
Bab 10
Pengakuan Tak Terduga
{}
Biasanya, Zayn akan kesulitan tidur apabila lupa meminum obat karena dadanya akan terasa sesak ketika darah yang dipompa jantung tidak mengalir sempurna ke seluruh tubuhnya, tapi kali ini bahkan setelah Zayn tepat waktu meminum obatnya, mengapa ia masih tidak bisa tidur?
Zayn berguling ke kanan dan ke kiri di atas ranjang. Gerakannya yang tidak hati-hati, hampir menjatuhkan tiang infus beberapa kali. Zayn mendesah. Ia tidak bisa tidur malam ini.
Pikirannya melambung saat ia melihat Ayna dan Nata begitu akrab. Bahkan Ayna tampak mengembangkan senyum manis beberapa kali pada Nata yang tak pernah gadis itu perlihatkan pada Zayn. Memang sehebat apa Nata? Zayn yakin ia melebihi Nata dari segala aspek. Kecuali jantung yang sehat, tapi apakah itu masalah besar?
Mengapa Zayn sangat tidak suka melihat Nata dan Ayna? Zayn tidak mungkin menyukai gadis menyebalkan itu, kan?
Zayn meringis. Ia tutup wajahnya dengan bantal lalu berteriak keras, "Kamu udah gila, Zayn!"
Ia harap, kegilaannya hanya hinggap sejenak dan akan lenyap begitu ia terlelap.
***
Zayn berjalan santai menuju kelas. Jam tangan yang sempat ia buang sembarang, sudah ditemukan di tempat di mana ia meninggalkannya. Mesin di jam tangan ini mampu mendeteksi detak jantung yang tidak normal. Zayn memperhatikan detak jantungnya bergerak lambat walau masih masuk kategori normal.
Ia berjalan menuju gedung jurusan teknik lalu berhenti ketika matanya menemukan Ayna dan Nata berjalan bersama sembari mengobrol. Rahang Zayn refleks mengetat bersama kepalan tangan yang mengeras. Ada gemuruh yang seketika menjalar di dadanya. Apa mereka memang sedekat itu?
Nata dan Ayna tak henti berbagi senyuman dan saling bercerita. Mereka tampak asyik mengobrol sampai tak sadar ada orang yang memperhatikan mereka sejak tadi. Jam tangan hitam Zayn menunjukkan detak jantung yang tiba-tiba melonjak drastis. Jantungnya berderu kencang sampai-sampai Zayn merasakan nyeri.
Nata yang perhatiannya jatuh pada Ayna pun mengalihkan pandangan pada Zayn yang berdiri di depan gedung jurusan teknik. Nata mengedikkan dagu mengisyaratkan pada Ayna ada orang yang menunggunya. Ayna menoleh dan terperangah melihat Zayn bermuka masam, tidak seperti biasanya.
Zayn membasahi tenggorokannya yang terasa kering sembari berjalan mendekati mereka. Ia tidak boleh membiarkan Ayna berdekatan dengan Nata. Namun, tiba-tiba saja Ayna menggandeng lengan Nata saat tatapannya bertemu dengan Zayn. Ayna tersenyum sangat tipis. Bila Zayn tidak memperhatikannya, mungkin Zayn tidak akan sadar bila Ayna tersenyum melakukan itu.
Ayna pun menoleh pada Nata yang mengernyit heran padanya, "Nata, nanti kita ketemu di kantin, ya!"
Nata mengangkat sebelah alis. Ia merasa aneh dengan sikap Ayna yang berubah tiba-tiba. Namun, melihat sorot berharap dari gadis itu, Nata pun menyetujui permintaannya.
"Makasih, Nata." Ayna tersenyum dan melambaikan tangan pada Nata yang berderap pergi memutar arah.
Zayn merasakan dadanya sesak cukup hebat sampai kakinya terhuyung karena tidak mampu menopang tubuhnya. Sesuatu terasa direnggut paksa darinya. Dadanya pun terasa nyeri, tapi ia berusaha untuk tetap bertahan dan menahan raut wajahnya agar tak menunjukkan raut kesakitan. Gadis itu atau siapapun di kampus, tidak boleh mengetahui keadaan Zayn sebenarnya. Zayn tidak akan membiarkan tatapan kasihani itu hadir di wajah mereka semua. Zayn ingin dianggap normal seperti kebanyakan.
Ketika Ayna melengos dari hadapan Zayn memasuki gedung jurusan, Zayn memalingkan wajahnya yang mengerut kesakitan. Ia berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa ini. Rasa ini berbeda dengan sakit yang biasa Zayn rasakan. Rasa ini lebih menyakitkan. Rasa ini lebih menyiksa. Karena bukan fisiknya saja yang sakit tapi hatinya.
Dan kini Zayn mengerti, ia terjebak permainannya sendiri. Ia benar-benar menyukai Ayna Nabila.
***
Ayna merapikan rambut kecokelatan sebahunya di kamar mandi. Ia tersenyum puas memandang dirinya sendiri di cermin. Bukan bentuk pengaguman diri, tapi ia bangga atas pencapaiannya membuat Zayn tidak mengganggunya hari ini.
Cowok itu tampak murung di kelas bahkan tidak mengeluarkan celetukan ketika dosen tengah mengajar. Kulit putihnya semakin pucat walau Zayn bersikeras bahwa ia tidak sedang sakit saat di tanya teman sekelasnya. Harusnya Ayna lebih cepat menggunakan metode ini untuk mengusir Zayn dari hidupnya.
Ayna yakin lambat-laun pasti Zayn akan menyerah dan malas untuk mengajarinya karena tidak pernah mendengarkan ucapan cowok itu. Ayna harus berdekatan dengan Nata agar Zayn lebih cepat mengundurkan diri menjadi tutornya.
__ADS_1
Ayna pun keluar dari kamar mandi bersamaan dengan ponselnya yang berdenting. Ia membaca pesan yang masuk sembari berjalan.
Nata: Maaf, aku ada jam tambahan. Kayanya nggak bakal sempet makan bareng kamu Ayna.
Ayna: Gapapa kok. Santai aja Nat.
Nata: Gantinya gimana kalau kamu antar aku beli hadiah buat ultah mama aku?
Ayna termenung sejenak. Ada sesuatu yang terasa melesak ke dadanya mendengar kata mama. Rasa rindu pada ibunya seketika memuncak lalu tanpa banyak berpikir lagi ia menyetujui ajakan Nata. Lagipula, Ayna harus melawan rasa ini agar cepat terbiasa bila seseorang membicarakan ibu mereka.
Ayna: Oke.
Ayna pun mematikan layar ponselnya dan terkejut pada orang yang tiba-tiba berada di sampingnya.
"Siapa?" tanya Zayn datar.
Ayna mendelik. "Bukan urusan kamu," ketusnya. Ayna pun berjalan diikuti oleh Zayn.
"Itu urusan aku kalau kamu chattan sama Nata," ucap Zayn sembari tersenyum hambar. Zayn sudah kembali seperti biasa. Kembali menyebalkan dan suka berlaku seenaknya. Padahal Ayna belum puas tidak diganggu oleh Zayn.
Ayna membuang napas kasar lalu berkacak pinggang menatap Zayn yang harus menunduk menatapnya. "Iya, itu Nata. Kenapa?" balas Ayna menantang.
Zayn menyeringai lalu merebut ponsel dari tangan Ayna. Gadis itu pun memekik terkejut, "Zayn! Balikin!"
Zayn berlari yang dikejar oleh Ayna. Zayn mengotak-atik ponsel Ayna ketika gadis itu terus berteriak memanggil namanya. Zayn pun berhenti lalu berbalik dan menyodorkan ponsel pada gadis itu yang napasnya jadi susul menyusul mengejar Zayn dengan kaki panjangnya.
"Simpan nomor aku," ucapnya sebelum Zayn melenggang pergi menuju kelas.
Ayna pun memeriksa lagi ponselnya siapa tahu ada data lain yang main dihapus oleh Zayn. Bertepatan dengan itu, nomor tidak dikenal meneleponnya.
"Halo? Ini siapa ya?" tanya Ayna. Gadis itu menunggu sekian detik, namun hanya desah napas dari seberang yang mampu ia dengar. "Halo?"
"Udah aku tebak kamu nggak bakal nurut sama aku. Cepet simpen nomernya atau aku aduin kamu malah main sama cowok bukannya kuliah!"
Telepon pun dimatikan sepihak. Ayna mengerang, "Dasar Zayn gila!" rutuknya di tengah lorong kelas. Ayna pun menundukkan wajah ketika mahasiswa di dalam kelas jadi menoleh penasaran ke arahnya. Ayna berjalan cepat. Ia buru-buru masuk ke dalam kelas. Salahkan saja Zayn yang membuat Ayna dipermalukan.
***
Nata mengajak Ayna untuk membeli hadiah. Ayna berhasil kabur dari Zayn yang sibuk mengerjakan tugas kelompok di kampus sepulang kuliah. Zayn sudah meminta Ayna menunggunya. Tentu saja, Ayna tidak menuruti.
"Kamu suka ngerayain ultah mama kamu?" tanya Ayna sembari melihat-lihat tas jinjing warna-warni yang menyilaukan mata Ayna. Jiwa belanjanya meringis mengingat Ayna tak membawa uang lebih.
Nata mengangguk. Ia mencoba mengangkat salah satu tas dan menelitinya, tapi ia tak mengerti mengapa tas itu bisa disukai oleh wanita. Ia pun menyimpannya kembali. "Aku anak tunggal, jadi mama bakal nangis kalau anaknya nggak inget hadiah ulang tahunnya. Kalau kamu, Ayna? Kapan mama kamu ulang tahun?"
Ayna meneguk ludah yang jadi terasa pahit. Ia enggan membahas ini. Memori di mana ibunya, Ana, meninggal di rumah sakit, tiba-tiba timbul tenggelam di kepalanya. Sadar raut wajah Ayna berubah, Nata menatap Ayna simpati. "Aku salah ngomong, ya?"
Ayna terhenyak lalu menggeleng. "Oh? Nggak kok, Nat. Aku cuma jadi inget kenangan bareng ibu. Ibu aku udah meninggal di saat aku kelas dua SMA."
"Kalau boleh tahu, kenapa ibu kamu meninggal? Sakit?"
__ADS_1
Ayna mengangguk. Tanpa sadar, buliran bening mengumpul di bola matanya. Ia berusaha mengenyahkan kenangan pilu yang selalu saja membuatnya sesak, tapi kenangan itu tidak mudah dihapus sekalipun Ayna sangat menginginkannya. Ayna menghela napas sejenak sebelum menjawab, "Ibu aku meninggal setelah operasi gagal jantung, Nat. Saat itu, ibu yang punya darah tinggi tiba-tiba aja kena serangan jantung. Aku nggak tahu apa penyebabnya karena saat aku pulang ke rumah, ibu udah jatuh di lantai. Aku telepon ayah dan ternyata kami terlambat bawa ibu ke rumah sakit."
Nata memegangi pundak Ayna yang mulai bergetar. "Maaf, aku nggak maksud."
Ayna mengangguk lalu menarik dua sudut bibirnya. Ia berusaha meyakinkan pada Nata dan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja. "Gapapa. Ibu aku bakal sedih kalau aku masih terus nyalahin diri sendiri."
"Ibu kamu pasti sayang sama kamu, Ayna. Dia berhasil jadi ibu karena sudah merawat kamu sampai secantik ini," hibur Nata yang membuat Ayna mendecih geli.
Nata pun menghela napas panjang dan mulai menunjuk tas yang berada di sekitar mereka. "Mana tas yang kamu suka?"
Ayna mengernyit. "Kenapa aku? Bukannya ini hadiah buat mama kamu?"
Nata terkekeh. "Aku nggak ngerti selera cewek. Jadi kamu aja yang pilih."
Ayna mengusap sudut matanya yang berair lalu mulai mengelilingi toko. Sejauh ini belum ada tas yang ia rasa pas untuk dihadiahkan pada mama Nata. Ia takut seleranya tidak sesuai dan ibu Nata akan kecewa. Jadi Ayna memilih dengan hati-hati.
Mereka pun selesai menghampiri tiap tas, tapi tidak ada satupun yang menarik perhatian Ayna. Nata terkekeh ketika Ayna mengerutkan keningnya kecewa di ambang pintu masuk toko tempat awal mereka melihat-lihat. "Mau ke toko lain?" tawar Nata.
Ayna terperangah. Ia tak enak hati pada Nata yang malah jadi lama menunggunya memilih-milih.
"Ayo, aku juga nggak mau ngasih hadiah yang orangnya nggak suka."
Ayna meringis, namun mengangguk kemudian. Mereka pun berjalan mengunjungi toko lain. Ayna kembali dihadapkan dengan ratusan tas bermerk. Ia berjalan-jalan sebentar dan menemukan tas berwarna putih dengan gaya simpel. Nata yang mengikutinya memperhatikan Ayna yang berlama-lama memandang tas itu. Nata pun seketika melipat bibir menahan tawa melihat reaksi Ayna yang membulatkan mata melihat harga yang dibandrol untuk tas yang berukuran sedang itu. Gila, hampir ngabisin uang jajan aku sebulan kalau ini.
"Kenapa, Ayna?" Ucapan Nata membuyarkan lamunan Ayna. Gadis itu pun mengusap tengkuknya sembari terkekeh canggung. Ayna langsung mendekatkan bibirnya dengan telinga cowok itu.
"Kita keluar aja yuk," bisik Ayna. "Di sini barang-barangnya kemahalan, Nat."
Nata tertawa. "Nggak apa-apa, Ayna. Hadiah kan harus istimewa. Jadi kamu pilih tas yang itu?" Nata menunjuk tas yang sempat mengunci pandangan Ayna. Melihat Ayna mengangguk kecil, Nata pun membungkus tas itu.
***
"Maaf, gara-gara aku kamu jadi beli barang mahal," tutur Ayna merasa tidak enak hati. Ia malah datang untuk merepotkan bukannya membantu Nata. "Aku kayanya salah milih ya? Kamu nggak suka ya? Kamu--" Mata Ayna membulat ketika tangan besar Nata membekap mulutnya tiba-tiba.
"Berisik, Ayna. Kamu udah minta maaf sejak kita keluar dari toko."
Ayna mengerjap. Ia tak suka dibebani rasa bersalah seperti ini, tapi Ayna tak tahu bagaimana cara memperbaikinya. Nata dan Ayna pun menyebrang menuju mobil yang diparkir di tepi jalan. Ayna yang jadi tidak fokus menyebrang, karena terus memikirkan solusi, hampir tertabrak mobil yang tiba-tiba saja berbelok di tikungan. Kalau saja Nata tidak sigap menarik tubuh Ayna, gadis itu sudah tergeletak bermandikan darah di atas aspal.
Ayna memekik tertahan. Jantungnya terasa melompat hebat hampir lepas dari tempatnya. Ia terkejut bukan hanya karena insiden yang hampir saja menimpanya, tapi karena tak ada lagi jarak antara dirinya dan Nata. Ayna berada dalam dekapan Nata. Di jarak sedekat ini, Ayna mampu mendengar debaran jantung Nata yang tak kalah terpacu dari milik Ayna.
"Kamu baik-baik aja, Ayna. Kamu nggak apa-apa," ucap Nata disela napasnya yang tersengal. Nada ketakutan Nata membuat hati Ayna teriris.
Gadis itu membisu. Lidahnya kelu. Ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Nata masih memeluknya erat seolah ia tak ingin melepaskan sesuatu pergi darinya. Dan dalam kasus ini, Ayna adalah sesuatu itu.
"M-maaf, tadi aku masih kepikiran hadiah yang kamu beli. Kamu udah capek-capek muter-muter, tapi kayanya kamu kurang suka hadiah yang aku pilih. Jadi aku nggak fokus nyebrangnya."
Nata buang napas kasar. Ia tak percaya pada alasan gadis ini yang hampir saja membahayakan nyawanya. Nata menjauhkan tubuh Ayna tanpa melepas dua bahu gadis itu. Genggaman erat di kedua bahu Ayna seakan memaksanya untuk membalas tatapan Nata. Kening cowok itu mengerut dalam menyiratkan kecemasan. "Dengar, Ayna Nabila. Aku suka hadiah yang kamu beli. Aku suka apapun pilihan kamu. Aku suka kita ngabisin waktu bareng-bareng. Aku suka ngobrol sama kamu. Aku suka kita ketemu lagi setelah SMP. Aku suka sama kamu, Ayna Nabila."
Ayna terperangah. Detik terasa melambat saat seluruh syarafnya melemas. Pengakuan Nata tak pernah ia duga.
__ADS_1
***