan Ayna yang menghela napas berat. Hari menepuk bahu Ayna dua kali ketika Pras tersenyum pada Ayna. Mereka pun masuk ke dalam kelas. Gio menggerutu sebelumnya akhirnya meninggalkan Ayna seorang diri di ambang pintu.
Awal permusuhan Ayna dan Ranya sudah berlangsung sejak Zayn yang disukai Ranya mendekati Ayna secara terang-terangan. Dan Ranya semakin gencar mengajak anak lain untuk membenci Ayna setelah insiden dompet hilang ini. Ayna pun mengeructkan segala pemikirannya untuk mencari siapa yang sebenarnya salah di sini dan hasilnya memang menunjukkan bahwa semua ini berawal dari Zayn. Ayna sudah mencoba menghindari cowok itu sebisa mungkin, tapi Zayn yang bersikeras ada di dekatnya membuat Ranya yang sudah membencinya memanfaatkan kesempatan ini untuk menindas Ayna.
Semuanya memang berawal dari Zayn.
***
__ADS_1
Rasa malasnya meningkat tiga kali lipat untuk memasuki kelas. Biasanya, Ayna hanya malas karena mata kuliah yang tidak ia mengerti, tapi kali ini suasana kelas benar-benar tak lagi nyaman untuknya. Ia merasa asing di kelasnya sendiri.
Ayna terkejut ketika sedotan yang ia mainkan di gelas minuman tiba-tiba direbut oleh seseorang. Ayna mendongak dan terkekeh kecil melihat Nata yang kini duduk di hadapannya di kantin kampus. Melihat raut wajah Ayna, senyum Nata langsung luntur seketika. "Kamu kenapa, Ayna? Sakit?" Ayna menggeleng lesu. Ia berusaha merebut sedotan yang kini berada di tangan Nata, tapi cowok itu sembunyikan di balik punggungnya. "Kenapa? Tadi aku lihat temen-temen kamu udah masuk ke gedung jurusan, kamu kenapa masih di sini?"
"Aku mau bolos aja."
Ayna sudah menyiapkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Nata selanjutnya. Namun, bukan pertanyaan mengapa ataupun perintah kembali ke kelas yang keluar dari bibir Nata justru genggaman hangat di sela jemari Ayna. Ayna terperangah. Nata menatapnya sembari tersenyum kecil. "Mau bolos bareng?" ajaknya yang merenyuhkan hati Ayna. Nata berhasil mengucapkan hal yang ingin Ayna dengar.
Tanpa tanya, perintah dan nasihat benar atau salah, cukup genggaman hangat yang menguatkan dan senyuman pengertian, itu cukup membuat hati Ayna mencelus lega.
Ayna pun mengangguk kecil dan mereka memutuskan untuk berjalan keluar kampus. Ayna tak yakin ke mana Nata mengajaknya, tapi ia tak peduli. Kaki yang beranjak jauh dari ruang kelas yang berubah jadi ruangan yang paling menyesakkan lambat-laun melegakan hati Ayna. Diliriknya Nata yang berjalan di sampingnya. Ia tidak tahu efek dimengerti bisa sehebat ini bahkan di matanya Nata jadi lebih tampan dari sebelumnya. Ayna tak yakin apa ini halusinasi atau kekuatan cinta. Ia hanya senang bersama dengan Nata.
****
Mereka menepi di kios es krim dekat kampus. Kios yang menyediakan berbagai varian rasa es krim yang kini sepi pengunjung karena masih jam kuliah.
"Cewek bakal cepet balik moodnya kalau dikasih es krim," cetus Nata sembari menyimpan mangkuk es krim di atas meja Ayna. Nata pun duduk di hadapann Ayna setelah menyimpan es krim miliknya.
Ayna tersenyum tipis. "Makasih, Nat," ucap Ayna setelah lama mengunci rapat-rapat mulutnya. Ayna hanya menggeleng dan mengangguk seolah ia tidak bisa berbahasa ketika Nata mengajaknya bicara. Pemikirannya tentang tuduhan pencuri itu benar-benar menghancurkan mood Ayna sampai berkeping-keping.
Nata tersenyum. "Sama-sama, Ayna."
Ayna menghela napas panjang. "Kamu nggak penasaran aku kayak gini bahkan sampai bolos kuliah?"
Nata terdiam cukup lama sebelum ia menggelengkan kepalanya. "Semua orang pasti punya masalah dan mereka hanya siap cerita kalau udah baikan. Kalau aku banyak nanya saat seseorang lagi hancur atau berada di titik terendah mereka, itu kayak menaburkan garam di atas luka. Aku hanya semakin membuat mereka sakit."
Ayna tersenyum lebar sampai menampakkan gigi. Ia terharu dengan jawaban Nata sampai buliran bening merayap di kedua bola matanya. Nata terperangah. Ia pun pindah duduk ke samping Ayna yang kosong dan menepuk bahunya dua kali. "Kalau kamu mau nangis, nih aku pinjemin bahu. Cewek nggak suka kalau nangis diliatin sama orang."
Tawa geli pun meluncur begitu saja dari bibir Ayna. Namun, ia tak sanggup menolak tawaran Nata karena tawanya langsung berubah menjadi tangis saat dadanya sesak mengingat perkataan dan sikap teman sekelas Ayna yang menuduhnya pencuri. Ayna menyandarkan kepalanya di bahu Nata dan mulai menangis sembari menangkup wajahnya. Terasa tepukan lembut di puncak kepala Ayna. "Nangis aja kalau kamu nggak kuat, Ayna. Nangis bukan tanda kamu lemah, tapi tanda kamu masih jadi manusia yang punya hati."
Tangisan Ayna pun tak berhenti mengalir untuk sekian menit setelahnya.
***
__ADS_1
Ada yang ngeship Nata sama Ayna?
Zayn ke mana yaa wkwk