Times New Romance

Times New Romance
Bab 17 :: Takdir Tak Pernah Salah


__ADS_3

Bab 17


Takdir Tak Pernah Salah


{}


Ayna memasuki ruang kelas yang baru diisi sekumpulan cowok di bangku pojok. Ia menghampiri kursinya di jajaran tengah lalu duduk di sana bertepatan dengan seseorang yang berdiri di hadapan mejanya. Ayna termangu mendapati Zayn menatapnya dalam.


Keheningan melanda. Keduanya beradu dalam diam. Sesekali Zayn membuka kecil mulutnya, tapi tak ada kata yang terucap. Tenggorokannya tersekat. Pikirannya lumpuh. Zayn mendadak lupa semua kata yang sudah ia siapkan tadi malam. Zayn cukup malu memasang wajah di depan gadis itu mengetahui ia kalah setelah menantang.


"Kenapa, Zayn?" Akhirnya, Ayna memutuskan keheningan.


Zayn menggaruk tengkuknya canggung. Ia pun menelan salivanya sebelum berucap, "H-hasil pertandingan--"


"Kamu kalah," potong Ayna tenang. Mendengar helaan napas gusar dari bibir Zayn, Ayna segera melanjutkan, "Aku nggak bakal ngejauhin Nata atau ngejauhin kamu. Dari awal aku nggak pernah jadi bagian taruhan kalian."


Zayn terhenyak lalu tersenyum kecil. Walaupun ia gagal menghalangi hubungan Ayna dan Nata, setidaknya Ayna takkan menghindarinya. Ia pikir, Ayna akan menghindarinya. Zayn sudah takut bahwa Ayna takkan mau menemuinya lagi. Zayn pun mengangguk paham tanpa mempermasalahkan dan mengacak puncak kepala gadis itu sebelum duduk di kursinya. Terdengar desisan sebal gadis itu yang tak pernah gagal membuat Zayn terkekeh geli.


***


Pertandingan Zayn dan Nata sempat mengusik batin Ayna. Dalam hati ia sempat berharap Zayn kalah karena ia tak mau memutuskan hubungan dengan Nata, tapi melihat kegigihan Zayn membuktikan bahwa Nata bukan cowok baik-baik sempat membuat Ayna kecewa mengetahui Zayn kalah pertandingan. Ia harap pilihannya untuk tidak menjauhi keduanya adalah pilihan yang benar.


Ia pikir masalah sudah selesai di sana, tapi mengapa setiap ia melangkah, masalah seakan tak rela meninggalkannya barang sejenak. Masalah hilir berganti tanpa mau peduli Ayna sudah lelah dan membutuhkan ketenangan. Dan dari situlah Ayna mengerti bahwa masalah adalah jembatan untuk masalah yang lainnya. Dan pembagian tugas kelompok mata kuliah Sistem Digital adalah jembatan baru untuk masalah Ayna yang baru.


Tak ada yang lebih mengesalkan daripada satu kelompok dengan Ranya dan Gio. Ayna tahu Ranya tidak suka dengannya sejak Zayn terang-terangan mendekati Ayna dan Gio yang tak berhenti mengusili Ayna. Katanya, Ayna punya ekspresi yang menyenangkan bila diganggu membuat Gio tak bosan mengganggunya. Apa itu bisa jadi alasan? Menyebalkan.


Mereka bertiga sepakat untuk mengerjakan tugas kelompok sepulang kuliah di kelas yang kosong. Ayna duduk diapit oleh Ranya dan Gio yang duduk melingkar.


"Lo ngerti kan pembagian tugasnya, Ayna? Lo kan belajar sama Zayn terus, gue yakin lo pasti cepet ngertinya," ucap Ranya sedikit menyindir setelah membagi tugas kelompok. Padahal, tidak ada yang menunjuk dia sebagai ketua, tapi seolah Ranya tidak bisa mengandalkan yang lain ia langsung mengatur dua temannya.


Ayna mengangguk walaupun batinnya merasa tertekan. Ranya tidak ada habisnya menyindir Ayna dan Zayn. Ini pertama kalinya Ayna satu kelompok dengan Ranya, ternyata lebih buruk dari dugaannya. Ayna pun mulai mengerjakan perintah dari Ranya di laptopnya. Ranya yang hendak mengerjakan, menoleh pada Gio yang malah tertidur di bangkunya. Ranya mendesis dan membangunkan Gio. Gio terkesiap dan mengerang begitu ia membuka mata.


"Gio, kerjain bagian lo," pinta Ranya sedikit menyentak.


"Gue bakal kerjain nanti di rumah gimana?" Gio melihat jam tangan yang melilit di pergelangan kirinya. "Udah jam tiga. Rumah gue jauh, okay?" bujuk Gio sedikit menuntut.

__ADS_1


Ranya bersidekap. "Ya nggak bisa gitu dong. Namanya kerja kelompok ya harus ada pembagian tugas, gue sama Ayna juga udah banyak kali yang harus dikerjain. Gue udah bagi bagian lo lebih sedikit."


Gio menggaruk kepalanya kasar. Ia tak puas dengan jawaban Ranya. Matanya yang sedari tadi menatap ke pintu kelas pun beralih pada Ayna yang pura-pura tak mendengar percekcokan dua anggota kelompoknya. Ayna terhentak begitu dua tangan Gio bertumpu di bahunya. Gio menatap Ranya yang memutar bola mata. "Kan ada Ayna. Dia jago ngerjain beginian. Dia rela kok ngerjain tugas gue." Gio pun mengarahkan pandangan pada Ayna yang sudah mengetatkan rahang tanpa menoleh pada Gio. "Ya kan, Ayna?" ucapnya sembari mengeratkan cengkeraman di bahu Ayna hingga gadis itu sedikit meringis.


Ayna hendak menyela, tapi Gio langsung berlari keluar kelas dan memekik di ambang pintu. "Gue balik duluan, Girls!" Gio pun melenggang pergi tanpa memberi kesempatan Ayna menyanggah. "Ayna yang bakal kerjain tugas gue!"


Ayna berdiri dari bangkunya. "Gio!" Terlambat, ia gagal menahan Gio yang pasti sudah tiba di lantai dasar gedung jurusan.


"Gimana dong? Gue nggak bisa ngerjain semuanya, gue kan harus ngerapihin data dari kalian juga," ucap Ranya dengan dua alis terangkat. Ayna menahan amarahnya, lalu kembali duduk. Memangnya siapa yang memilih Ranya sebagai ketua?


Ranya menyodorkan kertas catatan hal apa yang harus Gio kerjakan pada Ayna. Ayna mengernyit sebal. Namun, sial. Tak ada kata yang berhasil meluncur lewat bibirnya. Ranya pun tersenyum begitu Ayna menerima kertas itu. Ayna bukannya suka melakukannya, ia hanya malas memperpanjang masalah. Baginya, lebih baik mengerjakan tugas orang lain daripada mendapatkan musuh di kampus. Ayna pun mulai mencari bahan materi di internet walau dalam hati ia mendumel sebal.


***


Waktu satu jam terasa bagai sepuluh jam bagi Ayna. Terjebak bersama Ranya, cewek centil yang senang memerintah sesukanya, Ayna harus rela telinganya berasap karena tindakannya selalu saja dinilai salah. Bukankah tugas kelompok adalah cara bagaimana menyatukan kepala yang berbeda pendapat bukannya memaksakan pendapat yang satu pada yang lainnya? Tapi Ranya, hanya peduli pada opininya sendiri.


"Aduduh, bukan kayak gitu, Ayna. Lo bisa nggak sih ngerapihin materi? Ini tuh harus runtut dan lengkap," omel Ranya yang langsung merebut laptop Ayna.


Ayna meniup helaian rambut di keningnya. Kekesalan yang ia tahan berubah menjadi gundukan emosi yang tampaknya sebentar lagi akan meledak, tapi Ayna berusaha untuk tenang dengan menghela napas panjang. Bila ia membalas api dengan api, api hanya akan menyebar dan semakin besar. Ia tidak mau jadi seseorang yang sama seperti Ranya.


"Tapi kata Pak Farhan, materinya harus lengkap, Ayna," tukas Ranya bebal. Ayna hanya manggut-manggut membiarkan Ranya mengerjakan ulang kerjaan Ayna.


Ranya mengomel di sela ia mengerjakan powerpoint, "Nggak enak ya sekelompok sama anak-anak yang bisanya numpang nama," decaknya. Ayna yang memperhatikan langsung mendelik.


"Siapa maksud kamu?"


"Yah bagi yang ngerasa aja," sindir Ranya walau matanya jelas-jelas melirik pada Ayna. Apa ada yang menyalakan pemanas di ruangan ini? Ayna merasa gerah sekarang.


***


"Auh, kenapa sih Ranya senengnya nyari gara-gara?" dumel Ayna ketika ia duduk di halte menunggu bus untuk pulang. Ayna mendongak menatap langit. Mentari mulai terbenam meninggalkan peredarannya di atas langit. Cahayanya yang membias menyemburatkan sinar oranye kemerah-merahan. Pemandangan yang dipanggil senja itu ibarat lukisan tanpa cacat yang membekukan pandangan Ayna sejenak. Sebelum hadirnya pun hilang berganti gelap. "Kenapa langit warnanya bagus banget saat hati aku lagi badmood? Nyebelin."


Ayna masih menunggu bus hingga senja tergantikan oleh malam. Ia tak hentinya memperhatikan layar ponsel. Biasanya bus tidak akan setelat ini, tapi tidak ada satupun yang datang. Lalu lintas di hadapannya memang padat merayap, mungkin bus yang ditunggu Ayna terjebak kemacetan. Ayna terus menunggu bahkan mengabaikan mobil putih yang melintas sampai mobil itu berhenti di depan Ayna. Kaca mobil itu turun dan menampilkan Zayn di kursi pengemudi.


"Ayna? Ngapain jam segini masih di kampus? Buruan naik," pinta Zayn menyirat rasa khawatir. Gadis itu bergeming, ia tak lagi heran dengan Zayn yang tiba-tiba bisa muncul. Tapi apa yang menarik perhatian Ayna, justru jaket yang Zayn simpan asal di kursi penumpang untuk menutupi sesuatu di bawahnya. "Ayna?" panggil Zayn yang menyadarkan Ayna.

__ADS_1


Gadis itu pun membuka pintu mobil bersamaan dengan Zayn yang membungkus sesuatu di balik jaketnya lalu Zayn simpan ke kursi belakang. "Lain kali kalau kerja kelompok pagi-pagi aja. Coba kalau nggak ada aku, kamu pulang naik apa?"


"Naik bus," balas Ayna datar membuat Zayn menghela napas sabar. Zayn pun melajukan mobilnya.


Zayn sengaja keluar malam-malam untuk memastikan bahwa Ayna sudah pulang atau belum karena gadis itu tak akan membalas pesan Zayn bila ia menanyakannya langsung. Dan ternyata Dewi Fortuna berpihak padanya karena Zayn datang tepat pada waktunya.


Keheningan menyelinap di antara keduanya. Selain bisingnya kendaran, tak ada suara yang terucap dari bibir Ayna dan Zayn. Zayn tak ingin mengganggu Ayna yang duduk diam dengan bibir mencebik. Tampaknya ada yang sedang mengusik gadis itu.


"Zayn, kenapa mobil kamu ganti?" tanya Ayna berusaha menepis sunyi yang lama-lama jadi terasa canggung.


Zayn membagi tatapannya dengan Ayna dan jalanan. "Mobil aku lagi diservice, jadi aku make mobil orang tua aku." Ayna mengangguk kecil, tapi keningnya masih mengerut seolah tak puas dengan jawaban itu. Zayn melirik lagi pada Ayna."Kenapa, Ayna?"


Ayna terkesiap. Ekspresi wajahnya menjelaskan bahwa ia masih memikirkan sesuatu dan mungkin Zayn merasakannya. "Oh, kalau yang di bawah jaket itu apa?" ucapnya sembari menunjuk ke kursi belakang. "Aku rasa itu obat, Zayn."


Zayn mengangkat dua alisnya lalu tertawa. "Itu vitamin sama obat penambah darah. Aku darah rendah dan gampang kecapekan. Kamu juga harus rajin minum itu biar badannya selalu fit," balas Zayn dengan lancar. Terlalu sering pertanyaan itu terlontar membuat Zayn terbiasa menjawabnya dan kebohongan Zayn terdengar nyata.


Ayna mengernyit tak puas. Apakah vitamin dan obat penambah darah akan sebanyak itu dan berbeda-beda jenisnya? Ayna pun abaikan rasa penasaran yang masih bergelayut di pikirannya.


***


Ayna berterima kasih pada Zayn yang telah mengantarkannya pulang sampai depan gerbang rumahnya. Apabila menaiki bus mungkin Ayna akan tiba setengah jam lebih lama dan harus naik ojek dari jalan depan untuk sampai ke rumahnya.


Zayn berdiri di hadapan gadis itu. "Ayna, kamu nggak bakal ceritain masalah apapun ke aku ya?" tanyanya.


Ayna terperangah. "Kenapa kamu bilang gitu?"


Zayn mengacungkan jari lalu menuliskan sesuatu di dahi Ayna. "Ma-sa-lah," ucapnya sembari mengeja. Ayna mengernyit sebal. "Di kening kamu tertulis jelas kalau kamu lagi bete sama sesuatu."


Ayna menghela napas panjang. Ia tak pandai berpura-pura. Ibarat buku yang terbuka, semua orang pasti dapat mudah membaca apa yang Ayna rasa hanya dengan melihat wajahnya termasuk Zayn saat ini.


"Ranya." Zayn mengerjap tak mengerti. "Temen sekelas kita yang bener-bener nggak aku suka. Tingkahnya sok ngeraja di kelas dan dia merasa bisa segala hal. Aku makan hati tadi kerja kelompok sama dia," curhat Ayna sembari melipat tangan di depan dada. Segala ocehan Ranya tiba-tiba berputar kembali di kepala Ayna membuat gadis itu kembali geram. "Aku jadi semakin nyesel masuk jurusan ini. Kalau aku masuk jurusan bisnis, mungkin nggak bakal kayak gini kejadiannya, ya kan? Mungkin aku nggak bakal ketemu temen kayak Ranya."


Zayn tersenyum geli. Ia senang Ayna bisa dengan mudah membagi kisahnya pada Zayn. Ia tahu, Ayna bukan orang yang mudah membeberkan apa yang ia rasa pada orang sembarangan. Dan Zayn, telah menjadi salah satunya.


"Denger ya, Ayna. Mau kamu berada di tempat yang paling kamu inginkan sekalipun, masalah itu pasti ada. Apa yang kita anggap baik belum tentu baik untuk kita dan apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk untuk kita. Tuhan nggak pernah salah menempatkan takdir, tapi kita yang kadang tidak sanggup menangkap apa sebenarnya maksud Tuhan."

__ADS_1


Ayna terperangah. Hatinya terasa tercubit yang membuat Ayna sadar bahwa pemikirannya begitu sempit. "Kamu benar, Zayn. Aku yang belum sanggup menangkap apa maksudnya."


__ADS_2